Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 20


__ADS_3

Sementara Felix yang tadi menarik Denise terlihat berjalan terus menuju belakang gedung sekolah. Ia menghempaskan tubuh Denise ke tembok.


"Aahhh.." Denise sedikit menjerit, "Apa apaan sih lo?!" kemudian ia mencoba untuk pergi dari sana. Namun Felix menghimpit Denise dengan kedua lengannya. Wajah mereka saling berdekatan hingga Denise bisa merasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung laki laki yang ada didepannya saat ini.


"Ma..mau ngapain lo?!" suara Denise terdengar mengecil dan terbata, ia menundukkan kepalanya takut laki laki di depannya ini akan macam macam dengannya.


"Lo tuh terlalu banyak omong!" seru Felix, masih berada di posisi yang sama.


"Lo juga banyak omong!" Denise mengangkat kepalanya untuk menjawab kata kata yang baru saja diucapkan Felix, namun setelah itu ia menundukkan kepalanya lagi.


Felix menarik sedikit salah satu ujung bibirnya sembari mendengus "Elo tuh ya, selalu aja punya jawaban buat ngelawan gue!"


Denise terdiam.


"Lo memang seneng banget ya debat sama gue? Buat gue emosi?" sambung Felix.


"Sebenernya yang kita debatin juga cuma persoalan sepele."


"Gue jadi merasa tertantang!" imbuhnya.


"Ck.. Kenapa lo diem aja sih?"


"Ayo jawab!" Denise masih tak bergeming.


"Liat gue!" Felix meninggikan suaranya.


Seketika itu juga Denise mendongakkan wajahnya, menatap lekat kearah mata Felix yang berwarna hitam pekat tersebut.


Pandangan mereka saling beradu. Cukup lama mereka saling berpandangan dalam diam.


Felix tercengang ketika mengamati lebih seksama wajah gadis yang selalu berdebat dengannya selama ini. Mata bulatnya yang indah, alis hitam yang tebal, hidungnya yang mancung juga bibirnya yang tipis berwarna nude (Denise menggunakan lip cream saat ini).


Felix memang terkenal playboy, dia kerap bergonta ganti pacar layaknya sebuah pakaian. Berciuman pun sudah menjadi hal wajar yang ia lakukan. Namun dia sebenarnya tidak memiliki rasa kepada gadis gadis tersebut walaupun sering menatap dan bergandengan tangan. Dia tidak pernah merasakan jatuh cinta.


Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda ketika ia menatap gadis galak dihadapan nya saat ini. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, rasanya dia terlena ingin sekali dia membenamkan bibirnya disana. Shit!


"Udah?" suara gadis itu membuyarkan pikiran pikiran aneh yang baru saja dirasakan Felix.


Felix masih terdiam, alisnya berkerut.


"Ngeliat dari ekspresi lo, kayaknya elo terpesona sama gue deh!" seru Denise memojokkan Felix, padahal dirinya sendiri lah yang sebenarnya deg degan. Ia terlena akan ketampanan yang disuguhkan wajah laki laki itu.


Felix memalingkan mukanya pun menelan salivanya.


Denise tersenyum mengejek kemudian ia sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ditelinga kanan laki laki itu ingin membisikkan sesuatu. "Gue nunduk bukan karena gue takut sama elo, tapi takut kalo elo jatuh cinta sama gue karna udah mantengin muka gue yang indah ini."


Denise menegakkan posisinya, ditatapnya wajah laki laki yang sedang membuang muka darinya. Laki laki itupun tidak bergeming, masih tetap berdiri pada posisinya yang menghimpit tubuh Denise dan membuat jantung Denise semakin terpacu dengan cepat. Dalam hatinya pun ia mengakui ketampanan Felix benar benar idaman semua wanita, namun sebisa mungkin ia menutupi kegugupannya. Entah kenapa ada rasa gelenyar aneh didalam jiwanya saat ini.


Denise mendorong pelan dada Felix untuk menjauhkan tubuhnya yang hampir tidak ada jarak dari tubuh laki laki tersebut, lalu Denise pun bergegas pergi dari sana. Namun tanpa aba aba tangan Felix bergerak meraih pergelangan tangan Denise.


"Jangan ngarang! Gue sama sekali nggak tergoda ngeliat muka cewek ugly!" Felix menyiratkan senyum sinis mengejek.


"Yakin lo?" tanya Denise.


Felix mengerutkan keningnya.


"Elo bilang kalo lo tertantang? gue jadi pengen ngajak lo taruhan nih!" ujar Denise yang tiba tiba mendapatkan ide konyol.


"Taruhan apa?" sahut Felix.


"Tenang aja, taruhan ini nggak akan ngerugiin elo kok."


"Apa?! " tanya Felix tidak sabaran.


