Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 11. Kematian pak Bambang


__ADS_3

Mereka pun tersungkur ke tanah dan tertimpa kayu besar yang di lempar oleh arwah Ratih.


Arwah Ratih kemudian menati pak Bambang dan menyeretnya menjauh dari trio R.


"Kita harus bisa lolos dari sini," ucap Rahendra.


Rangga, Rahendra dan Raka berusaha menggeser kayu tersebut yang menimpa tubuh mereka. Sedikit demi sedikit kayu itu bisa mereka geser.


"Allahu Akbar!!" mereka mengangkat kayu tersebut.


Setelah mereka meloloskan diri dari tertimpa kayu, mereka bertiga langsung berlari mengejar arwah Ratih.


Ketika mereka sedang mengejar arwah Ratih, ponsel Rangga tiba-tiba berbunyi dia pun berhenti berlari dan mengangkat teleponnya.


"Kalian duluan saja," ucap Rangga.


Rahendra dan Raka mengejar arwah Ratih. Rangga mengangkat telepon, 'Hallo.'


'Bagaimana? Apa kalian berhasil menyelamatkan suamiku?' tanya istrinya pak Bambang.


'Tadi kami sudah berhasil menyelamatkannya, tapi...,'


'Tapi apa?'


'Pak Bambang di bawa pergi lagi oleh arwah tersebut,'


'Sekarang kalian ada di mana?'


'Di dalam hutan. Tapi ibu jangan datang ke sini, di sini sangat berbahaya!'


'Aku akan datang ke sana dan membantu kalian menyelamatkan suamiku,'


'Jangan!' istrinya pak Bambang mematikan teleponnya.


'Hallo.. Hallo!!'


Rangga kemudian menaruh ponselnya di saku baju, lalu kemudian berlari menyusul Rahendra dan Raka.


Ketika Rahendra dan Raka berada di belakang arwah Ratih, mereka berkata, "Hentikan itu, Ratih! Biarkan dia hidup bersama dengan keluarga tercintanya." ucap Rahendra.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menyiksaku hidup dengan tenang!"


"Kamu itu orang baik. Walau mereka menyiksamu selama hidupmu, kamu tidak pernah membalas mereka kan? Lalu mengapa setelah kematianmu, kamu menjadi seganas ini?" ucap Raka.


"Jangan jadikan kebencianmu itu merubah kebaikanmu," ucap Rahendra.


Ratih terdiam sejenak dan melepaskan cengkeraman tangannya yang mencengkram pak Bambang.


Raka kemudian mengambil kesempatan itu dan menyelamatkan pak Bambang. Dia kemudian membawa pak Bambang menjauh dari arwah Ratih.


"Aku tau mereka sudah bersikap tidak baik kepadamu, tapi kalau kamu melakukan hal yang sama dengan mereka, apa bedanya kamu dengannya," ucap Rahendra.

__ADS_1


Arwah Ratih terduduk di tanah, "Kau benar. Aku akan pergi dan menghentikan pembalasan dendamku, tapi.. Aku akan kembali jika ada salah satu dari mereka menyiksa kembali kucing hitam."


Rahendra mengangguk, "Jika itu terjadi, kami tidak akan menghentikanmu."


Rangga dan keluarganya pak Bambang kemudian datang ke tempat itu dan mendengarkan perbincangan Rahendra dan arwah tersebut.


Suasana hutan itu kembali mencekam, angin berhembus sangat kencang dan di ikuti dengan suara gemuruh yang sangat menakutkan.


Arwah Ratih itu menengok ke arah mereka dan menatap mereka dengan tatapan yang sangat mengerikan.


"Pembunuh tetaplah pembunuh! Aku akan melenyapkan kalian yang telah melukaiku!" seru Ratih.


Rangga, Rahendra dan Raka berdiri berdampingan, mereka berdiri di depan keluarga pak Bambang.


"Kalian tetaplah di sini dan jangan pergi sebelum kami memberi aba-aba," ucap Rangga.


Keluarga pak Bambang menganggukkan kepala, "Kami akan mengikuti apa yang kalian katakan." ucap istrinya pak Bambang.


Aaaaaaaaa!! Arwah Ratih berteriak.


Rangga meminta mereka untuk berjalan mundur perlahan-lahan. Lalu kemudian Rangga meminta mereka untuk berlari ke arah selatan.


"Pergilah ke selatan dan teruslah berlari jangan pernah menengok ke belakang!" teriak Rangga.


Mereka pun berlari dan mengijuti instruksi dari Rangga. Rangga, Rahendra dan Raka berusaha membuat arwah Ratih tertahan di tempat itu.


