TUMBAL PEREMPUAN HAMIL

TUMBAL PEREMPUAN HAMIL
Pak Warsito Ke Rumah Tuan Diky


__ADS_3

Malam itu pak Warsito nekat mendatangi rumah tuan Diky. Banyaknya laporan dari para pekerja di lapangan dan para kontraktor, dalam minggu memaksa pak Warsito menghadap tuan Diky. Pak Usman yang dipercaya membersihkan lokasi proyek dari arwah-arwah yang masih suka menggangu, nyatanya belum menunjukkan hasilnya. Di. lokasi proyek yang akan dibangun gedung bertingkat sebagai tempat penginapan bertaraf internasional itu masih timbul beberapa masalah. Seperti halnya para pekerja yang selalu melihat hal-hal ganjil di sana maupun mendapatkan masalah yang lain.


Kembali pak Warsito mencoba berbicara dengan tuan Diky. Bahwasanya mereka para kontraktor dan pekerja lapangan menghadapi permasalahan di lokasi proyek. Dari gangguan-gangguan suara aneh sampai tanah yang hendak di gali tiba-tiba mengeras. Alat-alat berat yang digunakan tiba-tiba tidak bisa dihidupkan mesinnya. Dan masih banyak lagi. Ditambah lagi pak Usman yang dipercaya untuk menyelesaikan masalah gaib di lokasi proyek dianggap tidak sakti seperti pak Djarot.


Pak Warsito membunyikan bel masuk di rumah itu. Tidak lama kemudian seorang wanita dengan perut membuncit membukakan pintu utama rumah itu. Pak Warsito menatap wanita itu seraya mengerutkan dahinya. Pandangannya ke arah perut wanita yang membuncit itu.


"Silahkan masuk, pak! Nyari mas Diky yah?" tanya wanita muda yang sedang hamil itu.


Dia tidak lain adalah Olive. Setelah meninggal nya Monalisa istri tuan Diky, Olive diajak ke rumah utama kediaman tuan Diky. Pak Warsito mengerutkan dahinya. Dia belum mengenal Olive yang sekarang ini sudah menjadi istri dari bos nya. Itu karena pernikahan yang dilakukan tuan Diky terhadap Olive hanya sebatas pernikahan diri, dimana tidak semua orang mengetahuinya kecuali teman dekat tuan Diky yaitu dokter Tomi yang merangkap sebagai dokter pribadinya.


Pak Warsito duduk di ruang tengah. Sementara itu Olive masuk ke dalam kamar utama rumah besar dan mewah itu, dimana di dalam ada suaminya, tuan Diky.


"Siapa tamu yang datang ke rumah, sayang?" tanya tuan Diky. Olive duduk mendekati suaminya yang duduk di kursi kerja sambil berkutat di depan laptopnya.


"Itu seorang pria setengah tua, setengah jelek, tapi penampilan nya lumayan rapi. Terus tinggi besar, kulit sawo busuk, rambut sedikit kriting," terang Olive. Tuan Diky terkekeh mendengar jawaban Olive.

__ADS_1


"Oh, dia adalah pak Warsito, sayang! Gak boleh gitu ah! Entar anakku kayak pak Warsito bagaimana?" sahut tuan Diky.


"Ih amit-amit jabang bayi!" sahut Olive sambil mengusap perut buncit nya. Tuan Diky bangkit dari duduknya lalu mulai menunduk dan mencium perut buncit Olive. Olive tersenyum lebar seraya mengusap puncak kepala suaminya itu.


"Ayah, menemui tamu ayah dulu di luar yah nak. Adik di sini saja sama bunda di kamar," ucap tuan Diky seraya mengusap perut buncit yang di dalamnya ada bayi keturunan nya.


"Baik, ayah!" sahut Olive dengan suara yang menirukan seperti suara anak kecil.


Tuan Diky kini beralih mencium kening Olive. Setelahnya keluar dari dalam kamar itu meninggalkan Olive sendiri di dalam kamar. Olive melihat punggung suaminya sampai terhalang pandangan nya dengan pintu kamar itu yang ditutup oleh tuan Diky.


