
Melisa menghela nafas berat, "Ra, gue udah pernah bilang berkali kali sama elo kan? Jangan menyimpan perasaan terlalu dalem buat cowok, tapi lo gak dengerin omongan gue . Nyesel nggak lo, gak dengerin gue? Sakit hati itu nggak ada obatnya Ra."
Sara termenung mendengar tuturan dari Melisa.
"Banyak orang bilang jangan bermain api kalo lo nggak siap terbakar. Galau itu hal yang wajar, tapi kalo berlarut larut kayak yang lo lakuin sekarang itu nggak wajar namanya." sambung Melisa lagi.
"Ayolah Ra, jangan kayak orang putus asa gini dong. Lo terlalu sibuk mikirin orang yang lo sukai, sampe lo nggak pernah ngeliat dan ngehargai orang orang yang peduli dan sayang sama elo."
Tenggorokannya serasa tercekat mendengar kalimat tersebut. Memang benar, dirinya bisa dibilang egois. Akhir akhir ini dia terlalu sibuk dan kalut akan perasaannya sendiri, sehingga dia mengabaikan orang orang yang peduli dan menyayanginya. Contohnya seperti kedua sahabatnya yang selalu sabar menemani dirinya yang awut awutan dan berada di dunianya sendiri. Juga__ kedua orang tuanya, ia bahkan tidak memikirkan mereka sama sekali. 'Betapa bodohnya gue!'
"Kenyataan memang nggak selalu sejalan dengan harapan kita. Jadi jangan buang buang waktu lo buat seseorang yang nggak pernah ngeliat lo." Melisa menggenggam tangan Sara seraya tersenyum.
"Kita bakal selalu ada disamping elo Ra." ujar Melisa.
"Tuh, resapin kalo ustadzah lagi ngomong! Jangan dianggep angin, masuk kuping kanan keluar kuping kiri!" celetuk Salva yang melihat Sara tak bereaksi.
Sara melirik Salva kemudian ia tersenyum seraya mengangguk anggukan kepalanya.
"Iya.. gue ngerti."
"Cih, sekarang lo ngangguk bilang ngerti. Nanti beda lagi!" sahut Salva.
Sara malah terkekeh, "Kalian tenang aja, gue udah sadar kok. Makasih banyak ya udah ngingetin gue. Kalian memang sahabat terdebes!" serunya seraya mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Sini sini gue mau peluk kalian." imbuhnya seraya mencondongkan diri dan membentangkan kedua tangannya agar bisa menjangkau kedua sahabatnya yang duduk berseberangan dengan dirinya.
Salva dan Melisa pun beranjak untuk membalas pelukan yang diberikan Sara.
"Yeeyy.."
Beberapa pasang mata yang melihatnya pun tak mengindahkan mereka untuk tetap berpelukan. Mereka melepaskan pelukan tersebut setelah beberapa saat hanyut didalamnya.
"Udah udah udah.. kita udah kayak teletubbies tau gak!" seru Melisa dibarengi ledakan tawa ketiganya.
"Nah gitu dong ketawa, don't be sad again beb! " timpal Salva.
Sara mengangguk cepat.
"Eh balik kelas yuk." seru Salva.
"Ayok!!" ujar Sara dan Melisa berbarengan .
Kemudian mereka bertiga pun melangkahkan kaki meninggalkan kantin menuju kelas .
Dan tanpa Sara sadari , bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.
Plek !
Tepukan pelan mendarat di punggung Daffa, membuatnya tersadar akan sosok yang dilihatnya sedari tadi perlahan telah menjauh. Kemudian ia menoleh kearah seseorang yang membuatnya terkejut tadi, ia mengernyitkan keningnya.
"Suka dalam diam bukannya tambah buat seseorang menderita?" seru Elang yang dari tadi ternyata memperhatikan sepupu sekaligus sahabatnya itu.
Daffa tersenyum tipis, "Sok tau lo!"
"Kalo suka kenapa gak ngakuin aja sih?" lanjut Elang.
"Asal lo tau, ngakuin perasaan ke orang yang lo suka nggak segampang itu." ujar Daffa dibarengi helaan nafas kasar.
"Emang apa susahnya sih?!" ejek Elang.
"Lo suka sama siapa sih?" tanya Galuh pada Daffa yang sedari tadi diam disana ikut penasaran dengan obrolan dua sahabatnya itu.
