Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 12


__ADS_3

"Tuh.. tuh.. pojokan! Eh, ada Galuh, Nanda sama Daffa juga. Tapi mereka.." ucapannya terhenti, seketika dia melihat ke arah Sara yang sudah menemukan keberadaan Elang. Dan seketika matanya membulat tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Sara mematung, tubuhnya seketika kaku, aliran darahnya pun terasa ikut berhenti mengalir.


Melisa yang melihat Sara dengan wajah mendadak pucat, ia pun ikut menoleh ke arah yang sedang dilihat oleh sahabatnya itu.


Melisa membelalakkan matanya karena terkejut, dengan segera ia merengkuh tubuh Sara kedalam pelukannya, ia membenamkan kepala Sara di dadanya.


"Jangan dilihat Ra!" perintah Melisa.


Tiba tiba bahu Sara terguncang, ia menangis di dalam pelukan sahabatnya tersebut.


"Menangislah sepuas lo Ra, keluarin semua kekesalan yang lo rasain. Pukul gue kalo perlu." Melisa mencoba menenangkan Sara.


"Emang brengsek ya, bajing*n sialan!" ucap Salva penuh emosi.


"Gue harus kasih dia pelajaran!" sambungnya.


Ketika Salva hendak berdiri, Melisa langsung menarik tangannya.


"Mau kemana lo?" tanya Melisa.


"Gue mau samperin si Elang! Keterlaluan banget sih dia udah buat Sara nangis!" Jawab Salva masih berapi api hendak melanjutkan langkahnya, namun lagi lagi Melisa menahannya.


"Eit.. eit.. tunggu, dasar ceroboh lo."


Salva mengernyitkan dahinya.


"Lo mau bertindak sebelum berpikir? Jangan cari gara gara ya!"


"Maksud lo? Gue harus diem aja ngelihat sahabat kita terluka?" Salva masih ngotot.


"Dengerin gue dulu, atas dasar apa lo nyalahin mereka?" tanya Melisa.


"Atas dasar dia ngelukain sahabat kita lah! Masih nanya lo?" jawab Salva.


"Emang sahabat kita siapanya dia?" lanjut Melisa.


"Sahabat kita... eung?" Salva menggaruk kepalanya, batal emosi.


"Duduk lo!" sentak Melisa.


"Apa?"


"Gue bilang duduk!!" Melisa mengeraskan suaranya.


"Hufftt.."


Salva pun menyerah dan memilih duduk, ia tidak memandang kearah Melisa. Fokus matanya masih tertuju kearah Elang yang tengah duduk di sebuah sofa hitam sedang bercumbu dengan seorang gadis berambut panjang dipangkuannya. Sepertinya cumbuan tersebut berlangsung lumayan lama dan membuat Salva semakin emosi saja.


Salva menggebrak meja dengan sebelah tangannya, "Dasar bedebah! Ternyata kelakuannya nggak sebagus rupanya! Bej*t! Bener bener menjijikkan! Nyesel gue pernah muji muji tuh cowok laknat!" seru Salva, pandangannya masih fokus ditempat Elang berada.


"Itu urusan dia, kita nggak ada hak buat ngelarang dia. Kita bukan siapa - siapanya Va." tutur Melisa.


"Gue nggak ngelarang dia kok, gue cuma menilai aja!" ucapnya sewot.


"Sebelum menilai orang , mending kita ngaca dulu sama diri sendiri. Udah lebih baik nggak kita dari orang itu?" jelas Melisa yang membuat Salva jengah.


"Elo tuh ya! Sekarang liat noh si Sara, lagi terluka. Sakit banget pasti hatinya! Kita sebagai sahabat masa diem aja, elo juga malah ngajak debat gue. Gimana sih lo?" gerutu Salva.


"Terus elo maunya apa? Ngelabrak mereka?"


tanya Melisa.


"Harusnya sih iya kalo elo nggak nyegah gue tadi!"


"Gini ya gue jelasin. Pertama, Sara bukan siapa siapanya Elang dan dia pun juga gak tau kalo Sara suka sama dia. Yang kedua, bukan salah dia ngelakuin itu disini salahnya karena kita yang ada disini dan ngelihat dia. Lucu aja kalo tiba tiba elo ngelabrak mereka, bukannya hanya nyari masalah?" tutur Melisa membuat Salva tidak bisa berkata apa - apa.


