
Kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta.
***
Film yang ditonton Jane dan Xander telah usai setengah jam yang lalu. Sebenarnya bukan mereka yang menonton film, tapi layar besar tersebut lah yang menonton mereka berdua. Gedung besar itulah yang menjadi saksi bisu kebahagiaan yang sedang dirasakan seseorang yang sedang tersenyum sendiri dari tadi.
"Xandeerr.." panggil Jane yang ketiga kali.
"Hmm.. eh.. iya.. apa sayang?" seperti anak kecil yang tak berdosa Xander terus melebarkan senyumnya.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Jane sedikit tersipu.
"Samain aja kayak kamu." ucapnya.
"Beneran nih?"
Xander mengangguk, masih tersenyum dan pandangan nya pun masih berada di arah yang sama.
"Yaudah mbak saya pesen chicken butter sama creamy mushroom soup dua terus__ minumnya strawberry punch juga dua ya."
"Baik, mohon ditunggu sebentar ya." ucap waiters wanita tersebut.
"Iya.."
Jane berdecak, "Tck, sampe kapan lo ehm.. maksud gue kamu mau ngeliatin aku terus?"
"Sampe kamu nggak keliatan lagi dari pandangan aku." jawab Xander.
"Iihh kamu tuh ya! Aduuhh nggak biasa banget tau, gue pake sebutan aku kamu!" seru Jane.
Xander terkekeh, "Ya harus dibiasain dong sayang. Ini baru manggil aku kamu lho, belum manggil sayang."
"Huft!"
"Hehehe.."
Mereka lanjut ngobrol hingga pesanan mereka datang. Kemudian setelah selesai makan, Xander pun mengantarkan Jane pulang.
**
Jane telah tiba di rumah, ia segera masuk kedalam kamarnya. Kedua orang tuanya pun sepertinya sudah tidur dikarenakan sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam, ia pulang agak terlambat.
Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Ia mengambil ponsel dan melihat lihat beberapa notifikasi pesan teman temannya yang masuk. Ia terlihat sibuk menggerakkan jemarinya diatas layar bening tersebut, membalas satu persatu pesan yang sudah menumpuk terabaikan saat dirinya tengah berkencan tadi.
Kemudian salah satu pesan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis, pesan dari Xander.
π© udah tidur?
π¨ belum nih
π© udah malem banget lho sayang, buruan tidur
π¨ aku belum ngantuk
π© yaudah chattingan sama aku aja, atau mau aku telpon**?
Jane berpikir sejenak, 'Telpon? Apaan lagi yang mau diomongin? Sumpah gue masih kaku banget pacaran! Apalagi ngomongnya aku kamu lagi!'
π¨ Ehm.. gaus__
Jarinya yang baru akan membalas pesan Xander terhenti,
drrtt.. drrtt.. drrtt..
'Tuh kan keduluan?!'
Jane menarik nafas sebentar kemudian menghembuskan nya perlahan, ia gugup.
Setelah melalui pembicaraan serius mengenai hubungan mereka di bioskop tadi, Jane menjadi gugup ketika berhadapan dengan Xander. Padahal biasanya juga cuek!
Yah gimana lagi, ini kali pertama Jane berpacaran jadi ya gitu deh.
π "Engg.. halo?"
π 'Hei sayang.. kamu kenapa?'
π "Apanya?"
π 'Suara kamu.. kayak tegang banget gitu.'
π "Hehe.. gapapa kok."
'Hadehh .. nih bocah nggak tau apa hati gue lagi keroyokan!'
π 'Enaknya ngobrolin apa ya sayang?'
π "Gatau, gak ada topik aku. Udahlah matiin aja!" pinta Jane, sebenarnya ia semakin gugup.
π 'Ehh.. jangan dong sayang, baru juga denger suara kamu. Aku kangen nih.'
π "Ihh apaan sih, baru juga ketemu."
π 'Emang kamu nggak kangen aku?'
π "Enggak tuh!"
π 'Galak amat sih sayang..'
π "Biarin, kalo nggak galak kamunya ngelunjak!"
π 'Hahaha.. ini baru Jane yang aku kenal, kalo kamu yang malu malu kayak tadi gak pantes banget sayang.'
π "Jangan ketawa ya kamu!"
