
"Kalian! Kenapa kalian membawaku di sini?" ucap Olive yang tiba-tiba sudah berada di sebuah ruangan pengap.
Di sana sudah ada bu Marsini, pak Djarot dan pak Warsito. Pak Djarot dan pak Warsito kini keluar. Sekarang di ruangan itu tinggal Olive dengan bu Marsini. Olive sekarang sudah dalam keadaan diikat tangannya. Serta merta bu Marsini menusuk ibu jari Olive dengan jarum. Darah yang menetes dari ibu jari Olive ditampung di wadah kecil yang sudah disiapkan oleh bu Marsini. Setelah nya bu Marsini meletakkan wadah itu ke meja. Olive terlihat melebar bola matanya saat melihat sedikit darah nya ditampung di wadah.
"Kamu masih ingat dengan aku bukan?" tanya bu Marsini.
Olive tentu saja tidak akan lupa dengan wajah bu Marsini yang pernah mengajak ke rumah pak Djarot untuk melakukan ritual penukaran janin dengan uang.
"Tentu saja saya ingat, ibu! Tolong lepaskan saya bu!" sahut Olive.
Bu Marsini tersenyum sinis. Dia memandang lekat ke arah Olive. Kini bu Marsini tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Olive. Dia harus segera melakukan apa yang diperintah pak Djarot. Dimana dirinya ditugaskan untuk memaksa mengambil sedikit darah di ibu jari Olive dan memaksa Olive supaya mengeluarkan air seni nya sendiri.
Bu Marsini melebarkan kedua kaki Olive dan melepaskan segitiga pengaman yang dipakai Olive. Bu Marsini tentu saja tidak kesulitan karena Olive mengenakan gaun di bawah lutut. Walaupun Olive berusaha memberontak, namun kekuatan bu Marsini lebih kuat dibandingkan dengan Olive, di mana Olive diikat kedua tangannya ke belakang.
"Bu, apa yang sebenarnya ibu inginkan dari saya?" tanya Olive. Bu Marsini masih diam. Dia lalu menekan perut Olive. Namun sebelum itu wadah kecil yang ada darahnya tadi, ia letakkan diantara kedua kaki Olive.
"Sekarang kamu harus pipis. Kalau tidak? Aku akan memaksa kamu sampai kamu terkencing," ancam bu Marsini.
Olive membulat bola matanya. Apalagi bu Marsini hendak menelan perut buncit Olive dengan kasar.
__ADS_1
"Tunggu! Baik, baiklah aku akan lakukan apa yang ibu minta," kata Olive.
Tiba-tiba dia jadi menciut nyalinya. Dia takut terjadi apa-apa dengan bayi yang ada di dalam kandungan nya. Bu Marsini tersenyum lebar ketika melihat Olive sangat patuh. Ini memudahkan tugasnya. Wadah itu diambil bu Marsini. Lalu diaduk-aduk nya hingga tercampur. Setelah itu bu Marsini memakaikan kembali kain segitiga Olive yang tadi ia lepas. Olive menyipitkan bola matanya menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu.
"Kamu tahu, nak? Gara-gara kamu menggagalkan ritual penukaran janin saat itu, putriku satu-satunya lah yang menggantikan kamu. Di mana akhirnya putriku, Sonia meninggal dunia setelah bayinya lebih dulu meninggal. Kamu tahu apa yang sebenarnya yang terjadi?" ucap bu Marsini dengan mata berkaca- kaca. Olive menyimak cerita bu Marsini dengan serius.
Pandangannya tidak lepas menatap tajam ke bola mata wanita paruh baya itu.
"Ritual itu adalah ritual untuk tumbal proyek pembangunan jembatan. Di mana perusahaan konstruksi itu sendiri pemiliknya adalah suami kamu sendiri yaitu tuan muda Diky," terang bu Marsini.
"Hah?. A-apa?" sahut Olive.
