TUMBAL PEREMPUAN HAMIL

TUMBAL PEREMPUAN HAMIL
Arwah Sonia Gentayangan


__ADS_3

"Sonia, putriku! Kemari lah, nak!" ucap bu Mars ini saat dirinya sengaja datang malam-malam di Jembatan. Jembatan itu sudah selesai dibangun. Para pekerja proyek telah berpindah lokasinya ke bawah bukit untuk pembangunan proyek selanjutnya.


Bu Marsini datang sendiri di tempat itu dengan membawa sesajen lengkap. Di mana jembatan itu kini terlihat sepi dan belum ada satu mobil maupun motor melintasinya. Bu Marsini duduk seraya menunggu putrinya datang mendekat.


Dari kejauhan terlihat arwah Sonia menangis tersedu-sedu dengan menggendong bayinya. Isak tangis bu Marsini semakin menjadi ketika suara putrinya terdengar nyaring di telinga nya.


"Ya Tuhan! Inikah keadilan? Bahkan putriku meninggal dunia belum Engkau terima arwahnya. Putriku harus menerima hukuman dari perbuatan nya. Dimana Sonia berniat menghilangkan janinnya sendiri. Bahkan Sonia benyak melakukan dosa dan kemaksiatan sebelum meninggal. Ini salahku. Tapi kenapa Engkau justru menghukum putri ku dengan cara ini," oceh Bu Marsini seraya menangis tersedu-sedu.


Dari kejauhan arwah Sonia kini tiba-tiba mentertawakan bu Marsini. Sorot matanya yang merah tajam menatap bu Marsini dengan iba dan penuh penyesalan. Namun segalanya sudah terjadi. Manusia yang mati hanya bisa meratapi penyesalan nya. Entah seribu tahun lagi arwah itu bisa diterima dan kembali pada sang Pencipta. Semua harus melewati masa hukuman sebelum benar-benar dunia ini dimusnahkan.

__ADS_1


"Kemari lah Sonia! Mendekat lah pada ibu, nak! Ibu selalu memaafkan kesalahan kamu. Ibu menyayangi kamu," kata bu Marsini dengan suara lantang.


Arwah Sonia pergi begitu saja di saat satu sorot lampu mobil hendak melintasi jembatan itu. Bu Marsini masih duduk di tengah-tengah jembatan itu tanpa menghiraukan suara klakson mobil terdengar nyaring di tengah malam itu. Mobil itu memilih sedikit menepi dan mengurangi kecepatannya. Namun tidak berapa lama kaca samping mobil itu di bukanya.


"Bu, tolong jangan di tengah jalan. Ini sangat berbahaya, bu! Keselamatan ibu bisa terancam," teriak seorang wanita muda.


Di mana di sebelah nya sangat sopir mengemudi mobilnya dengan pelan. Bu Marsini diam. Air matanya masih deras menetes di sana. Sampai mobil itu melaju menjauh dari jembatan itu, bu Marsini belum bergeming dari duduk nya.


"Sonia, ibu pulang! Kamu jangan sedih yah nak! Sebentar lagi, ibu akan mengirimkan seseorang untuk menemani kamu di sini," ucap bu Marsini. Dia penuh keyakinan bahwa Olive akan menjadi tumbal berikutnya. Walaupun sebagai tumbal di lokasi proyek lain.

__ADS_1


Sesajen itu dibiarkan di tengah jalan. Anehnya beberapa kendaraan yang melintas di sana enggan untuk melindas nya. Dalam benak mereka ada rasa takut jika mendapatkan musibah jika tidak sopan terhadap sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.


Bu Marsini berjalan kaki pulang ke rumah. Cukup jauh jarak antara rumahnya dengan letak jembatan itu. Namun demi rasa rindunya pada putrinya, bu Marsini tidak memperdulikan rasa letih dan capeknya. Hingga seorang tukang ojek dengan motor buntut nya menawarkan tumpangan pada bu Marsini ke rumahnya.


"Pulang kemana, bu?" tanya tukang ojek pria yang berumur sekitar lima puluh lima tahunan.


"Ke jalan Kamboja," jawab bu Marsini. Tukang ojek itu menghentikan motor nya supaya bu Marsini naik di jok motor nya.


"Pegangan yah, bu!" kata tukang ojek itu seraya kembali menjalankan motornya.

__ADS_1


Mereka tidak bisa melihat. Bahwasanya di jembatan itu banyak arwah-arwah yang mulai menuruni bawah jembatan. Mereka pulang di alam mereka bersembunyi di tempat gelap yang tidak bisa dijangkau oleh mata telanjang manusia biasa.


"


__ADS_2