"Terimakasih, Tuhan! Engkau telah membukakan pintu hati mas Diky. Mas Diky sudah menerima kehamilan ku ini. Ditambah lagi telah menikahi aku walaupun sekarang ini kami masih menikah secara agama," gumam Olive sambil mengusap perut nya yang semakin membesar.


"Ada apa pak Warsito?" tanya tuan Diky setelah duduk di kursi sofa di depan pak Warsito. Pak Warsito mulai menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dirinya memulai menyampaikan tujuannya datang ke rumah bos nya itu.


"Begini tuan Diky! Ada beberapa keluhan dari para kontraktor dan juga para pekerja di proyek. Di mana di lokasi proyek mereka sering mendapatkan gangguan dari arwah-arwah penghuni lokasi proyek. Tuan Diky jelas-jelas mengetahui, kalau para pekerja ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini sampai ngelembur," urai pak Warsito.

__ADS_1


Tuan Diky mengerut dahinya mendengar penjelasan dari orang yang dipercayainya di perusahaan konstruksi miliknya.


"Lalu?" sahut tuan Diky.


"Ini tidak bisa dibiarkan, tuan! Nyata-nyata pak Usman yang dipercaya membersihkan lokasi proyek dari gangguan arwah-arwah penasaran di bawah bukit yang dijadikan lokasi hotel dan resist itu, tidak membuahkan hasil. Saya pikir, kita harus kembali memakai jasa pak Djarot sebagai paranormal sakti dan mandraguna," urai pak Warsito. Tuan Diky menyipitkan bola matanya. Dia tidak suka dengan orang kepercayaan nya itu yang berusaha membujuk dirinya untuk menggunakan jasa pak Djarot.


"Tidak, pak Warsito! Aku tidak akan memakai jasa pak Djarot lagi dalam urusan proyek konstruksi kita. Aku tidak ingin ikut terlibat menghilangkan nyawa seseorang sebagai tumbal lagi. Ini tidak dibenarkan," kata tuan Diky dengan penuh keyakinan dan tekad. Pak Warsito dalam hati rasanya sudah jengkel. Dia masih berpihak pada pak Djarot. Bukan pak Usman.


"Tapi tuan!" sahut pak Warsito.


"Maaf, pak Warsito! Saya sudah bertekad dalam diri saya sendiri untuk tidak mengulangi hal-hal yang tidak dibenarkan dalam keyakinan dan kepercayaan agama yang aku anut. Ini dosa besar. Ketika kita jadi mengikuti kemauan iblis," ucap tuan Diky.


Pak Warsito bungkam. Dia tidak bisa memaksakan dirinya lagi pada bos nya itu. Pak Warsito sudah habis kata-kata lagi. Kedatangannya ke rumah bos nya itu memang ingin mempengaruhi tuan Diky supaya memakai jasa paranormal pak Djarot. Namun seperti nya tuan Diky sudah tidak bisa lagi dipengaruhi. Sedangkan keadaan di lokasi Proyek memang penuh dengan hal gaib. Dengan langkah gontai, pak Warsito pamit undur diri dari rumah bos nya.


"Ih menyebalkan sekali tuan Diky," umpat pak Warsito dalam hati.

__ADS_1


"Tapi aku tadi melihat ada seorang wanita muda yang sedang hamil. Apakah dia adalah istri bos sekarang? Tapi kenapa aku tidak tahu yah? Aku akan memastikan hal ini dengan bertanya pada pak satpam. Apakah benar wanita tadi yang hamil itu adalah istri tuan Diky yang sekarang?" gumam Pak Warsito yang melangkah keluar menuju pos satpam di rumah bosnya sebelum dirinya benar-benar pergi dari rumah itu.


Setelah pak Warsito bertanya pada penjaga rumah bos nya itu, dia meninggalkan rumah itu dan kembali ke rumah.


__ADS_2