
Gary menerima telepon pengaduan dan langsung membawa tim petugas keamanan ke rumah sakit.
Melihat dua jenazah yang berada di lantai, dia pun berang. Gary bersumpah akan menangkap pembunuh itu dengan tangannya sendiri.
Namun, ketika mengetahui ini adalah perbuatan Dylan, nyalinya ciut.
Mana mungkin dia berani menangkap pembunuh itu.
Dia memerintahkan anak buahnya untuk membereskan TKP dan membuat berita acara agar kasus ini dianggap selesai.
Bagaimanapun, dia sudah menerima perintah dari atasan. Untuk tidak mengurusi apapun yang dilakukan oleh Dylan. Dia hanya perlu membereskan segala sesuatu yang ditinggalkan oleh Dylan.
...
Setelah kejadian barusan, semua orang di rumah sakit merasa ketakutan. Kondisi di sana pun sangat kacau.
Kinisudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan yang rumah sakit itu.
Dylan pun membawa putrinya pulang dan merawatnya di rumah sendiri.
Sambil menggendong Jane, Dylan dan yang lainnya meninggalkantempat itu tanpa membawa mobil, dan hanya berjalan sambil bergandengan tangan.
Saat Maggie sudah merasa lelah, mereka baru menyadari mobil Jeep itu sudah tertinggal jauh di belakang.
Namun Dylan memilih untuk membagi letak si menuju rumah. Dia lalu menghubungi polisi untuk mengambil mobilnya dari Kediaman Carson.
...
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, taksi itu sampai di rumah yang sewa oleh Maggie.
Rumah sewaan itu berada di pemukiman kumuh di kota Riev.
Rumah-rumahtua yang begitu padat, jalanan yang kotor sampah yang dibuang sembarangan, dan ada banyak orang berkerumun.
Semuanya melukiskan betapa buruknya kondisi di sini.
Rumah sewaan mereka berada di lantai enam. Tidak ada lift di sana, tangga jadi satu-satunya jalur naik turun mereka.
Namun tidak demikian bagi Maggie dan beberapa wanita lainnya. Mereka sudah kehabisan nafas ketika mencapai lantai enam.
Terutama Rose yang umurnya sudah tidak muda lagi. Kakinya sakit dan dia harus beristirahat beberapa kali ketika menaiki anak tangga.
Rumah sewaan itu sangat sempit, luasnya kurang lebih dari 30 meter persegi.
Keempat orang itu berdustakan di rumah yang kecil ini setiap hari.
Sejak memasuki pemukiman kumuh itu, Dylan tidak banyak berbicara.
Dia merasa bersalah ketika melihat Maggie dan yang lainnya harus tinggal di tempat seperti ini selama beberapa tahun belakangan.
Seolah-olah bisa merasakan perubahan hati Dylan, Maggie pun menggenggam erat tangannya dan berkata sambil tersenyum, "Kondisi rumah ini memang sedikit buruk, tapi aku sudah cukup senang bisa tinggal dengan orang terkasih, kamu tidak perlu menyalahkan diri."
Dylan merasa terharu.
Hanya Maggie yang paling mengerti dirinya di dunia ini.
Diam-diam,dia bertekad, tidak boleh membiarkan istri, anak, serta Rose dan putrinya terus hidup susah di sini.
__ADS_1
Besok dia akan membeli sebuah villa besar dan memindahkan mereka.
Sesampainya di rumah, Rose langsung menyiapkan makanan untuk mereka semua.
Tidak ada luka serius pada perut Cathy, dia hanya perlu meminum obat pereda sakit saja untuk sementara waktu.
Cathy pun masuk ke dapur dan membantu ibunya.
Ditengahruang keluarga yang kecil itu, sambil memeluk putrinya yang terlelap, Dylan berbincang pelan dengan Maggie.
"Silahkan makan! Karenaada sedikit urusan hari ini, aku tidak sempat membeli sayur. Hanya ini yang bisa kuhidangkan, semoga anda suka."
Tidak lama kemudian, masakan pun sudah dihidangkan. Rose merasa tidak enak hati dan memohon pengertian mereka.
Majikan prianya baru saja pulang, tentu saja mereka sangat bersukacita.
Seharusnya, dia dapat menyiapkan makanan yang mewah untuk merayakannya.
"Bibi Rose, kamu terlalu sungkan, mana mungkin aku tidak suka?"
Dylan berujar sambil tersenyum.
Jane terbangun ketika mencium wangi makanan yang melintas di hidung nya.
Melihat anak kecil rakus ini, semua orang pun tertawa karena merasa lucu.
Semuanya makan dengan senang.
