
Hari ini adalah hari terakhir Study Tour bagi sekolah Jane, dan tujuan terakhirnya yaitu mengunjungi Desa Sei.
Jam tengah berada diantara angka 5 dan 6, masih terlalu pagi baginya. Namun tak melunturkan semangatnya untuk memulai kegiatan hari ini, tepatnya hari terakhirnya disini.
'Hari ini hari terakhir disini, harus ada sesuatu yang berkesan pastinya. Semangat semangat, Fighting!!'
Hawa dingin yang menyeruak sampai ke tulang sangat terasa ketika ia menapakkan kakinya diluar gedung bertingkat tinggi itu, hingga membuat tubuhnya merinding. Untung saja kain yang terbuat dari serat katun dan polyester yang ia pakai saat ini cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Ia juga membiarkan rambut panjangnya yang berwarna coklat tua itu tergerai.
Jane melambaikan tangannya saat sosok yang sangat ingin ia temui itu melebarkan senyum untuk menyambutnya.
"Pagi, sayangku.." Sapa Xander.
"Pagi juga sayang.. hehe.." Jawab Jane.
"Kayaknya hari ini kamu lebih semangat ya?" Tanya Xander.
"Iya dong, hari ini kan hari terakhir kita disini." Seru Jane.
"Ehm.. tapi hari ini kita gak bakal sama sama kayak kemaren sayang, kegiatan kelompok nya beda." Ujar Xander.
Jane agak murung, "Iya.." jawabnya.
"Lho, kok jadi kusut gini sih mukanya?! Nanti cantiknya luntur lho?" goda Xander.
"Emang iya ya?" Ucap Jane, ia menatap Xander sinis.
"Sayangku ini emang imut banget kalo lagi ngambek!"
Jane mengerucutkan bibirnya,
"Aduh, jangan gitu dong sayang? Nggak kuat nih liatnya."
Felix menoyor kepala Xander, "Dasar kodok mesum lo!"
Jane memukul pelan lengan kekasihnya itu.
"Jangan mulai deh.."
"Apa apaan sih kalian, kok pada kompak nganiaya gue!" Ujar Xander pasang muka melas.
"Masih pagi nih, nggak kuat apa maksud lo hah?!" Seru Felix.
"Apa? Emang elo mikir apa?"
"Tau!"
"Haha.. pikiran lo tuh yang mesum!" Seru Xander.
Felix berlalu begitu saja.
"Sensi banget sih lo!" teriak Xander yang disambut cubitan kecil dipinggangnya oleh Jane.
"Aduh!"
"Hush! Gausah teriak teriak kenapa sih?!" seru Jane.
"Habisnya dia pikirannya mesum sayang."
"Bukan dia tapi kamu." Sahut Jane.
"Aku?" tanya Xander, "Wah, berarti kamu juga mikir yang aneh aneh ya? Hayo ngaku?" goda Xander.
"Dasar aneh! orang kamu duluan yang bilang gitu." Jane bersedekap.
"Aku bilang gitu, tapi aku nggak mikir gitu sayang. Atau jangan jangan kamu pengen ya?" goda Xander lagi.
"Kamu tuh ya! nih rasain! nih, nih, nih!" Jane menggelitiki kekasihnya itu.
"Aduh, ampun sayang.. ampun.."
Teman temannya yang melihat mereka berdua pun berlalu pergi dari sana, mereka tidak tahan melihat kemesraannya.
"Udah dong sayang, geli banget." seru Xander.
"Kamu nyebelin sih!"
"Suka aja godain kamu! Oh iya sayang, aku hampir lupa." Xander teringat sesuatu yang sudah ia rencanakan semalam. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya, kemudian menggenggamnya.
"Kamu merem dulu, aku punya sesuatu buat kamu." ucapnya.
"Apa?"
"Udah merem dulu." perintahnya, Jane pun segera menuruti keinginan Xander.
"Adep sana dulu ya?" Xander memutar tubuh Jane agar membelakanginya.
Setelah itu ia memasangkan sebuah kalung yang telah ia genggam tadi di leher Jane.
