Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 2


__ADS_3

Siang itu terlihat seorang wanita paruh baya memasuki sebuah rumah berpagar putih yang tampak sudah berkarat. Kemudian ia mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali.


Tok.. tok.. tok..


"Uly.. Uly.." panggilnya.


Tak lama kemudian sesosok wanita paruh baya berumur 3 tahun lebih muda dari dirinya dan juga berambut pendek terlihat menghampirinya.


"Hei.. hei.. Ami.. ayo masuk masuk," sapanya sambil tersenyum melihat kedatangan Ami.


"Wah.. udah lahiran ya menantumu?" sambungnya.


"Iya."


"Kapan Mi?"


"Baru pagi tadi." ia segera masuk ke dalam rumah tersebut, kemudian beranjak duduk.


"Jadi nih?" tanya wanita yang bernama Uly tersebut.


"Iyalah, ini aku sudah bawa kesini." ujarnya seraya menyerahkan bayi yang digendongnya kepada temannya.


"Uwiihh.. cantik banget cucumu Mi.. putih dan bersih lagi. Kalau gini mah majikannya Umay gak bakalan nolak." ucap Uly sambil memandangi wajah bayi Agni.


"Ya jelas lah, bibitnya kan bagus." sahut Ami.


"Ya sudah, aku telepon Umay dulu ya."


"Hmm.."


Setelah beberapa saat percakapan Uly dan Umay yang begitu serius melalui telepon akhirnya selesai juga. Tidak lupa pula tadi Uly juga memfoto dan mengirim foto bayi Agni kepada Umay, adiknya yang bekerja menjadi sopir di rumah salah satu keluarga kaya raya di Kota A.


Sepasang suami istri tersebut sudah menikah selama 5 tahun namun belum dikarunia seorang anak. Maka dari itu sang istri meminta tolong kepada semua pegawai di rumahnya, barangkali ada seseorang yang baru saja melahirkan yang mau anaknya di asuh olehnya dengan imbalan uang yang sangat besar. Sebenarnya sang suami tidak setuju dengan kemauan istrinya . Bukan berarti mereka tidak bisa mempunyai keturunan, keduanya pun subur. Hanya saja mungkin belum diizinkan oleh Tuhan. Tapi karena sang istri sepertinya sangat tidak sabar menunggu untuk mempunyai anak akhirnya sang suami pun mengizinkan nya.


Kemudian Uly bergegas menghampiri Amy.


"Gimana?" Tanya Ami tidak sabaran.


"Siip.. mereka setuju, apalagi majikannya yang perempuan suka banget katanya." jawabnya Uly.


"Jadi?"


"Jadi besok aku yang akan kesana membawa bayimu." tegasnya.


Amy terdiam sejenak, ragu ragu ia ingin bertanya.


"Kenapa? Kamu gak percaya sama aku? Atau kamu mau ikut?"


"Ehm.. enggak, aku percaya kok." jawabnya Ami.


"Ok kalau begitu kamu pulang saja sekarang, tunggu aku sekitar dua hari. Nanti kamu kesini lagi kita selesaikan masalah uangnya." Pungkas Uly meyakinkan Ami supaya tidak khawatir.


"Iya, makasih ya Ly."


"Haha.. ok, ngomong ngomong kamu kok bisa santai sih setelah menyerahkan bayi ini? Apa kamu enggak takut ketahuan anakmu?" Pertanyaan Uly sontak membuat Ami sedikit gelisah.


Walaupun dia tahu akan membuat alasan apa kepada anaknya nanti, namun terbesit pula sedikit rasa takut di hatinya.


"Hahaha.. tidak usah memikirkan itu, semuanya sudah beres. Hanya saja ini akan menjadi rahasia kita selamanya, mengerti?"


