
Di pagi hari, di mana tuan Diky sudah berangkat bekerja. Sopir pribadi tuan Diky pun ikut mengantar dan mendampingi majikannya beraktivitas. Demikian juga asisten rumah tangga di rumah itu pun sudah sibuk dengan pekerjaan nya. Jangan lupakan Olive yang masih bermalas-malasan di kursi sofa panjang di ruangan tengah seraya mengemil jajanan. Bak seorang nyonya majikan, Olive sudah dilayani banyak pembantu di rumah itu. Apalagi Olive sekarang ini sudah membuncit perut nya karena hamil tua.
Namun tidak lama datang lah seorang sekuriti menghampiri Olive.
"Nyonya muda, ada seseorang yang mencari nyonya di depan," ucap sekuriti yang bekerja di rumah itu. Olive membenarkan duduknya seraya melihat ke arah sekuriti.
"Siapa?" tanya Olive seraya mengerutkan dahinya.
"Pak Warsito, orang kepercayaan tuan muda Diky, nyonya!" jawab sekuriti tersebut.
"Oh, yang kemarin malam datang ke rumah ini mencari mas Diky yah?" sahut Olive.
"Benar, nyonya!" kata sekuriti tersebut.
Olive segera berdiri dan dengan langkahnya yang semakin berat, dia menjumpai pak Warsito yang ada di depan. Pak Warsito masih duduk di depan rumah. Dengan gaya bos, pak Warsito sedang menerima panggilan telepon. Setelah nya pak Warsito menghampiri Olive yang sudah ada tidak jauh dia berdiri.
__ADS_1
"Nyonya, masih ingat dengan saya bukan? Saya pak Warsito yang kemarin malam ke rumah," kata pak Warsito.
"Iya, pak! Ada apa ya pak?" sahut Olive.
"I-itu nyonya! Saya diperintahkan tuan Diky untuk menjemput nyonya," kata pak Warsito.
Olive mengerutkan dahinya, tentu saja dirinya bingung karena sebelumnya suaminya itu tidak ada pembicaraan kalau dirinya hendak dilibatkan dalam urusan maupun acara kumpul-kumpul dengan rekan bisnis.
"Ada acara apa sih? Kok mas Diky sebelumnya tidak menyinggung kalau hendak mengajak saya dalam urusan bisnis," kata Olive masih ragu-ragu.
"Ada tamu besar dari luar negeri, salah satu rekan bisnis di perusahaan. Jadi tuan muda Diky menyuruh saya untuk menjemput nyonya muda. Tuan Diky ingin memperkenalkan nyonya muda dengan rekan bisnis nya. Akan ada acara ramah tamah untuk menyambut tamu tersebut, nyonya," terang Pak Warsito tentu saja hanyalah kebohongan dan karangan cerita saja.
"Baiklah! Kalau begitu tunggu dulu pak! Saya akan bersiap-siap terlebih dahulu," sahut Olive yang kini mulai bergegas masuk ke dalam rumah hendak berganti pakaian dan berdandan dengan rapi.
Sebenarnya Olive belum mempercayai kalau dirinya akan diakui dan diperkenalkan oleh tuan Diky sebagai wanita spesial. Olive tentu saja sadar bahwasanya dirinya baru dinikahi oleh tuan Diky secara nikah siri saja.
__ADS_1
"Apakah posisi aku sekarang bagi mas Diky sudah penting? Apakah aku akan menjadi wanita satu-satunya bagi mas Diky setelah meninggalnya Monalisa?" gumam Olive seraya memilih pakaian yang longgar namun cocok untuk dirinya pakai menjumpai orang-orang penting rekan bisnis suaminya.
Olive mulai bersolek. Dengan riasan tipisnya dia masih terlihat cantik. Dalam posisi nya yang sedang hamil seperti itu, Olive mencari pakaian yang cukup longgar supaya lebih leluasa bernafas. Setelah dirasa cukup, Olive keluar dari dalam kamarnya dan menjumpai pak Warsito yang sudah menunggu nya di luar.
"Sudah siap, nyonya muda? Mari!" ucap pak Warsito.
Dalam hatinya penuh kemenangan bisa membawa istri bos nya keluar dari rumah mewah itu. Tujuannya adalah menjadikan Olive sebagai Tumbal proyek pembangunan yang sudah ditandatangani perjanjian nya dengan berbagai pihak. Dan pak Warsito tidak ingin pembangunan proyek itu tersendat-sendat lantaran pekerjaan nya mengalami gangguan dari sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Arwah-arwah yang sudah lama menjadi penunggu lokasi proyek akan dikondisikan dengan baik oleh pak Djarot. Demikian pemikiran pak Warsito karena lebih cenderung memakai jasa pak Warsito daripada pak Usman dalam menyelesaikan masalah gaib.
Sekarang Olive dengan pak Warsito sudah ada di dalam mobil milik pak Warsito. Tujuannya adalah ke tempat pak Djarot dan bu Marsini yang sudah menanti kedatangannya.
"Nyonya muda! Sebelum saya mengantarkan nyonya muda ke hotel dimana tuan Diky dan tamu besarnya menunggu, kita mampir dulu ke salah satu orang kepercayaan saya yah, nyonya. Sebentar saja! Boleh kan nyonya?" kata pak Warsito.
"Oh, tidak apa-apa pak!" sahut Olive dengan ramah.
Pak Warsito tersenyum lega karena Olive tidak punya kecurigaan sedikitpun dengan nya. Ini akan mempermudah rencana pak Warsito.
__ADS_1