Ia mengembalikan posisi tubuh Jane menghadap kearahnya.
"Udah, kamu boleh buka mata sekarang."
Jane yang sudah mengetahui benda apa yang baru saja diberikan oleh Xander pun langsung melihat dan memeganginya.
Kalung rantai tipis berwarna silver yang dihiasi liontin berlian kecil berbentuk hati tersebut sangatlah indah.
"Cocok banget, kamu jadi makin cantik deh sayang." puji Xander.
Rona merah menyembul dari pipi putih Jane,
"Bisa aja deh! ini buat aku?" tanya Jane.
"Ya iyalah buat kamu sayang.. masa aku cuma nyuruh kamu nyoba aja?! gimana sih?"
Jane langsung memeluk tubuh Xander,
Xander yang kaget pun segera membalas pelukan itu.
"Makasih sayang.."
Xander mengelus elus pucuk rambut Jane.
"Iya sayang, dipakai terus ya?" ujarnya.
Jane mengangguk, perlahan air matanya menetes.
Mereka berdua mengakhiri pelukan tersebut saat seseorang meneriaki mereka.
"Woii, buruan! kalian mau ditinggal?!"
__ADS_1
"Iya.." Jane menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
Xander yang melihatnya pun ikut menyapu air mata kekasihnya itu menggunakan ibu jarinya.
"Udah, kok malah nangis sih?"
"Aku terharu," jawab Jane.
Xander tersenyum, ia mengacak acak rambut Jane dan segera menggandeng tangannya lalu berjalan beriringan menuju bus.
Setelah selesai bertegur sapa, Jane dan teman temannya serta murid lainnya pun segera masuk kedalam bus masing masing. Karena waktu yang mereka miliki tidaklah banyak untuk menyelesaikan rentetan kegiatan kunjungan wisata hari ini.
Diperjalanan, Jane lebih banyak diam. Dia terus memegangi kalung pemberian kekasihnya itu sembari memandang kearah luar jendela untuk menikmati pemandangan. Keindahan alam sekitar berupa hamparan sawah, dan pepohonan hijau nan rindang juga sangat sedap dipandang mata.
Hanya butuh waktu kurang lebih 1 jam 20 menit mereka sudah disuguhkan oleh keindahan landscape Desa Sei yang hijau dan asri. Desa itu mempunyai 3 unggulan destinasi yaitu wisata Gunung K, Telaga Jernih, juga Pura U yang terletak diatas tebing tinggi.
Tujuan mereka kali ini adalah untuk
bisa berinteraksi dengan penduduk dan belajar budaya Desa Sei, seperti membatik, membuat kerajinan dari janur, menanam padi di sawah, rock climbing, dan trekking menuju Gunung K.
***
Jane dan murid lainnya pun melakukan rangkaian kegiatan dengan penuh suka cita, karena tidak pernah bagi mereka semua melakukannya. Bagi Jane dkk itu sangat menarik, dan merupakan pengalaman pertama, terutama menanam padi disawah. Bagaimana dirinya yang sudah berpenampilan rapi dan bersih, kini terlihat sangat kotor dan dekil. Tapi ia dan teman temannya pun sangat menikmatinya.
Matahari pun tengah beranjak tebih tinggi dan sekarang kegiatan terakhir mereka adalah trekking menuju Gunung K. Setelah membersihkan diri, bersama kelompok masing masing pula mereka pun mulai melakukan perjalanan.
Hari ini Jane tidak banyak kesempatan untuk bersama dengan kekasihnya, lantaran mereka berbeda kelompok. Seperti yang terlihat saat ini, Jane hanya berempat bersama para sahabatnya. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, mereka mulai bergantian berjalan mendaki melewati tebing tebing yang tinggi.
Jane masih nampak bersemangat sekali, karena walaupun siang hari udara disana tetap dingin dan sejuk. Mereka melakukan trekking selama satu jam pendakian santai hingga Hutan Mati, melewati kompleks Kawah Gunung yang terus mengepulkan asap belerang. Pemandangan alam yang spektakuler adalah daya tarik utama disana.