Uly hanya tersenyum masam seraya menganggukkan kepalanya. 'Kok bisa ya ada nenek seperti dia yang tega menjual cucunya sendiri, kasihan sekali Agni dan Bayu. Dasar wanita gila! dia memang sudah benar benar gila berjudi, sampai menjadi gelap mata. Tapi ada untungnya juga untuk majikannya Umay yang tidak mempunyai anak, karena aku yakin anaknya kelak akan tumbuh menjadi gadis yang baik seperti ibunya, jangan sampai seperti neneknya.' Batin Uly mengungkapkan yang dirasakannya di dalam hati.


***


"Dasar lemah dan tidak berguna!"


Ami menunduk dan mengangkat dagu Agni menggunakan tangannya "Dengarkan saya, jika suami mu nanti bertanya dimana anakmu, kamu harus mengatakan salah satu bayimu tidak bisa terselamatkan mengerti!" ancamnya.


Deg!


Agni hanya bisa diam dan menangis.


Dia ingin sekali menjawab dan menanyakan keberadaan anaknya, namun ia takut karena sepertinya akan percuma. Dia akan mengatakan semuanya nanti pada suaminya.


"Jawab saya! Jangan cengeng kamu ya!" bentaknya seraya mempererat cengkeraman pada dagu Agni.

__ADS_1


"Dan satu lagi, jika kamu berani mengatakan semuanya kepada anak saya, maka kamu tidak akan bisa melihat anakmu itu untuk selama lamanya. Camkan itu baik baik!"


Deg! Deg! Deg!


Jantungnya berdetak semakin kencang, ancaman ibu mertuanya membuat Agni menjadi takut untuk mengatakan kepada suaminya. 'Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung sekali Ya Allah.. Anakku..' batinnya.


Dan akhirnya Agni hanya bisa mengangguk pasrah.


"Bagus! Jangan kamu pikir saya main main dengan perkataan saya! Saya bisa saja melenyapkan anakmu beserta kamu, jika sampai anak saya mengetahui semua ini!" Ami melepas cengkeramannya kemudian beranjak berdiri dan berlalu meninggalkan Agni.


Selepas mertuanya pergi Agni menangis sejadi jadinya, ia begitu bodoh karena tidak bisa melawan ibu mertuanya. Begitu bodoh tidak bisa menjaga dan mempertahankan anaknya. Bodohnya dia yang hanya bisa pasrah dengan keadaan seperti ini, sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti ibu mertuanya itu. Karena Agni sendiri sudah tahu betul watak mertuanya yang nekat dan tidak main main dalam berucap dan bertindak.


Dia sendiri pun tidak tahu apakah keputusannya menuruti ibu mertuanya itu benar. Mudah mudahan anaknya memang benar benar berada pada orang yang tepat.


Mulai sekarang ia hanya bisa mendoakan untuk keselamatan anak yang tidak lagi bersamanya itu. Ia akan sangat merindukannya.


Didalam kamarnya saat ini, hanya bantal penuh air mata yang menopang kepalanya lah, yang menjadi saksi bisu kesedihan paling dalam yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Kehilangan salah satu buah hati yang seharusnya ia jaga dengan penuh kasih sayang dan yang harusnya ia lindungi dengan segenap hati.


***


Satu hari telah berlalu, jam dinding menunjukkan pukul 6.30.


Terdengar beberapa kali suara ketukan pintu dari luar.



Tok.. tok.. tok..


"Astaga, jam berapa sekarang? Ya ampun aku kesiangan."


"Tunggu sebentar," teriaknya menyahuti seseorang yang sedang mengetuk pintu.


Agni beranjak berdiri dan berjalan pelan menuju ruang tamu, ia melewati kamar ibu mertuanya. Sejenak dia melirik dan membuka selambu kamar tersebut, '*M*asih tidur. ' gumamnya. Agni pun melanjutkan langkah kakinya untuk membukakan pintu.


"Siapa?" ucapnya seraya membuka pintu.


"Sayang.." ujar seseorang tersebut sembari memeluk tubuh Agni.


"Mas Bayu.. " seru Agni terkejut.


Bayu terkekeh "Iya dong sayang, aku kan pengen cepet cepet lihat anak kembar kita."