Daffa hanya tersenyum kecil,
"Si monyet suka sama.. eh siapa sih namanya?" ujar Elang yang tadinya ingin menjawab pertanyaan Galuh, kembali menatap Daffa menunggu jawaban. Karena ia benar benar tidak tahu siapa nama Sara.
Daffa sedikit mendelik menatap Elang, ia tidak menyangka bahwa Elang tidak mengenal Sara padahal mereka sekelas dan Sara __ menyukainya.
"Emangnya elo nggak tau namanya?"
"Elo apa gue sih yang beg*? Kalo gue tau nggak bakalan nanya ogeb!" seru Elang.
"Elo lah yang beg*! Masa temen sekelas bisa gak tau?" sahut Daffa.
"Kapan gue pernah peduli hal nggak penting kayak gitu?" timpal Elang.
"Terserah elo lah." ujar Daffa.
"Jadi siapa yang lo suka Daf?" tanya Galuh lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Elaahh.. opek lo!"
" Anj*r l ! gitu aja nggak mau ngasih tau!"
Daffa mendengus, "Apaan sih lo, mau tau aja?!"
"Cih, sapa juga yang pengen tau?!" Galuh mengelak.
"Lah elo barusan?"
"Nggak jadi! Gue tarik kata kata gue!"
"Haha.. ngambek lo?" ejek Daffa.
Galuh tidak menjawab dan beralih menatap Nanda yang dari tadi sibuk bermain game di gadget nya.
"Kayak cewe lagi pms aja lo!" imbuh Daffa.
"Makanya gaada cewek yang mau deketin lo."
"Takut saingan ngambek nya."
"B*ngke lo!" sahut Galuh ketus seraya melemparkan snack kearah Daffa.
"Weitt.. nggak kena, nggak kena." ujarnya cengengesan.
"Mau lagi lo?!" Galuh mengangkat gelas berisi es cappucino miliknya bersiap untuk melemparkan kearah Daffa.
"Woi.. ho ho ho ho.. santuy dong bro, gausah ngegas..." Daffa cengengesan.
"Gue yang nyicil, lo yang nge-kill . Dasar nyampah lo!" tiba tiba Nanda menyeletuk.
"Anj*r! B*ngke! Gue lag banget nih!" Nanda kembali mengoceh, membuat perhatian teman temannya mengarah padanya.
"Gue nggak bisa gerak coeg!!"
"Aarrgghh!!!"
Klotak...
"Aduh.." Nanda menoleh kearah barang yang ditumpukkan pada kepalanya, lalu melihat temannya satu persatu.
"A*jir! Siapa yang nimpuk pala gue?" serunys emosi, sudah bermasalah dengan game yang ia mainkan malah sekarang ia kena timpuk kaleng bekas minuman.
"Gue." jawab Elang santai.
"Apaan sih lo maen timpuk anak orang sembarangan?! Etdah.. jadi kalah kan gue, *jir *jir!" gerutu Nanda.
"Gue lagi pengen nimpuk pala lo!" seru Elang.
"Lo nggak bosen apa maen game mulu tiap saat?" tanya Daffa.
"Enggak lah.. kan memang hobi gue."
__ADS_1
Tiba tiba gadis yang bernama Tiwi menghampiri mereka.
"Eung.. Hai Lang." sapanya pada Elang.
Semuanya menoleh walau yang dipanggil hanya Elang.
Elang menatap tajam kearah Tiwi tanpa menjawab dan membalas sapaan gadis itu.
Tiwi menjadi gugup dan salah tingkah.
"Eung.. itu.."
Elang mengernyitkan keningnya, sedangkan Galuh yang menyahutinya dengan ketus.
"Apa sih lo, ang ung ang ung?! Cepetan kalo mau ngomong!!"
Tiwi masih saja terdiam karena gugup, entah apa yang ingin ia katakan. Sementara dari arah belakang mereka terlihat Sara dan sahabatnya tengah melangkahkan kaki, mereka kembali lagi menuju kantin untuk mencari dompet Salva yang terjatuh.
Karena melihat Tiwi yang hanya terdiam, Elang pun mengalihkan pandangan darinya.
"Elaah masih diem aja lo, kalo lo nggak mau ngomong sono pegi!! Ganggu pemandangan aja." sentak Galuh dengan meninggikan suaranya.