"Ngerti? Berpikir sebelum bertindak dalam segala hal supaya nggak nyesel nantinya."


Salva mencebikkan bibirnya, namun sebenarnya dia sudah paham.


Dia mengalihkan pandangannya, melihat Sara yang sedang menangis masih bergelut dengan hati dan perasaannya yang kalut.


"Ra, yang sabar ya?" ujar Salva.


"Saran gue nih ya, lebih baik lo lupain perasaan lo buat dia." timpal Melisa.


"Jangan terus terusan berharap sesuatu yang nggak mungkin bisa kita dapetin Ra." imbuhnya.


Sara terdiam, sebenarnya dia tidak mendengarkan berbagai celotehan para sahabatnya itu. Hatinya sedang terluka, selama ini dia belum juga kesampaian dekat dan mengobrol dengan Elang. Malahan sekarang dia harus melihat pemandangan yang menyesakkan. Selain itu suara dentuman musik yang sangat keras membuat kepalanya terasa mau pecah.


'Apa gue nekat aja ya deketin dia? Kenapa mau maunya aja dia berciuman dengan wanita murahan kayak gitu?! Bukankah itu berarti dia juga mau dengan semua model cewek?" batinnya.


"Kita berdua sayang banget sama lo Ra, kita nggak pengen lo tersakiti gara gara cowok " ujar Melisa lagi.


'Apa yang harus gue lakuin sekarang? Mikir.. mikir..'


"Woii.. lo dengerin kita ngomong nggak sih?!" teriak Melisa tepat didepan wajah Sara.


Sara berjingkat, "Eh.. apa?"


"Apa.. apa.. Jadi dari tadi lo nggak dengerin kita ngomong?" tanya Melisa.


"Gue dengerin kok Mel.." jelasnya, kemudian ia mengambil gelas berisikan wine yang telah ia cicipi sedikit tadi lekas meminumnya cepat seperti minum air.


Ditahannya rasa asam, sepet, pahit dan manis yang bercampur jadi satu didalam mulutnya sebelum dengan susah payah melesat ke tenggorokannya.


'Uuh nggak enak banget sih rasanya**!'


"Uuww hebat lo Ra!" Salva bertepuk tangan melihat Sara meminum wine tersebut dengan sekali tegukan.


Plek!


Salva menoleh karena ada yang menepuk pundaknya.


"Kak Lintang? Ada apa kak?" tanyanya.


"Bisa ngobrol bentar nggak?" pinta pemuda itu.


Salva lupa, sebenernya niatnya kesini kan juga karena pengen ketemu teman kakaknya itu.


"E..eh iya kak bisa.. bisa." seru Salva.


"Gaes, gue tinggal bentar ya?" sambungnya.


Melisa sebenernya ingin mencegah Salva, tapi Salva kelihatan buru buru.


Sara tidak peduli, karena pikirannya yang telah berkecamuk tidak karuan membuat ia juga tidak mempedulikan resiko akhir dari perbuatannya. Diambilnya lagi botol wine yang tergeletak didepannya, dan dengan segera ia menuangkan isinya kedalam gelas kosong miliknya tadi.


gluk gluk gluk gluk.. brak**!!

__ADS_1


Diambilnya lagi botol tersebut, dituangnya lagi. Namun ketika hendak meminumnya, gelas yang ia pegang telah berhasil direbut oleh Melisa.


"Stop Ra! Lo pengen mati?" teriak Melisa.


Sara menoleh, memandang sahabatnya tersebut. "Balikin gelas gue Mel.." ujarnya, namun tak mengindahkan Sara.


Melisa berdiri, "Enggak akan! Udah cukup Ra, kita pulang sekarang!" perintahnya.


"Balikin nggak!" Sara setengah berteriak ikut berdiri.


"Enggak Ra!"


" Sini in Mel ! " pekik Sara seraya merampas gelas yang tengah dipegang Melisa. Sedangkan Melisa juga tak mau kalah, hingga gelas tersebut terombang ambing ke kanan dan ke kiri.


Pyuurrr...


Minuman tersebut tumpah mengenai dada Melisa sehingga bajunya menjadi basah.