"Gimana kalo kita temenan aja supaya bisa kenal lebih deket?" ujar Denise.


Felix tertawa renyah "Bilang aja lo pengen deket sama gue, ogah!"


"Tck! Enak aja mulut lo asal jeplak! dengerin dulu.. nih ya.. kita temenan, jadi semakin deket sampe ada salah satu diantara kita punya perasaan suka." jelas Denise.


Dahi Felix nampak berkerut tidak paham namun ia tetap mendengarkan.


"Misalnya gue jadi suka sama elo ataupun sebaliknya, setelah itu campakin deh! Asik nggak?" sambungnya.


"Wah.. ide gila macem apa tuh?!"


"Jadi taruhannya, siapa yang ada rasa dulu dia yang kalah! Asal jangan dua duanya saling suka!" jelas Denise.


"Mustahil kalo sampe dua duanya suka! Paling juga elo yang kalah, karna elo yang bakalan suka gue duluan."


Denise berdecak dan menggeleng gelengkan kepalanya mendengar perkataan Felix "Wah.. sumpah udah akut lo!"


"Udah lanjut.. Terus yang menang dapet apaan?" tanya Felix.


"Yang menang bisa minta apa aja sama yang kalah!"


Felix masih berpikir, "Ogah ah.. ribet!"


"Ogah ogah! udah kayak pak ogah aja lo! ini pasti seru tau! ayo dong?! " Denise tampak memaksa sekali.


"Maksa banget sih lo! Gue nggak mau!" jawab Felix ketus seraya berbalik pergi dari sana, namun teriakan Denise menghentikan langkahnya.


"Ternyata lo cemen ya? Pengecut!" ejeknya.


"Apa lo bilang?" Felix menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Denise.


Denise tersenyum sinis.


"Lo takut kalah kan?"


"Cih, siapa yang takut?! Gue cuma gamau ribet__" Kalimat Felix tersela oleh Denise.


"Gamau ribet kalo lo sampe jatuh cinta sama gue kan?" jawab Denise asal.

__ADS_1


"Elo pede banget sih jadi cewek?"


"Serah lo mo bilang apa! Tapi yang gue pikir sih elo takut kalah!" Denise tertawa mengejek.


"Wah bener bener nantang gue lo! oke gue setuju!" jawab Felix ikut tersenyum, penuh arti.


"Nah gitu dong."


"Tapi jangan salahin gue kalo sampe elo baper nanti." ujar Felix.


Denise tertawa, "Haha.. ngayal jangan ketinggian."


Felix juga tertawa "Kita liat aja siapa yang bakal nyesel, Lo masih inget kan siapa gue?"


Seketika terdengar suara pemberitahuan dari pengeras suara agar semua siswa segera berkumpul di lapangan.


Denise memutar bola matanya "Lo playboy cap badak ga ada cula!" ujarnya seraya berlalu dari sana.


Felix tersenyum "Dasar cewek aneh, Lo belum tau apa kalo gue penakluk wanita. Gue bakal buat elo jatuh cinta sama gue, setelah itu gue bakal tinggalin elo." ujarnya, ia pun iku juga bergegas pergi.


***


Semua murid kelas XI telah berkumpul di halaman sekolah, dan berjejer pula 6 buah bus disana yang akan membawa mereka sampai ke tempat tujuan dan tak lupa beberapa guru pendamping juga ikut serta.


Kelas IPA menggunakan 4 bus dan sisanya kelas IPS. Bus yang akan ditumpangi Jane dan Xander jelas berbeda. Jane dan teman temannya berada pada bus 5 sementara Xander dan teman temannya berada pada bus 1.


Setelah berbaris dan diabsen, semua murid segera memasuki busnya masing masing.


Dikarenakan perjalanan yang ditempuh lumayan jauh, mereka berangkat pada pukul 2 siang.


Bus yang mereka tumpangi adalah bus vip, yang menyediakan segala kebutuhan penumpangnya tetap nyaman selama perjalanan. Didalam bus pun terdengar sangat bising akan suara celotehan murid murid yang sedang bersemangat.


Jane duduk didekat jendela, ia bersebelahan dengan Denise.


Denise, Lea dan Jovi pun sibuk bersenda gurau sementara dirinya malah sibuk dengan ponselnya.


Dari tadi ia sedang bertukar pesan dengan Xander, hingga ia hanya terfokus dengannya dan tak menghiraukan teman temannya.


Denise yang melihat itu pun menjadi gemas lalu merampas ponsel milik Jane.


"Eh, apaan sih? kaget a*jir!" seru Jane terkejut.


"Serius amat lo dari tadi? noleh dikit kek, ada kita woi disini!" ujar Denise.


Jane tersenyum lebar, "Hehehe.. coyii beib.. siniin dulu hape nya.." ujarnya dengan nada manja.


