
Adegan ini menggemparkan semua orang yang ada di tempat.
Semua orang tercengang.
Sebenarnya siapa orang bernama Dylan ini? bisa-bisanya dia membuat Gary begitu menghormatinya.
"Pak Gary, Apa kamu sudah gila? Kenapa malah tunduk pada pelaku kejahatan? cepat bunuh dia!"
Alger membentak Gary. Dia tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.
Dasar bodoh!
Gary mengomelinya dalam hati. Alger memang pantas dibunuh setelah menyinggung Dylan!
Gary berkata kepada Dylan dengan penuh hormat,"Maaf, mata saya sungguh buta. Saya pantas mati. Tidak seharusnya saya mengganggu urusan anda!"
Beberapa tahun yang lalu, Gary pernah bertugas di sebuah pasukan khusus. Dalam jangka waktu itu, dia ikut dalam peperangan yang sengit.
Pada hari itu, pasukan mereka dikepung oleh musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak dari mereka. Rekannya yang tewas sudah tidak terhitung jumlahnya.
Dia awalnya mengira mereka semua akan binasa.
Tidak disangka, tepat saat musuh menyerbu mereka, sebuah pasukan elite tiba-tiba muncul.
Pria yang memimpin pasukan itu adalah Dylan, yang berada di depan matanya ini.
Kemunculanpasukan elite seketika langsung membalikkan situasi perang.
Saat itu, Gary menyaksikan aksi Dylan dari kejauhan. Dylan memimpin di depan. Dia mengabaikan hujan peluru dan terus menyerbu markas musuh sendirian untuk membasmi mereka.
Diamampu membunuh puluhan ribu musuh sendirian!
Musuh yang berjumlah ratusan ribu langsung tumpas diserang oleh Dylan dan bawahannya dalam waktu singkat.
Pertempuran itu sangat sengit!
Pertumpahan darah di peperangan itu membentuk sungai darah!
Peperangan itu memberikan kesan mendalam yang sulit untuk dilupakan bagi Gary dan rekan seperjuangannya!
Dalam peperangan itu, Dylan bagaikan sosok Dewa Pembunuh dari neraka. Aksinya membuat Gary merasa sangat takut, tapi juga membuatnya untuk menghormati dan kagum pada Dylan.
Gary tadi merasa wajah Dylan sangat familiar. Setelah berpikir selama beberapa saat, Gary baru mengingat identitas Dylan. Tubuh Gary, langsung berkeringat dingin karena terkejut.
Bisa-bisanya tokoh besar seperti ini datang ke kota Riev.
Jika tokoh sebesar ini ingin membunuh orang, Gary mana berani ikut campur!
Andaikab Dylaningin membunuh dirinya, dirinya juga tidak berani membantah.
"Kamu mengenalku?"
Dylan bertanya dengan sedikit terkejut.
"Saya pernah menyaksikan aksi Anda yang mengagumkan dari kejauhan. Pada perang bukit Arjun, anda telah menyelamatkan nyawa saya."
Gary menyatakan rasa terima kasihnya dengan tulus.
"Oh!"
Dylan berpikir sejenak, kemudian baru teringat bahwa dia pernah memimpin pasukan Imperium untuk ikut dalam perang bukit Arjun pada dua tahun lalu.
Skala peperangan itu terlalu kecil musuhnya hanya perlu jumlah seratus dua puluh ribu prajurit.
Oleh karena itu, perang itu tidak memiliki kesan mendalam bagi Dylan.
"Aku ingin membunuh mereka berdua sekarang, apa kamu keberatan?" Dylan mengulangi pertanyaannya tadi sekali lagi.
__ADS_1
"Saya tidak berani keberatan. Tuan, kalau anda ingin membunuhnya, silakan dibunuh."
Gary mengusap keringat di wajahnya, lalu berkata," Setelah anda membunuhnya, bolehkah anda memberikan kesempatan pada saya untuk membantu Anda membereskan situasi?"
"Boleh!" Dylan mengangguk.
Dia menatap Alger yang tergeletak di lantai dan sedang merintih kesakitan.
