Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 5


__ADS_3

Erlangga Wira Gaharu adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini. Dia adalah pewaris tunggal keluarga Gaharu. Kekuasaan orang tuanya lah yang membuat ia semena mena dan bertindak sesuai keinginannya. Sikapnya yang dingin dan cuek serta sorot matanya yang tajam membuat nya ditakuti oleh semua siswa laki laki disekolah itu. Namun begitu digilai dan di idam idam kan oleh semua siswi perempuan.


Bagaimana tidak tergila gila bila menatap cowok yang memiliki wajah tampan, hidung mancung, bibir yang seksi, bulu mata yang lentik, alis yang tajam dan juga manik mata yang berwarna hitam pekat tersebut lebih dari satu menit. Lebih dari satu menit? Ya, jika kalian menatapnya lebih dari batas waktu itu bisa dikatakan kalian akan kejang kejang karena tersihir oleh pesonanya. xixixi..


Sedangkan Daffa Cayapata adalah anak dari pemilik Cayapata Group, perusahaan di bidang pariwisata. Ibunya merupakan adik dari Elok Gardara, ibunda Elang. Jadi Daffa dan Elang adalah sepupu dan mereka telah bersahabat sejak kecil.


Lain halnya dengan Raka Galuh Padmana. Dia adalah anak seorang pembisnis dunia malam. Keluarganya memiliki beberapa club malam dan diskotik terkenal di Negara I. Cowok yang berperawakan tinggi dan putih tersebut juga tidak kalah tampan dari Elang. Berbeda dengan Daffa, dia dan Nanda baru bersahabat dengan Elang saat kelas X.


Nandana Nawang. Pemuda yang hobi bermain game tersebut merupakan anak dari seorang Artis ibukota Negara I. Ia dititipkan oleh ibunya kepada neneknya di Kota S dikarenakan selalu membuat masalah pada saat bersekolah di Kota A, sehingga pada saat SMA dia sudah dipindahkan dan bersekolah di yayasan milik keluarga Elang.


***


Kring.. kring.. kring...


Bel istirahat berbunyi, para siswa dan siswi berhamburan keluar kelas menuju kantin.


Sara dan sahabatnya juga bergegas menuju kantin setelah Elang cs berjalan terlebih dahulu, lebih tepatnya mereka mengekor dari jauh.


Ketika mereka sedang berjalan tak jauh dari kelas mereka, langkah kaki mereka tiba tiba terhenti karena ada yang menghadang Elang cs. Otomatis Sara dan sahabatnya pun ikut menghentikan langkah mereka seraya memperhatikan apa yang terjadi di depan mereka.


Seorang cewek cantik dan imut dengan rambut yang di curly tiba tiba berkata kepada Elang cs, "Aku bersedia menjadi pesuruh kalian hari ini." ucapnya tanpa ragu.


Elang tidak bergeming, ia hanya menoleh ke arah teman temannya memberi kode bahwa ia menyerahkan semuanya kepada mereka, kemudian ia berlalu terlebih dahulu.


"Oke, lo ikut kita ke kantin sekarang." perintah salah satu cowok yang bernama Daffa.


Cewek itu pun kemudian mengangguk seraya mengikuti langkah keempat cowok tersebut.


**


Sara yang melihatnya menjadi geram.


"Dasar cewek kecentilan!"


"Udah ah, ayok!" seru Melisa, agar mereka melanjutkan langkah kakinya.


"Sebel banget gue, setiap hari selalu aja ada cewek disekitar dia." ujar Sara cemberut.


"Yaelah Ra, kayak lo lupa aja siapa cowok yang lo sukai itu." timpal Salva kemudian berbisik "Playboy cap kadal buntung!"


Sara hanya meliriknya kesal.


"Hahaha.." Salva tertawa sendiri.


"Dasar lo ya, bercanda mulu bisanya udah tau temen lagi kesel malah ketawa lagi." timpal Melisa.


"Makanya itu Mel, Ra. Gue bilangin nih ya, gercep sana sebelum keduluan orang lain. Memang kelihatannya si Elang itu cuek, tapi siapa tau nanti dia kecantol pesona cewek sini juga kalo tiap hari dideketin cewek cantik mulu!" jelas Salva mengingatkan.


Sebenernya yang dibilang Salva bener juga sih tapi__


"Jangan nurutin omongan nya Salva Ra! Selama ini gue biarin elo suka sama si Elang, tapi jangan sampe pacaran Ra." sahut Melisa.


