
Arwah Ratih menatap tajam ke arah mereka, "Kamu harus mati!!" teriak sosok tersebut.
Pak Bambang kemudian berlari meninggalkan keluarganya dan juga tidak mendengarkan Trio R.
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian membagi tugas. Rangga mengejar Pak Bambang, Rahendra menjaga istrinya pak Bambang dan Raka menjaga kedua anaknya pak Bambang.
"Jangan berlari pak!" teriak Rangga.
Pak Bambang masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamar tersebut. Rangga terus mengetuk pintu kamarnya dan meminta pak Bambang untuk keluar dari kamar.
"Buka pintunya, Pak! Kalau Bapak di dalam kamar, Bapak akan dalam masalah besar," ucap Rangga.
"Tidak. Berada di dalam kamar ini jauh lebih aman daripada saya berada di luar," ucap pak Bambang.
Rangga berusaha membuka pintu kamar itu dengan paksan, namun, dia tidak bisa. Lalu kemudian Rangga menghampiri istrinya pak Bambang dan Rahendra.
"Mengapa kamu datang ke sini, Rangga?" tanya Rahendra.
"Aku ada urusan," ucap Rangga. "Bu. Apa ibu punya kunci cadangan kamar Ibu dan Bapak?" tanya Rangga.
"Tidak ada. Kunci kamar itu hanya ada satu," ucap istrinya pak Bambang.
"Gawat. Dia bisa mati di sana kalau dia tidak mau membuka pintu kamarnya,"
"Lebih baik kita dobrak saja pintu kamarnya," ucap Rahendra.
Rangga, Rahendra, Raka dan keluarganya pak Bambang menghampiri kamar tersebut. Mereka kemudian berusaha mendobrak pintu kamar itu.
Ketika sedang mendobrak pintu kamar, mereka mendengar suara aneh yang terdengar dari dalam kamar.
Terdengar suara seseorang terjatuh, "Apakah dia sudah mulai beraksi." ucap Raka.
"Kita harus mendobraknya lebih keras lagi,"
Satu, dua..., tiga!
Pintu kamar itu terbuka. Mereka kemudian mencari pak Bambang di sekitar kamar. Semua orang berpencar dan mencarinya.
Raka kemudian menemukan pak Bambang sedang bersembunyi di belakang sofa dengan menutupi tubuhnya dengan kain putih.
"Aku menemukannya," teriak Raka.
Semua orang langsung menghampirinya. Istri dan anak-anak pak Bambang duduk di hadapan pak Bambang.
"Pak! Bapak tidak apa-apa?" tanya istrinya.
Pak Bambang menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa." ucap pak Bambang.
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian kembali ke Ruang keluarga dan membereskan barang-barang yang terletak di lantai.
__ADS_1
Setelah membereskan barang-barang, mereka duduk di sofa dan merenungi kejadian yang sudah terjadi.
"Aku heran, kenapa nona kunti tiba-tiba menghilang ya," ucap Raka.
"Nah, itu yang jadi pertanyaanku,"
"Tapi aku rasa, nona kunti sedang merencanakan sesuatu," ucap Rahendra.
Ketika mereka sedang bersantai, angin berhembus sangat kencang hingga membuat tirai terbuka dan jendela bergetar.
Rangga, Rahendra dan Raka beranjak dari tempat duduk, mereka menatap ke arah luar jendela.
"Sepertinya dia kembali," ucap Raka.
Rangga dan Rahendra melihat ke arah luar jendela. Mereka berdua melihat ada siapapun di luar.
Ketika mereka membalik badan, mereka melotot dan terkejut melihat sosok yang ada di belakang Raka.
"Raka! Di-dibelakangmu," Rangga menunjuk ke arah sosok tersebut.
Raka perlahan-lahan membalik badannya dan melihat ke arah sosok tersebut.
Arwah Ratih perlahan-lahan mendekati mereka dengan tatapan yang tajam. Rangga, Rahendra dan Raka berjalan mundur sampai mereka menabrak dinding.
"Sudah mentok. Kita tidak bisa lari kemanapun lagi," ucap Raka.
Arwah Ratih berhenti dihadapan mereka, dia berkata, "Jangan mengganggu pembalasanku! Aku tidak akan melukai kalian jika kalian tidak menggangguku."
"Aku tidak akan pernah memaafkan mereka! Semua yang mereka lakukan padaku, aku akan membalasnya lebih dari itu," seru arwah Ratih.
