
Di Kota A
Malam ini Jane tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa untuk Study Tour besok. Mulai dari pakaian, kamera, peralatan tulis, peralatan mandi secukupnya, dsb.
Tujuan Study Tour mereka kali ini sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Sekolah Jane akan mengadakan kunjungan ke Kota M yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Mereka akan mengadakan perjalanan 3 hari 2 malam, karena banyak tempat tempat yang akan mereka kunjungi disana.
"Baju udah.. celana udah.. daleman udah.. kamera.. power bank.. sunblock juga udah. bawa pouch make up juga pastinya. Sabun mandi, sikat gigi segala macem peralatan mandi memang lebih enak bawa sendiri." Jane masih tampak berpikir.
"Udah semua deh kayaknya."
"Ah iya.. alat alat tulis belum gue masukin. Haha.. hal yang penting malah ingetnya terakhir."
Jane terkekeh pelan.
tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk." seru Jane.
"Lagi ngapain kak?" suara Jayden menyahut bersamaan dengan kepalanya yang menyembul dari balik pintu.
"Lagi prepare buat besok nih." jawab Jane tanpa menoleh kearah Jayden.
"Ohh.." Jayden melangkahkan kaki untuk menghampiri kakaknya.
"Wuih.. tuh ransel gede amat! kakak mau tur atau mau pindahan?" seru Jayden seraya mendudukkan tubuhnya ditepi kasur.
Jane terkekeh, "Hehehe.. pindahan deh kayaknya."
"Yahh.. kalo pindahan gak bisa liat kakak lagi dong nanti?!" seru Jayden memasang wajah melas.
"Iyalah, rasain kamu kakak tinggal!" ucap Jane cuek.
"Nanti kakak kangen lho, gak bisa ketemu aku sama liat wajah gantengku.."
"Ihh.. pede banget sih anak bawang satu ini." ucap Jane seraya mencubit kedua pipi Jayden gemas.
"A.. a.. a.. sakit tau kak!" pekik Jayden.
"Hehehe.. dari dulu gumush banget sihh sama pipi tembem kamu ini!" Jane masih belum melepaskan cubitannya.
"Aaa.. mana yang tembem, aku ini udah gede ya!"
"Udah gede apanya? Kalo cowok udah gede itu pasti udah punya cewek."
"Aku gak tertarik sama cewek kak, semua cewek tuh manja! Udah dong lepasin kak, pipi aku sakit nih." pinta Jayden.
"Huh, nggak semuanya kok. Contohnya Denise, dia itu mandiri dan strong lho! " ujar Jane, ia menarik tangannya dari pipi Jayden.
"Hmm.. iya, kak Denise pengecualian deh. Contoh cewek manja tuh kayak kakak kan?" ejek Jayden.
"Iihh nggak lah, aku kan manja nya cuma sama Mami, Papi sama kamu doang!" elak Jane tidak terima dengan perkataan adiknya.
"Masa sih cuma sama keluarga aja?" Jayden mulai menggoda kakaknya.
"Iyalah.. mau sama siapa lagi?"
"Sama kak Xander..."
Seketika rona merah menghiasi wajah Jane.
"Tuh kan malu kakak.."
"Apaan sih?!"
"Gimana sih manja manjaan kalian, jadi penasaran?" alis Jayden naik turun.
"Udah ah jangan bahas ini, kan jadi malu kakak! Sana sana balik ke kamar kamu."
"Kasih tau dong kak?" Jayden masih terus menggoda kakaknya.
"Sanaaa..." Jane mendorong dorong tubuh adiknya.
Jayden tak mengindahkan kakaknya, "Kalian pernah ciuman ya...?"
"Hush! Anak kecil gaboleh tau!"
"Yaudah kalo gitu aku tanya kak Xander aja." Jayden terkekeh seraya beranjak berdiri.
"Tanya aja , orang gak pernah kok." seru Jane.
Saat itu juga ponsel Jane yang berada diatas meja riasnya berdering. Jayden yang telah berdiri didekat sana pun mengambil ponsel itu, kemudian ia melihat nama yang tertera pada layar benda pipih tersebut.
Seketika ia menyunggingkan senyuman meledek untuk kakaknya.
"Ngapain sih senyum senyum, sini hape kakak." pinta Jane.
"Pucuk dicinta kekasihku pun tiba."
Jane yang telah paham maksud adiknya pun segera berdiri dan merampas ponsel tersebut.
