
Rangga, Rahendra dan Raka menghampiri keluarga Nissa, "Maaf, Pak, Bu. Kami tadi ketiduran." ucap Rangga.
"Iya, tidak apa-apa, Nak,"
Mereka bertiga duduk di sofa, "Kalau kmai boleh tahu, kalian habis dari mana?" tanya Rahendra.
"Kami.. Kami habis dari peternakan," ucap Bapaknya Nissa.
"Hmm. Peternakan punya Bapak sendiri?" tanya Raka.
"Iya. Peternakan itu warisan dari keluarga saya,"
"Waw. Apa kami boleh melihat peternakan Bapak?" tanya Raka.
"Boleh. Nanti malam kalian bisa datang ke sana," ucap Bapaknya Nissa.
Setelah lama berbincang bersama keluarga Nissa, Trio R masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke peternakan keluarga Nissa.
Mereka pergi dengan mengendarai mobilnya Rahendra. Rangga membawa tiga buah senter, sedangkan Raka, dia membawa beberapa cemilan.
"Kenapa kmau membawa cemilan, Raka?" tanya Rangga.
"Buat ditaburkan di jalanan. Ya tentunya buat di makan, pertanyaanmu aneh sekali,"
Rahendra menggelengkan kepala, "Kitakan cuma mau melihat peternakan itu sebentar saja."
"Walau cuma sebentar melihat-lihat peternakan itu, Bapaknya si Nissa pasti akan banyak bicara. Nah, sambil mendengarkan dia bicara, lebih enak kita sambil nyemil,"
Rangga menepuk dahinya, "Terserah kamu saja, Raka."
Sesampainya di peternakan milik keluarga Nissa. Trio R berjalan mengikuti Bapaknya Nissa.
Pak Ratno menunjukkan dan menceritakan bagaimana peternakan itu di bangun oleh keluarganya.
Sambil mendengarkan cerita Pak Ratno, Rahendra merekamnya, sedangkan Raka, dia terus saja menikmati makanan ringan yang dia bawa.
"Makan sendiri aja kamu, bagi kenapa," Rangga mengambil makanan ringan Raka.
"Tadi kmau bilang aku aneh, tapi kenapa kamu malah ikut makan juga," ucap Raka.
"Karena aku lapar," ucap Rangga.
Ketika sedang merekam ke arah hewan ternak, Rahendra melihat sosok aneh yang ada di belakang kandang.
Rahendra lebih mendekatkan kameranya dengan sosok itu. Ketika melihat sosok itu dengan jarak yang sangat dekat, dia jatuh terduduk karena terkejut
Rangga dan Raka mengerutkan alis ketika melihat sikap aneh Rahendra. Mereka menghampiri Rahendra dan membantunya berdiri.
"Ada apa denganmu, Rahendra?" tanya Raka.
Rahendra membisikkan sesuatu kepadanya dan juga kepada Rangga. Mendengar perkataan Rahendra, mereka langsung terkejut dan mengedipkan mata.
"Bahaya. Lari atau bertahan?" Rangga melirik ke arah Rahendra dan Raka.
"Kalau kita lari, bagaimana dengan Pak Ratno?"
__ADS_1
Trio R menatap Pak Ratno dari belakang. Rahendra kemudian membisikkan sesuatu kepada Rangga dan Raka.
Setelah itu, mereka mempercepat jalan menghampiri Pak Ratno yang sudah berjalan cukup jauh dengan mereka.
"Pak!" panggil Rangga.
Pak Ratno membalikkan badan, "Iya, ada apa?" tanya Pak Ratno.
"Sebaiknya kita pulang saja, Pak. Ini sudah terlalu malam," ucap Rahendra.
Pak Ratno melihat ke arah jam tangannya, "Ini baru jam sembilan malam."
"Besok kami ada kuliah pagi, Pak. Jadi, harus segera tidur agar tidak terlambat bangun," ucap Raka.
"Oo. Ya sudah, ayo kita pergi,"
Pak Ratno dan Trio R pergi meninggalkan peternakan. Pak Ratno berjalan lebih dulu kembali ke rumah dengan mengendarai sepeda motornya.
Rangga, Rahendra dan Raka berjalan di belakangnya. Mereka terus menatap ke arah Pak Ratno yang ada di depannya.
"Di keluarga Nissa yang melakukan hal itu siapa? Pak Ratno atau istrinya?" tanya Rangga.
"Entah. Nissa tidak mengatakan apa puni telepon," ucap Rahendra.
Ketika mereka memasuki daerah hutan, tiba-tiba seekor kucing hitam melintas di depan mobil mereka hingga membuat Rahendra menginjak rem secara tiba-tiba.
