Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 1


__ADS_3

"Aaaaaaarrrrggghhhhh.." suara teriakan seorang wanita muda terdengar beberapa kali di dalam sebuah gubuk reyot, bersamanya ada dua orang wanita paruh baya yang menemaninya.


"Ayo Bu sedikit lagi, tarik nafas.. buang lewat mulut, tarik lagi.. buang.." ucap salah satu wanita paruh baya yang tak lain ialah seorang dukun bayi menuntun wanita muda tersebut melahirkan.


"Aaaaaaaaggghhhhhhh.... Huh huh huh.."


"Ooooeeeekkkk ooeeekkk.." terdengar suara tangisan bayi.


"Alhamdulillah.." ucap dukun bayi tersebut, "Ayo Bu siap siap yang kedua." Dukun bayi itu sama sekali tidak memberi jeda untuk wanita muda itu mengisi kembali tenaga yang telah terkuras.


"Mulut rahimnya masih terbuka lebar sekarang." ucapnya menjelaskan. "Tapi bayi yang kedua dalam posisi sungsang,"


"Anda harus mengejan lebih kuat lagi." imbuhnya .


"Aaaa..aaaagggghhhh hah..hah...hah.."


Begitu kaki bayi terlihat keluar, dukun bayi tersebut segera menariknya keluar. Terlihat jelas wanita tersebut begitu kesakitan karena mencoba kembali untuk mengejan dengan sisa sisa kekuatan yang ada.


"Alhamdulillah bayi kembar anda terlahir sehat dan sempurna."


Dengan segera dukun bayi tersebut membalutkan handuk dan membersihkan bayi kembar tersebut.


Disisi lainnya terlihat seorang wanita paruh baya yang sedari tadi cemas melihat proses persalinan tersebut sekarang telah terlihat sedikit tenang. Dia menghampiri wanita yang telah melahirkan tadi, menatapnya lekat lekat. "Syukurlah kamu dapat melahirkan bayi kembarmu secara normal, kalau tidak aku sudah akan mengusirmu. Dengan begini kamu tidak menambah pengeluaran yang besar untuk suamimu." ucapnya.


"Tapi ada satu masalah lagi," imbuhnya.


"Masalah apa Bu?" jawab wanita muda tersebut.


"Anakmu kembar."


"Kenapa Bu? Bukannya ibu juga sudah tahu dari awal, apa permasalahannya?" tanyanya dengan gemetar mencengkeram seprei tempat tidurnya.


"Apa kamu bodoh dan tidak bisa berpikir? Kita ini orang miskin, untuk makan sehari hari saja susah. Dan sekarang punya anak kembar segala. Kamu tidak kasihan sama anak saya setiap hari kerja keras lembur pulang malam banting tulang, seperti sekarang ini dia diluar kota tidak bisa pulang karena ingin dapat tambahan. Apa kamu belum mengerti maksud saya?" terangnya panjang lebar dengan bersungut sungut.


Iya, wanita paruh baya tersebut tak lain ialah Bu Ami mertuanya sendiri. Memang dari awal mertuanya itu tidak pernah merestui hubungan mereka, tidak menyukai bahkan bisa dibilang membenci Agni, menantunya sendiri.


Agni menganggukkan kepalanya "Saya mengerti Bu, sekarang apa yang ibu inginkan?"


Bu Ami mengulas senyum tipis "Saya akan membawa salah satu anakmu untuk ku berikan kepada sepasang suami istri yang tidak mempunyai anak." ucapnya seraya menajamkan tatapan matanya.

__ADS_1


Agni membelalakkan matanya terkejut "Ti.. tidak Bu.. jangan. Saya tidak mau kehilangan salah satu anak saya, saya mohon Bu." ucapnya dengan air mata yang telah merembes keluar.


Aku tahu ibu sudah tidak suka dikala aku mengandung anak kembar, karena akan menambah beban untuk suamiku. Maka dari itu ia dari dulu sudah beberapa kali mencoba untuk menggugurkan anakku dan juga pernah sekali melakukan percobaan pembunuhan terhadapku.


Namun sepertinya kuasa Allah SWT memang maha besar, Allah melindungiku dan calon anak anakku. Dan sekarang aku telah merasakan perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya dengan rasa sakit yang luar biasa dan pertaruhan nyawa. 'Tidak, Aku tidak akan membiarkan ibu memisahkan aku dan kedua anakku.' batinnya.


Bu Ami kemudian menjambak dengan kuat rambut Agni "Heh, saya tidak meminta pendapat maupun keputusan kamu, karena kamu tidak berhak atas apapun disini." ucapnya seraya melepas genggaman tangannya pada rambut Agni.