"Sekarang Sudah saatnya kamu mati!"
Setelah mengatakannya, deyelan mengangkat kakinya,hendak menginjak leher Alger.
"Jangan bunuh aku! kumohon, ampunilah nyawa kecilku ini! aku mengaku salah ... "
Sebelum ucapan permohonannya selesai, suaranya mendadak berhenti.
Lehernya patah, diinjak oleh Dylan dengan kejam. Alger benar-benar sudah mati.
Sepasang matanya melotot lebar saat mati. Dia mati secara mengenaskan.
Alger tidak berani percaya bahwa Dylan benar-benar berani membunuh dirinya.
"Selanjutnya giliranmu, Dean!" Dylan menatap Dean dan berkata dengan nada datar.
Dean sudah merasa sangat ketakutan dari tadi, terutama saat melihat momen Alger mati diinjak. Dean begitu ketakutan hingga jiwanya melayang. Kakinya melemas, berdiri saja tidak bisa berdiri dengan stabil.
Dean menyesal!
Dia sangat menyesal!
Mengapa dirinya mendengarkan saran Alger untuk menculik Jane?!
Jika menyuruhnya memilih sekali lagi, Dean pasti tidak akan berbuat seperti itu lagi.
Namun ...
Di dunia ini tidak ada obat penyesalan!
Sepasang kaki Dean melemas dan dia berlutut di lantai.
Dia berkata dengan wajah yang dibasahi air mata,"Tuan, aku kakak sepupu dari Maggie, pamannya Jane. kumohon,ampunilah aku atas dasar hubungan kekeluargaan ini."
"Apa kamu pantas mengungkit kata 'kekeluargaan'? Sebelum kamu menculik Jane, pernahkah Kamu berpikir bahwa Jani adalah keponakanmu? pernahkah kamu mempertimbangkan perasaan Maggie? sekarang malah memintaku mengampunimu, jangan bermimpi!"
Dylan tersenyum sinis dan menyerangnya tanpa ragu.
Satu tinjunya langsung mengakhiri hidup Dean.
Dean terbunuh. Mayatnya terpampang di hadapan semua anggota keluarga Carson.
Mereka begitu ketakutan hingga tidak berani bersuara sedikitpun.
Mereka merasa sangat kesal dalam hati, sangat ingin membalas Dylan.
Namun, aura membunuh yang terpancar dari tubuh Dylan sangat pekat dan Dylan terlalu kuat
Jika mengandalkan kemampuan mereka untuk melawan Dylan, sama saja dengan mencari mati.
Saat ini, mereka berdoa dalam hati, berharap amarah Dylan bisa mereda dan bersedia melepaskan mereka setelah membunuh Dean.
"Tuan, putraku memang salah, dia pantas mati. aku tidak keberatan kamu membunuhnya, aku hanya berharap kamu bisa melepaskan anggota keluarga Carson yang lain. kami tidak bersalah." Axton berlutut di lantai dan memohon ampun.
Pemikirannya sangat dalam. Dia tahu keadaan saat ini sangat merugikannya. Nasib semua anggota keluarga Carson berada genggaman Dylan.
Meskipun dia menyimpan dendam yang sangat dalam terhadap Dylan, dia tetap tidak memancarkan perasaan dendam itu keluar.
"Boleh-boleh saja aku mengampuni kalian. kalian harus berlutut dan merangkak ke hadapan Maggie, lalu bersujud meminta maaf padanya dan memohon pengampunannya."
__ADS_1
Dylan bukanlah orang yang haus darah. Dia hanya membunuh orang yang pantas dibunuh.
Kalau sikap permintaan maaf anggota keluarga Carson cukup tulus dan mendapatkan pengampunan Maggie, Dylan tidak akan mempersulit Mereka lagi.
Namun, jika Maggie tidak bersedia mengampuni mereka, Dylan tidak keberatan untuk membunuh mereka.
"Maggie,kami mengaku salah karena telah memperlakukanmu seperti itu dulu. Mulai sekarang, kami akan menebusmu ratusan kali lipat. Semoga kamu bisa memaafkan kami."