"Duuhh, jadi tumpah kan?! Basah deh baju gue." ujar Melisa.


Sara hanya diam, ia terduduk kembali.


"Tunggu bentar Ra, gue mau ke toilet. Lo jangan kemana mana!"


Sara tidak menggubris. Ia melirik kearah sahabatnya itu, setelah Melisa tidak terlihat dari hadapannya Sara pun kembali menuang minuman tadi dan meminumnya hingga botol tersebut hampir habis.


'Aarrgghh..' erangnya dalam hati sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kepala gue pusing banget."


Pandangan matanya menjadi buram, ia melihat sekeliling. Ia menemukan sosok yang membuatnya seperti ini. Terbesit tekad dibenaknya untuk menghampirinya.


Tanpa pikir lagi, Sara segera berjalan menghampiri Elang. Dengan langkah sedikit sempoyongan akhirnya ia sampai juga didepan meja Elang.


Tanpa Sara sadari, dari tadi ada sepasang mata asing yang selalu mengawasi dirinya.


Elang dan teman temannya pun sedikit terkejut melihat Sara. Terkejut karena mengetahui Sara adalah teman sekelas mereka dan kenapa dia bisa masuk ke tempat yang tidak memperbolehkan seseorang dibawah umur berada disini. Ternyata mereka semua tidak menyadari keberadaan Sara dan sahabatnya sedari tadi.


"Lho, elo Sara kan?" tanya Daffa.


Sara menoleh sebentar seraya mengangguk kemudian kembali mengarahkan pandangannya kepada Elang.


Tangannya mengepal, mulutnya gemetar menahan gertakan giginya yang semakin menjadi. Pemandangan didepan matanya semakin terlihat jelas. Elang tak menghiraukan Sara yang berdiri dihadapannya, ia nampak masih sibuk dengan mangsanya.


'Sesak banget dada gue**!'


Tidak terasa tiba tiba matanya telah tergenangi oleh cairan bening yang hendak menetes ketika ia berkedip sekali saja.


Kepalanya pun terasa sangat berat.


"Elo kok bisa ada disini sih? Sama siapa?" pertanyaan Daffa kembali terlontar.


"Sama gue.." seseorang menyeletuk menjawab pertanyaan Daffa.


Daffa menoleh keasal suara yang tiba tiba menyeletuk itu. "Ohh sama elo.." ujar Daffa curiga, kenapa Sara bisa bareng cowok brengs*k itu disana?


Seseorang tersebut tiba - tiba melingkarkan tangannya di pinggang Sara dan segera membawa Sara pergi dari situ.


Sara masih tercengang, tidak sadar ada yang menuntunnya hingga beberapa langkah ia segera menoleh kearah orang tersebut.


Wajah orang yang tidak ia kenali.


"Lepasin gue!" Sara menepis tangan lelaki yang melingkari pinggangnya, ia terhuyung beberapa langkah kebelakang. Dengan sigap lelaki tersebut memegangi tangan Sara, ditepis nya lagi tangan lelaki itu. Matanya masih terlihat sayu, "Siapa lo?" tanyanya. Air matanya yang tadi tertahan dihadapan Elang sekarang pun tak dapat terbendung.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Sara setengah teler.


"Ke parkiran, temen lo udah nunggu disana. Elo sih di ajak pulang dari tadi susah banget." ujar laki laki itu.


Sara pun terdiam, ia percaya dengan laki laki tak dikenalnya itu. Sedangkan dia juga sudah mabuk minuman.


"Yaudah ayo." pemuda tersebut terus menuntun Sara yang tengah mabuk hingga ke tempat parkir.


Setelah sampai diparkiran, pemuda tersebut lantas memapah Sara menuju mobilnya. Kemudian pemuda itu masuk dan duduk dibelakang kemudi bersiap menjalankan mobilnya.


Sara yang belum sepenuhnya teler kemudian bertanya, "Mana Salva sama Melisa?"


Tanpa berkata - kata lagi dibekapnya mulut Sara dengan kain putih hingga Sara pingsan.


Pemuda itu tersenyum miring, kemudian bergegas pergi meninggalkan club malam tersebut.


**


Daffa yang melihat Sara dengan lelaki itu sedikit curiga.