π 'Hahaha..'
π "Udah tidur sana!"
π 'Iya.. iya.. nggak ketawa, tapi aku nggak bisa tidur sayang.'
π "Kalo nggak ngantuk yaudah, aku udah ngantuk sekarang!"
π 'Yah ngambek nih..'
π "Bye!"
tut tut tut
Jane memutuskan telponnya sepihak, ia sedikit kesal.
"Iiisshh nyebelin!" Jane berucap sambil memukul mukul bantalnya. Namun tak lama kemudian dia mengembangkan senyumnya lebar. "Tapi dia lucu banget sih!"
"Iiihh apaan sih gue?" sambil menepuk nepuk pipinya, jika ada yang melihat, ada rona merah menghiasi wajahnya saat ini.
"Gue kenapa sih? jantung gue deg degan terus kayak mau copot!"
"Apa gue udah mulai suka ya sama Xander?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia tersenyum lagi, "Jadi kayak gini rasanya jatuh cinta?"
"Bagus deh.. tapi.. ini kecepetaann! Aahhh..." serunya dengan suara manja. Ia menutupi mukanya menggunakan bantal.
"Aaaaa... gue kok jadi malu malu gini sih..."
"Pas dia manggil sayang itu loh, gue jadi merinding.. dada gue.. aaaahhh..."
Setelah itu hingga pukul 2 pagi, Jane masih memikirkan dirinya sendiri yang seperti orang gila. Berguling kesana kemari diatas tempat tidur, hingga ia tertidur sendiri.
__ADS_1
***
Pukul 6.30
Mami Regina membuka pintu kamar Jane, putrinya itu terlihat masih tertidur pulas dengan selimut yang sudah tergeletak dilantai beserta beberapa bantal dan guling yang berserakan.
Mami Regina pun berdecak, "Ck ck ck.. anak gadis tidur kok modelnya gak karuan kayak begini."
"Sayang ayo bangun." seru Mami Regina seraya menggoyang goyangkan tubuh Jane.
"Sayaang bangun!" Suara Mami Regina agak meninggi dan ditepuk tepuknya pantat gadis itu
"Hmmh.. apa Mi? Jane masih ngantuk.." Jane menyahut dengan suara parau.
"Ayo bangun dan segera sarapan, hari ini kita tidak jadi pergi keluar sayang." tutur Mami Regina.
"Mmhh.. kenapa Mi?" jawab Jane masih memejamkan matanya.
"Hari ini Mami mau pergi menemani Papi menemui rekan bisnisnya diluar kota, kabarnya mendadak sayang. Maafin Mami ya, Minggu depan Mami janji kita bisa pergi jalan jalan." jelasnya.
"Hmmh.. gapapa kok Mi." sahut Jane, matanya masih terpejam.
"Lho, kok tumben kamu nggak ngambek sayang? Biasanya juga kalau Mami batalin janji, kamu ngambek."
"Gapapa.. Mami pergi aja."
"Wah, pasti ini karna udah punya pacar nih jadi cuek sama Mami." ledek Mami Regina seraya mengerucutkan bibirnya.
Jane memicingkan sebelah matanya, "Iihh Mami.. apaan sih Mii.. ya enggak lah.." ujar Jane manja.
Mami Regina terkekeh "Oiya, kamu semalem pulang jam berapa sayang?"
"Jam 11 Mi.. Maaf ya Mi, Jane pulangnya kemaleman. Sampe Mami sama Papi udah tidur, pasti nungguin aku ya?" ucapnya setelah ia beranjak duduk.
Mami Regina menepuk nepuk punggung tangan putrinya, "Gapapa sayang.. Kamu kan sekarang udah gede. Mami sama Papi gak akan ngelarang kamu untuk berpacaran selama itu masih dalam batas kewajaran. Kamu harus bisa menjaga diri sendiri." tutur Mami Regina menjelaskan.
Jane mengangguk, "Iya Mi, aku janji sama Mami bakalan bisa jaga diri. Xander laki laki yang baik kok Mi, percaya deh sama Jane."
Mami Regina pun mengangguk anggukan kepalanya tanda bahwa ia percaya dengan putrinya itu.
