
Mereka sudah menunggu selama setengah jam, tapi masih belum ada taksi yang lewat.
Cuaca dikota Riev di bulan September sangat panas, pengap dan tak tertahankan.
Dylan tidak merasa panas, namun keringat maggis sudah bercucuran.
Dylan tidak tega melihatnya. Diapun memutuskan, lebih baik mereka membeli mobil terlebih dahulu.
Zaman sekarang,bepergian tanpa kendaraan memang repot.
Dylan terus menunggu hingga kesal sendiri. Untuk sesaat, dia ingin menelepon tim dengan lokasi terdekat untuk segera mengirimkan helikopter.
Pada saat ini, ada sebuah truk pasir yang awalnya melaju normal tiba-tiba berbalik arah. Truk itu melaju ke arah mereka berdua dengan cepat.
Kecepatannya begitu mengejutkan, dalam sekejap saja, truk itu sudah di depan mata.
Mereka berdua bahkan belum sempat merespon keadaan itu.
Mereka berdua ingin menghindar, namun sudah tidak akan sempat lagi.
Truk itu terisi penuh dengan pasir dan terus melesat ke arah Dylan dan Maggie.
Jika sampai tertabrak, Maggie pasti akan mati di tempat.
"Ahh! Hati-hati!"
Dalamkeadaan panik, tanpa sadar Maggie menghadang ke depan, dia ingin melindungi Dylan.
"Hmph!"
Dylan mendengus. Dia tahu bahwa sopir truk itu memang mengincar nyawa mereka berdua.
Dengan cepat, Dylan menarikMaggie ke belakang, lalu mengeluarkan kepalan tangan kanan dengan cepat.
Dia melancarkan satu pukulan ke bagian kepala truk.
Boom!
Truk pasir itu mengalami benturan yang dahsyat dan berhenti seketika.
Kepala truk itu berubah bentuk karena pukulan Dylan. Truk pasir itu penyok, menjadi rongsokan besi tua.
Sopirtruk itu langsung terbang keluar dari kaca depan jendela truk.
Trukitu melaju dan kecepatan tinggi dan berhenti mendadak. Doronganyang kuat itu menyebabkan software struktur pentol keluar sejauh 20 sampai 30 meter.
Sopir itu terjatuh di jalan yang keras dan seluruh tubuhnya hancur. Tidak perlu diragukan lagi, nyawanya tidak akan selamat.
Tidak jauh di belakang truk, lima unit sedan hitam berhenti.
Ditengah-tengah mobil sedan itu ada mobil Range Rover. Di dalamnya terlihat Rhoney yang lingkar matanya begitu hitam dan terus menerus menguap.
Tadi malam dia terlalu lelah.
"Kak Rhoney, truk pasir itu sudah menabrak mereka berdua, pasangan zina itu pasti telah mati," Kata seorang bawahan yang berpakaian hitam.
"Tidak perlu kamu katakan lagi. Aku tidak buta, aku bisa melihatnya. Panggil semua orang agar ikut denganku. Mereka telah membunuh anakku, kalaupun mereka telah mati aku tetap akan menambahkan beberapa tusukan di tubuh mereka."
Rhoney mengeluarkan sebilah pisau dan dia turun terlebih dahulu.
Sekelompok bawahan mengikutinya dari belakang. Gerombolan orang itu menyerbu ke arah truk dengan garang.
Boom!
__ADS_1
Saat Rhoney tiba di depan truk, dia melihat Dylan sedang melindungi Maggie dengan satu tangannya dan tangannya yang lain meremukkan truk yang berukuran besar. Pemandangan ini membuat Rhoneyterkejut hingga gemetar, pisau di tangannya sampai terjatuh ke tanah.
Dengan satu pukulan bisa meremukkan truk yang melaju dengan kecepatan tinggi?
Apa,apa ini bisa dilakukan manusia?
Ekspresi sombong dan arogan yang sejak tadi menghiasi wajah Rhoney telah menghilang. Ketakjuban yang ditunjukkannya perlahan berubah menjadi wajah memelas.