"Adik, kita semua sekeluarga, darah lebih kental dari air, jadi maafkanlah kami."
"Maggie, pintu Besar kediaman Keluarga Carson selalu terbuka untukmu. Selama kamu bersedia memaafkan kami, setengah dari harta kekayaan keluarga akan menjadi milikmu."
Semua anggota keluarga Carsonberlutut di lantai dan merangkak hingga tiba di depan Maggie. Mereka meminta maaf sambil menangis.
Maggiemenatap orang-orang yang pernah menjadi keluarganya ini dengan tatapan dingin, dia merasa lucu melihat mereka. Maggie masih ingat dengan jelas bagaimana semua anggota keluarga Carson memaksanya menggugurkan janin ketika dirinya secara tidak sengaja mengandung, juga setega apa mereka saat mengusir dirinya dari kediaman keluarga Carson.
Berbagai rasa benci menyelimuti hatinya.
Maggie tidak sanggup memaafkan Keluarga Carson.
"Maggie,apakah kamu sudah lupa seberapa baik perlakuan kakek dan nenek padamu? kalau mereka tahu, mereka pasti berharap kamu bisa memaafkan kami."
Axton tahu Maggie paling akrab dengan kakek dan neneknya, sehingga memanfaatkan hubungan ini untuk membujuknya.
Sesuaidugaan, setelah mendengar tentang kakek dan neneknya,Maggie mulai goyah.
Ketika mengingat wajah kakek dan neneknya yang penuh welas asih, Maggie menghela nafas, lalu berkata,"Sudahlah, demi kakek dan nenek, aku memaafkan kalian."
Akhirnya mereka mendapatkan pengampunan dari Maggie. Semua anggota keluarga Carsonmerasa sangat senang, seakan-akan sudah terlepas dari beban berat.
Dylan justru mengerutkan alisnya. Dia adalah orang yang akan selalu membalas dendam dan budi. Jadi, pria itu tidak begitu bersedia melepaskan mereka begitu saja.
Hanya saja, m a g g i m menggelengkan kepala padanya, memberi isyarat untuk tidak mempermasalahkannya lagi!
Dylan merasa sangat bersalah terhadap Maggie, dia tidak tega menolak permintaan orang tercintanya ini.
Dylan akan membiarkan mereka hidup sedikit lebih lama. Beberapa waktu kemudian, dirinya akan membereskan mereka dengan mencabut nyawa murahan mereka secara diam-diam.
"Jangan merasa senang terlalu awal. Setiap orang harus menampar diri sebanyak 100 kali. Tamparsambil memaki dirinya adalah binatang rendahan, baru aku akan melepaskan kalian!"
MeskipunDylan sudah memutuskan untuk membunuh mereka secara diam-diam beberapa waktu kemudian, dia tetap tidak bersedia melepaskan mereka begitu saja.
"Ini ... sepertinya kurang baik?" Axton berkata sambil menggerakkan gigi.
Menyuruhmereka menampar diri sambil memaki diri sendiri adalah binatang rendahan merupakan pelecehan besar.
"Hmm?"
Dylan bersuara menyatakan kekesalannya. Lalu, dia perlahan-lahan mengangkat telapak tangannya terlihat seperti bersiap-siap untuk membunuh.
"Baik, aku tampar diriku. Aku binatang rendahan. Aku bukan manusia ... "
Axton langsung menampar mulutnya
Saat anggota keluarga Carsonon yang lain melihat ini, mereka terpaksa menuruti perintah Dylan meski sangat enggan.
Plak plak plak ...
Suara tamparan menggelegar di seluruh ruangan.
"Aku binatang rendahan ... "
Suara makian tiada hentinya terdengar.
Sungguh menyenangkan!
Saat melihat keadaan ini, kekesalan dalam hati Maggie baru mulai berkurang banyak.
__ADS_1
Dia menatap Dylan dengan tatapan lembut, Maggie merasa sangat berterima kasih pada Dylan.
Memang hanya prianya sendiri yang bisa memahami dirinya.