Deg!


"Dimana mereka sayang? Oh ya dan gimana kondisi kamu dan anak kita? Apa kamu baik baik saja? Sudah bisa jalan jalan juga?" rentetan pertanyaan kekhawatiran dalam benak Bayu sedari kemarin pun akhirnya ia lontarkan.


"Aku kepikiran banget dari kemarin lho, karena pekerjaanku gak bisa ditinggal dan juga jarak dari sana ke rumah kita jauh banget." imbuhnya.


"Maafin aku ya sayang karena gak bisa nemenin kamu lahiran." cerocos Bayu panjang kali lebar.


Agni mematung, Bayu hendak masuk ke dalam sebelum ia kemudian menoleh ke arah Agni kembali.


"Lho, kamu kenapa diam disitu, ayo masuk sayang." ujarnya.


Badan Agni mendadak menjadi lemas, wajahnya pun memucat. Ia sangat takut dan juga bingung ingin bicara dari mana.


"Eng.. itu mas.." jawabnya bingung, ia kembali terdiam.


"Kenapa? Ada apa sayang?" tanya Bayu heran melihat raut wajah istrinya yang seperti itu.


Terdengar suara ibu mertuanya menyahuti "Bayu, kamu sudah pulang nak?"


"Eh ibu.. iya Bu, baru saja." jawabnya seraya mencium tangan ibunya.


"Ayo duduk dulu sini, ibu mau bicara." ujar Ami dengan raut wajah sama seperti Agni.


"Ada apa sih sama kalian, kok mukanya tegang semua?" tanya Bayu bingung.


Nyatanya Ami pun juga sama takutnya dengan Agni, namun bedanya ia takut kalau sampai rencananya ketahuan. "Kamu harus kuat ya nak?" ujarnya mendahului Agni, karena sebenarnya ia takut kalau sampai Agni mengadu kepada Bayu.


"Kenapa sih Bu, ada apa?" tanya Bayu penasaran, perasaannya jadi tidak enak.


"Itu.." Ami menghela nafas. "Karena hanya salah satu anakmu saja yang selamat." jelas nya.


"Maksud ibu apa?" seru Bayu.

__ADS_1


"Salah satu bayi kamu meninggal, karena Agni lahiran normal dan posisinya sungsang jadi sangat sulit untuk menyelamatkan keduannya."


"Apa?!!" Teriak Bayu tidak percaya. Ia melihat ke arah Agni yang menunduk, tanpa bertanya lagi dengan segera ia beranjak masuk kedalam kamarnya. Dan benar saja hanya ada satu bayi yang tergeletak sedang tertidur pulas di sana.


"Ya Allah, kenapa bisa seperti ini?" Ia segera mengambil dan menggendong bayi tersebut seraya mencium dan menangisinya.


Agni menghampirinya, ia merasa bersalah telah menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Hatinya serasa tersayat pisau yang tajam melihat suaminya menangisi anaknya sampai seperti itu. Ia melirik ibu mertuanya yang berada di ambang pintu.


Ami memelototkan mata dan menatap tajam ke arah Agni.


Ini semua karena ibu mertuanya yang begitu tega dan kejam, ia telah merusak kebahagiaan satu satunya yang dimiliki Agni dan Bayu.


Karena mereka orang miskin, hari hari mereka lalui dengan kerja keras. Kesusahan dalam perekonomian menjadikan mereka hanya sebatas berdiam diri di rumah setelah bergelut dengan pekerjaan sehari hari. Mereka tidak pernah pergi berlibur dan membeli barang barang baru seperti orang lain. Dan kabar kehamilan kembar sang istri menjadikan kebahagian yang luar biasa bagi keduanya.


Dan sekarang setelah tiba saatnya akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, tidak disangka mertuanya itu memiliki rencana untuk lebih menyengsarakan mereka berdua.


'Memang tidak punya hati**!'


"Maafkan aku sayang." suara sang suami membuyarkan lamunan Agni, ia menatap suaminya.