"Aduh.. apa sih? siniin hape kakak."
Jayden tertawa meledek dan malah meninggikan ponsel itu.
"Ambil kak."
"Dek , jangan main main deh."
"Siapa yang main sih kak? nih kalo mau ambil." Jayden tak berhenti.
"Ayo dong dek siniin! Nanti dia nunggu lama!"
"Biarin aja dong kak sekali sekali.."
"Kamu tuh ya lama lama nyebelin!" Jane mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha.. setakut itu ya rupanya kalo cowoknya marah?"
"Bodo! udah sana ambil aja!" Jane cemberut.
"Hahaha.. iya iya kakakku tersayang... gausah ngambek gitu lah..." Jayden memberikan ponsel tersebut kepada kakaknya, namun ia tak segera beranjak pergi.
Jane menyahut ponselnya dengan kesal, ia melirik kearah Jayden yang masih berdiri disitu.
"Nunggu apa lagi? Mau jadi nyamuk disini?" ujar Jane sewot.
Jayden terkekeh, "Kan mau dengerin kakak pacaran.. masa gaboleh?"
"Huh! Gaboleh, udah sanaa..." Jane melempar boneka kearah Jayden.
"Haduh.. mulai deh galaknya kalo mau sayang sayangan." Jayden berlari kecil keluar dari kamar kakaknya.
"NYEBELIN!!" teriak Jane seraya melemparkan bantal kearah Jayden namun tidak kena.
Jane hendak mengangkat panggilan Xander namun panggilan tersebut segera berakhir.
"Tuh kan! Gara gara Jayden nih pake drama segala!" Jane menggerutu sendiri, ia menunggu panggilan Xander selanjutnya. Namun kekasihnya itu tidak juga menelepon lagi.
"Uuhh.. kok dia nggak nelpon lagi sih?!" Jane mulai kesal.
"Masa gue yang nelpon duluan sih?"
Jane menjadi gugup, karena selama ini dia tidak pernah menghubungi Xander lebih dulu
meskipun ia merindukan nya. Alasannya karena dia malu. Tapi sekarang..
"Gue itung sampe tiga kalo nggak nelpon lagi, gue bakalan telpon lo!" ujarnya yakin.
satu..
dua..
ti..
"Huh, beneran nggak nelpon!"
"Masa sih gue harus telpon dia?"
__ADS_1
"Bomat lah!"
Jane melemparkan ponsel itu diatas kasur kemudian ia merebahkan diri disamping ponselnya.
Ia berguling guling resah dan sekarang ia tengkurap. Ia menatap benda berlayar bening itu.
"Tapi gue kangeen!" Ia mengacak acak rambutnya.
"Ahh bodo sama gengsi! Gue telpon sekarang!"
Ia menekan simbol telepon pada nomor Xander dan segera tersambung.
tuut.. tuut.. tuut..
"Gila, gue kok bisa gugup banget sih?!"
📞 Iya sayang ada apa? tumben kamu nelpon duluan?
'Ihh.. kok ada apa sih, dan bukannya tadi dia ya yang nelpon duluan!' batin Jane.
📞 Kamu hilang ingatan ya? bukannya kamu tadi yang nelpon duluan?
📞 Hehe.. bener juga sih. Ehm.. itu..
📞 Apa?
📞 Aku kangen banget sama kamu sayang
Gluk..
Jane menelan salivanya, hati Jane dibuat meleleh seketika oleh cowok itu. Jantungnya berdebar debar tak karuan, ia gugup. Selalu seperti itu saat mendengar perkataan manis dari orang yang telah ia cintai.
Suaranya terdengar begitu lembut ditelinga Jane. Sungguh ia akui, dia telah benar benar jatuh cinta padanya ia merasa begitu nyaman dengan Xander.
'Kenapa selalu lama sih jawabnya?' batin Xander diseberang sana.
📞 Halo sayang...
📞 Eh.. iya.. apa?
📞 Kamu kenapa sayang? Kenapa nggak jawab?
Jane masih sangat gugup.
📞 Kamu nggak kangen ya sama aku?
📞 Kamu ngomong apa sih? Aku juga kangen banget sama kamu tau nggak..
📞 Trus kenapa jawabnya lama sih sayang kalo aku bilang kangen?
📞 Eung.. sebenernya aku tuh selalu gugup tiap denger kamu bilang kata kata yang manis kayak gitu.
📞 Masa sih sayang?
