
Beberapa jam pencarian, mereka pun menemukan kucing hitam tersebut. Kucing hitam itu telah bersembunyi di dalam kotak sampah rumah warga. Dia tampak begitu ketakutan ketika melihat para warga Desa menatapnya.
Seorang warga mengangkat kucing hitam itu menggunakan tangannya yang ditutupi dengan pelastik.
Mereka membawa kucing hitam itu ke rumah Kepala Desa untuk di tindak lanjuti.
"Sebaiknya kita bakar saja kucing ini, Pak Kepala Desa!" seru warga.
"Iya. Dari pada dia membawa malapetaka di desa kita,"
"Iya! Bakar saja! Bakar!" teriak para warga Desa.
Trio R yang mendengar mereka berhasil menemukan kucing hitam itu dan hendak membakar kucing tersebut, mereka langsung bergegas datang ke rumah Kepala Desa untuk menghentikan aksi mereka.
Mereka pun mulai menyiapkan pembakaran kucing hitam tersebut. Trio R yang sudah berada di depan rumah Kepala Desa langsung mencari keberadaan kucing hitam itu.
"Kita harus bisa melepaskan kucing itu dan menghentikan warga Desa melakukan kesalahan yang sama," ucap Rahendra.
"Iya. Sebaiknya kita berpencar mencarinya,"
Rangga dan Rahendra mengangguk. Mereka bertiga berpencar mengelilingi rumah Kepala Desa untuk mencari kucing hitam yang ditemukan oleh warga.
Rangga mencari di sekitar depan rumah. Rahendra mencarinya di sekitar rumah bagian belakang. Sedangkan Raka, dia mencari di dalam rumah.
Rangga, Rahendra dan Raka mencari kucing itu dengan berhati-hati agar warga Desa tidak mencurigai mereka.
"Push! Di mana kamu," Raka memanggil kucing itu dengan suara kecil.
Ketika Raka berada di gudang, dia melihat sebuah kandang yang ditutupi oleh kain berwarna hitam. Dia pun langsung membuka kain itu dan melihat apa yang ada di dalamnya.
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Raka.
Raka langsung mengambil kucing itu dan menyembunyikannya di dalam pakaiannya.
Dia kemudian berjalan keluar rumah dengan sesekali melihat ke arah sekitar.
Ketika Raka hampir menuju pintu keluar, Kepala Desa tiba-tiba memanggilnya dan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Raka!" panggil Kepala Desa.
Raka membalikkan badannya, "Iya, Pak." ucap Raka.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Kepala Desa.
"Menemui teman-temanku di luar, Pak," ucap Raka.
"Oo,"
Kepala Desa kemudian pergi meninggalkan Raka. Dia kembali ke dalam menghampiri warga yang lain.
Raka pun bisa bernafas lega. Setelah itu, dia pergi ke luar rumah dan mengabari teman-temannya melalui chat watsap.
Setelah mendapat kabar dari Raka, mereka bertiga bertemu di ujung jalan gang perumahan Kepala Desa.
__ADS_1
"Mana kucingnya?" tanya Rangga.
Raka mengeluarkan kucing hitam itu dari jaketnya dan menunjukkannya kepada mereka.
Setelah itu, mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu. Mereka membawa kucing hitam itu ke rumah arwah Ratih.
"Ini adalah tempat paling aman untuk kamu... Push," ucap Raka.
Raka mengelus-elus kucing hitam itu sebelum dia melepaskan kucing tersebut.
Raka pun melepaskannya. Kucing itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah arwah Ratih.
Ketika dia berada di depan pintu rumah tersebut, dia berbalik dan menatap ke arah mereka bertiga.
"Mengapa dia menatap ke arah kita?" ucap Rangga.
"Entahlah...,"
"... Jangan-jangan...," Rahendra melirik ke arah Rangga dan Raka.
Sosok Ratih kemudian keluar dari dalam rumah dan menatap ke arah mereka bertiga.
Rangga, Rahendra dan Raka perlahan-lahan berjalan kebelakang dan hendak pergi meninggalkan tempat itu.
Meoooong! Kucing itu bersuara dengan sangat lembut.
Rangga, Rahendra dan Raka saling menatap satu sama lain. Mereka merasa kucing itu ingin mengatakan sesuatu kepada mereka.
Rangga dan Raka mengangkat alisnya, "Sama-sama." ucap trio R.
