
"Bagaimana keadaan istri dan bayi saya, suster?" tanya tuan Diky saat pintu ruangan operasi telah dibuka lebar-lebar.
Satu perawat keluar dari ruangan itu dengan wajah pucat dan penuh kelelahan. Sedetik berikutnya keluar seorang pria yang diduga adalah dokter spesialis yang menangani operasi sesar Olive.
"Maaf, tuan ini siapanya pasien yah?" tanya sang dokter pria dengan mengerutkan keningnya.
"Saya suaminya, dok! Bagaimana keadaan istri dan bayi saya, dok?" Tuan Diky kembali bertanya. Tiba-tiba raut wajah dokter itu terlihat sedih. Dia dengan pelan menjawab pertanyaan tuan Diky.
"Maaf, pak! Kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Tapi..." kata dokter itu. Tuan Diky mengerutkan dahinya.
Lalu serta merta masuk ke ruangan di mana ruangan kamar itu baru saja istrinya Olive melakukan operasi sesar pengangkatan bayi nya. Namun tuan Diky melihat Olive yang masih terbujur di atas tempat tidur rumah sakit itu memejamkan mata. Beberapa suster menatap tuan Diky dengan rasa sedih dan haru.
__ADS_1
"Olive! Olive bangun sayang! Kamu tidak boleh pergi. Bukankah setelah ini kita akan menikah dan menggelar pesta pernikahan dengan meriah," ucap tuan Diky dengan mengguncangkan badan Olive supaya bangun. Dokter laki-laki yang tadi sudah keluar dari ruangan itu kembali masuk dan mengusap pundak tuan Diky.
"Maaf, pak! Pasien telah meninggal dunia setelah kami berhasil mengangkat bayi yang ada di rahimnya. Namun ternyata bayi anda..., " ucap dokter laki-laki itu yang tidak meneruskan perkataan nya.
"Anakku? Bagaimana anakku, dok? Mana bayiku, dok?" sahut tuan Diky. Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Bayi bapak juga meninggal dunia tidak lama setelah lahir. Maaf Pak! Kami sudah berusaha," terang dokter itu. Tuan Diky berteriak menyebut nama Olive seraya memeluknya.
"Mari, tuan Diky! Kita keluar dari ruangan ini. Nyonya Olive harus segera dimandikan dan diurus jenazahnya," kata pak Usman yang sangat menyesal tidak bisa membantu banyak.
Tentu saja pak Usman merasa gagal karena tidak bisa menyelamatkan Olive dari gangguan gaib. Di mana mereka telah melakukan perjanjian dengan mengorbankan Olive beserta bayinya sebagai tumbal.
__ADS_1
Duduk di ruang tunggu sambil meratapi kesedihan. Betapa tuan Diky satu tahun ini kehilangan dua wanita yang ia cintai yaitu Monalisa dan juga Olive.
"Semua ini salahku, pak Usman! Aku tidak menjaga Olive selama kehamilan nya. Sehingga Olive bisa diperdaya oleh orang-orang nya Ivory. Ivory sengaja ingin menghancurkan kehidupan ku dengan menghilangkan nyawa orang-orang yang dekat dengan ku. Ini benar-benar menyakitkan hati saya, pak Usman," ucap tuan Diky dengan air mata yang luruh di kedua matanya. Pak Usman berusaha menenangkan tuan Diky dengan mengusap pundaknya.
"Saya juga minta maaf, tuan Diky! Karena saya tidak bisa berbuat banyak. Bahkan saat mereka melakukan penyerangan saya berusaha menahannya dan saya sendiri memuntahkan darah segar. Nyonya Olive telah meminum sesuatu dari ritual itu. Sehingga sudah mengalir di darah nyonya Olive," terang pak Usman.
"Aku ingin membalas kejahatan Ivory, pak Usman. Dia selalu saja melakukan kejahatan dengan mengorbankan orang-orang yang aku cintai," sahut tuan Diky. Pak Usman kembali mengusap pundak tuan Diky.
"Tidak semua perbuatan jahat harus anda balas dengan kejahatan, tuan! Lebih baik tuan Diky mengikhlaskan semuanya. Mulai sekarang, kita harus lebih waspada lagi dengan kejahatan yang datang dari orang yang membenci kita, tuan," kata pak Usman panjang lebar.
"Sampai kapan mereka dendam dengan saya, pak? Mereka berkali-kali selalu saja ingin melihat aku hancur dan merasa sakit seperti ini," sahut tuan Diky. Kembali pak Usman menepuk pundak tuan Diky dan berusaha mengikhlaskan semuanya.
__ADS_1