
"Udaahh.. pulang kuy!" ucap Jane.
Jane dan teman temannya pun menuju parkiran. Denise, Lea dan Jovi sudah pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Gimana nih kak mobilnya?" tanya Jayden setelah mereka sampai diparkiran sekolah.
"Ya mau gimana lagi? Kita bawa ke salon mobil langganan kita. Kakak telpon Pak Umay dulu." jawab Jane.
Setelah menghubungi supirnya, mereka bergegas pulang dengan mengendarai mobil yang tadi dibawa Pak Umay. Mereka berdua menyerahkan mobil tersebut kepada Pak Umay, pokoknya mereka tahu beres.
**
Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi telah berada didepan gerbang.
Tin.. tin.. tin..
Jayden membunyikan klakson mobilnya.
Satpam rumahnya pun bergegas membukakan gerbang tersebut. Dengan perlahan Jayden mengendarai mobilnya, dan berhenti tepat di halaman depan rumahnya.
Mereka melihat ada sebuah mobil sedan berwarna putih yang tidak mereka kenali.
"Mobil siapa tuh?" tanya Jane.
"Gak tau, mungkin tamunya Papi." jawab Jayden.
Mereka berdua bergegas turun dan segera masuk kedalam rumah.
**
"Hai sayaang.. kalian udah pulang?" sapa Mami Regina ketika melihat kedua buah hatinya sampai.
"Iya Mi." Jawab Jane dan Jayden bersamaan seraya mencium tangan dan kedua pipi Maminya.
"Ada siapa Mi?" tanya Jane yang melihat seorang wanita cantik paruh baya tengah duduk di sofa ruang tamu sembari menyesap secangkir minuman.
Wanita itu sungguh terlihat elegan, dengan memakai pakaian dan beberapa perhiasan brand ternama di tubuhnya serta rambut yang bergelombang diurai sebahu nampak tersenyum kearah mereka berdua.
"Ohh itu Tante Elok sayang, kalian inget?"
Jane dan Jayden nampak berpikir, "Tante Elok?"
"Lupa?" tanya Mami Regina.
Mereka berdua mengangguk cengengesan .
"Hehehe.."
"Tante Elok sahabat Mami dulu sayang, waktu kalian kecil Tante Elok kan sering maen kesini sama anaknya." terang Mami Regina menjelaskan.
"Oohh Tante cantik yang dulu bawa anak kecil muka datar itu dek." bisiknya pada Jayden.
"Iya kak, aku inget. Anak yang ganteng tapi nggak bisa ngomong itu."
"Hush, kok pada bisik bisik sih? Salim dulu dong sayang." perintah Mami Regina.
"Oh iya ya.. hehe.." ucap Jane cengengesan.
Mereka berdua pun menyalami Tante Elok, juga Jane yang bercipika cipiki ria.
"Ini Jane ya? Dan itu Jayden?" tanya Tante Elok.
"Iya Tante."
"Kamu tumbuh jadi gadis yang cantik sekali sayang." puji Elok seraya mengelus rambut panjang Jane.
"Tante bisa aja sih, tapi banyak yang bilang gitu sih Tan. Hehe.." jawab Jane sembari tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Kamu murah senyum sekali sayang." lanjut Tante Elok mengelus pipi Jane.
"Jayden juga ganteng banget."
"Makasih Tante." jawab Jayden.
"Ehmm ngomong ngomong, anak Tante mana kok nggak kelihatan?" tanya Jane, matanya mengelilingi sekitar ruangan yang luas tersebut mencari sosok yang dimaksud.
"Oh anak Tante? Anak Tante nggak ikut sayang, dia tinggal di Kota S bersama neneknya. Sementara Tante disini juga cuma mampir sebentar, karena kebetulan sedang ada keperluan di Kota A." ujar Tante Elok.
"Oh jadi gitu Tan.." Jane mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kamu masih inget sama anak Tante?"
"Inget dong Tante."
Elok tersenyum.