Terutama saat melihat pandangan mata Dylan yang penuh dengan niat membunuh, dia ketakutan hingga roh di tubuhnya pun ikut gemetar.
"Jadi kamu yang memerintah sopir untuk membunuhku?" tanya Dylan.
"Be ... benar itu aku."
Rhoney tidak berani berbohong, dia menangis tanpa air mata. Kemudiandia berlutut secara tiba-tiba dan berbicara dengan suara yang gemetar, "Kak,oh bukan, Ayah, kamu adalah ayah kandungku. Aku tidak seharusnya membalas dendam kepadamu, tolong ampunilah aku."
"Siapa yang kamu panggil Ayah? Aku tidak punya anak sepertimu."
Dylan tidak bisa berkata-kata. Diatidak pernah bertemu dengan orang yang tidak tahu malu seperti ini, begitu bertemu langsung berlutut dan memanggilnya ayah. Dia pun bertanya,"Katamukamu mencariku untuk membalas dendam ,memangnya balas dendam untuk siapa?"
Demi menyelamatkan diri, Rhoney tersungkur di tanah. Dia memeluk kaki Dylan dan berkata,"Balas dendam untuk Rick yang bodoh itu. Ayah tenang saja, anakku banyak. Jika sudah kamu bunuh, ya, sudah, aku tidak akan menyimpannya dalam hati. Kelak aku juga tidak akan membalas dendam, tolong ampuni aku untuk kali ini saja."
"Minggir!"
Dylan merasa sial, mengapa bisa bertemu dengan orang seperti ini.
Sungguh aneh sekali.
Dengan satu tendangan, Rhoney terpelanting hingga beberapa meter jauhnya.
"Akutidak peduli kalian punya dendam padaku atau tidak, tapi truk pasir tadi hampir menabrak wanitaku. Saat ini giliranku untuk membalaskan dendamku!"
Dylan berkata dengan lantang.
Rhoney sekarang bangkit dari tanah, lalu memungut belatinya. Dia mengayunkan belati beberapa kali di lengan kirinya, tapi tidak berani mengambil tindakan.
Pada akhirnya, dia membuang belati itu, lalu merebut pipa besi dari tangan bawahannya. Diamerapatkan giginya dan memukul ke arah lengannya dengan kuat.
Seketika itu juga, tulang lengan kirinya patah.
"Cepat, pukul lengan kananku hingga patah tulang juga."
Rhoney berkata kepada bawahannya.
"Kak Rhoney, ini tidak pantas, mana berani aku melakukannya," Kata bawahannya serba salah.
"Jangan banyak omong kosong. Aku perintahkan pukul, ya, pukul saja. Kalau tidak Aku akan membunuhmu," Kata Rhoney geram.
Bawahannya tidak berani membantah. Dia mengambil pipa besi itu lalu memukulkannya pada lengan kanan Rhoney.
Rhoney berteriak histeris, kemudian berkata kepada Dylan,"Ayah, aku tahu aturan. Berhubungaku sudah menyinggungmu, aku akan melumpuhkan kedua lenganku ini sebagai tanda permintaan maaf."
Dylan tertegun melihat tindakan Rhoney yang di luar pikiran. Apa bener orang ini begitu sportif?
Tadinya Dylan ingin membunuhnya untuk melampiaskan amarah, namun tak disangka Rhoney terlebih dahulu menghukum dirinya sendiri.
Tindakan ini malah membuat Dylan lagu haruskah ia membunuhnya.
Rhoney melihat Dylan yang ragu dan berkata,"Ayah, aku mengerti maksudmu."
"Kamu mengerti apalagi?"
Dylan merasa aneh. Seketika, Dia pun tahu apa yang akan dilakukan oleh Rhoney.
__ADS_1
Rhoney memerintahkan bawahannya untuk memukul kedua kakinya hingga patah.
Inimasih belum apa-apa Aku mah dia masih memerintah sekelompok bawahannya untuk saling mematahkan tulang tangan dan kaki masing-masing.
"Ayah, Aku telah sadar akan kesalahanku dan telah memberikan hukuman berat untuk diriku sendiri. Kali ini, apa amarahmu sudah reda?"
