TUMBAL PEREMPUAN HAMIL

TUMBAL PEREMPUAN HAMIL
Sonia Melahirkan


__ADS_3

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dan saat ini usia kehamilan Sonia sudah sembilan bulan lebih sepuluh hari, Sonia merasakan kontraksi yang hebat. Dia benar-benar merasakan kesakitan yang luar biasa. Andre terlihat sangat khawatir di detik-detik itu.


"Andre, sakit!" keluh Sonia di atas tempat tidur rumah sakit. Andre terlihat mengelus tangan Sonia, istrinya.


"Sayang! Kamu harus kuat yah, sayang! Aku yakin kamu pasti kuat," ucap Andre yang berusaha menutupi rasa gelisah dan ikut panik karena istrinya hendak melahirkan. Bu Marsini hanya bisa duduk di kursi tunggu sambil menangis tersedu-sedu. Dia sudah berpikiran buruk dengan apa yang akan terjadi pada Sonia, putrinya.


Sementara itu para petugas medis mulai mendorong tempat tidur Sonia ke ruang operasi. Tindakan ini harus dilakukan segera mungkin karena Sonia sudah menurun kondisi fisik nya.


"Maaf, pak! Selain pasien, tidak diperbolehkan masuk ke ruang operasi," kata suster cantik yang ikut membantu proses jalannya operasi Sonia. Andre mengerutkan dahinya menatap suster cantik yang melarang dirinya.

__ADS_1


"Tapi suster! Saya ini suaminya. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan istri saya? Apakah suster mau bertanggung jawab dengan semuanya, jika istri saya kenapa-kenapa saat operasi ini?" sahut Andre sedikit emosi.


"Anda sudah menandatangani perjanjian operasi ini, pak. Jadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, anda tidak bisa menuntut kami, pak. Itu isi perjanjian yang tertulis di dalam perjanjian nya," kata suster cantik itu seraya menutup pintu ruang operasi di mana di dalamnya sudah ada Sonia sebagai pasiennya dan tim medis yang bertugas. Andre hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Langkahnya terlihat gontai mendekati ibu mertuanya yang duduk sambil menangis tersedu-sedu.


"Bu, lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Sonia beserta bayinya, bu. Tolong jangan nangis terus bu," ucap Andre yang sebenarnya jengkel dengan ibu mertuanya itu yang sejak kemarin-kemarin kerjaannya hanya menangis jika bertemu dengan Sonia.


Apalagi menjelang kelahiran bayinya. Bu Marsini menatap tajam ke arah menantunya. Sebenarnya dia ingin marah karena gara-gara dia juga putrinya harus menanggung resikonya. Nyawa Sonia beserta bayinya akan dijadikan tumbal. Itu yang sebenarnya. Namun rahasia itu hanya dipendam oleh bu Marsini. Sehingga bu Marsini merasakan beban yang benar-benar berat ia rasakan.


Pintu ruang operasi terbuka. Bu Marsini dan Andre segera bangkit dari duduknya dan menghambur mendekati suster cantik itu. Wajah sedih tentu saja sudah terlihat sangat jelas pada raut wajah suster itu. Apalagi melihat bu Marsini dan Andre yang mendatanginya.

__ADS_1


"Suster, bagaimana istri dan bayi saya suster? Apakah baik-baik saja?" tanya Andre dengan jantung yang sudah tidak menentu debaran nya.


"Bagaimana keadaan anak dan cucu saya suster?" sahut bu Marsini. Suster itu diam membisu sampai akhirnya seorang wanita yang diperkirakan seorang dokter. Dokter wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu mulai berbicara dengan bu Marsini dan Andre.


"Ibu, bapak, maaf! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ternyata Tuhan telah berkehendak lain," ucap dokter wanita itu. Sukses ucapan dokter wanita itu membuat bu Marsini dan Andre berteriak histeris dan menangis. Keduanya langsung berlari masuk ke ruangan operasi di mana jasad Sonia dan bayinya ada di dalam.


"Sonia!" teriak Andre. Demikian juga bu Marsini ikut menangis histeris dengan kepergian putrinya untuk selama-lamanya.


"Ya Tuhan! Aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk Sonia," gumam Andre disela tangis nya.

__ADS_1


"Sonia! Ini semua salah ibu. Kenapa ibu tidak menjaga kamu, nak!" ucap bu Marsini.


Kedua orang paling dekat dengan Sonia merasa kehilangan atas kematian Sonia beserta bayinya. Yang lebih membuat keduanya menangis tersedu-sedu adalah jasad Sonia yang baru saja meninggal dunia itu tiba-tiba saja membusuk. Ditambah lagi bayi yang dilahirkan oleh Sonia juga tidak berwujud bayi pada umumnya. Benar-benar tidak masuk di akal. Kejadian itu membuat dokter dan suster perawat menjadi heran. Kenapa bisa seperti itu, di mana jasad mengalami pembusukan lebih cepat dari waktu nya. Yang lebih membuat orang-orang itu merasakan keganjilan adalah bayi Sonia benar-benar tidak seperti bayi manusia pada umumnya.


__ADS_2