'Yaiyalah inget, dia kan anak aneh pertama yang pernah gue lihat.' gumam Jane.
"Aku suka sama anak kamu Na."
Regina tersenyum, "Apa yang kamu sukai? Dia ini sangat bawel dan manja."
"Isshh Mamii.."
"Justru karena dia bawel sepertinya cocok sama anakku yang pendiem." lanjut Elok.
Jane tersenyum getir. 'Hah? Apa? Cocok? Sama anaknya? Wait wait wait, apa maksudnya nih?' batin Jane bertanya tanya.
Regina kembali tersenyum, "Makanya bawa dong anakmu kesini, udah lama gak pernah ketemu."
"Sayang, kamu mau nggak jadi menantu Tante?" ujar Tante Elok kepada Jane.
Jane sangat terkejut kemudian melirik sekilas kearah Maminya yang sedang mengembangkan senyum kearahnya.
'Aduh situasi apa sih ini? Gak ada angin gak ada topan ada emak emak yang ngelamar gue buat robot. Mimpi apaan gue semalem? Perasaan semalem gue mimpi ketemu Jaehyun NCT deh!' batin Jane ngelantur.
"Kamu buat anakku jadi kaget lho Lok."
ucap Mami Regina yang melihat ekspresi Jane tegang.
Elok terus tersenyum melihat Jane.
"Ah.. maafin Tante ya, kamu pasti kaget. Tante cuma bercanda kok sayang."
Jane tersenyum getir, 'Duh kirain? Dasar emak emak bisa aja sih becandanya! bikin orang jantungan.'
"Sekarang bercanda sayang, tapi kalau kamu udah lulus nanti beda lagi." sambungnya.
Jane mendelik, "A..apa Tante?"
"Duhh.. anakmu ini lucu banget sih Na?" Elok mencubit pipi Jane pelan.
__ADS_1
"Kapan kapan nanti Tante bawa anak Tante kesini ya?"
"Iya, bawa dulu dia maen kesini biar mereka bisa kenal. Pasti anak kamu ganteng banget Lok, pas kecil aja udah kelihatan." ujar Mami Regina.
"Siipp deh! Duh jadi besan dong kita nanti."
Disambut gelak tawa kedua wanita itu.
'Apaan sih mereka? gue harus cepet cepet pergi dari sini nih, sebelum makin ngelantur kemana - mana!'
Kemudian mereka lanjut mengobrol, sementara Jane dan Jayden izin memasuki kamar mereka masing - masing.
**
Setelah berada didalam kamar, Jane pun langsung merebahkan diri diatas kasur nan empuk miliknya.
'Hadeehh, rempong banget sih kalo ngeladenin emak emak.'
'Apa apaan juga gue mau dijodohin sama anaknya dia? Kenal aja enggak, lagipula anak itu kan.. masa sih dia bisu? Nggak pernah denger dia ngomong soalnya.'
Jane menggeleng gelengkan kepalanya.
"Enggak enggak enggak.. gue nggak mau kalo dijodoh jodohin! Impian gue kan pengen punya suami yang sesuai tipe gue. Dan pastinya bukan manusia robot kayak dia!"
Jane bergidik membayangkannya.
"Tau ah, mending gue tidur!"
Jane hendak memejamkan matanya, namun ia urungkan.
"Oh iya, ntar malem kan gue mau nonton sama Xander. Hampir aja gue lupa!"
Jane mengingat kembali kejadian disekolah nya tadi.
'Apa gue salah ya selama ini sama Xander, kata kata dia tadi kayaknya beneran deh. Apa mungkin dia memang tulus mencintai gue? Apa dia gak kayak cowok cowok lain yang ngedeketin gue selama ini?'
Jane memegangi kepalanya "Ahh.. gatau lah gue, pusing!" ia tengkurap kemudian menutupi kepalanya dengan bantal.