"Tidak.. Bu, Saya mohon.. Saya akan melakukan apapun yang ibu minta asalkan jangan memisahkan saya dan anak saya Bu.. hiks.. hiks.. hiks.." Agni memegang tangan mertuanya seraya memohon kepadanya.


Bu Ami menepis tangan Agni " Meskipun kamu harus meninggalkan anak saya?" tanya wanita paruh baya itu.


Agni nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


Mungkin inilah jalan yang terbaik untuk sepasang suami istri yang menjalin sebuah hubungan tanpa didasari restu orang tua, pilihan perpisahan yang menyakitkan.


'Maafkan aku mas, aku terpaksa akan meninggalkanmu karena aku tidak ingin kehilangan anak anak yang baru saja hadir di kehidupanku.' batinnya.


Tidak terasa air mata terus mengalir keluar membasahi pipi Agni. Seorang wanita cantik berkulit putih bersih dengan hidung mancung berusia 25 tahun. Dia adalah wanita yang baik dan kuat. Tidak ada yang tahu bahwa selama ia menjadi istri dari Bayu seorang kuli panggul dan pekerja serabutan di daerah dekat kota, ia selalu di perlakukan kasar dan tidak baik oleh ibu mertuanya sendiri. Belum lagi pekerjaan rumah sehari hari mulai dari menyapu, memasak, mencuci baju ia semua yang melakukannya. Meskipun Agni tengah mengandung, tidak ada rasa belas kasih dari mertuanya dan tetap menyuruhnya bekerja.


Namun Agni ialah wanita yang kuat, ia mencari tambahan berbagai macam pekerjaan seperti mencuci pakaian milik tetangga dan membantu membersihkan rumah tetangga. Semua pekerjaan ia lakukan dengan ikhlas. Namun hasil jerih payahnya selama ini selalu diambil mertuanya tanpa menyisakan sepeserpun untuk Agni.


Agni tetap bersabar terlebih lagi karena ia sangat mencintai suaminya, apapun rela ia lakukan agar ibu mertuanya pun ikut senang. Bahkan suaminya pun tidak tahu hal itu hingga saat ini. Itu dikarenakan sang mertua selalu bersikap baik dan lembut kepada Agni saat Bayu berada diantara mereka. Pekerjaan dan kemiskinan mereka pula yang membuat Bayu bekerja keras sampai larut malam dan bahkan tidak pulang untuk mencari pekerjaan tambahan untuk keluarganya. Karena bukan hanya istrinya saja, Bayu pun juga harus menghidupi ibunya.


Bu Ami pun terkejut saat Agni lebih memilih meninggalkan suaminya. Ia sejenak berpikir 'Apa dia sudah tidak mencintai Bayu? Kalau dia lebih memilih anak anak nya maka aku tidak akan mendapatkan keuntungan, tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu.


"Baiklah kalau itu maumu, saya akan menuruti kemauanmu. Istirahatlah dulu, kamu kelihatan sangat lelah. Nanti kita bicarakan lagi, tentunya kamu harus pergi sebelum suamimu kembali besok." ucapnya sambil berlalu meninggalkan kamar Agni.


Agni beranjak duduk, ia menghela nafas panjang dan begitu berat sebelum kemudian ia menatap bayi kembarnya. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. 'Setidaknya ibu masih memiliki kalian anak anak ku ' gumamnya.


Dukun bayi tadi telah menyelesaikan tugasnya sebelum ia menidurkan bayi Agni di meja sebelah tempat tidurnya. Ia memandangi wajah bayi bayi mungil tersebut sambil terus tersenyum.


"Kalian mirip sekali, bagaimana ibu bisa membedakan kalian ya?"


"Oh, kamu ada tahi lalatnya disini sayang." ujarnya seraya mengelus tangan mungil sebelah kanan bayinya. Tahi lalat itu sebesar kacang hijau, setidaknya masih ada perbedaan diantara keduanya. Karena kalau dilihat secara fisik bayi kembar tersebut memang sangat mirip. Matanya yang bulat, hidung mancung dan mulut yang kecil, bahkan kulitnya pun putih bersih. Tidak terlihat seperti anak orang desa pada umumnya. Secara memang Agni sendiri sebenarnya berperawakan layaknya bukan orang desa. Dia adalah anak yatim piatu, sejak kecil ia hidup di panti asuhan di desa tersebut. Siapa orang tua kandungnya sampai saat ini ia pun tidak tahu.


Setelah puas memandangi anak anak nya Agni pun telah terlelap, ia sangat kelelahan.