"Maafkan aku sayang." Bayu mengulang perkataannya, menatap istrinya kemudian mendekapnya kedalam pelukannya bersama bayi mereka.


"Ini semua karena aku, jika saja aku mempunyai cukup uang, mungkin kedua bayi kita dapat terselamatkan." Bayu menangis tersedu sedu.


"Tidak mas, ini semua bukan salahmu."


Agni kembali melirik mertuanya. "Ini semua sudah menjadi takdir yang ditentukan oleh.."


'ibumu' batinnya.


"Tetap saja aku yang patut disalahkan atas semua ini, karena ketidak becusan ku menjadi calon orang tua menjadikan salah satu anakku__" Bayu tidak melanjutkan kalimatnya, tangisannya semakin menjadi.


"Sudah mas sudah, ini semua merupakan ujian dari Allah. Kita harus sabar dan menerimanya dengan ikhlas. Mungkin kita memang belum mampu menjadi orang tua untuk dua orang anak mas."


"Tapi ini kebahagiaan kita satu__"


"Sstt.. jangan bicara seperti itu mas." sela Agni.


"Mungkin juga Allah memiliki rencana lain untuk kita. Rencana yang lebih baik, insyaallah." bujuk Agni kepada suaminya.


"Dimana makam anakku? aku ingin melihatnya." seru Bayu.


"Di belakang rumah kita." Ami menyahutinya.


'Apa? Bahkan ibu sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Sungguh licik! ' batin Agni.


Iya, Ami memang sudah mempersiapkan makam sejak tadi malam, karena pasti Bayu akan menanyakannya. Ia pun juga sudah menyuap dukun bayi kemarin untuk menyampaikan kebohongannya jikalau saja Bayu masih tidak percaya.


Mereka bertiga menuju halaman belakang untuk melihat makam anaknya. Mereka memanjatkan doa diatas makam palsu tersebut. Diiringi pula tangisan dari Bayu yang masih merasa tidak terima dengan keadaan tersebut.


Setelah itu mereka terlihat kembali masuk ke dalam rumah.


"Istirahatlah dulu mas, kamu pasti kelelahan setelah perjalanan jauh." ujar Agni seraya duduk di samping suaminya.


Bayu hanya mengangguk. Ia menatap ke arah istrinya, matanya terlihat sembab karena terus menangis.


Sama seperti dirinya, semalaman menangisi nasib anak anak nya sampai membuat dia bangun kesiangan tadi.


"Aku mau melakukan pekerjaan rumah terlebih dahulu, aku juga belum memasak. Apa kamu lapar mas?" tanya Agni kemudian.


Bayu tidak menjawab, ia hanya terus menatap istrinya dengan pandangan mata yang sayu. Hingga kemudian Bayu memeluk tubuh Agni erat.


"Maafkan aku, karena tidak bisa membahagiakan kamu selama ini. Bahkan disaat kamu berjuang untuk menyelamatkan anak kita, aku tidak ada disana. Maafkan aku.. tapi percayalah bahwa aku sangat mencintaimu." ujar Bayu.


Bayu menghela nafas panjang, "Aku berjanji setelah ini aku akan lebih menjaga kalian, kalian adalah harta yang paling berharga di dalam hidup ku."


"Mulai sekarang dan kedepannya aku akan berusaha lebih keras lagi, aku ingin bisa membahagiakan kalian. Aku berjanji."


"Masih maukah kamu melanjutkan hidupmu bersamaku dalam keadaan suka dan duka, emm.. lebih banyak dukanya sih." seru Bayu.


Agni tertawa mendengar suaminya berbicara seperti itu.


"Iya.. iya.. mas, aku percaya sama kamu. Udah dong sedih sedih nya ya. Lihat nih wajah ganteng kamu jadi kusut kayak gitu?" ucap Agni menghibur suaminya. Selain itu karena ia juga tahu bahwa anak yang ditangisi suaminya itu masih hidup.


***

__ADS_1


__ADS_2