"Gak ada enaknya pacaran sama cowok playboy, kejem lagi bikin sakit hati mulu. Apalagi si Elang, lo juga tau kan kalo dia sering keluar masuk club malam?"


Sara mengedikkan bahunya.


"Ngapain coba dia disana? Ya nggak nuduh yang aneh - aneh sih tapi kata anak anak cowok yang pernah ngeliat, si Elang tuh disana ditemeni banyak cewek. Ihh nggak kebayang deh." jelas Melisa mengingatkan.


"Ya gak usah dibayangin lah Mel, los aja! Yang penting kan kita belum pernah lihat sendiri . Ya nggak Ra?" celetuk Salva yang dibarengi dengan toyoran Melisa dikepala nya.


"Lo tuh memang kalo ngomong mikirnya pake dengkul ya?! Gue ngebujuk Sara tentang hal yang bener malah lo komporin dia. Jangan buat dia bingung napa sih lo, candaan lo tuh gak lucu tau!" ujar Melisa seraya menggandeng tangan Sara dan berjalan cepat meninggalkan Salva.


"Apa sih lo Mel? salah lagi gue ah.. Woii.. tunggu!" ujar Salva seraya berlari mengejar kedua sahabatnya itu.


***



Di kantin sangat ramai pada saat jam istirahat, anak anak bergantian dan berdesak desakan untuk membeli makanan.


Disana Elang cs telah terlihat duduk di bangku paling pojok.


Mereka memang seneng banget duduk di pojokan. Tak lama kemudian seorang gadis berjalan kearah mereka membawa nampan berisikan macam macam makanan dan minuman yang sudah di pesannya. Gadis itu adalah Tiwi, dia yang bersedia menjadi pesuruh Elang cs hari ini. Maksud dari pesuruh adalah bersedia melayani mereka makan pada saat jam istirahat dan pastinya makanan untuk mereka gratis. Bukan karena mereka nggak punya duit ya, lebih karena terasa menyenangkan bisa memperdaya cewek cewek disana.


"Ini makanannya, silahkan dimakan ya." ujar Tiwi dengan suara lembut yang dibuat buat.


"Ok, kita nggak akan sungkan lho ya." jawab Daffa.


"Thanks ya, siapa nama lo?" imbuhnya.


"Namaku Tiwi." ucapnya malu malu.


"Thanks ya Tiwi." sahut Daffa.


"Iya sama sama."

__ADS_1


Sedangkan si Elang yang dingin itu nampak cuek dan mengacuhkan teman temannya, ia sudah sibuk dengan makanan nya. Sama hal nya dengan Galuh dan Nanda, mereka juga langsung menyantap makanan tersebut.


Di sisi meja Sara tak jauh dari meja Elang cs, hanya berjarak dua meja.


Sara hanya menatap nanar kearah Elang.


'Tiwi aja yang cantik ( masih cantik kan gue lah ) dan keluarganya yang kaya nggak dilirik sama sekali, lha apa kabarnya gue yang gak punya apa apa. Terlebih lagi mengingat perkataan Melisa tadi, gue jadi takut untuk terus suka sama Elang.' batinnya.


Ternyata kepandaian dan kecantikan seseorang masih kalah dengan kekayaan seseorang.


Contohnya :



Pandai dan cantik tapi miskin, percuma gak dilirik.


Kalau jelek tapi kaya sih kemungkinan masih ada kesempatan ( kesempatan dimanfaatin cowok maksud nya ).


Kalau terlahir pandai, cantik plus kaya.. wah wah sempurna, beruntung banget pasti nya.


'Iri banget gue sama yang ketiga.'



"Heh.. bengong mulu ya lo, kesambet tau rasa lo ntar!" Lagi lagi Salva mengagetkan Sara yang sedang melamun.


"Ehmm? Apa?" tanya Sara.


"Ha hem ha hem.. Lo mau pesen apa gue pesenin." tanya Salva kepadanya.


"Mmhh.. gue baso aja pake lontong, yang puedes ya. Minumnya es teh yang muanis." serunya.


"Kebiasaan banget sih suka yang pedes pedes, jontor ntar tuh mulut! Lo apa Mel?"


Sara terkekeh,


"Gue sama, baso aja tapi gak pake lontong. Minuman nya es jeruk deh."


"Oke, tungguin ya." ujar Salva bergegas pergi memesan makanan untuknya dan kedua sahabatnya.


Setelah makanan mereka tiba, mereka pun segera menyantapnya sampai habis tak bersisa.


Ketika mereka akan balik menuju kelas, tiba tiba dikejutkan oleh suara seseorang yang menabrak meja kantin.