"Ya Tuhan, bu Marsini! Mas Diky sudah bertaubat bu. Beliau sudah tidak ingin melakukan banyak dosa lagi. Makanya mas Diky meminta tolong pak Usman untuk membantu mengusir arwah-arwah di lokasi proyek," kata Olive.
"Tidak! Kami bertiga tidak akan menerima begitu saja di depak oleh tuan muda dan digantikan oleh laki-laki yang mengaku sebagai ustadz. Dia hanya pria penipu yang mengaku memiliki kesaktian. Nyata-nyata di lokasi proyek masih ada gangguan setelah ustadz gadungan itu melakukan ritual khusus untuk mengusir arwah-arwah," ucap bu Marsini.
Panjang lebar bu Marsini meluapkan emosinya pada Olive yang sebenarnya dia marah dengan tuan Diky. Namun karena Olive adalah istri dari tuan Diky, bu Marsini ingin menjadikan Olive tumbal supaya tuan Diky merasakan kesedihan dan kehilangan seperti yang dirasakan oleh bu Marsini.
Kini pak Djarot dan pak Warsito masuk ke ruangan itu dengan membawa sesajen lengkap. Olive melebar bola matanya melihat mereka mulai melakukan ritual khususnya pak Djarot sebagai orang pintar yang dipercaya sebagai juru kuncen penghubung diantara dua dunia itu.
__ADS_1
"Mana airnya, bu Marsini?" tanya pak Djarot.
Bu Marsini memberikan wadah yang isinya campuran antara air seni dan darah milik Olive. Pak Djarot mulai membaca mantra. Di depannya ada sesajen lengkap. Pak Warsito dan bu Marsini diam membiarkan pak Djarot melakukan ritualnya. Jangan lupakan Olive yang diam menatap ketiga nya dengan tatapan marah. Apalagi pak Warsito telah berkhianat dengan tuan Diky, selaku pimpinan nya.
Setelah pak Djarot membaca mantra, dia memberikan isyarat pada bu Marsini untuk meminumkan campuran air seni dan darah kepada Olive. Olive melebar bola matanya saat melihat bu Marsini memberikan minum kepada nya. Namun sebelum itu bu Marsini telah membukakan ikatan di tangan Olive.
"Apa ini bu? Untuk saya? Lalu untuk kalian mana?" tanya Olive yang melihat minuman itu seperti minuman yang menyegarkan.
"Minumlah sampai habis. Itu khusus untuk kamu. Kami sudah minum kok," kata bu Marsini.
Olive meminum minuman campuran air seni dan darahnya sendiri sampai habis. Pak Warsito yang melihat nya jadi jijik. Namun tampak senyuman puas saat melihat rencananya telah berhasil di mana Olive telah dijadikan tumbal berikutnya.
Pak Djarot dan bu Marsini kini bisa bernafas lega. Pak Warsito mulai mengajak Olive meninggalkan tempat itu.
"Mari nyonya muda. Saya akan mengantarkan nyonya muda pulang ke rumah," ajak pak Warsito. Seperti orang linglung, Olive mengikuti apa kata pak Warsito. Pak Djarot terlihat membisikkan sesuatu pada telinga pak Warsito sebelum benar-benar pergi meninggalkan pak Djarot dan bu Marsini.
"Oke, pak Djarot, bu Marsini! Senang bisa bekerjasama dengan kalian berdua. Semoga setelah ini tidak ada masalah di lokasi proyek," kata pak Warsito.
Olive kini sudah berada di dalam mobil pak Warsito. Mobil itu melaju dengan cepat. Pak Warsito harus segera mengantarkan Olive ke rumah sebelum tuan Diky tiba di rumah. Yang pasti dengan mantra yang telah diberikan pak Djarot, Olive tidak pernah ingat apa yang sudah terjadi dan menimpanya. Semua akan berjalan seperti biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Semoga tuan Diky belum sampai di rumahnya. Akan menjadi masalah jika aku keduluan tiba di rumah itu," gumam pak Warsito sambil menyetir mobilnya.