
Tiba-tiba ada sosok Ratih di depannya. Dia menatap Raka dengan tatapan yang tajam seakan-akan ingin menerkam mangsanya.
Rangga dan Rahendra melotot melihat arwah Ratih berad di depan mereka. Mereka berdua menarik tangan Raka dan berlari menjauhi arwah tersebut.
"Ayo kita lari!!" pekik Rangga.
Mereka pun berlari sejauh mungkin dari sana. Akan tetapi, sebuah kayu besar terjatuh dan meninmpa Raka.
Rangga dan Rahendra menghentikan langkah mereka dan berbalik badan. Mereka ternganga melihat Raka tertimpa batang pohon itu.
"Raka!" seru Rahendra.
Mereka berdua langsung menghampiri Raka dan berusaha mengangkat batang pohon yang meninmpa tubuhnya Raka.
Raka pun terluka di bagian lengan karena sedikit tergesek dengan batang pohon yang cukup tajam.
Setelah mereka berhasil mengangkat batang pohon itu, Rangga dan Rahendra berusaha menyadarkan Raka yang tak sadarkan diri.
Raka membuka matanya, "Kalian."
"Kamu tidak apa-apa, Raka?" tanya Rangga.
Raka memegang kepalanya, "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja,"
"Kalau aku tiada apa yang kalian lakukan?"
"Kami akan menengadah dan mengangkat kedua tangan ke atas,"
"Mendoakanku?"
"Bukan. Bersyukur atas kematianmu, hehe," celetuk Rangga.
"Haha.. Lucu sekali. Aku serius jangan bercanda begitu,"
"Kalau lu mati, kami pasti sedihlah. Masa iya kami mengadakan pesta. Pertanyaanmu ada-ada saja," ucap Rahendra.
"Aku hanya ingin tahu saja jawaban dari kalian,"
Rahendra mengangkat kepala Raka dan menaruhnya di pangkuannya. Raka pun mulai berkata hal-hal yang aneh.
"Kalau aku tiada.. Trio R bakal berubah menjadi duo R. Tidak cocok," ucap Raka.
"Haha.. Ngomong apa sih kamu tuh, Raka. Sudahlah, sekarang bangun dan jangan bermain-main lagi,"
"Aku serius. Sepertinya aku akan pergi jauh dari kalian,"
Rangga dan Rahendra menatap Raka. Mata mereka pun berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Raka.
Raka mengambil nafas panjang dan bicaranya mulai terengah-engah. Suaranya pun semakin hilang.
"Semoga duo R semakin sukses. Jangan lupakan aku.. Ya," ucap Raka.
"Ngomong kayak gitu lagi gue hajar lu!"
"Haha.. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kamu mengatakan hal itu kepadaku,"
__ADS_1
Raka memejamkan matanya. Tangannya pun terlepas dari genggaman Rahendra.
Rahendra dan Rangga terdiam untuk sejenak. Lalu, mereka menepuk-nepuk pipi Raka.
"Rak! Jangan bercanda, Raka!" seru Rangga.
Rangga memeluk Raka dan menangis di dalam pelukan tersebut. Rahendra memukul punggung Raka beberapa kali sambil meneteskan air mata.
"Lu lemah banget sih, Rak! Cuma ketimpa batang pohon aja mati," ucap Rahendra.
"Iya. Lu bener-bener lemah banget!"
"Gue gak lemah, gue cuma tidur sebentar," ucap Raka.
Rangga dan Rahendra yang tadinya tertunduk langsung mengangkat kepala mereka dan melihat ke arah Raka.
Mereka terkejut dan langsung memeluk Raka. Raka pun tertawa melihat tingkah teman-temannya.
"Kmau bercanda tadi ya?" tanya Rahendra.
"Hmm. Bercanda sedikit bolehlah,"
"Bercandamu kelewatan, Raka," ucap Rangga.
"Ya, maaf. Aku hanya ingin melihat kesetiaan persahabatan kalian padaku itu saja,"
"Huu!" Rangga dan Rahendra mendorong Raka.
Setelah itu, mereka bangun dan kembali ke tempat di mana mobil mereka berada.
Ketika sampai di tempat itu, Rangga, Rahendra dan Raka langsung masuk ke dalam mobil dan berangkat ke rumah keluarga Nissa.
"Hmm. Karena arwah itu yang telah menghentikan mobil ini," ucap Rahendra.
