Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 20. Merubah rencana


__ADS_3

"Kalian mau pergi ke mana?" tanya ayahnya Nissa.


"Kami akan kembali ke Kota, Paman," ucap Rahendra.


"Kenapa? Urusan kalian di sinikan belum selesai,"


"Urusan kami tidak akan pernah selesai, jika kalian terus-terusan berbuat ulah," ketus Raka.


"Berbuat ulah, maksudnya?" tanya bapaknya Nissa.


"Kalian selalu berbuat hal yang bisa membuat arwah Ratih marah dan ujung-ujungnya kami harus turun tangan dalam menolong kalian," ucap Rangga.


"Apa kalian tidak ikhlas menolong kami?"


"Kami ikhlas, Paman. Hanya saja, kami sedikit letih menghadapi sikap keras kepala kalian itu,"


"Kami permisi, Paman, Bibi dan semuanya... Assalamu 'alaikum,"


Rangga, Rahendra dan Raka langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Desa.


Mereka pergi dalam keadaan kecewa terhadap warga Desa yang selalu menganggap mereka salah dan enggan mendengarkan saran dari mereka.


"Entah kenapa perasaanku tidak enak," ucap Raka.


"Kenapa?" tanya Rangga.


"Entah. Aku merasa akan terjadi hal buruk di Desa ini,"


"Hal buruk?" Rangga menekuk alisnya.


Rahendra langsung menghentikan laju mobilnya. Mereka berhenti di perbatasan Desa itu dengan Desa lainnya.


Rangga, Rahendra dan Raka memikirkan kembali keputusan mereka untuk meninggalkan Desa tersebut.


"Apa kalian yakin akan pergi dari Desa ini?" tanya Raka.


Rangga dan Rahendra melirke arah Raka yang duduk di kursi belakang. Mereka terdiam untuk sejenak.


Rangga memejamkan matanya dan menenangkan fikirannya yang sedang kesal.


"Kita kembali saja," ucap Rangga.


"Kembali ke Desa?" tanya Raka.


"Iya,"


"Aku rasa kita jangan kembali sekarang," Rahendra melirik ke arah Rangga dan Raka.


Dia terdiam dan hanya memberi isyarat kepada kedua sahabatnya melalui mata dan alisnya.


"Aku sih ikut saja apa yang sudah kamu rencanakan, Rahendra," Rangga melipat kedua tangannya dan menaruhnya di belakang kepalanya.


Rahendra langsung melajukan kembali mobilnya. Mereka melintasi perbatasan Desa tersebut.


Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke Desa sebelah, Desa yang tidak jauh dari Desa itu.


"Kita akan pergi kemana?" tanya Raka.


"Kita akan menginap di Desa ini," ucap Rahendra.

__ADS_1


"Emang di sini ada tempat penginapan?" tanya Rangga.


"Aku tidak tahu,"


"Lalu di mana kita akan tinggal?"


"Aku akan coba tanya ke warga sekitar,"


Rahendra menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. Mereka bertiga kemudian turun dari mobil dan menghampiri warga yang sedang berada di warung.


"Permisi!" ucap Rahendra.


"Iya,"


"Maaf. Apa di sini ada tempat penginapan? Seperti kos-kosan atau kontrakan?" tanya Rahendra.


"Ada, Nak. Tapi tidak terlalu besar," ucap seorang ibu.


"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting kami bisa beristirahat," ucap Rangga.


"Aku akan panggilkan pemilik kontrakannya,"


Ibu itu kemudian pergi meninggalkan warung untuk menemui pemilik kontrakan.


Beberapa menit kemudian, ibu itu kembali bersama dengan seorang wanita berambut pirang.


"Ini orangnya," ucap Ibu itu.


"Apa kalian membutuhkan kontrakan?" tanya ibu berambut pirang.


"Iya, Bu. Satu kontrakan untuk tiga orang," ucap Rahendra.


"Naik mobil kami saja, Bu,"


Rangga membukakan pintu kursi depan untuk ibu berambut pirang itu. Lalu, mereka pergi ke rumah kontrakan yang dikatakan ibu itu.


Setelah sampai, trio R di minta untuk melihat-lihat kontrakan itu lebih dulu sebelum mereka menyewanya.


"Lumayan," ucap Raka.


"Bagaimana? Apa kalian suka?" tanya ibu itu.


"Suka, Bu. Kami akan menyewa kontrakan ini," ucap Rangga.


