Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 23. Dasar! Kunti sialan!


__ADS_3

Di malam hari...


Rangga memakaikan jas Rahendra, "Kita harus cepat, jangan sampai membuat Nissa menunggu." ucap Rangga.


Rahendra merapikan rambutnya, "Santai! Ini masih jam tujuh malam." ucap Rahendra.


Raka menyemprotkan minyak wangi ke tubuh Rahendra. Setelah itu, mereka keluar dari kamar dan langsung bergegas ke rumah Nissa.


Rahendra pergi menjemput Nissa seorang diri, sedangkan Rangga dan Raka tetap berada di rumah indekos.


Rangga dan Raka mengacungkan ibu jari, "Semoga berhasil, Rahendra!" Raka memberi semangat kepada sahabat baiknya itu.


Setelah Rahendra pergi meninggalkan rumah indekos, Rangga dan Raka masuk ke dalam rumah.


Ketika Rangga hendak menutup pintu, dia memikirkan sesuatu lalu, mengurungkan niatnya masuk ke dalam rumah.


Rangga membisikkan sesuatu kepada Raka, "Bagaimana kalau kita...," Raka tersenyum mendengar ucapan Rangga.


Mereka pergi meninggalkan rumah dan datang ke suatu tempat.


Setelah menjemput Nissa, Rahendra melajukan mobilnya ke suatu tempat bersama dengan Nissa.


Rangga dan Raka bersembunyi di balik pohon do sebuah taman bunga yang indah.


Mereka berniat untuk mengintai Rahendra dan Nissa yang sedang jalan berdua.


Raka menguap, "Hua! Mengapa mereka tidak juga sampai di sini?"


Rangga mengangkat alis kanannya, "Mungkinkah Rahendra merubah tempatnya?"


"Mungkin saja,"


Sepuluh menit menunggu Rahendra di balik pohon. Rangga dan Raka melihat ada sebuah mobil terparkir di taman itu.


Rahendra pun keluar dari dalam mobil, lalu dia membukakan pintu mobil sebelahnya.


Betapa terkejutnya Rangga dan Raka melihat orang yang di ajak Rahendra ke taman. Mereka sampai ternganga dan tidak mengedipkan mata.


Rangga menepuk dahi, "Sudah gila apa Rahendra ini. Apa dia tidak bisa melihat siapa yang bergandeng tangan dengannya."


Rangga menengadah, "Sepertinya dia sudah menutup mata Rahendra."


Raka menatap Rahendra, "Aku akan menjemput Nissa yang sebenarnya. Kau tunggulah di sini dan cepat sadarkan pria bodoh itu," ucap Raka.


"Iya,"


Raka langsung bergegas pergi meninggalkan taman. Dia berjalan kaki menuju rumah Nissa.


Rangga yang berada di taman berusaha memanggil Rahendra dan menyadarkannya akan wanita yang berada di sebelahnya.


"Kenapa sulit sekali menyadarkannya," gumam Rangga.


Raka terus berlari tanpa berhenti. Ketika Raka melintasi TPU, dia dikejutkan dengan...


Raka menghentikan langkahnya, "Hadeuh! Kau ini bisa gak.. Gak usah ganggu gue dulu, gue lagi ribet nih," ucap Raka.


Raka membelok arah, namun, povong itu melompat ke arahnya dan menghadang jalannya.


Raka melipat kedua tangannya di dada, "Hoho.. Kau berani menghadang gue ya,"

__ADS_1


Raka menampar pocong tersebut hingga membuatnya terjatuh ke tanah dan tidak bisa bangun.


"Hah!" Raka meniup tangannya. "Mantapkan tamparan gue."


Setelah itu, Raka melanjutkan perjalanannya menuju rumah Nissa yang berada di ujung TPU.


Ketika hampir melewati TPU, tiba-tiba pocong lain menghadang perjalanannya.


"Ada lagi," Raka menggelengkan kepalanya.


Raka memiringkan kepalanya ke kanan, pocong itu mengikuti gerakan Raka. Raka memiringkan kepalanya ke kiri, pocong itupun mengikutinya lagi.


Raka menggulung lengan bajunya, "Hei! Pocong! Berani ngikutin gue lagi, gue hajar lu sampai mati!" pekik Raka.


"Gue kan memang udah mati, Bang," jawab pocong tersebut.


"Eh iya. Lu kan udah mati, jadi gak bakal mati lagi, haha.. Bodoh sekali gue," gumam Raka.


Raka menaruh kedua tangannya di pinggang, "Kalau lu gak mau pergi, gue hajar lu sama seperti kawan lu yang ada di sana." Raka menunjuk ke arah pocong yang masih terbaring.


Pocong itu tidak mendengarkan ucapan Raka, dia masih tetap berada di tempatnya.


