
Demi bertahan hidup, puluhan anggota Keluarga Carson ...
Bersujuduntuk memohon belas kasihan sambil menampar dan memaki diri mereka sendiri, tanpa mengingat martabak dan Citra mereka. Kejadian ini pasti akan tersebar ke seluruh kota Riev dalam waktu singkat.
Dengan demikian, status Keluarga Carsonn akan runtuh dan menjadi bahan tertawaan semua orang.
...
Dylan berjalan pergi sambil menggandeng tangan Maggie setelah setiap anggota keluarga Carson menampar wajah mereka sendiri hingga seratus kali.
Para kamu masih berada di aula. Mereka segera memberi jalan untuk Dylan dan tidak ada yang berani menghadang.
Semua orang memandang Dylan dengan tatapan takut.
"Tuan, aku akan mengurus sisanya. Bila,Anda membutuhkan bantuan ku kelak, cukup berikan perintah padaku. Aku pasti akan memenuhi setiap perintah mu. Apapun itu!"
Gary berbicara dengan hati-hati.
"Ya!"
Dylan bergumam singkat, lalu meninggalkan Kediaman Carson bersama Maggie.
"Dylan, jangan cepat-cepat! Tunggu aku!"
Dijalan di luar kediaman Carson, Carmilla mengejar Dylan dengan nafas terengah-engah.
"Ada keperluan?"
Dylan berbalik dan bertanya.
"Tentu saja."
Carmilla berhenti begitu melihat Dylan menggenggam tangan Maggie dengan erat, dia pun merasa cemburu.
Carmilla sudah jatuh cinta pada Dylan sejak pandangan pertama dan sangat memuja Dylan.
Denganpendekatannya yang terus-menerus, serta mengandalkan penampilan dan latar belakang keluarganya, Carmilla mengira cepat atau lambat, dirinya mampu mendapatkan Dylan.
Nahas,Dylan sudah memiliki kekasih.
Apalagi, kekasihnya itu adalah wanita tercantik di antara generasi muda dikota Riev, Maggie Carson.
Carmilla pun merasa sedih.
Jika lawannya adalah wanita lain, Carmilla cukup yakin dirinya bisa merebut Dylan.
Namun, Carmilla tidak percaya diri bila harus bersaing dengan Maggie.
Meskipun Carmilla tahu Dylan sudah punya kekasih dan dirinya tidak punya kesempatan lagi hal itu tidak menghentikannya untuk tetap peduli pada Dylan.
"Dylan, Aku ingin mengingatkan bahwa keluarga Carson tidak sesederhana yang kamu pikirkan.
"Axton punya seorang saudara angkat yang sangat hebat dalam seni bela diri. Kabarnya, dia sudah mencapai tahap transformasi sepuluh tahun yang lalu.
"Berdasarkan kepribadian Axton, dia tidak mungkin menerima penghinaan yang kamu lakukan terhadap Keluarga Carsonhari ini, dan akan meminta saudara angkatnya itu datang ke kota Riev untuk membalas dendam padamu.
__ADS_1
"Oleh karena itu, sebaiknya kamu meninggalkan kota Rievdan bersembunyi di luar negeri selama beberapa waktu ini."
Carmilla menyarankan dengan tulus.
Carmilla sudah pernah melihat dan tahu kemampuan bela diri Dylan sangat kuat. Bahkan, Dylan mampu membuat Fernando, ahli bela diri tahap madya terluka parah dengan hanya satu jurus.
Namun, ada perbedaan besar antara ahli bela diri tahap madya dan ahli beladiri tahap transformasi.
Apalagi, saudara angkat axton sudah mencapai tahap transformasi sejak sepuluh ahun yang lalu. Kini ilmunya pasti sudah lebih tinggi.
Carmilla khawatir Dylanbukan lawan orang tersebut hingga berniat baik mengingatkan Dylan.
"Ahli beladiri tahap transformasi bagaimana dengan ahli bela diri tahap madya?
sampah di antara sampah?
Bahkan Carmilla pun merasa Dylan hanya membuat.
"Aku tidak membuat! ahli bela diri tahap transformasi memang sampah. aku akan menghabisi mereka semua berapapun jumlahnya. tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Dylan mengusap hidungnya dan menjelaskan. Dylan memang menganggap remeh pesilat tahap transformasi.
"Lupakan. Aku tidak ingin bicara denganmu lagi. Menyebalkan."
Carmilla merangkul tangan Maggie dengan lagak akrab. "Kak Maggie, lebih baik kakak menasehati kekasihmu itu. Kepribadiannya yang kompetitif dan aku hanya akan merugikan dirinya sendiri. Dengarkan nasihatku, segera minta dia berlindung ke luar negeri."
Carmilla dan Maggie pernah bertemu beberapa kali sebelumnya sehingga mereka saling mengenal.