"Eh, lo semua ngerasa aneh nggak? Si Rey kenal sama Sara?" tanyanya kepada genk nya.


Tidak ada jawaban dari mereka, hanya lirikan sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya kembali. Nanda dengan ponselnya, Galuh dengan minumannya sedangkan Elang jangan ditanya.


"Anj*r! Gue ngomong sama kalian coeg! malah dikacangin." Daffa bergegas pergi.


"Heh, mau kemana lo?" tanya Galuh.


"Nyusulin Sara!" jawabnya berteriak dari jauh.


Elang yang mendengarnya pun menyudahi kegiatannya, ia melirik kearah Galuh yang tengah melihatnya.


"Mau ngapain tuh bocah?" tanyanya.


Galuh mengedikkan bahunya, "Nyari kegiatan kali."


Elang beranjak berdiri dan bergegas menyusul Daffa.


Galuh yang paham akan hal itu dengan segera menarik lengan Nanda untuk mengikutinya.


"Wet.. wet.. wet.. ngapain sih lo narik narik?"


"Bentar dong.. tanggung nih..!"


Galuh tetap menggeret Nanda, tapi tak membuat Nanda mengalihkan pandangan akan ponselnya.


"Ya.. ya.. yahh.. ahh.. aahhh... noob!! Anj*r!!"


-You has been slained -


"Anj*rrr!! Gara gara lo nih! ah elaah!" seru Nanda berdecak kesal.


"Mau kemana sih? Gak bisa liat sikon banget lo?!"


Galuh tak bergeming tetap menarik lengan Nanda dan semakin mempercepat langkahnya.


"Haish.. lepasin tangan gue napa?" seru Nanda yang tetap tak digubris oleh Galuh.

__ADS_1


"Etdah.. kampret lo emang!"


Mereka bertiga menuju ke parkiran, dilihatnya mobil Daffa sudah berbelok keluar.


"Pake mobil gue aja!" ucap Elang.


dengan segera mereka memasuki mobil dan mengikuti Daffa.


"Dasar beg*!! Ngapain sih dia ngikutin tuh cewek?" gerutu Elang setelah ia mulai mengemudikan mobilnya.


"Ya jelas lah ngikutin, dia kan suka sama tuh cewek." jawab Galuh santai .


Sebenarnya dia sudah tahu.


Nanda mengernyitkan dahinya bingung.


Ia fokus mendengarkan.


"Tetep aja beg*! Udah tau cewek itu lagi sama si b*jingan tengik itu, malah ngikutin sendirian. Apa nggak cari mati tuh anak?" Jelas Elang lagi.


"Dia nggak bakalan mati lah, orang ada elo dibelakangnya." sahut Galuh.


"Ya kalo gue mau nolongin tuh monyet."


"Buktinya lo mau nolongin kan?" Galuh tersenyum mengejek.


Elang tersenyum kecut, pandangannya terfokus pada mobil sport berwarna biru di depannya.


"Kalian pada ngomongin apaan sih? Kita mau kemana juga?" tanya Nanda setelah sekian lama, ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.


???


**


Disisi Salva,


Lintang tadi sudah ingin membawa pergi Salva, karena sepertinya Salva sudah masuk kedalam rencananya. Namun yang ia inginkan tidak terwujud tatkala Salva mendorongnya dengan kencang. Padahal dia dan Salva tadi sudah tanggung, mereka sedang berciuman dilorong dekat toilet pria.


(toilet wanita dan pria berbeda arah).


Ia tidak mengira bahwa Salva tidak luluh dengan ciumannya itu.


"Jangan gini kak.. aku belum siap." ujarnya dengan buru buru Salva pergi meninggalkan Lintang.


Lintang yang tengah geram mengepalkan tangannya kemudian meninjukannya ke tembok dengan keras.


"Aaarrrggghh!"


"Sialan!" umpatnya.


"Kalo bukan karena elo adeknya si b*jingan itu , gue gak bakalan sudi ciuman sama anak ingusan!!"


Sebenarnya ia ingin memberi pelajaran kepada teman kampusnya, yaitu Alvaro (Kakak Salva). Dia juga bukan ingin berteman dengan Alvaro, melainkan ingin membalas perbuatannya dulu karena telah merebut kekasihnya. Dia berpura pura telah melupakan mantannya dan ingin berteman dengan Alvaro, padahal sebenarnya ia ingin membalas melalui adik perempuan Alvaro.