**

__ADS_1


Disisi lain Bu Ami terlihat mondar mandir sambil menundukkan kepalanya, tampak berpikir keras.


Tak lama setelah itu ia kembali mengintip dari balik pintu kamar Agni. 'Sudah tertidur, aku harus bertindak cepat. ' gumamnya .


Lalu ia melangkah mengendap endap menuju sebuah meja yang dialasi kain yang ditumpuk tumpuk di sebelah tempat tidur Agni. Bayi kembarnya memang diletakkan di sana karena tidak ada kasur lagi sedangkan yang ditiduri Agni sendiri adalah sebuah dipan yang sempit dan tidak ada kasur diatasnya hanya beralas tikar tipis.


'Apa aku ambil dua duanya saja ya? Ah tidak tidak, nanti Bayu bisa curiga.' gumamnya.


Kemudian ia mengambil dan menggendong salah satu bayi Agni dan berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


***


Beberapa jam kemudian Agni terbangun, ia beranjak duduk ingin melihat bayinya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat hanya satu bayi yang ada di sana masih tertidur lelap. Jantungnya serasa mau copot. Ia pun mencoba berjalan dan kemudian berteriak teriak memanggil ibu mertuanya.


"Ibu.. Ibu.. Ibu dimana? Ibuu...hu..hu..hu.." ia pun tak kuasa menahan air matanya, nafasnya tak beraturan, di dalam pikirannya sudah menduga kalau ibu mertuanya membawa pergi anaknya.


"Ya Allah anak ku.. Apa yang dilakukan ibu mertuaku?" ia terus menangis tersedu sedu.


Hingga akhirnya suara seseorang terdengar menyaut "Berisik banget sih kamu teriak teriak, udah gila ya? Apa hah?" Bu Ami berjalan menghampiri Agni.


Agni berdiri menatap ibunya "Dimana anakku Bu, dimana ibu membawa anakku?"


"Huh! Kamu mau tau?"


Agni terus menatap tajam ibu mertuanya.


"Anakmu sudah kuberikan ke orang lain, mereka bakal mengurusnya dengan baik kok, kamu tenang saja." jawabnya santai.


"Apa maksud ibu? Bukannya saya sudah memilih untuk meninggalkan mas Bayu, kenapa ibu malah mengambil anak saya? kenapa ibu tidak menepati perkataan ibu? Apa ibu tidak percaya kalau saya akan pergi? ibu tenang saja karena saya akan menepati itu. Saya akan meninggalkan anak ibu, tolong kembalikan anak saya." ucapnya dengan nada berteriak dan air mata yang terus mengalir.


Wanita paruh baya itu langsung menjambak rambut Agni dengan kencang "Udah berani kamu ngelawan saya ya, hah! udah berani teriak teriak di depan saya?" Matanya melotot seraya memajukan langkahnya yang menjadikan Agni semakin mundur dan terhimpit ke tembok.


"Dasar sampah! Kamu mau menentang keputusan saya? Dengar ya menantu bodoh, kamu tidak berhak menyuarakan suara mu disini. Meskipun itu anakmu, tapi saya yang berhak mengatur semua yang ada di rumah ini termasuk hidupmu! Jadi jangan lagi kamu menginginkan hakmu bisa terpenuhi disini! terima saja lah nasib mu yang buruk ini, dasar anak tidak berguna!" jelasnya seraya menarik semakin kuat rambut panjang Agni dan menghempaskannya dengan kencang, ia pun mendorong tubuh Agni hingga tersungkur menjauhinya.


"Hiks.. hiks.. hiks.." Agni terus menangis, dadanya terasa sesak. Baru sebentar ia merasakan kebahagiaan karena memiliki anak kembar, sekali lagi kebahagiaannya direnggut oleh ibu mertuanya itu. Saat ini ia bingung sekali, ingin rasanya ia melawan mertuanya tapi di dalam hatinya terbesit ketakutan yang mendalam. Ia ingin sekali pergi dari rumah itu, tapi ia akan pergi kemana. Ia tidak mempunyai siapa siapa lagi di dunia ini.


'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengadu ke mas Bayu saja? Iya, aku akan menceritakan semua kelakuan ibunya karena ini menyangkut anakku, dia benar benar sudah keterlaluan. Sudah cukup ibu memperlakukan aku dengan kejam dan selalu berpura pura di depan mas Bayu.' batinnya.


"Apa hah lihat lihat, sana pergi!" geram Bu Ami.

__ADS_1


Agni beranjak berdiri, namun terjatuh. Ia meringis merasakan tubuhnya yang masih sakit dan lemas setelah melahirkan.


"Dasar lemah dan tidak berguna!"


__ADS_2