Denise mendengus, "Nih!"


"Hehehe.. jangan malah dong cayang.."


"Elo sih, mentang mentang udah punya cowok jadi sering nyuekin kita!" gerutu Denise. Karena memang setelah Jane berpacaran baik saat dikantin dan weekend waktunya selalu ia luangkan untuk pacarnya.


"Iya iya.. maap deh." ujarnya seraya memeluk sahabatnya yang sedang ngambek itu.


"Makanya, buru punya cowok biar nggak jadi jones. Hehe.." imbuhnya.


"Kita juga jomblo lho." sambung Jovi.


"Wah wah, maap keun ya kalo kalian tersindir padahal gak ada maksud lho.." Jane terkekeh.


"Makanya kasih adek lo buat gue." celetuk Jovi.


"Enak aja minta, di dunia ini nggak ada yang gratis ya!" ujar Jane.


"Emang lo mau minta apaan sih? tinggal bilang aja, asal adek lo buat gue. hehe.." seru Jovi.


"Gue minta strawberry boba milk aja deh."


"Beneran nih?" tanya Jovi.


Jane pun mengangguk.


"Ok siap bosque! Pulang dari sini gue bawain boba sama kedai nya buat ngelamar adek lo." ujar Jovi.


Jane mengacungkan jempolnya seraya tertawa. "Gue tunggu."


Jovi pun ikut tertawa "Andai aja itu beneran Jane." ujar Jovi, raut wajahnya berubah memelas.


Jane mengernyit "Hah?"


Jovi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa si Jayden udah punya pacar?" tanyanya kemudian.


"Ehmmh.. belum kok, tenang aja."


"Mungkin cewek yang disukai?"


"Nggak ada, tenang aja."


"Sampe kapan Jayden membuka hati?" tanya Jovi lagi.


"Mmhh.. kalo itu sih gue gak tau. Yang gue tau dia masih pengen fokus sama hobi dan cita citanya, gamau ribet soal cewek dulu. Nanti kalo udah siap dia juga bakal mau punya pacar kok, tenang aja. Lagian adek gue juga masih kecil." jelas Jane menghibur sahabatnya yang terlihat sedih itu.


Jovi menghela nafas berat "Gimana gue bisa tenang sih Jane? Jayden aja nganggep gue kakaknya, dia juga gak ada perasaan apa apa sama gue."


"Eung, aduh.. gue mesti bilang apa.." Jane merasa bingung.


"Elo nggak tau Jane, rasanya mencintai seseorang secara sepihak. Karena selama ini ada orang yang bener bener tulus cinta sama elo." ujar Jovi.


"Eung.. emang lo bener bener cinta ya sama adek gue?"


Jovi melirik Jane sekilas, "Jadi lo pikir selama ini gue pura pura? Elo tuh nggak peka banget sih?"

__ADS_1


"Eh.. enggak lah, gue nggak pernah mikir gitu kok ." jawab Jane, ia menjadi serba salah.


Sebenarnya ia sudah tau bahwa Jovi benar benar menyukai Jayden sejak kecil. Namun ia juga tau bahwa Jayden tidak pernah memiliki perasaan yang sama dengan Jovi.


"Udah bertahun tahun gue nyimpen perasaan suka ini, rasanya sakit banget karena nggak terbalaskan Jane. Karena setiap saat setiap detik yang terpikirkan cuma orang yang gue suka. Bahkan gaada waktu buat mikirin diri gue sendiri." air matanya perlahan menetes.


"Aduh.. kok malah nangis sih? Jangan nangis dong Jov?" pinta Jane.


"Gue juga nggak tau kenapa bisa suka sampe kayak gini sama Jayden. Perasaan ini nyiksa batin gue Jane." Jovi semakin terisak.


Jane semakin merasa bersalah kepada sahabatnya itu, dia tidak menyangka Jovi memendam perasaan cintanya begitu dalam .


Apa yang harus dia lakukan? Dia juga tidak bisa memaksa Jayden. Perasaan suka dan cinta itu tumbuh alami dari dalam hati manusia.


Dia juga jadi memikirkan Xander karena selama ini perasaan cowok itu juga bertepuk sebelah tangan. 'Jadi selama beberapa tahun ini tanpa gue sadari, gue juga udah nyiksa batin seseorang. Maafin gue Xander !' batin Jane.


Ingin sekali ia memeluk Xander saat ini.


"Eh, ini kok jadi curhat yang sedih sedih sih? Kita kan mau hepi sekarang." celetuk Denise.


"Ho-oh, gue jadi baper kan?!" sambung Lea seraya memeluk Jovi yang duduk disebelahnya.


Lea mengelus elus rambut dan punggung Jovi mencoba menenangkannya.