Sontak membuat beberapa murid yang ada disana memandang kearah mereka termasuk Sara dan sahabatnya.
"Itu kan cewek yang waktu itu jadi pesuruh si Elang." ujar Salva yang sedang melihat kearah datangnya suara keras tadi.
"Bener, ngapain dia disitu?" sahut Melisa.
"Tau!"
"Gu.. gue mau ngomong sesuatu sama Elang." ucap Tiwi sekali lagi yang membuat Galuh jadi geram sedangkan Elang tak menggubris perkataan Tiwi.
"Lo budek apa beg*?! Gue kan udah bilang kalo mau ngomong buruan ngomong!! Etdah bikin gue emosi aja." seru Galuh.
Daffa terkekeh melihat Galuh, "Wah wah.. lo tepat banget sih datengnya." ujarnya pada Tiwi.
"Galuh lagi butuh pelampiasan emosi soalnya."
"Emang si gulu lagi emosi sama siapa sih?" Tanya Nanda.
"Dia lagi pms cuy." jawab Daffa ngasal.
"Hah?" Nanda gak nyambung.
Elang beranjak berdiri.
"Mau kemana lo nyet?" tanya Daffa. Elang tidak menggubris, ia hendak melanjutkan langkahnya namun urung.
"Elang, Gue mau jadi pacar lo!!" ucap Tiwi dengan suara lantang.
Elang terkejut sekaligus bingung, teman temannya pun sama terkejutnya bahkan semua murid dikantin menatap penasaran kearahnya. Sara pun tak luput memperhatikan kejadian tersebut.
'Jadi si Elang nembak Tiwi? kok bisa sih? kapan?' batin Sara berkecamuk .
Melisa menepuk pundak Sara, "Jangan lagi deh" ingatnya.
Elang membalikkan badannya menghadap kearah Tiwi dengan tatapan matanya yang tajam dan menusuk.
Tiwi yang ditatap seperti itu malah balas menatap Elang dengan percaya diri.
"Apa maksud lo?" tanya Elang.
"Gue mau jadi pacar lo?" jawabnya enteng.
"Gue tanya sekali lagi, apa maksud lo?!" Kali ini Elang sedikit meninggikan suaranya, membuat nyali Tiwi mendadak menciut.
"Gu.. gue pengen jadi pacar lo."
"Ck, nggak penting banget sih omongan lo!" ujar Elang seraya berbalik arah, seketika itu pun hati Sara sedikit lega namun juga takut.
"Tapi ini penting buat gue Lang ! Gue suka sama elo ! Dan gue bener bener cinta mati sama lo." Aku Tiwi.
"Tapi gue nggak suka sama lo!!" ucap Elang tanpa memandang lawan bicaranya.
"Tapi kenapa? Apa kurangnya gue? Lo juga belum pernah pacaran kan? Apa salahnya nerima gue?" Tiwi sedikit terisak.
"Heh, bac*t lu jangan nyampah! Lo kira selama ini Elang nggak pacaran karna dia nggak laku apa, sampe harus nerima lo? Sentak Galuh yang menurutnya Tiwi sudah berani lancang sama kelompok mereka.
"Lo pikir lo siapa hah?!!" Galuh yang tidak terima berdiri menghadap Tiwi dengan mengepalkan tangannya.
Tiwi tidak berani menatap Galuh , entah setan ajaib dari mana yang memasuki tubuh Tiwi sehingga dia berani menyulut api Elang cs. Karena selama ini tidak ada yang berani senekat ini dengan kelompok mereka.
"Lo bukan tipe gue! " jawab Elang .
"Memangnya tipe lo kayak gimana?" Tiwi masih teguh pada tekadnya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia masih tidak bisa menutup mulutnya.
Elang berbalik arah, "Siapa lo mau tau apa yang gue suka?!" Elang sedikit mendekat kearah Tiwi, mengamati dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Cih, denger baik baik, disekolah ini gak ada satupun cewek yang termasuk tipe gue, ngerti!! Jadi gue harap jangan ada yang berani senekat dia dihadapan gue!!" Ancamnya pada seluruh penghuni kantin seraya menunjuk Tiwi. Kemudian ia berjalan keluar kantin, meninggalkan mereka semua yang hanya bisa menelan salivanya masing masing.