Jane mengangguk,
📞 Iya.. aku jujur nih.. apalagi tiap dideket kamu , jantung aku rasanya mau copot
Xander tertawa .
📞 Hahaha... masa sampe segitunya sih sayang ?
📞 Iya.. emang kamu enggak?
📞 Hmm.. iya apa enggak ya?
📞 Tuh kan nyebelin! aku ngomong kayak tadi tuh udah nanggung malu tau!
📞 Hahaha.. masa gitu aja malu sayang? Tapi aku suka kamu yang malu malu gitu, jadi tambah imut.. akunya jadi tambah cinta..
📞 Gombal.. gombal.. gombal..!
📞 Aku nggak gombal sayaang, beneran l. Gausah malu kalo sama aku sayang, akuin aja semua perasaan kamu ke aku. Jadinya kamu gak akan terlalu gugup dideket aku, kamu bisa lebih santai kayak biasanya
📞Eung.. iya iya.. sayang, kamu lagi apa?
📞 Aku lagi telponan sama pacar aku
📞 Hehehe.. aku lagi rebahan sayangku.. kamu sendiri?
📞 Sama..
📞 Oh ya, kamu udah prepare?
📞 Udah siap semuanya
📞 Ohh.. bagus deh, nggak sabar banget buat besok. Besok sama sama aku terus ya sayang..
📞 Iya..
Mereka pun melanjutkan obrolan nya hingga tengah malam. Sesudah mengakhiri panggilan tersebut Jane pun bergegas untuk tidur, karena hari esok akan sangat melelahkan.
***
Hari ini para siswa dan siswi kelas XI SMA 'Bright Iternasional School' akan mengadakan Study Tour menuju Kota M. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang sangat dinanti-nanti anak anak sekolahan. Tujuan dari study tour itu sendiri adalah untuk berwisata edukasi, sehingga tak hanya berwisata, tetapi para siswa juga mendapatkan pengetahuan dari tempat wisata yang dikunjungi.
Kunjungan sekolah mereka tahun ini antara lain wisata ke Desa Sei di Gunung K untuk mengikuti kebudayaan setempat, Pura LU , Hutan Mangrove dan Danau B.
__
Jane dan adiknya telah tiba disekolah nampak juga para sahabat Jane, mereka semua saling bertegur sapa.
"Hai genks!" sapa Jane pada sahabatnya.
"Hai cantik.." balas Lea.
"Wuiihh.. cantik banget putri karet hari ini?" Ujar Denise seraya mendekat kearah Jane, ia mengendus aroma tubuh Jane.
"Woahh.. wangi banget lagi, abis berendem lo?" imbuhnya.
"Tau aja lo." jawab Jane.
Lea dan Jovi pun ikutan menghirup udara disekitar Jane.
"Biar apa neng?" tanya Denise lagi.
"Gaya banget lo sekarang, mentang mentang udah laku!" ejek Lea.
"Wait.. wait.. lo bilang gue udah laku, nggak salah apa?" ralat Jane tak terima dengan perkataan Lea.
"Kalo gue pengen pacaran, dari orok juga pasti banyak yang ngantri keles!" sambungnya.
"Cih, dari orok!" Jovi terkekeh kecil.
"Iye.. iye.. elo kan tuan putri, ngomong seenak pantat lo juga bebas!" ejek Denise.
"Ho - oh! " Imbuh Lea.
"Ho oh.. ho oh.. pala lo! Elo kan tadi yang ngatain gue!" seru Jane.
Lea menggaruk kepalanya tidak jelas.
Mereka berempat lanjut ngobrol hingga gerombolan cogan datang menghampiri mereka.
"Hai.. sayang.." sapa salah satu cogan pada Jane .
Jane dan sahabatnya pun menoleh kearah asal suara, mereka berempat seketika sungguh terkejut dan terpesona akan ketampanan empat makhluk didepan mereka saat ini.
Padahal mereka hanya berpakaian casual.
Xander memakai atasan kaos oblong berwarna putih dipadukan dengan jaket hoodie warna hitam serta celana jeans dan sneakers senada dengan warna jaket.
Felix memakai kaos katun polos warna dark green dipadukan dengan jaket denim dan celana jeans sobek serta sneakers berwarna putih. Felix sungguh terlihat seperti badboy sejati!
Kenzo memakai sweater hoodie hitam putih dipadukan dengan celana pensil dan converse berwarna navy.