Ternyata bukan hanya sekolah mereka yang beraktivitas disana. Ada banyak orang yang tidak mereka kenali, mereka berpikir bahwa orang orang itu sama dengan yang kemarin mereka jumpai di danau B. Dan benar sekali, anak anak tersebut berasal dari Kota S lebih tepatnya sekolah Sara.
***
"Aduh, gue kebelet nih!" seru Jane saat mereka sudah hampir sampai.
"Elah, ada ada aja sih lo." sahut Denise.
Jane celingukan ke kanan dan ke kiri, "Gue ke toilet dulu ya!" ucap Jane.
(Disana menyediakan fasilitas toilet di atas gunung untuk para pendaki di beberapa titik jalur pendakian).
"Gue temenin, ayo!" ujar Denise.
"Udah nggak usah, kalian duluan aja. Gue takut lama."
"Nanti kalo lo nyasar gimana beg*?" seru Denise.
"Elo pikir gue anak TK apa?! Lagian disini juga banyak orang, udah lah kalian duluan aja ntar gue nyusul." seru Jane terburu buru.
"Beneran lo? Nanti gue bilang apa ke nyokap bokap lo kalo sampe lo ilang?" teriak Denise.
"Bilang aja gue cuma ngilang sebentar!" teriak Jane dari jauh.
Denise, Lea dan Jovi pun hanya mengamati dari jauh, kemudian melanjutkan langkahnya yang tinggal sejengkal lagi menuju atas gunung.
"Udah, gapapa Den. Dia udah gede juga, gak bakalan nyasar." tutur Lea yang melihat Denise nampak khawatir dengan Jane.
Denise pun mengangguk.
__
Setelah beberapa saat dirinya berada didalam bilik kecil nan sempit itu akhirnya Jane pun keluar.
Ia terlihat mengatur nafasnya yang tak beraturan, akibat sedari tadi didalam sana ia telah menahan nafas beberapa kali.
"Aduh, sumpah! gila! gue sampe nggak bisa nafas." ucapnya dengan nafas masih terengah engah.
"Hal yang nggak gue inginin akhirnya terjadi juga!"
"Dasar perut nggak bisa diajak kompromi!" ia menggerutu sembari membenarkan pakaiannya. Ia bermaksud untuk mengambil hand sanitizer didalam ranselnya, ia mengobrak abrik isi tas tersebut. Namun bungkus tissue yang berada didalam ranselnya berhamburan keluar lantaran tiba tiba angin kencang berhembus disekitarnya. Jane yang bingung pun lantas memunguti lembaran tissue yang sudah tertiup angin itu, hingga tanpa disadari kakinya terperosok ke pinggiran jurang.
"Aaarrghh.." Jane menjerit karena terkejut, tapi untungnya dia saat ini berpegangan erat pada dahan pohon besar yang menjulang diatas sana.
Jantungnya berdebar tidak karuan, ia berteriak teriak meminta pertolongan.
"Toloooong.... tolongin gue..!"
"Toloooong..!"
"Toloooong..!"
"Apa ada orang disana?!" teriaknya.
'Ya ampun.. kenapa nggak ada yang nyaut sih? kemana semua orang?'
Dan dia seketika tersadar bahwa ketika dia berbelok menuju bilik toilet tadi tidak ada satu orang pun disekitar sana.
"Ya Tuhan.. apa gue bakalan mati karena jatuh dari atas sini?"
Ia pun menangis sejadi jadinya, ia sudah pasrah. Terlihat dari sebelah tangannya yang masih mencengkeram batang bohon itu pun menjadi merah dan sedikit berdarah. Mungkin sebentar lagi tangannya sudah tidak dapat menahan beban tubuhnya itu.
"Toloooong..!" Teriaknya sekali lagi, dan untung saja ada seseorang yang muncul diatas sana. Ternyata seorang laki laki.
Jane pun meminta tolong lagi, "Tolingin gue.." pintanya pada pemuda tersebut.