"Kalau kamu melakukan hal itu, kamu dan mereka itu sama saja. Sama-sama tidak punya hati," ucap Rangga.
Arwah Ratih terdiam dan tertunduk sejenak, "Aku tidak perduli! Aku akan membalaskan dendamku kepada mereka."
Arwah Ratih kemudian pergi meninggalkan mereka. Rangga, Rahendra dan Raka langsung berlari menuju kamar pak Bambang.
Ketika mereka berada di depan kamar pak Bambang, mereka melihat pak Bambang sedang tertidur di tempat tidur. Di saat mereka akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba arwah Ratih menampakkan diri dan pintu kamar itupun tertutup.
Bruuuk.. Suara pintu kamar pak Bambang.
"Gawat!" ucap Rangga.
Rangga, Rahendra dan Raka berusaha mendobrak pintu kamar tersebut. Istrinya pak Bambang dan anak-anaknya kemudian menghampiri mereka bertiga.
"Ada apa ini?" tanya istrinya pak Bambang.
"Arwah itu ada di dalam. Dia mengunci pintunya," ucap Rahendra.
"Apa?"
__ADS_1
Mereka kemudian berusaha mendobrak pintu itu. Di dalam kamar terdengar suara pak Bambang menjerit dan terdengar suara seseorang dibanting ke lantai.
Mendengar suara itu, Raka mengambil meja dan naik ke atasnya, dia melihat ke dalam kamar melalui sela-sela atap pintu.
"Minta maaflah kepadanya, Pak. Mungkin dia akan memaafkanmu," ucap Raka.
Pak Bambang melihat ke atas, "Tidak! Aku tidak akan meminta maaf kepadanya." ucap pak Bambang.
Arwah Ramelihat ke arah Raka dia kemudian menatap tajam seperti akan menerkam dirinya.
Ketika Raka menatap ke arahnya, tiba-tiba dia terpental kebelakang. Rangga dan Rahendra yang melihatnya akan terjatuh langsung menangkap Raka dari bawah.
Raka terdiam sejenak, "Untung saja aku tidak mati." ucap Raka.
Rangga dan Rahendra membangunkan Raka. Istrinya pak Bambang memberikannya air putih.
Raka meminum air itu dan menenangkan diri untuk sejenak. Setelah itu, dia berdiri dan menceritakan apa yang dia lihat.
Aaaaaaaa... Teriak pak Bambang.
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian mendobrak kembali pintu kamar itu dan pada akhirnya pintu kamar itu terbuka.
"Mas!" istrinya pak Bambang memanggilnya.
"Pak! Pak Bambang!" Rangga, Rahendra dan Raka memanggil pak Bambang.
Mereka semua melihat ke luar jendela. Mereka melihat pak Bambang di tarik oleh arwah tersebut.
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian melompat dari jendela dan mengikuti arwah Ratih dan pak Bambang.
"Kalian tetaplah di rumah, jangan mengikuti kami!" teriak Rahendra kepada keluarganya pak Bambang.
Rangga, Rahendra dan Raka mengikuti arwah Ratih yang membawa pak Bambang ke suatu tempat dengan berhati-hati agar tidak diketahui oleh arwah tersebut.
"Tolong! Tolong aku!" seru pak Bambang.
Arwah Ratih menghentikan langkahnya. Melihatnya berhenti, Rangga, Rahendra dan Raka bersembunyi di balik pohon. Arwah Ratih kemudian melanjutkan jalannya.
"Kita harus berhati-hati dan jangan sampai dia curigai," ucap Rangga.
"Hmm,"
Mereka bertiga kembali berjalan mengikuti arwah Ratih. Arwah Ratih telah membawa pak Bambang ke rumahnya yang telah hancur karena terbakar.
Arwah Ratih itu kemudian menatap tajam pak Bambang dia perlahan-lahan mendekatinya.
"Apa kau ingat tempat ini? Apa kamu ingat kejadian itu?!" seru arwah Ratih.
Pak Bambang berjalan perlahan-lahan kebelakang ketika arwah Ratih mendekatinya. Dia berusaha melarikan diri darinya, namun, Ratih menariknya kembali hingga tersungkur di depan rumah tersebut.
__ADS_1
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian berjalan menghampiri arwah Ratih dan pak Bambang. Ketika mereka hampir dekat dengan arwah Ratih, sesuatu telah menghentikan langkah mereka, dia adalah...