"Udah Jov, jangan sedih. Jayden kan masih belum punya pacar, jadi elo masih ada kesempatan." ujar Jane .


"Bener, jangan sedih hanya karena cowok! kayak mau runtuh aja dunia lo!" timpal Denise.


"Woles aja napa?!" imbuhnya.


Jovi melirik Denise kesal "Enak kalo tinggal ngomong karena elo belum pernah ngerasain apa yang gue rasain."


"Hadeehh.. seraahh! angkat tangan gue kalo soal cowok!" seru Denise.


"Dipikir pikir si Denise nggak pernah suka sama cowok ya?" tanya Lea.


"Gosah dipikir, gue memang nggak tertarik sama cowok. Semuanya brengs*k kayak bokap gue!!" seru Denise.


"Santuy kali gausah ngegas! Ngerasain jatuh cinta mamp*s lo! " ujar Lea.


"Nggak semuanya Den, contohnya Xander." timpal Jane.


"Heleehh.. itu mah elo aja yang lagi beruntung!"


"Makasih.." Jane tersenyum dan disambut lirikan sinis oleh Denise .


"Aduh Denise.. Denise.. gue jadi penasaran siapa yang bakal bisa nakhlukin cewek batu dan galak kayak elo." Lea berdecak sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


"Iya juga ya.. gue juga penasaran nih." Jane cekikikan, ia melirik kearah Jovi yang sedang diam termenung. Ia menghela nafas.


" Yang sabar Jov, gue yakin elo bisa nakhlukin hati adek gue." ujarnya pada Jovi namun Jovi diam saja.


Mereka bertiga pun lanjut ngobrol hingga kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat saja, mengingat perjalanan yang masih lumayan jauh.


***


Tidak terasa bus yang membawa mereka pun telah tiba di kota M pada pukul 8 malam. Disana mereka akan menginap selama 2 malam di hotel berbintang 5. Perjalanan mereka tidak berasa melelahkan karena mereka terlelap sepanjang perjalanan setelah makan siang.


Pun juga karena bus mereka vip jadi semuanya telah tersedia didalam bus tersebut. Seperti toilet, servis makan, full AC, bantal dan selimut juga reclining seat.


Setelah itu mereka semua bergegas memasuki kamar hotel yang telah disediakan pihak sekolah, satu kamar empat orang.


Mereka mendapatkan kamar yang besar dengan luas kurang lebih 80 meter persegi. Didalam sana juga terdapat ruang tamu dan juga dapur layaknya apartemen berkelas dengan desain super mewah.


Ketika sampai didalam kamar, mereka berempat segera membersihkan diri.


Setelah itu mereka merebahkan diri diatas tempat tidur (dikamar tersebut disediakan twin bed). Lea dan Jovi sudah terlelap lebih dulu diseberang tempat tidur Jane dan Denise. Namun tidak untuk mereka berdua padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mereka memilih untuk memainkan ponsel masing masing sambil mengobrol.


Jane terlihat sibuk bertukar pesan dengan kekasihnya, bibirnya tak berhenti mengembangkan senyum .


📩 baru berapa jam sih aku nggak ngeliat kamu, rasanya kangen banget sayang 🥺


📨 😂 masa sih sayang?


📩 iyaa sayangku.. besok kalo ketemu boleh peluk nggak sayang?


📨 ehm.. boleh gak ya 🤔


📩 😅


📨 boleh deh


📩 beneran sayang?


📨 iyaa😊


📩 makasih banyak ya sayang ku 😘🥰🥰


📨 masama sayang 🥰


Denise memperhatikan gadis yang tengah tengkurap disampingnya, ia mengintip sekilas ponsel Jane yang menyala.


"Hadehh, sayang sayangan terus nih sekarang?" pertanyaan Denise membelah keseriusan Jane akan pesan di ponselnya. Ia pun menoleh kearah sahabatnya itu.


"Hehehe.." Jane meringis, ia membalikkan tubuhnya kemudian beralih menghadap kearah Denise yang sedang memandang kearahnya.


"Iyalah.. Lo nggak pengen apa?" jawab Jane.


"Pffftt.." Denise membuang muka.


Jane terkekeh melihat sahabatnya itu.


"Eh, menurut gue elo sama Felix cocok kok." ujarnya lagi.

__ADS_1


Denise melirik kesal kearah Jane, namun seketika ia teringat jika telah memiliki kesepakatan dengan Felix. Dia pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan nya kepada Jane, sekaligus meminta pendapatnya. Jane pun menanggapi sebagaimana mestinya. Mereka pun membahas tentang cowok dan hal hal tidak penting lainnya hingga larut malam. Suara cekikikan dua gadis remaja itu pun memenuhi seisi kamar, namun tak membuat penghuni lain yang berada didalam sana terganggu akan tidur mereka yang lelap.


***


__ADS_2