"Makasih Mamii.. love you Mom." Jane bersemangat memeluk Maminya dan pelukan itu disambut hangat oleh Mami Regina.
"Iya sayang sama sama, Mami seneng kalo kamu bahagia." sembari mengelus elus punggung putri cantiknya itu.
"Aduh udah kesiangan ini sayang, ayo cepet kita sarapan dulu." seru Mami Regina melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Siap bos kyu!" Jane berdiri tegap meletakkan satu tangannya dikepala seperti sedang memberi hormat.
Mami Regina tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang walaupun sudah dewasa namun kelakuannya masih seperti anak TK.
Mereka berdua pun turun untuk memulai sarapan bersama. Setelah itu Adnan dan Regina pun berpamitan kepada kedua anaknya untuk segera berangkat. Kalau urusannya nanti belum selesai maka mereka akan menginap satu malam. Mereka juga berpesan agar mereka berhati hati dan dirumah saja.
Setelah mengantar kedua orang tuanya didepan, Jane segera memasuki kamar untuk melanjutkan tidurnya. Sedangkan Jayden juga memilih untuk kembali ke kamarnya.
Jane mendudukkan diri ditepi ranjang seraya mengambil ponselnya yang saat itu tengah menyala. Ada panggilan dan pesan masuk dari Denise.
___
π© wooii masih molor pasti lo! π΄π€€ bangun banguunn...!!
π¨ enak aja!! π€ udah bangun gue! habis sarapan barusan
π©hehe.. kirain masih teler ππ
π¨ π , emang ada apaan sih
π© hari Minggu nihh, keluar yokk jalan
π¨ kemana? bonyok lagi gaada, gue disuruh dirumah aja
π© elaahh, ke mall Jane bentar doang kok
π¨ hmm.. gimana ya
π¨ hah? yang bener lo??? gue jg mau keless!!
π© tuh, tertarik kan lo. yaudah gue hubungin juga anak anak
π¨ π
___
"Gue mandi dulu ah," Jane hendak beranjak sebelum tiba tiba ponselnya menyala kembali.
'hah, Xander ' gumamnya.
π© Morning Beb β€οΈ
Jane mengembangkan senyumnya, sekarang ada gelenyar aneh didalam hatinya ketika menyangkut cowok yang telah menjadi pacarnya itu.
π¨ pagi juga π
π© udah bangun sayang
π¨ udah bisa bales berarti udah bangun π
π© π iya juga .. lagi ngapain sayang
π¨ lagi mo mandi nih
π© oohh.. nanti jalan yuk beb
π¨ gabisa, aku udah janjian sama temen temen
π© udah ada janji ya, mau kemana sayang
π¨ kepo deh
π© hehehe.. maap
π¨ mau jalan ke mall ada yang mau dibeli
π© ohh.. boleh ikut nggak
π¨ hah ngapain? kamu cowok sendiri dong nanti
π© emang adek kamu nggak ikut ?
Jane menepuk jidatnya, "Oh iya gue lupa, ngajak Jayden nggak yah?"
"Kalo dia tau gue mau pergi pasti dia bakal ikut." Ia berbicara sendiri.
__
π¨ gatau juga sih
π© gimana kalo aku ngajak temen temen aku juga sayang? biar makin akrab gitu, boleh?
"What? mau ngajak temen temennya juga? Aduh gimana ya, gak gue bolehin nggak enak. Gue iyain belom bilang ke anak anak!"
__
π¨ engg.. terserah deh
π© thanks beb π
__
"Iihh apaan sih dia."
__ADS_1
"Akhirnya gue jawab terserah, sama aja ngebolehin mereka dong! Ah bodo! Gue mau mandi dulu." Jane terus menggerutu sendiri sampai ia masuk kedalam kamar mandi.
**
Ia menyalakan air dari shower, perlahan air keluar dari sana mengalir dan membasahi ujung kepala hingga tubuh dan kakinya. Kemudian ia menuangkan shampoo dengan wangi peach pada rambut panjangnya. Setelah ia membilas rambutnya, ia lanjut menuangkan shower cream relaxing peach diatas spoon kemudian mengusapkan ke seluruh badannya. Peach memang menjadi pilihan favorit untuk sabun dan sampo nya karena wanginya yang segar bisa membuat tubuhnya bersemangat.