Selang beberapa lama, arwah Ratih menghilang begitupun kucing hitam itu.
Rangga, Rahendra dan Raka terkejut melihat kucing itu ikutan menghilang bersama dengan arwah Ratih.
"Kemana itu kucing?"
"Apakah sebenarnya kucing hitam itu adalah peliharaannya nona kunti?"
"Lebih baik kita pergi dari sini," ucap Rahendra.
Rangga, Rahendra dan Raka pergi meninggalkan rumah tersebut. Mereka kembali ke rumah keluarga Nissa.
Ketika sampai di rumah keluarga Nissa, mereka terkejut melihat para warga Desa sudah berkumpul di sana.
"Ada apa ini? Mengapa mereka semua ada di sini?" Rangga bertanya-tanya.
"Mungkinkah mereka mengetahui kalau kita yang mengambil kucing itu?" Raka melirik ke arah Rangga.
Mereka pun mendekati para warga Desa yang menatap mereka dengan tatapan sangat marah.
Rangga, Rahendra dan Raka memperhatikan mereka semua yang seakan-akan ingin menerkam mereka bertiga.
"Maaf, Pak. Mengapa kalian semua berkumpul di sini?" tanya Rahendra.
__ADS_1
"Jangan berlagak tidak tahu deh! Kaliankan yang membawa pergi kucing itu!" pekik salah satu warga.
Rangga, Rahendra dan Raka saling menatap satu sama lain. Mereka kemudian mengakui apa yang telah mereka lakukan.
"Iya. Kami yang membawa kucing itu pergi," ucap Rangga.
"Kenapa kalian mencampuri urusan Desa ini, hah?! Emang siapa kalian?" pekik salah satu warga desa.
Kepala Desa kemudian meminta warga itu untuk tenang dan tidak membuat kegaduhan.
"Nak. Kalian bawa kemana kucing itu?" tanya Kepala Desa.
"Kami menaruhnya di rumah arwah Ratih," jawab Rahendra.
Mendengar jawaban dari Rahendra. Semua warga Desa langsung ribut dan berbicara satu sama lain.
Rangga, Rahendra dan Raka pun memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka katakan.
"Urusannya bisa panjang ini," ucap salah satu warga.
"Gue gak mau berurusan lagi dengan arwah itu," ucap warga yang lain.
"Lebih baik kita pergi dari sini, dari pada kita mencari mati," ucap warga yang lainnya.
Mendengar perkataan para warganya, Kepala Desa itu kemudian meminta mereka untuk diam dan tidak mengatakan hal buruk apa pun.
Setelah itu, Kepala Desa meminta semua warga untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Setelah semua orang pergi, Nissa dan keluarganya menghampiri trio R dan menatap mereka dengan tatapan banyak yang ingin mereka tanyakan.
"Ayo kita masuk ke dalam, Nak!" ajak ayahnya Nissa.
Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Mereka pun berbincang mengenai apa yang telah mereka lakukan.
"Kalau Bapak boleh tahu, mengapa kalian menaruh kucing itu di rumah angker itu?" tanya Bapaknya Ratih.
"Karena.. Hmm.. Kami merasa kalau kucing itu aman berada di sana," ucap Rangga.
"Aman? Benarkah? Lalu bagaimana nasib para warga setelah ini?"
"Maksudnya?"
"Sebelumnya, ada seorang warga yang berpikiran sama dengan kalian. Dia menaruh kucing itu di rumah tersebut, akan tetapi.. Hal buruk pun terjadi di Desa ini...," Bapaknya Nissa menceritakan yang terjadi di Desa itu beberapa bulan yang lalu.
Di hari setelah warga itu meletakkan kucing hitam itu di rumah angker, arwah Ratih mulai mengganggu ketentraman warga desa dengan membakar ladang, hutan dan semua barang-barang berharga milik Desa.
Hari itu adalah hari terburuk di desa dan membuat warga desa menjadi sengsara, kekurangan uang, tidak bisa makan dan minum bahkan ada yang tewas karenanya.
Mendengar cerita dari Bapaknya Nissa, mereka pun terkejut dan merasa ada yang janggal dengan kejadian itu.
"Mungkin saja salah satu warga telah melakukan hal buruk yang membuat arwah Ratih marah kepada kalian," ucap Rahendra.
"Entahlah! Tapi.. Aku yakin dengan satu hal, beberapa warga pasti akan langsung berkemas dan meninggalkan desa ini,"
__ADS_1