Tuan Penguasa Dunia

Tuan Penguasa Dunia
Aku Akan Membunuhmu Sekarang.Juga


__ADS_3

Jeff menatap Maggie dengan serakah dan perasaannya mulai bergejolak.


Dia memutuskan untuk merayu Maggie.


Sebelum melakukan ini, dia harus mengusir mahasiswi yang berada di sampingnya ini.


Dia khawatir mahasiswi ini malah akan menghalanginya.


"Kamu pulanglah dulu, urusan beli rumah kita bicarakan belakangan." Jeff berkata dengan nada memerintah.


Mahasiswi itu telah diterima di universitas bergengsi,tentu saja dia cukup pintar untuk tahu bahwa pendukung finansialnya telah menyukai wanita cantik yang ada di seberang mereka.


Jadi mau tidak mau dia keluar dengan patuh.


Dia diagung-agungkan oleh begitu banyak pria di sekolah sebagai wanita idaman, dia adalah kekasih impian para pria.


Kemanapun dia pergi, dia pasti mendapatkan pujian.


Namun di hadapan Jeff, Dia adalah seorang budak yang tidak memiliki harga diri.


Dia hanyalah seorang budak uang.


Setelah mengusir beban itu, Jeff menggosok kedua tangannya, tersenyum dan berjalan ke sebelah Maggie. Kemudian Dia berkata dengan sikap yang sangat baik." Permisi,tidak keberatan aku duduk disini, kan?"


"Keberatan."


Maggie mengangkat kepala dan meliriknya, lalu berkata dengan dingin.


Penolakan langsung seperti ini membuat jeff tidak dapat berkata-kata.


Namun, Dia adalah orang yang tidak tahu malu, jadi dia berlagak tidak mendengar apa yang Maggie katakan, lalu menarik kursi dan duduk di seberang Maggie.


Dia menggoyang-goyangkan jam tangannya, sengaja memperlihatkan jam tangan patek emas dan senilai milyaran itu, lalu bertanya, " Apakah kamu datang untuk membeli rumah?"


Maggie memiliki kesan yang sangat buruk terhadapnya, jadi dia malas menanggapinya.


Semakin Dia begini, semakin Jeff menyukainya.


Dia melihat Maggie dari atas sampai bawah. Dari perhiasan yang dia pakai, Jeff yakin bahwa dia bukanlah orang kaya.


Sebuah ide pun muncul dalam hatinya.


Bagi dia,wanita-wanita yang tidak punya uang sangatlah mudah untuk didapatkan.


Asalkanada uang, mereka pasti akan mendekat dengan patuh.


Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun, dia yakin bahwa kali ini juga bukanlah sebuah pengecualian.


"Rumah di Perumahan Bangau sangat mahal, harga rata-ratanya lebih dari sepuluh miliar. Harga villa bahkan lebih mahal lagi, harga rata-ratanya mencapai enam belas miliar. Aku punya satu vila dan tiga rumah disini,kalau kamu mau, aku bisa memberikanmu satu secara semacam aku mah dengan syarat kamu menemaniku selama satu bulan."


Jeff berbicara langsung ke inti nya dan memberikan tawaran yang sangat menggoda.


Dia menatap Maggie dengan penuh percaya diri, dia merasa bahwa Maggie pasti akan setuju.


Bagaimanapun juga, satu unit rumah di Perumahan Bangau bernilai lebih dari sepuluh miliar.


Bisa mendapatkan sepuluh miliar hanya dalam satu bulan, tidak mungkin dia punya alasan untuk menolaknya

__ADS_1


"Dasar gila!"


Hal yang berada di luar dugaan yang telah terjadi.


Setelah mendengar ucapannya yang enteng, Maggie langsung berdiri dan hendak pergi tanpa berpikir panjang, bahkan memarahinya dengan jijik.


"Berani-beraninya kamu memarahiku, bahkan langsung pergi ke rumah! Memangnya aku mengizinkanmu pergi!"


Jeff berkata dengan kesal.


Dari dulu dialah yang memarahi wanita, tidak ada wanita yang berani memarahinya.


Dia merasa dirinya telah dihina, dia pun marah, berdiri dan mencengkram lengan Maggie dengan erat.


"Lepaskan aku, dasar bajingan!"


Dilecehkantanpa sebab membuat maggis semakin marah, dia pun berusaha melepaskan diri sekuat tenaga.


Namun, tenaga Jeff sangat kuat.


Maggie telah mencoba beberapa kali dan tetap tidak dapat melepaskan diri.


"Pak, ini bukan tempat untuk membuat keributan. Tolong lepaskan nona ini, kalau tidak saya akan memanggil satpam."


Ketika Marry,si pegawai penjualan mendengar keributan ini, dia bergegas menghampiri mereka dan memberikan peringatan.


Plak!


Jeff menampar wajah Marry, meninggalkan bekas telapak tangan yang terlihat jelas.