"Berapa biayanya, Bu?" tanya Rahendra.


"Lima ratus ribu untuk sebulan," ucap ibu itu.


Rahendra langsung mengambil dompetnya dan mengambil uang lima ratus ribu. Lalu dia memberikan uang itu kepada ibu pemilik kontrakan.


"Ini Bu uangnya,"


"Terima kasih, Nak,"


Ibu berambut piring itu langsung pergi meninggalkan kontrakannya. Rangga, Rahendra dan Raka mengambil tas mereka yang ada di dalam mobil dan membawanya ke dalam rumah.


Langsung masuk ke dalam kamar masing-masing dan beristirahat untuk sejenak.


"Kamarnya cukup nyaman, tapi sayang.. Banyak bintang di atap rumahnya," ucap Raka.

__ADS_1


Raka tiduran di tempat tidur sambil menatap atap rumah yang terlihat berlubang kecil-kecil.


Dia pun bisa melihat ada seekor tikus yang sedang melintas di atap rumah. Melihat hal itu, Raka pun tertawa.


"Haha.. Tikus," tawa Raka.


Rangga dan Rahendra duduk di atas tempat tidur dan membuka laptop. Mereka berdua mengerjakan tugas kampus yang belum mereka kerjakan.


Mata Raka perlahan-lahan terpejam dan tertidur pulas di kamarnya. Rangga yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya berkali-kali menguap dan sesekali memejamkan matanya karena merasa mengantuk.


Rangga mengangkat kedua tangannya ke atas, "Hua! Mengantuk sekali."


Rangga meletakkan laptopnya di atas meja, dia kemudian berbaring di atas tempat tidur dan tertidur.


Rahendra yang sudah merasakan kantuk di matanya, masih tetap mengerjakan tugas kuliahnya. Dia tidak ingin tidur sebelum tugasnya selesai.


"Bertahanlah sebentar lagi, setelah ini aku akan tidur," ucap Rahendra.


Beberapa menit mengerjakan tugas kuliahnya, tugasnya sudah dia selesaikan. Rahendra menaruh laptopnya di atas meja dan dia tertidur.


Bruuk.. Bruuk.. Bruuk.. Suara jendela terbuka dan tertutup dengan sendirinya.


Raka terbangun karena mendengar suara itu. Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampiri sumber suara yang dia dengar.


"Suara apa sih itu, berisik sekali," ucap Raka.


Raka berjalan keluar kamarnya, dia melihat ada jendela kayu tertiup angin dan membuat suara yang tidak enak.


"Jadi itu sumber masalahnya," ucap Raka.


Raka mendekati jendela itu dan menutup rapat jendelanya. Setelah itu, dia berjalan kembali ke kamarnya.


Baru beberapa langkah meninggalkan jendela itu, angin berhembus kencang dan membuat jendela itu terbuka kembali.


"Sialan! Baru juga gue tutup, malah ke buka lagi," pekik Raka.


Raka kembali mendekati jendela itu dan menutupnya kembali. Sebelum pergi meninggalkan jendela itu, Raka menatapnya sejenak.


"Ayo! Kalau mau kebuka, kebuka sekarang jangan pas gue pergi," ucap Raka.


Merasa semuanya sudah membaik, Raka pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi, lagi-lagi jendela itu terbuka karena tertiup angin.


"Benar-benar, ngerjain banget ini jendela!" gumam Raka.


Raka pun membalikkan badan dan berjalan mendekati jendela tersebut. Dia kembali menutup jendelanya.


Merasa kesal karena di buat bolak-balik menutup jendela tersebut, Raka akhirnya duduk di depan jendela dan menatap ke arah jendela itu.


"Aku tidak akan pergi dari sini," ucap Raka.


Karena merasa bosan menatap jendela kayu itu, Raka perlahan-lahan memejamkan matanya.


Ketika baru memejamkan matanya, tiba-tiba jendela itu kembali terbuka karena tertiup oleh angin.


Raka terkejut dan terbangun, dia kemudian berdiri dan menutup jendela itu kembali.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan jendela ini," batin Raka.


Raka berjalan mundur ke belakang sambil terus menatap ke arah jendela kayu tersebut.

__ADS_1


Ketika dia berjalan ke belakang, Raka merasa dia menabrak sesuatu dibelakangnya. Raka pun membalikkan badannya dan....


__ADS_2