Sedangkan Eloy memakai kaos oblong berwarna putih dipadukan kemeja lengan pendek dengan kancing yang tidak dikaitkan juga celana pendek chino berwarna krem dan sneakers berwarna grey.
Perfect..!
Mereka adalah Prince Charming dilingkungan sekolah, tidak heran banyak siswi siswi yang mengidolakan mereka. Dan Jane baru menyadari dia adalah salah satu gadis yang beruntung bisa memiliki salah satu dari mereka.
__ADS_1
Jane dan sahabatnya pun masih melongo sebelum salah satu dari mereka menjentikkan jarinya didepan muka gadis gadis itu.
"Woii.. gue tau kalian terkagum kagum sama pesona kita.. tapi jangan gitu juga kali sampe keluar tuh air liur kalian." ujar Felix sembari tertawa mengejek.
Denise melirik sinis kearah Felix. "Masak aer biar mateng , jadi orang jangan sok ganteng!" sahutnya.
"Bukan sok ya, memang gue ganteng!" balas Felix .
"Pe-de lo udah stadium akhir deh kayaknya!" sahut Denise tidak mau kalah jika berdebat dengan Felix.
"Orang ganteng mesti pede lah.." ucap Felix,
Denise mencebikkan bibirnya.
"Hadeeh.. mulai deh Tom and Jerry!" ujar Lea .
"Lagian ya, elo tuh harusnya bersyukur udah liat ketampanan maximal gue secara GRATIS!" imbuh Felix.
"Ngomong apasih lo? Muka lo tuh muka pasar.. dimana mana ada! ngapain juga bersyukur?!" timpal Denise.
"Emang muka lo sebagus apa berani ngehina muka gue, hah?" seru Felix lagi.
Denise menatap wajah Felix lekat lekat, tatapan mata mereka saling beradu.
"Nih lo liat baik baik muka gue , dan lo bisa nilai sendiri muka gue ini. Muka bidadari yang bisa bikin cowok klepek klepek ! Liat! Mata lo masih utuh kan?!" seru Denise.
Felix tidak menjawab, sejenak memang ia terpikat kala menikmati pemandangan wajah cantik didepan matanya. Dalam hatinya juga ia mengakui bahwa yang sedang berdiri dihadapannya memiliki wajah bak seorang bidadari, bidadari yang galak!
Denise yang melihat Felix hanya diam saja sembari terus menatap lekat kearahnya pun menjadi malu, akhirnya ia pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Blingsatan kan mata lo." ujar Lea pada Denise.
Felix segera tersadar akan lamunannya. Ia pun ikut membuang muka.
Teman temannya pun mentertawakan kelakuan mereka berdua.
"Gue sumpahin kalian berdua saling suka." ucap Jane.
"Gue sumpahin juga kalian berdua bakal jadian!" sambung Xander.
"Gue juga sumpahin si Felix sama Denise jadi bucin!" Lea ikut menyahuti sambil bertepuk tangan pelan.
"Gue sumpahin... sumpahin apaan ya?" Eloy ikut ikutan.
"Nggak bakal!!" seru Denise.
"Nggak mungkin!!" Seru Felix yang hampir bersamaan dengan Denise, lalu mereka bersitatap sejenak.
"Apa apaan sih kalian kok jadi main sumpah sumpahan?" ujar Kenzo sambil menggelengkan kepalanya.
"Udahlah.. jadian aja gih daripada berantem kan gak enak dilihat." celetuk Jane tanpa menatap kearah korban ejekannya.
"Kalo sampe gue jadian sama dia berarti udah nggak waras gue!" perkataan Denise membuat teman temannya menertawai nya, namun tidak dengan Felix dia tampak kesal.
"Wah.. jangan gitu Den.. ati ati sama omongan lo." ujar Lea.
"Biarin.. biarin.. ntar juga bakal kemakan omongannya sendiri tuh anak." Jane dan Lea cekikikan.
"Nggak usah ngarep lo! Elo bukan selera gue!" ucap Felix ketus namun ia masih memandang Denise.
"Haha.. iyalah cewek cantik jelas bukan selera lo! Gue paham selera elo tuh cewek pendek item dekil udik kribo mata sipit aduh amit amit__" belum Denise menyelesaikan kalimatnya tiba tiba pergelangan tangannya ditarik paksa oleh Felix.
"Aduh! Eh.. apa apaan sih lo?! lepasin nggak?!" Denise berteriak karena terkejut.
"Nggak!" Felix terus menarik tangan Denise.
"Woii.. mau lo bawa kemana temen gue?!" teriak Lea.