**


Melisa terlihat baru saja kembali dari toilet. Ia mencari cari keberadaan Sara namun tidak menemukannya.


"Duh.. kemana sih si Sara? gue suruh nunggu juga, malah maen ngilang aja!" Ia menggerutu sendiri.


"Mana juga si kupret tulalit satu lagi!" Matanya terus mencari cari keberadaan kedua sahabatnya didalam ruangan yang remang remang tersebut.


Ia menoleh kearah Elang cs, namun tidak ada siapapun disana. Ia melihat diatas meja masih tergeletak barang barang Sara dan juga Salva.


Ia merasa khawatir, terlebih lagi Sara sedang dalam keadaan setengah mabuk. Ia terlihat bingung mau kemana.


"Anj*r, kenapa nggak gue telpon aja sih? Beg* lo nular ke gue Va!" ia mengoceh sendiri.


Ia menghubungi Sara,


tuutt.. tuutt.. tuutt..


Terdengar bunyi nada sambung dari salah satu tas dimeja.


"Astojim.. beg* nya perfect dah si Sara! Pake acara ditinggal handphone nya! Tck!"


Ia menghubungi Salva,


tuutt.. tuutt.. tuutt..


"Kampret memang lo Va!!"


"Buat orang khawatir aja sih tuh anak kutu bedua ahh..!" Melisa terus menggerutu sambil terus menghubungi Salva.


Tak lama kemudian ia melihat Salva berjalan kearah nya.


"Etdah nih anak curut, darimana aja sih lo Va lama banget? Gue telpon juga gak diangkat!" cerocos Melisa kesal.


"Ehmm.. sori Mel, gue abis dari luar." jawab Salva, ia agak gugup.


Melisa melihat mata Salva seperti orang yang sedang bohong, matanya blingsatan. Namun Melisa tak ingin membahasnya sekarang.


"Eh m, mana Sara?" tanya Salva.


"Lho, dia nggak sama elo?" tanya Melisa balik.


"Yang bener aja, tadi kan gue pergi duluan. Gue tinggal dia sama elo kan?"


'Mamp*s gue!!'


"Gue.. tadi gue.. gue tinggalin Sara disini karena baju gue ketumpahan wine terus gue ke toilet terus gue balik terus Sara nggak ada... gu.."


"Ngomong apa sih lo, teras terus?! Maksud lo, elo ninggalin Sara sendiri tadi?" tanya Salva dan dijawab anggukan kepala oleh Melisa.


"Lo gila ya? Udah tau si Sara lagi sedih, maen tinggal aja lo! Sekarang dia gak ada, ngilang kemana sih tuh anak?" ucap Salva nyolot.


"Enak aja nyalahin gue! Elo juga ninggalin kita lama banget ngapain?"


"Kan gue dulu yang pergi Mel.. Udah ah, buru telpon dia!"


"Hp nya ditinggal, noh.." Melisa menunjuk tas Sara diatas meja.


"Ampun dah ampuunn... kalo gini mau nyari kemana kita? duh !" Salva berdecak.


***


Disisi lain Sara telah dibawa ke sebuah rumah kosong yang tidak terlalu besar, lumayan jauh dari club malam tersebut l. Rumah tersebut merupakan tempat berkumpulnya Lintang dan teman temannya yang nakal.


Sara dibopong menuju salah satu kamar dan diletakkan diatas kasur tersebut . Ada sekitar 6 penghuni didalam sana. Rey menyuruh mereka semua keluar dari kamar tersebut karena ini mangsanya. Dia yang membawanya, jadi dia yang akan melakukan terlebih dahulu.


Rey memperhatikan tubuh Sara yang tergeletak tak berdaya diatas kasur seraya menelan salivanya .

__ADS_1


Tak membuang buang waktu ia pun mendekati Sara, tangannya bergerak membelai rambut dan juga wajah Sara yang halus. Kemudian ia mulai melum*t bibir tipis Sara, tangannya pun menggerayangi bagian dada Sara. Ia merobek bagian atas baju gadis tersebut dan setelah itu __


__ADS_2