TUMBAL PEREMPUAN HAMIL

TUMBAL PEREMPUAN HAMIL
Kematian Sonia Dan Bayinya


__ADS_3

Bu Marsini menangis tersedu-sedu saat mendapati kenyataan bahwa Sonia telah meninggal dunia setelah bayi yang dia lahir kan meninggal dunia. Bahkan bayi yang dilahirkan Sonia tidak berwujud bayi pada umumnya. Namun hanya segumpal daging busuk saja. Hal itu membuat bu Marsini menjadi berpikir bahwasanya Sonia telah menjadi korban atau tumbal.


Kini bu Marsini ingin mendatangi pak Djarot untuk memastikan bahwasanya putrinya, Sonia memang benar sudah menjadi tumbal.


Tok. Tok. Tok.


"Pak Djarot! Buka pintunya! Buka pak Djarot! Aku Marsini!" teriak bu Marsini seraya mengetuk pintu depan rumah kayu milik pak Djarot. Pak Djarot membuka pintu rumahnya itu seraya mengerutkan dahinya.


"Bu Marsini! Ada apa bu? Mari masuk dulu!" ucap pak Djarot seraya mempersilahkan bu Marsini masuk ke dalam rumahnya. Bu Marsini serta merta masuk ke dalam rumah pak Djarot lalu duduk di kursi kayu sebelum dirinya dipersilahkan untuk duduk di sana. Tatapan bu Marsini penuh amarah pada pak Djarot karena putri satu-satunya telah meninggal dunia karena telah menjadi tumbal.

__ADS_1


"Pak Djarot! Aku benar-benar sangat marah. Kenapa pak Djarot membunuh anakku satu-satunya? Pak Djarot menjadikan anakku tumbal. Kenapa pak? Kenapa harus anak aku? Bukankah waktu itu sudah ada wanita hamil yang datang sendiri kemari untuk menukarkan janinnya dengan uang? Kenapa masih ada tumbal lagi, dan itu adalah putri ku, pak Djarot!" ucap bu Marsini dengan suara yang bergetar karena marah. Pak Djarot menyipitkan bola matanya. Tentu saja pak Djarot bingung, siapa yang dimaksud oleh bu Marsini.


"Anak bu Marsini? Yanga mana bu?" sahut pak Djarot.


"Putriku Sonia telah meninggal, pak Djarot. Kondisi jasadnya pun membusuk dan bayi yang dilahirkannya seperti segumpal daging. Benar-benar putri dan cucuku telah menjadikan korban tumbal pembangunan proyek jembatan perusahaan pak Warsito," ucap bu Marsini.


Pak Djarot mengerutkan dahinya. Lalu pak Djarot mulai teringat beberapa bulan yang lalu telah datang sepasang kekasih ke rumahnya dengan tujuan untuk menggugurkan kandungan nya. Namun karena ada ritual penukaran janin dengan uang, maka pak Djarot menawarkan itu.


"Maaf, bu Marsini! Saya pikir dia bukanlah siapa-siapa bagi bu Marsini. Lagipula selama ini saya pun juga tidak pernah tahu kalau bu Marsini punya seorang anak gadis yang beranjak dewasa," ucap pak Djarot. Bu Marsini menatap tajam ke arah pak Djarot.

__ADS_1


"Jadi kedatangan gadis itu menyelamatkan saya dari tugas yang telah dibebankan ke saya. Dimana wanita hamil yang datang sebelumnya itu belum bisa sempurna jika menjadi tumbal pembangunan proyek jembatan itu. Dikarenakan wanita itu sudah bersuami. Jadi wanita yang hamil diluar nikah lah yang paling sempurna untuk dijadikan tumbal," terang pak Djarot panjang lebar.


"Kenapa pak Djarot? Kenapa ini seperti senjata makan tuan. Dimana anak saya sendiri yang jadi korban tumbalnya? Anak saya begitu senang saat memperoleh uang yang banyak, Hiks hiks," kata bu Marsini.


"Semua sudah terjadi, bu Marsini. Saya tidak bisa menolong lagi. Arwah putri bu Marsini beserta cucu telah menjadi penghuni jembatan itu," ucap pak Djarot.


"Ya Tuhan! Kenapa malang sekali nasib putriku, pak Djarot. Bahkan kematiannya tidak sempurna," sahut bu Marsini. Pak Djarot memejamkan matanya seperti sedang berkomunikasi dengan arwah Sonia.


"Bu Marsini! Putri bu Marsini bilang, bu Marsini jangan lagi sedih memikirkannya. Semua sudah terjadi. Putri ibu iklhas menerima semuanya," kata Pak Djarot.

__ADS_1


Kembali bu Marsini menangis tersedu-sedu penuh penyesalan karena putri satu-satunya meninggal dunia karena menjadi tumbal. Dan itu artinya arwahnya masih bergentayangan di lokasi dimana pembangunan proyek jembatan yang telah didirikan.


__ADS_2