Selama ini memang banyak cowok yang mendekati Jane, tapi Jane tidak pernah mempedulikan mereka. Baginya semua cowok sama saja, suka mempermainkan perempuan. Dia tahu semua itu dari Denise, karena ayah Denise. Namun bukankah orang tuanya sendiri memilik kehidupan yang sangat harmonis, berbeda dari orang tua sahabatnya itu. Kenapa Jane tidak melihat orang tuanya saja? Itu karena Denise adalah salah satu sahabat terbaiknya, jadi luka yang dirasakannya pun turut ia rasakan.
Jane belum pernah berpacaran selama ini, karena ia lebih suka berteman dan bermain main dengan sahabatnya. Alasan lainnya mungkin karena dia takut disakiti, tidak mungkin laki laki bisa setia disaat umur umur jagung seperti dirinya saat ini. Maka dari itu dia memutuskan untuk mengenal lebih dalam sosok lelaki pada saat ia sudah dewasa. Meskipun sikapnya yang terlihat bar bar, namun hati Jane sangat mudah tersentuh. Apalagi menyangkut hal hal yang menyakitkan.
***
Malam harinya, Jane dan keluarganya baru saja selesai makan malam. Dengan segera ia menaiki tangga, dan masuk ke kamarnya.
Malam ini dia akan pergi nonton bersama Xander.
"Pake baju apa ya?" ucapnya.
"Duh, gue bingung nih. Ini kan baru pertama kali gue nonton bareng cowok selain Jayden!"
"Yang mana sih?!" serunya kesal sembari mengobrak abrik semua baju yang ada didalam lemarinya.
Tak lama kemudian Mami Regina mendatangi Jane.
"Astagaaa Jane sayaang! Kamu apain kamarmu ini? Kayak kapal pecah!" seru Mami Regina saat melihat kamar Jane yang berantakan.
Jane menoleh kearah Maminya, "Hehehe.. Jane lagi nyari baju yang cocok nih Mi."
"Baju untuk apa? Emang kamu mau kemana sih?"
"Jane mau nonton sama temen Mi." jawabnya.
"Yaiyalah Mi.. Biasanya kan sama sahabat aku, sekarang kan sama__"
Jane membekap mulutnya menggunakan telapak tangannya.
Maminya langsung melotot kearah Jane "Sama siapa sayang?"
"Mmhh.. itu Mi.. sama.. temen Jane yang lainnya." jawabnya gugup.
"Temen yang mana? Cowok?"
Jane mengangguk,
"Siapa sayang? Kok kamu nggak pernah cerita sama Mami?"
"Xander Mi, temen sekolah aku. Baru satu Minggu kita jadian Mi." ucap Jane malu malu.
"Lho kamu udah punya pacar? Kok nggak dikenalin ke Mami sama Papi sih?"
"Ya ini mau aku kenalin, aku juga belum pernah jalan bareng dia Mi."
"Oh gitu.. padahal Mami kan berharap kamu sama anaknya Tante Elok sayang." ujar Mami Regina memelas.
"Aduh.. Mami ini! Aku nggak mau dijodoh jodohin Mi..." rengek Jane.
Mami Regina tersenyum, "Iya iya sayang.. Yaudah sekarang Mami bantuin kamu dandan yang cantik."
Jane pun mengangguk setuju.
***
Beberapa saat kemudian, jarum jam telah bergerak menunjukkan pukul 7 malam.
Sebuah mobil sport berwarna merah terang telah terparkir didepan pintu rumah keluarga Jane.
Tampak seorang pemuda tampan memakai kemeja katun polos lengan panjang berwarna navy dan juga celana jeans hitam dan sneakers berwarna senada dengan kemejanya keluar dari dalam mobil tersebut.
Ia memencet bel pintu rumah tersebut, tidak lama seseorang paruh baya membukanya.
"Permisi, apa Jane ada?" ucap pemuda itu.
'Ooo.. ini toh pacarnya non Jane, buagus tenan.' batin Bi Wina.
"Silahkan masuk den, sudah ditungguin sama Nyonya."
'Hah, Nyonya? Pasti nyokap nya Jane! Duuh gue kok tiba - tiba grogi banget sih?!' batin pemuda itu.