Namun sialnya pemuda itu pun tidak segera menolongnya dan malah balik bertanya, "Ngapain lo?" Ujar pemuda itu.
Batin Jane berkata, 'Hah? apa tuh orang nggak waras? udah tau ada orang jatuh dan minta tolong malah ditanya pertanyaan nggak masuk akal?'
"Gue jatuh, tolongin gue dong. Gue udah nggak kuat nih." Pinta Jane.
Pemuda itu malah tersenyum miring dan hendak berlalu pergi.
Jane yang melihat itu pun menjadi geram.
"Heh, mau kemana lo?! Tunggu! Tolongin gue.."
Pemuda itu tidak menggubris teriakan Jane.
"Beneran nggak lo tolongin dia?" ucap teman pemuda itu.
"Biarin aja, palingan juga modus!" jawabnya santai.
"Bener juga lo." timpal temannya lagi.
"Dasar nggak waras, sinting lo ya?! udah liat ada orang kesusahan, mau jatoh malah nggak ditolong?! Dasar brengs*k!! Cowok brengs*k lo!!" Jane berteriak memaki pemuda tersebut.
"Gue antara hidup mati sekarang! Tega banget sih! Gak punya perikemanusiaan!!"
__ADS_1
"Awas aja lo! kalo gue mati, gue pastiin elo bakal jadi korban gue yang pertama!!"
"Gue inget wajah lo, gue inget!!"
Jane kembali terisak,
"Aahh.. sialan lo!!"
Jane kembali menjerit saat tiba tiba ada sebuah tangan yang memegangi pergelangan tangan Jane, tepat disaat cengkeraman tangannya terlepas sepenuhnya dari batang pohon besar itu.
Jane mendongak keatas, kearah sang penolong yang telah menyelamatkan dirinya dari maut. Dan betapa terkejutnya saat tau orang tersebut adalah orang yang baru saja telah ia maki dengan kata kata kasar.
Pemuda itu mengulurkan sebelah tangannya lagi, "Mana tangan lo satunya?!" ia meminta Jane memegang uluran tangannya.
Jane menyambut uluran tangan pemuda tersebut, lalu dengan sekuat tenaga pemuda itu menarik tubuh Jane agar naik keatas.
"Berat banget sih badan lo?!" serunya saat ia kewalahan menarik tubuh Jane.
Seriusan, tubuh Jane benar benar berat.
Ketika hampir sampai diatas, pemuda itu semakin menguatkan tarikannya hingga menyebabkan mereka berdua terjatuh dan badan Jane menindih pemuda tersebut.
Jane yang masih terkejut akan kejadian tadi pun tidak berpindah posisi, ia sibuk mengatur nafasnya yang ngos ngosan.
"Badan lo berat banget! Minggir lo!!" seru pemuda itu.
Akhirnya Jane pun sadar akan posisinya, dan dengan segera ia turun dan terduduk disebelah pemuda itu. Nafasnya masih tak beraturan dan tubuhnya pun masih bergetar hebat.
"Makan apaan sih tiap hari?!"
Jane hanya melirik pemuda itu dengan kesal.
Ia masih tampak lemas, lalu teman pemuda itupun menyodorkan air minum miliknya.
"Nih, minum dulu." ujarnya
Jane pun menerimanya, "Makasih." ia lantas segera meneguk minuman itu sampai habis kemudian mengembalikan botol tersebut kepada pemiliknya.
Pemiliknya pun mengernyit, "Apa? ngapain lo kasih gue? buang sendiri sono!" ujarnya.
Dan Jane pun tersadar bahwa botol tersebut adalah air minum kemasan, ia menyengir kemudian membuang botol itu.
"Eung.. sori, tadi gue udah maki maki elo." sesal Jane.
"Ini nggak gratis!" jawab pemuda itu seraya memandangi tubuh Jane.
Jane yang tersadar akan tatapan itupun menjadi takut, dengan segera ia mencari keberadaan tas ranselnya dan segera berlalu dari tempat itu meninggalkan dua pemuda yang telah menolongnya. Ia lari terbirit birit walaupun keadaannya masih lemas, karena tatapan tajam pemuda tadi telah memberikan kekuatan untuk ia melarikan diri.