Gedubraaakkk...


Bugh.. bugh.. bugg..


Nampak darah segar keluar dari hidung dan sudut mulut siswa laki laki itu.


"Brengsek! sekali lagi lo muncul di hadapan gue, mati lo! bangke!" ancamnya seraya meludah ke sembarang arah lalu beranjak pergi meninggalkan pemuda tadi yang tengah gemetar tak karuan dan semua penonton yang berdiri mematung. Diikuti oleh Galuh dan Nanda, sementara Daffa...


"Sabar ya bro, maafin temen gue ya?" ujar Daffa mengulurkan tangan kepada siswa berkacamata yang sedang dibantunya duduk, kemudian tersenyum seraya pergi ikut menyusul teman temannya.


Sementara Elang sudah tidak terlihat, anak anak yang ada di kantin pun kembali ricuh membicarakan Elang dan anak yang baru saja dipukul nya.


Memang tidak ada yang berani berkomentar ataupun melawan Elang, makanya semua siswa berusaha untuk tidak terlibat urusan dengan anak pemilik sekolah ini. Atau mereka akan bernasib sial seperti siswa berkacamata tadi.


Sekarang sudah tidak seberapa dibandingkan saat kelas X, Elang yang baru pertama menginjakkan kaki di sekolah ini berkali kali baku hantam dengan semua siswa yang mencari masalah dengannya. Akibatnya para siswa dan juga Elang sendiri pun tak luput dari hukuman. Karena meskipun Elang adalah anak pemilik yayasan tak membuat ia di istimewa kan bila menyangkut ketentuan dan peraturan sekolah.


Hingga semuanya tahu bahwa Elang adalah anak pemilik yayasan sekolah ini, menjadikan semua siswa tidak ada yang berani melawan nya lagi.


***


"Wah wah wah.. keterlaluan banget lo Lang . Anak orang lo buat bonyok cuma karena perkara sepele." ujar Daffa ketika berhasil menyusul Elang dan teman temannya, mereka masuk ke dalam kelas kecuali Elang, karena ia masih harus membersihkan noda minuman yang mengenai seragamnya.


Yah memang agak keterlaluan sih. Hanya karena pemuda berkacamata tadi tidak sengaja menabrak bahu Elang, yang menjadikan jus jeruk yang dibawa pemuda tadi tumpah mengenai punggung Elang saat ia hendak kembali ke kelas.


"Emang gue pikirin!" sahutnya cuek.


"Kumat deh si anak monyet!" ceplos Daffa.


"Lagi apes tuh bocah culun." seru Galuh.


Daffa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kasian gue bro!"


"Kurang beruntung!" timpal Nanda.


Kemudian mereka kembali duduk di bangku masing masing, hingga terdengar bunyi bel tanda masuk kelas kembali.


Semua murid yang masih berada diluar berlarian memasuki ruang kelas.


***

__ADS_1


Ditempat duduk Sara dan sahabatnya, mereka masih memperbincangkan apa yang baru saja terjadi di kantin sekolah tadi.


"Gilaa.. memang sadis tuh anak!"


ucap Salva dengan heboh memulai obrolan .


"Tau, kasihan banget si Ivan (pemuda berkacamata tadi)." sahut Melisa.


"Bagus banget ya tabiat cowok yang lo suka?" sindir Melisa, Sara hanya terdiam.


"Tapi keren banget tau si Elang, cowok banget!" sambung Salva.


"Itu mah namanya sok jagoan! Mentang mentang anak yang punya sekolah, jadi berkuasa dan berbuat semaunya." seru Melisa tidak terima.


"Yaiyalah Mel.., siapapun itu kalo ada di posisi Elang, pasti bakalan kayak gitu kok! Secara ganteng dan kaya, ihh siapa coba yang nggak bangga terlahir sempurna?" sahut Salva.


"Nggak semuanya orang ganteng dan kaya itu sombong dan semena mena kunyuk." jelas Melisa lagi.


"Memang nggak semuanya, tapi kadang orang bisa khilaf juga kan?" sergah Salva juga tidak terima.


"Dia mah bukan khilaf, tapi memang udah hobinya suka rusuh!"


"Udah udah ah, kalian ini ngomongin apa sih?" Sara melerai perdebatan kedua sahabatnya.


"Melisa tuh! Eh tapi ngomong ngomong, gue suka tuh sama cowok yang tipe tipe badboy kayak gitu, keren banget! " seru Salva lagi.