Setelah semuanya selesai, ia keluar dengan hanya memakai handuk putih yang membalut tubuhnya. Ia beranjak menuju lemari besar didepan tempat tidurnya berwarna putih dengan 6 buah pintu dan 4 kaca besar yang menghiasi lemari tersebut untuk memilih milih pakaian.
Sekarang ia menjadi binggung bila akan berpakaian, tidak seperti biasanya yang mana yang ia pegang maka itu yang dipakainya.
Setelah menemukan yang cocok ia tak segera memakainya, ia bergerak menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Setelah itu ia merebahkan dirinya diatas kasur sambil membalas chat teman temannya sembari menunggu jam hangout mereka, tak disangka ia malah ketiduran.
Jane berjingkat mendengar suara panggilan dari ponselnya, dilihatnya ada nama Denise di panggilan tersebut dengan segera ia mengangkat nya.
π halo?
π halo halo apaan sih lo! buruan turun, gue udah dibawah!
suara Denise sedikit berteriak, menyadarkan Jane bahwa ia telah ketiduran. Ia melirik jam dinding, 'Astaga udah jam 13.15'
"Gue kok bisa ketiduran sih?"
Dengan buru buru dia memakai baju yang telah dipilihnya tadi kemudian mengoleskan make up tipis dan memakai lip color . Tadinya ia ingin mengcurly rambutnya, namun apadaya jika ia tadi ketiduran. Jadi dia hanya mengikat cepol rambutnya itu, ia mengenakan dress casual diatas lutut berwarna pink dan memakai sneakers warna putih. Jika berlama lama maka teman temannya akan menggerutu!
Setelah selesai ia berlarian menuruni anak tangga, setelah sampai dibawah ia teringat belum memberi tahu Jayden bahwa ia akan mengajaknya. "Aduh! beg* banget sih, gue kan niatnya mau ngajak Jayden!" gerutunya.
Ia segera berbalik arah ingin mengajak adiknya itu namun tanpa sadar ia malah bertabrakan dengannya.
"Aduuhh!" teriak keduanya bersamaan.
"Apaan sih kak maen tabrak aja? gak liat apa ada orang." seru Jayden.
"O..eh.. hmm.. dek itu, kamu sekarang ikut kakak ya! Ayo!" pinta Jane seraya menggandeng tangan adiknya itu menuju pintu utama.
"Emang aku mau ikut kakak." jawabnya santai seolah sudah tau.
Jane menatap adiknya, "Hah, kamu udah tau?"
"Iya, tadi kak Denise yang minta aku ikut. Udah ah ayo cepet kak, mereka udah nungguin dari tadi tau!" ujar Jayden.
Sekarang ganti Jayden yang menarik tangan kakaknya yang sedang terlihat berpikir.
**
"Hadeehh, nungguin tuan putri kayak nungguin kambing bertelor!" seru Denise seraya mencebikkan bibirnya.
Jane tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Sori guys gue ketiduran."
"Tuh kan bener yang gue bilang!" ucap Denise kepada Lea dan Jovi.
"Emang dasar tuan putri karet lo!" timpal Lea.
"Kita nungguin dari tadi tau nggak!" Denise masih kesal.
"Iya iyaa.. sorii, ntar gue traktir makan deh kalian." ujar Jane merayu.
"Huh.. andalan lo banget yang kayak gitu mah! tapi gue minta ditraktir yang laen nanti gimana?" Kata Denise mengambil kesempatan.
"Iya iya, kalian mau apa aja pasti gue traktir deh."
"Holkay beneran lo!" sahut Denise.
"Sultan mah bebass!" timpal Lea.
"Kalo pada ngobrol ga jelas gini, kapan berangkat nya kak?" suara Jayden menghentikan obrolan ga jelas mereka.
"Bener juga yah, hehehe.."
"Kuy lah..."
"Kuy berangkat!"
Mereka berlima berangkat menuju mall menggunakan 2 buah mobil. Setelah sampai diparkiran mereka segera turun, mereka hendak berjalan untuk memasuki salah satu pintu masuk mall tersebut namun Jane menghentikan langkah teman temannya.