"Apakah ini sosok Ratih yang dikenal sebagai orang yang baik dan pemaaf?" ucap Rahendra.


"Apakah ini Ratih yang hanya diam setiap kali dia di hina?"


Semua yang mereka ucapkan perlahan-lahan membuat Ratih tenang. Angin dan gemuruh perlahan-lahan hilang.


Ratih terdiam untuk sejenak. Rangga, Rahendra dan Raka menghela nafas dan mengira kalau mereka telah berhasil menenangkan Ratih. Namun...


Haaaaaaaaa!!! "Aku tidak peduli. Aku akan tetap melenyapkan orang-orang yang sudah menyiksaku!"


Ratih tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka. Rangga, Rahendra dan Raka langsung berlari menyusul keluarga pak Bambang.


"Kita harus segera menemukan mereka sebelum arwah Ratih," ucap Rangga.


Rangga berusaha menghubungi istrinya pak Bambang dan memperingatkan mereka. Namun, ponselnya tidak dapat dihubungi.


"Mengapa sulit sekali menghubunginya," ucap Rangga.


Rangga, Rahendra dan Raka kemudian berpencar mencari keberadaan keluarga Pak Bambang.


"Kalau di antara kalian ada yang menemukan mereka, segera saling menghubungi," ucap Rangga.


"Iya,"


Rangga langsung berlari dan mencari keluarga pak Bambang. Ketdia sedang mencari, kucing hitam peliharaan arwah Ratih menampakkan diri di depannya.

__ADS_1


"Mengapa dia muncul dihadapanku," Rangga menekuk alisnya.


Raka pun berlari dan mencari keluarga pak Bambang sambil memanggil nama mereka.


"Pak Bambang, Ibu dan yang lainnya kalian di mana!" teriak Raka.


Raka menghentikan langkahnya ketika dia melihat sosok Ratih berada dihadapannya.


Dia perlahan-lahan melangkahkan kaki ke belakang, "Mengapa dia yang muncul." ucap Raka.


Rahendra terus berlari dan mecari di segala sisi hutan. Dia pun akhirnya menemukan keluarga pak Bambang yang sedang bersembunyi di sebuah rumah pohon.


"Akhirnya aku menemukan kalian," ucap Rahendra.


"Apa dia sudah tidak mengejarku?" tanya pak Bambang.


"Dia masih mengejar, tapi sepertinya belum menemukan kalian," ucap Rahendra.


Rahendra kemudian mengambol ponselnya dan menghubungi Rangga dan Raka.


Ketika Rangga dan Raka sedang melangkahkan kaki ke belakang, ponsel mereka berbunyi dan membuat mereka berhenti melangkah.


"Rahendra! Kau menelepon di waktu yang salah," gumam Raka dan Rangga.


Mereka berdua berlari meninggalkan arwah Ratih dan juga kucingnya. Ketika berlari, mereka mengangkat telepon dari Rahendra.


"Kenapa kamu menelepon?" tanya Raka.


"Aku sudah menemukan mereka, cepat datang ke rumah pohon,"


"Dasar! Jangan mengatakan tempatnya. Kau tau, kami sedang dikejar arwah dan kucing hitam itu," ucap Rangga dan Raka.


"Apa?"


Rahendra kemudian mematikan ponselnya dan meminta keluarga pak Bambang untuk turun dan segera meninggalkan tempat tersebut.


Ketika mereka akan pergi meninggalkan rumah pohon, angin berhembus sangat kencang dan gemuruh pun terdengar sangat mengerikan.


"Kita terlambat. Dia sudah datang," ucap Rahendra.


Rangga dan Raka sampai di tempat itu. Arwah Ratih kemudian mengikat tubuh Rangga, Rahendra, Raka dan keluarga pak Bambang dengan dedaunan yang menyatu.


Lalu kemudian, dia menarik pak Bambang dan mengikat sebuah tali serabut ke lehernya. Arwah Ratih menarik pak Bambang ke atas pohon dan membuatnya tergantung.


"Tidak!" teriak istrinya pak Bambang.


"Jangan lakukan itu, Ratih! Jangan!" teriak Rahendra.


Arwah Ratih kemudian membuat dedaunan itu mengikat tubuh Rahendra semakin kencang.


Dia menarik Pak Bambang sampai ke atas dan membuatnya tidak bisa bernafas. Pak Bambang pun tewas tercekik tali serabut itu.

__ADS_1


Dedaunan yang mengikat mereka kemudian terlepas dengan sendirinya, arwah Ratih pun menghilang.


Rangga, kemudian menelepon pemadam kebakaran untuk meminta mereka menurunkan tubuh pak Bambang yang tergantung di atas pohon.


__ADS_2