Rhoney berkata sambil memelas.
"Dylan, sudahlah jangan membunuh orang di jalanan." Maggie menasehati Dylan.
Maggie memahami sifat Dylan. Sangat mungkin baginya untuk langsung membunuh orang-orang itu.
Maggie tidak mengerti mengapa Dylantidak ditangkap oleh pihak yang berwajib padahal tadi malam dia telah membunuh empat orang. Namun, bagaimanapun saat ini Maggie tidak ingin Dylan membunuh orang di depan umum."
"Terimakasih ibu telah membelaku, ibu benar-benar berhati mulia seperti malaikat itu."
Rhoney merendahkan derajatnya.
Diatelah melarang buana selama bertahun-tahun lama inilah alasannya mengapa dia bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Dia sungguh tidak tahu malu sampai bisa merendahkankan derajatnya sendiri.
Sebelumnya, Dia pernah menghadapi hal-hal yang bisa membahayakan nyawanya.
Dengan cara yang tidak tahu malu seperti ini, dia pun mendapatkan pengampunan dari lawannya.
Inilah cara dia untuk bertahan hidup.
"Siapa yang kamu panggil ibu? jangan sembarangan."
Maggie juga tidak bisa berkata-kata.
"Sudahlah, hari ini aku akan mengampunimu. Lain kali jika masih berani mengusikku, tidak akan ada kata ampun lagi! jika kamu masih berani memanggilku Ayah, Aku akan membunuhmu!" Kata Dylan memperingatkan.
"Terima kasih banyak ... Kakaksudah mau mengampuni, Aku tidak akan berani lagi."
"Itu mobil mau bukan? Aku pakai,ya?" Kata Dylan sambil mengambil kunci mobil dari pinggang Rhoney.
"Ambil saja,Kak," Kata Rhoney.
Dylan males untuk bertele-tele dengannya. Dia pun segera membawa Maggie menaiki Range Rover dan melaju menuju kota.
Melihat Dylan telah menjauh, Rhoney baru merasa lega.
Bawahannya yang terbaring di tanah meratap kesakitan. Ada salah seorang bawahan yang tidak mengerti dan bertanya, " Kak Rhoney, kamu terlalu meninggikan kemampuan lawan dan meremehkan kemampuan dirimu sendiri. Jumlah kita banyak, dan kita semua bersenjata. Jikakita menyerangnya bersama-sama kita pasti bisa membunuhnya, mengapa harus sampai memohon ampun dengan membuang harga diri?"
"Memangnya kamu tahu apa? hanya dengan satu pukulan, orang itu bisa meremukkan truk. Apa kamu merasa dia orang yang biasa-biasa saja? Menurutkudia pasti seorang ahli bela diri yang sudah mencapai tahap puncak transformasi, kita bukan lawannya," Kata Rhoney getir.
"Kak Rhoney, emangnya ahli bela diri tahap transformasi itu bagaimana?"
Bawahannya yang kurang wawasan itu, bertanya dengan heran.
"Ahlibeladiri tahap transformasi bisa menahan peluru dengan tangan kosong dan melukai orang dengan daun. Jangankan kita yang cuma segelintir orang saja, seratus orang juga tidak bisa melawannya. Jikabukan karena kegesitanku membaca situasi dan segera meminta ampun, kita semua sudah menjadi mayat sekarang," Kata Rhoney agak ketakutan.
"Me ... menakutkan kali, Kak Rhoney memang bijaksana. Bisa bertindak cepat dan tepat, adik salut."
Bawahannya mengatakan hal itu dengan tulus.
Bawahannya yang mau bertanya, "Kak Rhoney hari ini kita sudah rugi banyak. Apakah kita akan membalas dendam nantinya?"
"Balas apalagi, jangan mengungkit masalah ini lagi. Beritahu kepada yang lainnya, jika kelak mereka bertemu lagi dengan orang kuat ini, mereka harus menghindarinya. Jangan sampai mengusiknya. Jika tidak,awas saja!"
Rhoney memberikan perintah.
__ADS_1
Bawahannya mendengar sembari menggangguk kepala.