"Gue heran dengan satu hal, kenapa arwah Ratih sering banget mendadak muncul di hadapan kita. Dia pasti ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak bisa," ucap Rangga.
"Apa yang ingin dia sampaikan kepada kita?"
Rangga mengangkat kedua tangan dan bahunya, "Mana aku tahu."
Sesampainya mereka di rumah keluarga Nissa. Keluarga Nissa sudah berada di depan rumah dan langsung menghampiri mereka bertiga.
"Kenapa kalian baru sampai?" tanya Nissa.
"Tadi mobilku mogok di jalan makanya kami terlambat datang," ketus Rahendra.
"Oo,"
Rangga, Rahendra dan Raka langsung masuk ke dalam. Mereka duduk bersama dengan keluarga Nissa.
Setelah berbincang sejenak dengan mereka, Trio R masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Sebaiknya kita jujur saja dengan mereka soal arwah Ratih," ucap Raka.
"Apa yang harus kita katakan kepada mereka?" Rangga menatap Raka.
"Masa iya kita mau mengatakan kepada mereka kalau arwah Ratih terus-terusan mengganggu kita, begitu?" ucap Rahendra.
__ADS_1
Raka membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Hah. Sulit sekali mengatakan kebenarannya."
"Makanya itu aku memintamu untuk diam, karena tidak mungkin kita akan mengatakan hal itu,"
Rangga dan Rahendra membaringkan tubuh mereka di samping Raka. Mereka pun tertidur untuk beberapa saat.
Beberapa jam tertidur, Raka terbangun karena mendengar suara gaduh di luar jendela kamarnya.
Dia pun langsung beranjak dari tempat tidur dan melihat kegaduhan apa yang ada di luar kamar mereka.
"Kenapa berisik sekali sih. Warga Desa ini sedang melakukan apa coba," gerutu Raka.
Raka membuka gorden jendela dan melihat beberapa warga sedang berkumpul sambil membawa kayu dan obor.
Beberapa orang lainnya berlari dan mencari sesuatu di semak-semak sekitar rumah.
Raka mengerutkan alisnya, "Apa yang sedang mereka cari."
Rangga dan Rahendra pun terbangun, mereka melihat Raka sedang berdiri dan menatap sesuatu di luar kamar.
Mereka menghampiri Raka dan melihat apa yang sedang di lihat oleh Raka.
"Mereka sedang mencari apa?" tanya Rangga.
"Entah. Mungkin ada babi ngepet," ucap Raka.
"Babi ngepet siang bolong begini? Mana mungkin,"
"Kalau orang yang percaya akan begituan, mungkin-mungkin saja,"
Trio R keluar dari dalam kamar dan menghampiri para warga yang sedang mencari sesuatu.
Mereka menatap sejenak para warga yang penuh amarah ketika mencari sesuatu di semak-semak.
"Maaf, Pak. Apa yang sedang kalian cari?" Rangga bertanya kepada salah satu warga.
"Kami sedang mencari kucing hitam, Nak," jawab Bapak itu.
"Ku-kucing hitam?"
"Iya. Kalian pasti tahukan larangan yang ada di Desa ini,"
"Kami tahu, Pak. Tapi apa kalian tidak takut dengan arwah itu?"
"Tidak! Walau arwah itu datang, kami akan tetap melarang kucing hitam berhuni ataupun melintas di Desa ini," ucap Bapak itu.
Dia kemudian kembali melanjutkan mencari kucing hitam yang tidak sengaja melintas di depan warga.
"Ini kelewat batas tahu gak. Itu kucing cuma melintas, terus mau mereka bunuh gitu?" ucap Rahendra.
"Pantas saja arwah Ratih sangat marah kepada mereka dan tetap membalaskan dendam atas kematiannya,"
"Hmm. Aku yakin, dia akan datang dan menggemparkan Desa ini," ucap Raka.
Rangga, Rahendra dan Raka kembali masuk ke dalam dan tidak membantu para warga yang sedang mencari kucing hitam.
Awalnya, seorang gadis kecil yang sedang bermain tisengaja berpapasan dengan kucing hitam itu. Gadis itu bermain dengan kucing tersebut, namun, ibunya melihatnya dan menarik tangan anaknya menjauhi kucing tersebut.
__ADS_1
Karena terkejut, kucing itu langsung berlari dan bersembunyi di sekitar semak-semak di salah satu rumah warga.