Terutama Tiwi yang saat ini tengah menunduk malu, 'Lo liat aja Lang, gue pasti bisa dapetin lo dengan cara apapun! ' batinnya seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan karna lo pernah ngebeliin kita makanan, lo jadi ngelunjak!! Sadar diri siapa lo, dasar cewek murahan!!" seru Galuh yang beranjak meninggalkan kantin dan disusul oleh teman temannya.
Tiwi semakin geram dibuatnya, ia melihat sekeliling ternyata masih banyak yang melihatnya.
"Apa lo liat liat!!" bentaknya pada murid murid yang kepo disana.
"Apa!! Lo pikir ini kantin nenek moyang lo?!" celetuk Salva.
"Kita punya mata keles!" sahut murid lainnya.
" Iya.. bener.."
"Lagian kan tadi elo yang buat pertunjukan, kita mah nikmati aja. Ya nggak?" seru murid murid lainnya.
"Ho - oh , "
Tiwi mendengus dan menghentakkan kakinya kemudian beranjak pergi dari sana.
"Hahaha.. dasar kunyuk kutilan! Gede banget nyalinya nembak Elang didepan umum!" ujar Salva tertawa mengejek.
"Malu maluin nggak sih?" sahut Melisa.
"Nggak sih!" timpal Sara.
"Hah, kok bisa?" hanya Salva.
Sara tertawa, "Ya bisa lah, kan dia nggak punya malu!"
"Hahaha.. bener juga lo!" Mereka bertiga tertawa ngakak seperti habis menang lotre mingguan.
"Yaudah balik nyok!"
"Ayookk!!"
"Gak nyesel ya kita balik lagi tadi, dapet pertunjukan seru." ujar Salva ditengah perjalanan menuju kelas.
"Ho - oh, lebih seru dari pensi sekolah." imbuh Melisa.
"Eh tunggu!! ngomong ngomong dompet gue kan belum ketemu kunyuk! Maen balik aja kalian!" seru Salva menyadari tujuan mereka kembali ke kantin.
Mereka bertiga bengong dan saling berpandangan.
__ADS_1
"Aelaahh... lama!!" Salva berlari sendiri menuju kantin lagi.
"Semoga ketemu ya Va!" ucap Sara dari jauh.
"Kita bantu doa!" sambung Melisa, mereka berdua kembali tertawa.
"A*ying kalian!" sahut Salva dari jauh sembari menoleh kebelakang.
Tiba tiba..
Bruuugh !!
"Aduh!" ucap kedua orang yang bertabrakan itu.
"Yaahh hape gue?!!" seru seseorang yang ditabrak Salva.
"Aduuhh, sori sori sori.. gue nggak sengaja." Salva meminta maaf seraya mengambil ponsel yang terpental cukup jauh, lalu ia mengamati ponsel tersebut.
"Yahh layarnya pecah..." ucap Salva seraya menggigit bibir bawahnya.
"Apaa? layarnya pecah?!!" seseorang tersebut telah berdiri disamping Salva dan langsung menyahut ponsel itu.
Salva begitu terkejut karena yang ditabraknya ialah Nanda.
'Mamp*s gue! Itukan Nanda! Aduh gimana nih?!' batin Salva ketakutan.
"Yaahh.. padahal tadi banyak yang thumbs up gue.." seru Nanda, ia masih memandangi ponselnya.
Salva hendak melarikan diri namun secepat kilat ada tangan yang menarik tangannya. Salva pun hanya bisa pasrah sembari menggigit bibirnya.
"Mau kemana lo?!"
"Mau kabur dan nggak tanggung jawab!" seru Nanda.
"Gu_gue kan udah minta maaf." jawab Salva sedikit gemetar, bukannya ia tidak mau tanggung jawab untuk mengganti ponsel itu. Salva sungguh bisa jika itu hanya sebuah ponsel biasa, namun jika itu ponsel yang harganya 1 tahun uang sakunya? bisa digantung dia sama bokapnya. Selain itu juga karena ketakutannya pada Elang cs yang terkenal tega dan tidak punya perasaan.
Nanda menunjukkan ponselnya tepat didepan muka Salva. "Maaf lo bilang?! Liat nih!!"
"Sori.. gue bakal ganti kok."
Nanda tertawa mengejek, "Ganti lo bilang?"