"Mari den, kok malah bengong." ujar Bi Wina.
"E..eh.. iya Bi."
Pemuda itu pun berjalan mengekor dibelakang Bi Wina menuju ruang tengah, disana sudah ada Papi Adnan dan Mami Regina sedang duduk bersantai.
"Permisi Om, Tante. Saya Xander teman sekolahnya Jane." Xander memperkenalkan diri seraya mencium kedua tangan orang tua tersebut.
"Ayo duduk dulu." ujar Regina.
__ADS_1
"Iya Tante." Xander segera mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah tempat duduk Adnan dan Regina agak jauh, namun tetap terjangkau dari pandangan kedua orang tua tersebut.
"Sudah berapa lama kamu berpacaran dengan anak saya?" ucap Adnan to the point sembari menatap tajam kearah Xander.
"Ba..baru satu Minggu Om." jawabnya gugup, tangannya tiba tiba berkeringat.
"Sekarang mau ngajak dia kemana?" sambung Adnan lagi.
"E..e.. cuma mau ngajak nonton sama makan kok Om, setelah itu langsung pulang."
Adnan terus saja menatap tajam kearah Xander yang tengah menunduk.
"Sayang, jangan menatap seperti itu kamu menakuti dia." ujar Regina menepuk bahu suaminya pelan.
"Kamu harus jagain anak saya baik baik, awas kalau sampai kamu menyakiti dia!" ancam Adnan yang membuat Xander mendongakkan kepalanya.
"Pasti Om. Saya pasti akan menjaga Jane sebaik mungkin, jikalau ada apa apa saya rela mengorbankan nyawa saya." jawab Xander tegas yang membuat Regina melongo, sedangkan Adnan menganggukkan kepalanya puas mendengar jawaban Xander.
"Ya ampun sampe segitunya ya kamu." seru Regina.
"Bagus, kamu harus janji dan pastikan itu. Karena selama ini anak saya tidak pernah berpacaran, jadi orang yang dipilih untuk menjadi pacarnya mungkin adalah orang terbaik menurutnya." jelas Adnan masih dengan tatapan mata yang tajam.
"Iya Om, saya Janji."
"Anak pintar!" Adnan tersenyum kepada Xander yang juga tersenyum balik kearah Adnan.
"Xander.." terdengar suara seseorang yang sudah ditunggu tunggu kedatangannya.
Semua menoleh keasal suara tersebut, Jane baru saja menuruni anak tangga terakhir dan
segera berjalan menuju ruang tengah.
Jane tampak cantik sekali malam itu ia
mengenakan atasan sabrina lengan panjang dengan bawahan rok a line hitam diatas lutut dengan flat shoes warna senada dan tas jinjing berwarna putih. Tidak lupa juga Mami Regina mendandani Jane dengan make up yang tidak terlalu tebal, sebenarnya Jane bisa menggunakan make up sendiri, namun Maminya tadi sangat memaksa. Jadi mau tidak mau Jane pun menurut.
Xander semakin terpesona dengan penampilan Jane malam itu, dia sampai menganga dan tidak berkedip.
Adnan yang melirik kearah Xander pun berdehem, "Erhmm.."
Suara deheman tersebut mampu mengalihkan dunia bawah sadar Xander.
Ia pun gelagapan seraya menggaruk kepalanya.
Regina dan Jane pun tertawa melihat Xander.
"Ayo, waktu berjalan terus nih! keburu malem," seru Jane seraya berjalan menghampiri kedua orang tuanya serta bersalaman.
Xander pun ikut bersalaman dan berpamitan.
"Hati hati ya sayang." pinta Regina.
"Iya Mi, Jane berangkat dulu ya. Dah Papi.."
"Iya sayang." Sahut Adnan, "Xander.." panggilnya.
"Iya Om?"
"Jangan lupa pesan saya tadi!" Adnan mempertegas sekali lagi.
"Siap Om, saya permisi."