"Nona Carmilla, aku menghargai niat baik mau. Aku tidak tahu seberapa kuatnya ahli bela diri tahap transformasi. Namun, Dylan bilang tidak perlu khawatir, jadi aku yakin Dylan bisa menanganinya."
Maggie menjawab sambil tersenyum.
Dylan mencium kening Maggie.
Carmillaterdiam beberapa saat sebelum mengangkat tangannya sebagai isyarat menyerah."Cih, apa dosaku sampai kalian tega memakan kemesraan di depanku?" tanyanya sambil cemberut.
"Baiklah, karena kalian berdua setia sekata dan sudah memutuskan, aku sebagai orang luar tidak perlu banyak bicara. Intinya, berhati-hatilah.
"Kak Maggie, mari kita bertukar nomor kontak. Kakak bisa menghubungiku bila butuh bantuan. Siapa tahu, aku mungkin bisa membantu. Bilatidak ada yang serius, kakak juga bisa menghubungiku untuk pergi berbelanja bersama di waktu luang."
Maggie mengganggu dan keduanya bertukar nomor telepon.
"Baiklah. Aku pergi dulu, tidak mengganggu kalian bermesraan lagi."
Carmilla berbalik dan melenggang pergi.
Namun, setelah berjalan cukup jauh, matanya memerah dan hatinya terasa sakit.
Tidak mudah baginya untuk menemukan pria yang disukainya. Sayangnya, yaitu bukan miliknya.
"Kelihatannya Carmilla sangat peduli padamu. Apa hubungan kalian berdua?"
Maggie bertanya setelah Carmilla berjalan jauh.
"Tidak ada, hanya teman biasa," sahut Dylan.
__ADS_1
"Benarkah?" Maggie bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Sungguh! kami kebetulan duduk di meja yang sama di perjamuan makan dan dia yang berinisiatif meminta nomor teleponku. Aku bilang aku tidak bisa memberikannya. Itu saja." Dylan menjelaskan.
"pfft!"
Maggie tidak bisa menahan tawa."Tidakada yang menolak gadis secara terang-terangan sepertimu. Carmillabegitu cantik, seharusnya kamu mempertimbangkan perasaannya."
"Dia memang cantik. Namun, masih kalah kalau dibandingkan denganmu."
Dylan berbicara sambil merangkul pinggang Maggie yang ramping.
"Ih, menyebalkan. Sejak kapan kamu jadi pintar bicara rayuan gombal?"
Maggie tersipu malu dan memelototi Dylan sekilas.
"Kamulah yang membuatku ingin merayumu. Bagaimana kalau kita pergi ke hotel di seberang?"
Dylan tersenyum nakal dan menunjuk hotel yang terletak di seberang jalan.
Maggie kelihatan kian menawan setelah tidak bertemu selama beberapa tahun.
Pertemuan kembali setelah perpisahan yang lama lebih indah daripada saat bertemu pertama kali. Dylan sudah tidak sabar ingin bermesraan dengan Maggie.
"Tidak!"
Maggie membentak dengan malu dan marah. Wajahnya semakin merah," Jangan sekarang. Ayo kita jenguk Jane dulu."
"Benar juga. Sebelumnya Jane berpesan agar aku segera membawa ibunya untuk menengoknya. Ayo, kita pergi sekarang supaya Jane tidak khawatir."
Begitu mengingat putrinya, Dylantidak sabar untuk bergegas ke rumah sakit supaya bisa memeluk dan mencium putrinya yang cantik.
Rumah sakit Samono.
Didalam kamar rawat VIP.
Jane bersandar di pelukan Rose sembari mendengarkan bibi Cathy membacakan kisah"Sikerudung merah dan serigala".
Bang!
Tiba-tiba, pintu kamar didorong hingga terbuka dengan kencang.
Sekelompok orang berjalan masuk. "Silakan pergi dari ruangan ini " Seorang pria berambut pirang berkata dengan arogan.
"Kami sudah bayar, kenapa kami disuruh pindah?"
Cathy menolak permintaan tidak masuk akal dari sekelompok orang itu.
"Ini sepuluh juta rupiah sebagai kompensasi untuk kalian. Ambil uangnya dan cepat keluar!"
Pria berambut pirang itu mengeluarkan setumpuk uang dan melemparnya ke Cathy.
"KalianDira bisa berbuat seenaknya mentang-mentang punya uang? kami tidak akan pergi!"
Cathy berkata dengan marah. Dia juga orang yang temperamental.
__ADS_1
"Punya uang memang bisa seenaknya. Kalian jangan tidak tahu diuntung! Akan kukatakan untuk terakhir kalinya, cepat keluar! Bila kalian tidak mau keluar, jangan salahkan aku berbuat kasar!"
Ekspresi pria pirang itu berubah menjadi sanggar dan mengancam.