Sedangkan dua pemuda yang ditinggal itupun saling pandang.
"Kenapa dia?" tanya temannya.
Pemuda itu tersenyum, "Dia takut gue apa apain."
"Emangnya elo ngapain?"
"Gue liatin dia terus!"
"Sialan lo nyet! Eh Lang, tapi kayaknya dia tadi nggak modus deh!"
Pemuda yang ternyata adalah Elang tersebut mengedikkan bahunya.
"Yaudah yuk, kita balik. Udah kelamaan disini, pasti udah ditinggal sama anak anak!" ajak Galuh.
"Ayo."
***
Saat Jane tengah lari meninggalkan dua pemuda yang telah menolongnya tadi,
Bruuugghh...
Jane tidak sengaja menabrak seseorang karena dirinya berlari sembari menoleh kebelakang.
"Aduh.." pekik seseorang yang bertabrakan dengannya.
"Aduh.. maaf mbak, maaf maaf.. saya nggak sengaja." Jane meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.
"Hati hati dong kalo jalan." seru seseorang itu lagi.
"Iya.. maafin saya, saya buru buru soalnya." ucap Jane seraya meluruskan tubuhnya sejajar dengan wanita didepannya. Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat bersitatap muka.
"Lho.." ucap Jane,
"Kok.." ucap wanita tersebut.
***
Disisi Denise dan teman temannya, terlihat gadis itu mondar mandir disana lantaran cemas menunggu Jane yang sudah setengah jam lamanya tak kunjung datang, sementara semua murid lainnya pun sudah berkumpul didalam Pura.
Sama halnya dengan Xander, kekasih Jane itupun sudah mencari keberadaan Jane saat Denise bilang dia pergi ke toilet sendirian.
"Kalian itu beg* atau gimana sih?! Masa ngebiarin Jane balik nyari toilet sendiri?!" bentak Xander pada para sahabat Jane.
Ia begitu geram karena sudah mencari kekasihnya itu tapi tidak ketemu.
"Kita pikir Jane bukan anak kecil lagi yang pergi ke toilet mesti ditemenin." tutur Lea gemetar.
"Jadi elo samain ini hutan sama sekolahan hah?!" seru Xander, "Kalian gak bisa mikir apa?!"
"Maafin kita, sebenernya tadi gue juga mau nemenin Jane, tapi__" ucap Denise.
"Tapi nggak jadi karena kalian pikir dia udah gede gitu?! Punya otak tapi nggak dipake! heran gue?!" Emosi Xander meluap luap.
"Kalian kan sahabatnya, harusnya temenin kemanapun dia pergi. Ini tempat luas banget, meskipun banyak orang tapi juga bahaya. Tebing ini cukup curam, gue takut__ Sekarang kita juga nggak tau dia dimana?!" Xander bingung karena ia begitu khawatir dengan Jane.
"Udah bro tenang dulu, gue udah kasih tau guru barusan. Mereka bakal bantuin cari si Jane." hibur Felix.
"Elo jangan berpikiran yang aneh aneh dulu, be positive bro!" sambung Kenzo.
"Iya, baru setengah jam juga!" celetuk Eloy,
"Apa lo bilang?! baru setengah jam? Jadi lo pengen gue nunggu 24 jam baru gue cari hah?!" Xander tersulut lagi akibat perkataan Eloy.
"Aduh.. aduh.. maksud gue nggak gitu Xan? maksud gue elo itu jangan parno kayak gini, gue yakin nggak bakalan terjadi apa apa sama cewek lo." jelas Eloy.
"Mana bisa gue tenang?! Elo kalo di posisi gue pasti juga bakalan panik beg*!" seru Xander.
Ditengah perdebatan mereka, terlihatlah sosok yang sedang dibicarakan berjalan lemas dari kejauhan.
__ADS_1
"Itu! Itu Jane!" teriak Jovi yang pertama kali melihatnya.