Merasa kesal, Raka langsung menghajar pocong tersebut sampai babak belur.


Raka berjalan dengan bangga,"KO kan lu!"


Di taman...


Rahendra duduk di kursi taman bersama arwah Ratih yang dia kira adalah Nissa.


Mereka menatap rembulan dan bintang-bintang yang sedang bersinar menghiasi langit.


"Benarkah?" ucap arwah Ratih.


"Iya benar, kau...," Rahendra menatap ke arah arwah Ratih dan tersadar kalau yang bersama dengannya bukanlah Nissa.


Rahendra memalingkan wajahnya, "Dasar! Kunti sialan! Kenapa lu mengganggu kencan gue sih." Rahendra berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Di balik pohon, Rahendra melihat Rangga yang sedang tertawa melihat ekspresi Rahendra yang terkejut melihat arwah Ratih.


"Hahaha.. Kencan dengan kunti, hahaha," tawa Rangga.


Rahendra menghampiri Rangga, "Sialan lu ya! Kenapa gak bilang gue soal ini,"


"Gue udah berusaha bilang ke lu, tapi lu nya yang gak dengar," ucap Rangga.


Rahendra melipat kedua tangannya di dada, "Di mana Raka?" tanya Rahendra.


"Dia sedang menjemput Nissa di rumahnya,"


Rangga dan Rahendra masuk ke dalam mobil dan menunggu kedatangan Raka dan Nisa.


Raka pun sampai di rumah Nissa dan langsung mengetuk pintu rumahnya.


"Nis!" panggil Raka dengan nafas yang terengah-engah.


Nissa membuka pintu, "Iya,"


Raka langsung menarik tangan Nissa, tetapi Nissa melepaskan cengkeraman tangannya.

__ADS_1


"Mengapa kamu memegang tanganku?" pekik Nissa.


"Kau tahu, Rahendra...," Raka menceritakan semua yang terjadi dengan Rahendra di taman.


Nissa terkejut dan sedikit tertawa mendengar hal itu. Mereka kemudian langsung bergegas menuju taman.


Ayahnya Nissa meminta Raka untuk membawa motornya dan jangan berjalan kaki berdua.


Raka pun pergi ke taman bersama Nissa mengendarai motor ayahnya Nissa.


"Kenapa Raka lama sekali sih," ucap Rahendra.


"Sabar. Sebentar lagi juga mereka datang," ucap Rangga.


Raka sampai di taman. Rahendra dan Rangga langsung keluar dari dalam mobil.


Raka memainkan matanya kepada Rahendra mengarahkan matanya kepada Nissa.


Rangga mendorong pelan tubuh Rahendra, "Sudah berkencanlah sana."


"Kalian tidak usah memikirkan kami, kami akan menunggu di dalam mobil," ucap Raka.


Rahendra menggenggam tangan Nissa dan mengajaknya berjalan-jalan di taman.


Sedangkan Rangga dan Raka, mereka masuk ke dalam mobil dan makan kacang sambil menatap Rahendra dan Nissa.


Rangga cemberut,"So sweet-nya,"


"Makanya cari pacar," ucap Raka.


Di bawah cahaya rembulan, Rahendra berlutut Dihadapan Nissa sambil memegang setangkai bunga mawar.


Nissa tersenyum melihatnya. Rangga dan Raka yang menyaksikan hal itu terbakar hangus melihat kemesraan Rahendra dan Nissa.


"Ah, so sweet-nya," ucap Raka.


Rahendra menatap Nissa dengan berlutut dihadapannya, "Nis. Jujur, aku.. A-aku..," Rahendra tergugup.


Rangga menggaruk kepalanya, "Mulai lagi si Rahendra, kenapa pakai gugup segala,"


"Hadeuh!" Raka menepuk dahinya.


Mendengar suara Rahendra terbata-bata, Nissa pun tertawa kecil dan tetap menunggu Rahendra mengatakan hal itu kepadanya.


"A-aku.. Aku mencintaimu," ucap Rahendra.


"Oh," Raka dan Rangga memegang dada.


Nissa tersenyum, "Aku juga mencintaimu, Raka," balas Nissa.


Mendengar jawaban dari Nissa, Rangga dan Raka langsung keluar dari mobil dan menghampiri Rahendra dan Nissa.


Raka merangkul Rahendra, "Cie jadian!" seru Raka.


"Hmm.. Cie yang sudah tidak berstatus jomblo lagi,"


Rahendra menepuk pipinya Rangga pelan. Setelah itu, mereka kembali ke rumah Nissa.


Rahendra mengantar Nissa dengan mengendarai motor ayahnya Nissa. Sedangkan Rangga dan Raka, mereka mengikuti Rahendra dari belakang dengan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2