Jikadibandingkan dengan makanan mewah yang dimakan oleh Dylan selama beberapa tahun ini, makanan ini bukanlah apa-apa.
Namun, dia merasa makanan hari ini lebih enak dari makanan apapun.
Ketika malam tiba, semua berbenah dan tidur di kamar seperti biasanya.
Hanya ada dua kamar di rumah itu.
Maggie dan Jane tidur bersama, kemudian Cathy dan Rose akan tidur di kamar lainnya.
Sebagai anggota tambahan, Dylan terpaksa tidur di sofa.
Setelah mandi, Maggie memakai kamisol berwarna merah muda. Dengan pakaian itu dan wajahnya yang sangat cantik, Maggie terlihat sangat seksi. Dylan pun terpana dan ingin segera menyergapnya saat itu juga.
Sayang sekali, keadaan tidak mengizinkan.
Dia pun hanya bisa menahan diri dan merasa kesal.
Maggie bisa menebak pikiran Dylan, dia melotot dan berkata,"Rumah ini tidak kedap suara, kamu jangan macam-macam di malam hari!"
Setelah itu, Maggie pun menggendong jane dan masuk ke kamar.
Melihat harapan untuk melepas rindu dengan Maggie malam ini pupus, Dylan hanya bisa duduk di sofa dan menghala nafas panjang.
Tengah malam.
Dylan sedang tertidur pulas.
Namun, tidak sedikit orang yang tidak bisa tidur akibat perbuatannya malam itu.
__ADS_1
Di aula berkabung Kediaman Carson.
Suara tangisan pilu mengisi seluruh ruangan.
Semua anggota keluarga Carson sudah memakai baju berkabung dan berjaga di samping jenazah Dean.
Wajahsemua orang nampak bengkak karena masing-masing dari mereka menampar wajah sendiri sebanyak seratus tamparan siang tadi.
Kesedihan, keterpurukan dan kebencian terukir jelas di wajah mereka.
Mereka sangat membenci Dylan!
Jika bukan karena Dylan, Keluarga Carson tidak akan menjadi seperti ini.
Dulu, Keluarga Carson merupakan keluarga jajaran kelas kelas dua dikota Riev.
Namun sekarang, mereka bahwa kan tidak masuk ke kelas tiga SMP sekalipun!
Keluarga mereka sudah kehilangan muka, dan sudah tidak mempunyai kekuatan di kota Riev.
"Ayah, orang itu sudah kelewatan! kita tidak bisa membiarkannya begitu saja, utangnya nyawa harus dibalas dengan nyawa!"
Marcus mengatakan ini sambil menggertakan giginya.
"Heh! Tentu saja tidak bisa dibiarkan! aku akan mencabut kepalanya dan mempersembahkannya ke langit! Marcus, bawakan ponselku ke sini!"
Axton mengepalkan tangannya dan berkata dengan dingin.
"Ayah, apakah kita akan meminta bantuan Paman Alton kali ini?" tanya Marcus.
"Ya,ilmu beladiri Paman Alton sangat tinggi, hanya dia yang bisa melawan orang itu. Paman Alton sudah menembus tahap transformasi sejak sepuluh tahun yang lalu. Jika Dia turun tangan, orang itu pasti mati!"
Alton belum mengetahui identitas Dylan, jadi hanya bisa menyebutnya sebagai"orang itu".
Paman Alton yang dimaksud adalah Alton Barnes, saudara angkatnya sejak dulu.
Dulu Alton pernah diselamatkan oleh Axton saat dia sedang dikejar oleh musuh.
Oleh karena itu, Alton berhutang budi pada Axton.
Pembalasan budi ini belum pernah ditagih kembali oleh Axton.
Dia tahu,Alton adalah seorang ahli bela diri tahap transformasi. Utang budi ini sangat menguntungkan baginya.
Namun,jika harus menagihnya tanpa pertimbangan panjang, kesempatan itu bisa habis begitu saja.
Justru saat ini, demi membalas dendam, demi mengembalikan martabat Keluarga Carson, utang budi ini harus segera ditagih.
Marcus senang bukan main. Akhirnya Ayah memakai kartu trufnya, sepertinya rencana balas dendam mereka akan berhasil.
Dia sangat bersemangat memikirkan bagaimana Dylan akan mati di tangan Alton.
Dia pun segera mengambil ponsel dan menyerahkannya pada ayahnya.
Axton terdiam sejenak, lalu menghubungi nomor Alton.
...
__ADS_1
Alton mendengar suara dering ponselnya.
Dia mengangkat telepon itu dan mendengarkan suara lawan bicaranya. Setelah itu, Dia berkata, "Akuakan menghabisi orang itu untukmu, setelah itu, utang budiku padamu lunas!"