"Kenapa kmau main ngerem mendadak sih, Rahendra," seru Raka.
"Maaf-maaf. Tadi ada kucing melintas di depan mobil," ucap Rahendra.
"Iya. Kucing hitam...," mereka terdiam sejenak.
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari dalam bagasi mobil Rahendra. Trio R kemudian turun dari mobil dan melihat ke dalam bagasi.
"Emang kmau menaruh apa di dalam bagasi, Rahendra?" tanya Raka.
"Aku tidak menaruh apa pun,"
"Kalau kamu tidak menaruh apa pun, llau apa yang bergerak di dalam bagasi mobilmu?"
Rahendra perlahan-lahan membuka bagasi mobilnya. Seekor kucing hitam langsung melompat keluar dari dalam bagasi.
"Hei, apaan tuh," seru Raka ketika kucing itu melompat ke arahnya.
Rangga, Rahendra dan Raka menatap ke arah kucing hitam yang berlari meninggalkan mereka.
"Bagaimana kucing itu bisa ada di dalam bagasi?"
"Entahlah. Mungkin itu kucing bisa bermain sulap," celetuk Raka.
"Emangnya dia kucing sirkus,"
Rangga dan Rahendra kembali ke depan mobil dan hendak membuka pintu mobilnya. Namun, pintu mobil itu tidak bisa di buka dari luar.
"Kenapa susah sekali di buka," pekik Rahendra.
__ADS_1
Mereka terus mencoba membuka pintu mobil tersebut. Raka pun berusaha membuka pintu mobil bagian depan.
"Gue rasa ini ulahnya deh," ucap Raka.
Rangga langsung berjalan menghampiri Rahendra dan Raka yang berada di sisi lain mobil.
"Maksudmu, arwah Ratih?" tanya Rangga.
Raka menganggukkan kepala, "Siapa lagi kalau bukan dia."
Rangga duduk bersandar di mobil sambil menundukkan kepalanya. Rahendra melipat tangannya di atas mobil.
"Sial banget kita hari ini!" seru Raka.
"Lalu bagaimana nasib Pak Ratno yang berjalan pulang seorang diri," ucap Rangga.
"Entah. Semoga saja dia baik-baik saja,"
Ketika sedang beristirahat di tempat itu, tiba-tiba mereka melihat Pak Ratno berjalan masuk ke dalam hutan.
"Bukankah itu Pak Ratno?" Rangga menunjuk ke arah pria tersebut.
"Eh, iya. Itu Pak Ratno," ucap Raka.
"Tapi mau apa dia masuk ke dalam hutan,"
Rangga, Rahendra dan Raka mengikutinya masuk ke dalam hutan. Tanpa mereka sadari, mereka telah salah melihat orang. Pria yang mereka lihat bukanlah Pak Ratno, melainkan arwah Ratih yang sedang menyamar.
Ketika melihat wajahnya, Trio R langsung berlari secepat mungkin dan menjauh dari arwah Ratih.
"Sialan! Kita di tipu!" pekik Raka.
Mereka terus berlari dan terus berlari. Rangga, Rahendra dan Raka merasa ada yang aneh dengan hutan tersebut. Walau sudah berlari cukup lama, mereka tidak bisa menemukan jalan raya.
"Tadi di mana jalan keluarnya!" pekik Rangga.
"Sepertinya dia sedang mempermainkan kita," ucap Raka.
"Sialan memang!"
Karena merasa letih, Trio R beristirahat sejenak dan bersandar di pohon besar. Ketika sedang beristirahat, arwah itu tiba-tiba muncul dari atas pohon dan membuat mereka terkejut.
Arwah itu muncul tepat di depan wajah Raka, "Eh, sandal jepit gue di colong wewe gombel semalam pukul dua belas." Raka mengatakannya dengan spontan.
Rangga, Rahendra dan Raka langsung berdiri dan berlari meninggalkan pohon besar itu.
Ketika Raka akan berlari, arwah Ratih memegang baju bagian belakang Raka dan membuatnya tidak bisa berlari.
"Hah! Kenapa sih lu suka banget megang baju bagian belakang gue!" pekik Raka. "Sudah donk lepasin! Baju gue ini murahan. Kalau mau baju yang mahal, minta sama si Rahendra."
Raka menengadah, "Ya Allah! Malangnya nasib hamba. Bukannya cewek cantik yang berada bersama hamba, ini malah.. Huh!" Raka menghela nafas. "Malah kuntilanak"
Raka kemudian menengok ke arah belakang dan dia tidak melihat arwah itu ada di belakangnya lagi. Setelah itu, Raka kembali berlari dan menghampiri teman-temannya.
Ketika Raka hampir dekat dengan kedua temannya, tiba-tiba...
__ADS_1