Melisa mencebikkan mulutnya, ia hendak menjawab perkataan Salva namun urung ia lakukan karena pada saat bersamaan


seorang wanita berumur sekitar 33 tahun memasuki ruang kelas tersebut, Bu Anggita guru Ekonomi.


"Anak anak tolong dengarkan ibu sebentar!" pintanya ketika sudah mendudukan tubuhnya pada bangku didepan kelas tersebut, namun murid muridnya tidak mau diam.


Hening seketika...


"Ibu ingin memberi tahu kalian bahwa dua minggu lagi sekolah kita akan mengadakan study tour. Sebenarnya akan disampaikan oleh wali kelas kalian sendiri tapi beliau ada keperluan mendadak hari ini." jelas Bu Anggita .


"Yes.. yes.. yes..!"


"Horeee..."


Suara anak anak riuh seketika.


"Diam semua biar Ibu jelaskan, Study Tour itu merupakan metode pembelajaran yang dilaksanakan di luar ruangan. Bentuk pembelajaran Study Tour jelas berbeda dari pembelajaran umumnya yang berkutat di dalam ruangan atau kelas. Kegiatan Study Tour atau karya wisata ini dilaksanakan supaya peserta didik mengetahui dan mendengar secara langsung sejarah objek wisata yang dikunjunginya. Perlu digaris bawahi kembali bahwa study tour ini bukan ajang piknik, melainkan sebagai ajang pembelajaran yang menyatu langsung dengan objek yang dikunjungi. Paham?" Jelas Bu Anggita kemudian.


"PAHAAAMMM BUUU..." jawab murid murid serentak.


"Bagus!"


"Kita akan Study Tour kemana Bu?" tanya murid lainnya.


"Salah satunya kita akan melakukan perjalanan ke Desa Sei. Desa ini tepatnya berada di wilayah Gunung K, di kota M. Karena berada di wilayah Gunung, maka sudah pasti keadaan tanah dari desa ini berada pada dataran tinggi." jelasnya.


"Kok ke desa sih Bu? Gak menarik ah.."


"Kita belum pernah kesana Bu.."


"Tujuannya kemana saja Bu?"


"Kayaknya nginep deh."


"Berapa hari Bu?"


Bu Anggita hanya menggelengkan kepalanya.


"Meskipun ke desa, tapi sekolah sudah memilih tempat yang tepat. Meskipun terletak di dataran tinggi, disana kalian bisa melihat ada banyak sekali kemajuan teknologi yang diimplementasikan masyarakatnya. Tidak heran jika Desa Sei ini dikatakan atau disebut - sebut sebagai desa IPTEK. Disana nanti kita juga akan mengunjungi banyak tempat tempat yang menarik dan tentunya menambah ilmu pengetahuan kalian. Tujuan lebih jelasnya nanti pasti akan disampaikan wali kelas kalian. Kita akan melakukan perjalanan 3 hari 2 malam." terangnya.


"Oohhh..."


"Pasti seru banget!"


"Gak sabar banget deh!"


Suara riuh dalam ruang kelas tersebut kembali terdengar, namun berbeda dengan Sara ia tampak murung. Salva yang melihatnya pun dengan segera bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ia menepuk nepuk punggung Sara pelan.


"Tenang aja, selama ada gue semua kekhawatiran lo beres!" serunya seraya mengembangkan senyumnya.


Sara menoleh dan tersenyum kearah Salva, namun batinnya sebenarnya sakit.


Karena seperti Study Tour tahun sebelumnya, kedua orang tuanya tidak mampu membiayai acara sekolah tersebut. Alhasil keluarga Salva lah yang membantu mengatasinya.


Kedua orang tuanya pun sebenarnya tidak mau dan membiarkan Sara tidak ikut saja namun ayah Salva memaksa mereka. Orang tua Sara yang merasa tidak enak untuk menolaknya pun akhirnya menyetujuinya. Dengan alasan mereka akan mengembalikan uang tersebut dari gaji bulanannya.


Namun ayah Salva lagi lagi menolaknya, ia berkata bahwa Sara dan Aby sudah seperti anak mereka sendiri. Ia pun meminta agar Bayu dan Agni tidak sungkan sungkan meminta segala keperluan anak anak mereka kepadanya.


Sedangkan Sara yang pada dasarnya memiliki sifat sensitif pun merasa bahwa Salva merendahkan dirinya. Entah pertemanannya tulus ataukah tidak, karena sebenarnya ia memendam rasa iri terhadap sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sudah.. sudah.. diam semua, sekarang waktunya pelajaran dimulai." Lanjut Bu Anggita kemudian.


***


__ADS_2