"Hoe.. sikat abis bro.. jangan kasih kendor!" teriak Eloy.
"Heh raja kodok, gercep juga ya lo!" teriak Kenzo.
"Sayang, apa nggak papa tuh mereka? Felix nggak bakal macem macem kan?" tanya Jane.
Xander tertawa kecil, "Hehe.. tenang aja sayang.. temen kamu nggak bakal diapa apain kok sama si Felix." ujarnya.
"Beneran nih?" Jane masih ragu.
"Iyaa sayang, nggak usah kuatir gitu.. lagian ini kan disekolah." jawab Xander meyakinkan kekasihnya itu.
"Iya deh aku percaya, tapi kalo sampe temen kamu macem macem. Bakal aku cukur kepalanya sampe botak terus aku cemplungin ke kolam buaya!" Jane bersungut sungut.
"Hahaha.. emang kamu punya kolam buaya?"
"Ya enggak, aku seret dia ke kebun binatang nanti!"
"Hahaha.. kok diseret sih? kejem amat sayang."
"Jangan ketawa kamu, aku serius nih! Temen kamu kan playboy."
"Playboy cap buaya air asin!" celetuk Lea yang masih memandang sahabatnya yang sudah menjauh.
"Hahaha.. imut banget sih pacar aku ini.." Xander mencubit kedua pipi Jane gemas .
"Aaa..aa... sakit tau!" ucap Jane dengan memasang muka imut dan tanpa sadar suaranya jadi manja.
Xander beralih menatap kearah lain
"Aduuhh.. nggak kuat a*jirr!" ujar Xander seraya mendorong tubuh Kenzo.
"Apaan sih lo?" Kenzo kaget .
Xander terkekeh, sedangkan Kenzo yang melihatnya bergidik geli akan raut wajah temannya yang biasanya cool itu.
"Hii.. Kayak Hello Kitty aja lo! Udah adep sono! Imbuhnya seraya memutar tubuh Xander untuk kembali menatap Jane.
Xander berbalik arah lagi, "Gamau.. gak kuat gue pengen meluk dia."
"Yaudah peluk sono!" seru Kenzo.
"Takut nggak dibolehin." jawab Xander.
"A*ying, lo pikir gue emaknya dia?!"
"Kamu ngapain sih sayang?" tanya Jane.
Xander tersenyum menghadap kekasihnya itu. "Aku cuma gak kuat aja liat muka kamu yang imut itu pengen peluk." ujarnya tanpa malu.
Jane tersipu dibuatnya, "Gaboleh.. ini masih di sekolah!"
"Wah.. kode itu bro.. kode..!" sahut Kenzo.
" Ehmm.. berarti kalo diluar sekolah boleh dong sayang?" goda Xander.
"Enggak!" Jawab Jane seraya berlalu meninggalkan Xander dan teman temannya, karena dia sangat gugup. Lea dan Jovi mengekor dibelakangnya. Mereka menuju ke kerumunan murid murid lainnya.
Xander tertawa, "Mau kemana sih sayang?" pertanyaannya tidak mendapat jawaban karena yang ia tanyai tidak menggubrisnya.
"Parah lo, sayang sayangan didepan umum!" ucap Kenzo.
"Eh, gue berani taruhan si Felix mau nyium Denise." ujar Eloy.
"Ayo, menurut gue nggak bakal." ucap Kenzo.
"Yaudah.. elo Xan?" tanya Eloy.
" Emm.. nggak bakal." jawab Xander tak mengalihkan pandangannya dari Jane.
"A*jay!! Ok fix kita taruhan , yang kalah boleh minta apa aja nanti!" seru Eloy semangat, yakin bahwa Felix akan mencium Denise karena dia tahu Felix adalah penakhluk wanita.
"Oke.. siapa takut?!" jawab Xander.
"Wah.. wah.. seru nih, kayaknya bokapnya Eloy bakalan bangkrut sebentar lagi!" seru Kenzo sambil tertawa.
"Jangan ngarep banyak kalian!" sahut Eloy.
__
Sementara Felix yang tadi menarik Denise terlihat berjalan terus menuju belakang gedung sekolah. Ia menghempaskan tubuh Denise ke tembok, kemudian ia menghimpit Denise dengan kedua lengannya. Wajah mereka saling berdekatan hingga Denise bisa merasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung laki laki yang ada didepannya saat ini.
"Ma..mau ngapain lo?!"
__ADS_1