Adnan mengangguk, kemudian mereka berdua segera berjalan keluar menuju mobil dan bergegas berangkat ke tempat tujuan mereka malam ini.
***
Mobil Xander berhenti di sebuah Mall terbesar di Kota A, dengan segera mereka masuk dan menuju bioskop karena 15 menit lagi film yang mereka tonton akan dimulai.
Sebelumnya Xander telah memesan tiket online, sekarang tinggal membeli beberapa cemilan dan 2 buah minuman, mereka segera masuk menuju bangku yang telah tertera pada tiket tersebut.
Entah sebuah kebetulan atau memang disengaja, Xander memilih film bergenre horror serta tempat duduk paling pojok diatas.
Bukannya fokus melihat film, pandangan Xander malah terfokus pada sosok disebelahnya. Dia terus memandangi setiap jengkal wajah gadis tersebut dari samping.
Wajah yang putih, bersih dan mulus, tidak ada jerawat yang hinggap disana. Wajah itu begitu enak untuk dipandang, berkali kali ia menelan ludahnya sendiri.
"Cantik m." Satu kata yang lolos begitu saja dari mulut Xander setelah ia dan Jane terdiam selama perjalanan tadi.
Jane menoleh, "Apa?"
Xander tertegun, ia tidak sadar telah mengucapkan kata itu. Sudah kepalang tanggung batinnya.
"Kamu cantik banget Jane."
"Ah, biasa aja deh perasaan." Jane kembali memandang kearah layar berukuran besar didepannya.
"Jane..."
"Hmm.." Jane tak mengindahkan pandangannya.
"Kamu udah tau tentang perasaan aku,"
Jane terdiam,
"Aku bener bener tulus sama kamu, selama hampir 5 tahun ini cuma kamu yang aku suka. Cuma kamu yang ada dihati aku."
Jane menoleh kearah Xander.
"Aku beneran serius sama hubungan kita, meskipun aku tau kamubnggak pernah suka aku Jane. Aku terima walaupun harus bertepuk sebelah tangan, aku rela asal terus disamping kamu. Aku pasti bakalannjagain kamu, Aku juga__" kalimat Xander terputus karena jari telunjuk Jane menyentuh bibirnya.
"Ssttt.. gue tau yang elo rasain selama ini. Pasti sakit banget kan memiliki cinta sepihak? Maafin gue Xander gue gak pernah peka terhadap perasaan lo." tutur Jane seraya menarik jari tangan tersebut menjauh dari bibir Xander, ia menundukkan kepalanya.
Xander menggeleng, ia mencakup kedua pipi Jane dengan kedua tangannya. "Enggak Jane.. ini semua bukan salah kamu. Aku aja yang udah gila terlalu maksain cintaku ke kamu, nembak kamu setiap bulan. Tapi aku seneng banget Jane, karena usaha aku selama ini berhasil. Aku udah jadi pacar kamu, dan pliiss banget Jane kamu jangan putusin aku."
Jane meneteskan air matanya, ia sungguh beruntung mendapatkan cinta kasih dari orang tua dan juga orang orang terdekatnya. Ditambah lagi kasih sayang yang tulus dari seorang laki laki yang benar benar mencintainya.
Jane mengangguk, ya.. akhirnya hatinya luluh dengan pengorbanan dan kejujuran Xander.
"Bantu gue buat bisa cinta sama elo Xan. Elo mau kan?" ujarnya masih meneteskan air matanya.
Xander mengangguk seraya tersenyum lega, ibu jarinya bergerak mengusap bulir air mata Jane yang mengalir dipipi gadis tersebut.
"Aku bakal bantu kamu Jane. Aku bersyukur banget, kamu mau ngasih aku kesempatan. Makasih sayang.. makasih banget."
Xander merengkuh tubuh Jane kedalam pelukannya.
Jane pun membalas pelukan tersebut.
"Aku sayang banget sama kamu Jane. Sayaaaanng banget!" ucap Xander dengan perasaan yang menggebu.
"Makasih Xander.." jawab Jane.
__ADS_1
***