Jeff mencemooh dengan penuh niat jahat.


Marry memegang wajahnya dan air mata menetes dari matanya. Rekan-rekankerjanya menasehati dia agar jangan ikut campur, kamu lebih baik menghindari masalah.


Dia menggelengkan kepala dan tidak mendengarkan nasehat rekan-rekan kerjanya. Dia malah dengan keras kepala berkata," Jika satpam tidak berani menegur anda, saya akan menelepon petugas keamanan. Intinya, anda tidak boleh membuat keributan di sini, tolong lepaskan nona ini."


Brak!


Jeff menendang perut Marry dan berkata dengan marah,"Telepon saja kalau berani. Akupunya koneksi dengan petugas keamanan, memangnya aku takut padamu?"


Marry menahan rasa sakit dan tidak mengatakan apa-apa.


Dia hanyalah seorang pekerja yang tidak punya kuasa ataupun pengaruh. Dia berniat untuk menolong Maggie, tapi dia tidak memiliki kemampuan itu.


Dia memberikan tatapan minta maaf pada Maggie, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa.


"Kak Marry, terima kasih atas niat baikmu, aku tidak apa-apa. Setelah pacarku kembali, biar dia yang akan membalaskan dendammu."


Amarah dalam hati Maggie telah mencapai ambang batasnya.


"Pacarmu itu bukan apa-apa. Aku cukup memberinya dua miliar dan dia pasti akan memberikanmu padaku. Tahu dirilah dan turuti saja kataku,jangan paksa aku berbuat kasar."


Jeff berkata sambil tersenyum dingin.


Tepat pada saat ini, Dylanyang baru saja keluar dari kamar mandi dan menuju aula, kebetulan dia mendengar kalimat ini.


Seketika hawa mematikan muncul darinya.

__ADS_1


Tanpaberbasa-basi, dia mengambil cangkir teh di atas meja dan melemparkannya ke Jeff yang beranjak belasan meter darinya.


Prang!


Cangkirteh yang dilempar dengan penuh tenaga itu tepat menghantam wajah Jeff.


Wajah Jeff langsung menjadi hancur.


"Aaahhh ... "


Jeffberteriak dengan keras, melepaskan tangan yang memegang Maggie dan menutupi wajahnya. Darah terus mengalir dari lukanya, seketika menodai pakaiannya hingga berwarna merah.


"Siapa itu, bajingan mana yang melemparkan benda ini padaku, aku akan membunuhnya."


Wajahnya dibuat hancur dan matanya tidak dapat terbuka. Dia memejamkan mata dan berteriak dengan keras," Manajer Sullivan, ada yang melukaiku di sini, cepat kemari!"


"Apa kamu tahu tempat apa ini? Sembarangan membuat keributan di sini kamu akan merasakan balasannya."


Manager Sullivan mengancam sambil menunjuk Dylan.


Dylan tidak menanggapinya, tatapannya tertuju ke pergelangan tangan Maggie.


Pergelangan tangan Maggie tadi dipegang dengan kuat oleh Jeff. Biarpun dibatasi pakaian, pergelangannya tetap memerah.


"Sakit tidak?"


Dylan bertanya dengan perhatian.


"Tidak, demi menolongku, Marry dipukul dua kali olehnya, balaskan dendam Marry."


Maggie sangat tidak suka dengan perkelahian sebelumnya, tapi kali ini, dia sendiri yang meminta Dylan untuk bertindak.


"Baik!"


Dylan mengangguk dan menatap Marry dengan maksud berterima kasih.


Kemudian, dia berjalan ke arah Jeff dipenuhi aura membunuh.


"Manager Sullivan, jangan berbasa-basi dengannya. Patahkan tangan dan kakinya untukku,lalu pegawai wanita itu, cepat pecah dia, suruh dia pergi dari sini!"


Jefftidak dapat membuka kedua matanya, dia tidak tahu bahaya apa yang sedang dihadapi saat ini. Dia seru pada Manajer Sullivan dengan penuh amarah.


"Kamu telah dipecat, cepat enyah dari sini!"


Manager Sullivan sama sekali tidak menanyakan alasannya. Hanya dengan satu kalimat dari Jeff, dia langsung memecat Marry tanpa belas kasihan.


Marry menangis, tak bisa dibayangkan betapa sedihnya dia sekarang.


"Anak muda, kamu masih mau memukulnya? coba maju satu langkah lagi, jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar."


Ketika melihat Dylan berjalan ke arah Jeff dengan gaya yang mengancam Manajer Sullivan pun mengingatkannya.


"Bicara sekali lagi dan aku akan membunuhmu sekarang juga."


Dylan menatap Manager Sullivan dengan dingin.


Setelahmelihat tatapannya, Manajer Sullivan langsung ketakutan hingga merinding.

__ADS_1


__ADS_2