
Di kediaman rumah Pak Warsito. Saat malam itu, dia kedatangan bu Marsini bersama Pak Djarot. Di mana bu Marsini selama ini ikut membantu mencari orang yang bisa dijadikan tumbal sesuai permintaan.
Duduk di ruang tengah ketiga orang dewasa itu mulai merencanakan sesuatu. Di mana Pak Warsito bersikeras ingin bertindak sendiri untuk menyelesaikan masalah di lokasi proyek. Dirinya secara diam-diam meminta kembali Pak Djarot untuk mengusir arwah-arwah gentayangan yang masih selalu mengusik ketenangan para pekerja proyek. Pak Warsito akan menyisihkan dana proyek untuk pak Djarot sebagai bayaran jasanya.
"Mulai besok, pak Djarot bisa bekerja dari jauh untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di lokasi proyek. Saya harap mereka tidak lagi diganggu oleh para arwah-arwah yang masih tinggal di sana. Dengan begitu para pekerja proyek bisa dengan leluasa dan tenang merampungkan pekerjaan nya tepat waktu," kata pak Warsito. Pak Djarot menatap bu Marsini seraya tersenyum lebar.
"Baiklah, pak Warsito! Seperti sebelumnya, penerawangan saya tetap sama. Mereka menghendaki tumbal perempuan hamil," sahut pak Djarot.
Pak Warsito kembali teringat dengan istri tuan Diky. Wanita yang sangat cantik dan muda itu terlihat perut nya membuncit.
"Ada apa apa pak Warsito?" tanya pak Djarot.
__ADS_1
"Kemarin saat saya ke rumah tuan Diky. Saya melihat wanita yang cantik dan muda dengan perut yang membuncit. Aku pikir dia adalah istri baru tuan Diky yang sedang hamil. Dan saat aku tanya pada sekuriti, memang benar dugaanku," cerita pak Warsito. Bu Marsini mengerutkan dahinya. Setelah itu dia mulai tersenyum sinis.
"Aku punya ide. Bagaimana kalau kita culik istri tuan Diky dan kita jadikan tumbal. Bagaimana?" ucap bu Marsini. Pak Warsito, pak Djarot melebar bola matanya mendengar usulan dari bu Marsini.
"Itu tidak mungkin! Dia adalah istri bos. Berani macam-macam, siap dipecat dari perusahaan nya," sahut pak Warsito.
"Aku tidak perduli! Itu bukan urusanku, pak. Aku hanya memiliki dendam. Gara-gara melancarkan segala urusan di perusahaan dan membuat kaya, tuan Diky lah penyebab putriku meninggal dunia. Putriku Sonia menjadi tumbal dalam pembangunan proyek jembatan saat itu," ucap bu Marsini dengan api kemarahan nya ketika mengingat bahwa putri nya jadi tumbal.
"Karena kalau tidak ada perusahaan konstruksi milik tuan Diky, putriku tidak akan menjadi korban tumbal jembatan itu," terang bu Marsini.
"Jadi supaya adil, aku ingin istrinya tuan Diky lah yang jadi korbannya. Supaya aku bisa puas. Aku ingin melihat betapa sakitnya saat melihat orang dekat dan kita sayangi tewas karena dijadikan tumbal," sambung bu Marsini.
__ADS_1
Pak Warsito dan pak Djarot saling berpandangan. Pada akhirnya pak Warsito berujar.
"Saya tidak perduli siapa yang akan dijadikan tumbal. Yang penting segala urusan lancar dan pembangunan proyek ini bisa rampung sesuai waktu yang ditentukan," sahut pak Warsito.
"Kalau begitu, usulan bu Marsini bisa pak Warsito pertimbangkan. Pak Warsito bisa membayar seseorang untuk menculik istri dari tuan Diky. Setelah kita culik, kita pastikan dialah yang akan menjadi tumbal nya. Kita paksa wanita itu meminum campuran air seni dan darahnya. Baru setelah itu kita pulangkan wanita itu ke rumah nya tanpa dicurigai oleh tuan Diky maupun wanita itu sendiri," terang pak Djarot.
Pak Warsito mengerutkan dahinya. Tentu saja dia belum paham bagaimana caranya supaya istri tuan Diky tidak menyadari bahwasanya dirinya habis diculik. Dan dipaksa minum air seni dan darahnya sendiri tanpa kesadaran nya.Jangan lupakan bu Marsini yang terlihat senang ketika bisa membuat istri dari tuan Diky dijadikan tumbal di pembangunan proyek nya sendiri.
"Pak Warsito seperti nya meragukan kemampuan saya untuk membuat seseorang jadi melupakan kejadian sebelumnya," ucap pak Djarot seperti membanggakan dirinya. Pak Warsito mengerutkan dahinya lalu mulai terlihat dikedua sudut bibirnya tersenyum lebar.
"Hahaha, maaf! Seketika aku lupa kalau pak Djarot memiliki kesaktian yang tidak bisa diragukan lagi, hahahaha!" kata pak Warsito dengan tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1