"Bentar guys," seru Jane sembari melihat sekeliling tempat parkir tersebut. Saat perjalanan tadi Jane sudah menghubungi Xander dan mengatakan mereka akan bertemu di parkiran saja .
"Ada apa Jane?" tanya Denise.
Jane tidak menjawab ia masih celingukan, ia tersenyum setelah melihat seseorang yang dia cari telah datang.
"Lo nyari siapa?" tanya Lea.
"Hehe.. tuh mereka udah dateng." ia menunjuk kearah 4 orang laki laki yang sedang berjalan menghampirinya.
"Mereka?" seketika semua teman temannya menoleh kearah yang ditunjuk Jane.
Teman teman Jane melongo, Jane yang melihat itu pun malah cengengesan.
"Gapapa kan gaes gue ajak mereka? lebih rame lebih seru kan?" ucap Jane.
"Gue males banget sih liat si songong itu!" ujar Denise seraya bersedekap, yang dimaksud dia adalah Felix.
"Duh Jane.. gue seneng banget tau gak sih!" Lea berseru sambil tersenyum dan kedua tangan yang memegangi dadanya.
"Gila.. ganteng banget mereka berempat!!" pekik Lea dengan suara tertahan .
Denise menoyor kepala Lea, "Biasa aja dong lo.. ah! Kampungan banget sih kayak gak pernah liat cowok ganteng aja!" sentak Denise.
"Yee.. elah.. gue mah sering kali liat cowok ganteng, tapi di dunia maya! Kalo yang nyata kek gini kan jarang Den." jawab Lea.
"Udah udah, kalian berdua tuh berisik banget sih!" ujar Jane menengahi .
Xander dan teman temannya pun telah berdiri didepan mereka.
"Hai sayang.." sapa Xander pada Jane dengan senyuman khasnya.
"H..hai!" Jane pun mulai gugup.
"Hai semuanya.. sorii ya gue ngikut kalian sama bawa temen temen gue, kalian nggak keberatan kan?" tanya Xander.
"Nggak kok! seneng malahan." ucap Lea.
"Gue keberatan sih!" celetuk Denise.
Semuanya memandang ke arah Denise,
"Kenapa?" tanya Xander.
"Gue jadi gak nyaman lah, sama orang asing. Masih nanya lagi?" ujar Denise seraya mengedarkan pandangannya.
"Elo juga ngapain ikut sih?! nggak cukup apa ketemu disekolah?!" Denise menunjuk Felix.
Jane yang tidak ingin sahabat nya itu berdebat, dengan segera ia merangkul pundak Denise lalu berjalan masuk mendahului mereka semua.
"Ayok masuk, ntar barang diskon yang lo pengen keburu abis!" serunya merayu Denise.
Mereka semua mengikuti Jane dan Denise dari belakang. Sambil berjalan mereka mengobrol masing masing.
"Udahlah Den jangan kebawa emosi terus, gue tau lo jadi sebel sama Felix gegara belain gue waktu itu. Tapi sekarang karna Xander udah jadi cowok gue, termasuk sahabat dia juga jadi temen gue. Jadi gak ada salahnya kan sahabat gue juga temenan sama temen gue?" tutur Jane.
"Dia tuh gayanya keliatan banget Jane sombong, mukanya tuh muka songong abis! terus nih ya dia itu playboy tingkat dewa. Semua cewek digombalin, tau deh cewe nya udah selusin kali. Eneg banget pokoknya gue!" seru Denise memonyong monyongkan bibirnya.
"Biarian aja lah, orang dia juga gak ngapa ngapain elo kan? Aneh deh lo! Apa jangan jangan, lo suka lagi sama dia?"
"Idiihh.. amit amit jabang bayi deh gue suka sama cowok kayak dia!" jawab Denise bergidik tidak terima.
"Haha.. ngegas dia, jangan benci benci sama orang lo ntar jatuh cinta sama dia tau rasa lo!"
"Cih, itu hal yang mustahil!" jawab Denise sewot.
__ADS_1
"Haha.. inget ya cinta ama benci itu beda tipis!" Jane gemas melihat sahabatnya itu yang juga dingin terhadap laki laki seperti dirinya, namun sekarang tidak lagi untuk dirinya. Karena mulai saat ini dia telah membuka lebar hatinya untuk mencintai seseorang.
**