Salva mengangguk, ia masih tertunduk.
"Berapa uang saku lo tiap hari?"
'Deng? tuh kan, nanyain uang saku gue?'
"Eung.. 50ribu, Kenapa emang?" jawab Salva, ia masih gemetar.
Nanda kembali tertawa mengejek. "Lo bilang mau ganti hape gue sementara uang saku lo cuman goban?"
"Emang berapaan sih hape lo?" Salva memberanikan diri menatap lelaki yang dari tadi tertawa mengejeknya, sebel!
"Satu taun uang saku lo gak bakalan cukup buat ngeganti hape gue ini!!"
Salva melongo, 'Tuh kan bener? Handphone nya mehong cuy! Gue liat sekilas memang dia nggak boong!'
"Te..terus gimana caranya supaya gue bisa ganti rugi?" tanya Salva.
Nanda tampak berpikir, 'Kalo diliat dari deket nih cewek cantik juga.'
'Ahh.. apaan sih gue? Gini nih kelamaan mantengin game, gak pernah liat bening yang nyata!'
'Anj*r, mikirin apaan sih gue?!' batin Nanda.
'Apaan sih nih cowok, ngeliatinya gitu banget!' batin Salva.
Salva berdehem. "Erhm.."
Nanda blingsatan kayak kepergok nyolong ayam tetangga.
"Apa?" ucap Nanda kikuk.
"Astojim.. Yang tadi gimana? Elo mikir apaan sih?" seru Salva gemas.
Nanda malah garuk garuk kepala.
"Eung.. apa ya?"
Salva mengernyit.
"Ah gue tau, elo harus mau jadi pesuruh gue selama 2 bulan. Gimana?" ujar Nanda penuh maksud.
"Hah? Yang bener aja lo, meskipun hape lo mahal, tapi itu palingan cuma kena LCD nya aja. Gue nggak mau! Mendingan gue bawa ke tukang servis, beres!" seru Salva menolak persyaratan Nanda.
"Jangan gila lo, gue nggak level ya sama barang servisan. Kalo lo nggak mau, buruan ganti hape gue sama yang baru!" ucapnya nyolot.
"Gaya banget sih lo, yang penting kan bisa digunain lagi!" Salva menggerutu, kini ketakutannya pada Nanda berubah menjadi kekesalan.
"Gue NGGAK MAU!! titik!!" seru Nanda dengan nada penuh penekanan.
Mulut Salva mengerucut menirukan kalimat Nanda.
'Yalord,, gue kok jadi nervous gini sih! Pengen gue embat tuh bibir!'
"Mulut lo bisa diem nggak?!" ujar Nanda.
"Oke, Kol!"
"Hah? Kol apaan? kolang kaling?"
"Duh, lo tuh nggak pernah nonton Drakor ya? Kol itu artinya setuju. Gue setuju sama persyaratan lo tadi!" ujar Salva.
"Apa sih lo? Bilang yang bener kek dari tadi. Yaudah dil ya?"
"Tapi gue juga punya syarat!"
"Kok jadi lo yang ngatur sih?"
"Yaudah kalo gamau."
"Iya iya.. Apaan?"
"Jangan nyuruh yang gak masuk akal kayak duduk disamping lo atau nyuapin lo atau berduaan sama lo misalnya, terus__"
"Et et.. kepedean banget sih lo! Gue masih waras ya!" ralat Nanda yang menurutnya Salva tepat sasaran.
"Siapa tau, kan buat jaga jaga. Pokonya gaboleh bersentuhan fisik! Terus, jam suruh cuman berlaku saat disekolah. Kalo udah jam pulang lo gak boleh mrentah gue seenaknya."
Sekarang gantian Nanda yang mengerucutkan bibirnya mengikuti kalimat Salva.
"Udah?" tanya Nanda, dibalas anggukan dari Salva.
"Oke, mulai besok ya.. Eh tapi kan besok kita udah berangkat?" tanya Salva.
"Yaudah berarti lo jadi pesuruh gue 24 jam selama disana, kan bukan dirumah." ujar Nanda sembari cepat cepat pergi meninggalkan Salva.
"Enak aja lo! Gamau gue!!"
"Bye.." Nanda melambaikan tangannya.
"Dasar GGS lo!!" teriak Salva.
__ADS_1
"Ganteng Ganteng Soak!!"