Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 21


__ADS_3

Disisi lain, Di Kota S


Sama halnya seperti Jane dkk, sekolah Sara juga mengadakan Study Tour di kota M. Namun waktu keberangkatan nya berjarak satu hari dari sekolah Jane. Apakah tempat tempat yang akan mereka kunjungi pun sama?


__


Hari ini tepat pukul setengah 5 pagi, Sara sudah bersiap untuk menuju sekolah. Karena jam 6 pas semua murid sudah harus berada disana. Ia pun bergegas berangkat mengingat perjalanan menuju sekolahnya lumayan jauh, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit baginya agar sampai di tempat tersebut. Dan karena pada dasarnya Sara merupakan murid yang rajin, ia lebih memilih menunggu dibandingkan harus terlambat.


Dengan hanya membawa satu tas ransel di punggungnya ia berjalan gontai seraya menunduk melewati jalanan yang masih sepi dan sedikit gelap karena sang mentari belum menampakkan diri di tempat peraduannya.


Tidak berat sebenarnya beban diatas punggungnya, namun karena beban yang tersimpan dihatinya itu begitu besar sampai menyebabkan dia berjalan malas malasan dan terkadang menendangi batu batu kerikil tidak bersalah yang menghalangi jalannya.


Matanya yang sembab akibat tangisan cina yang ia keluarkan semalam, tampak jelas bagi orang yang melihatnya bahwa gadis yang sedang berjalan sendirian saat ini bukan akan pergi berwisata. Melainkan seorang gadis yang minggat dari rumahnya.


Dengan hanya memakai kaos lengan panjang berwarna hijau muda dan celana jeans dan sepatu kets lusuh, karena mungkin hanya itu yang dia punya. Juga rambut panjang terurai yang ia biarkan menjuntai disamping pipi kiri dan kanannya, tampak menyeramkan. Jika saja ada anak kecil yang melintas didepannya pasti sudah lari terbirit birit.


Setelah pertengkaran semalam, pagi ini dia berangkat tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya. Bahkan ia pun tidak sarapan. Ia juga hanya dibekali 2 lembar uang seratus ribuan, itupun juga karena ia sangat sangat memaksa sang ayah beberapa hari lalu. Dan kalau bukan karena dibiayai oleh keluarga Salva, mungkin hari ini dia masih meringkuk diatas tempat tidurnya.


***


Setelah melakukan perjalanan yang menurutnya sangat melelahkan, akhirnya ia sampai juga didepan sekolahnya. Ia mengambil ponsel dari saku celananya kemudian melihat jam dari layar ponsel tersebut, masih pukul 6 kurang 15 menit namun dihalaman sekolah itu sudah dipenuhi oleh murid murid yang nampak bergembira. Terlihat jelas bahwa hanya dirinya lah satu satunya yang paling tidak bersemangat saat ini.


Plek!


Tepukan sebuah tangan seseorang pada pundaknya membuat ia menoleh ke sumber tersebut. Dilihatnya wajah sahabatnya yang nampak ceria itu. Bagaimana tidak bila wajah yang dilihatnya saat ini tengah mengembangkan senyumnya sampai terlihat deretan gigi pemiliknya yang tertata rapi. Sungguh sebuah senyuman tanpa beban, tidak seperti dirinya. Terbesit sedikit iri dihatinya dengan nasib kehidupan sahabatnya itu.


Sara pun hanya membalas dengan senyuman tipis setipis isi dompetnya saat ini.


"Gue dateng duluan lho.." ujar Salva cengengesan.


"Udah tau, elo mah paling semangat kalo soal ginian." jawab Sara.


Salva terkekeh, "Eh, ngomong ngomong kenapa muka lo kusut kayak gitu?" tanyanya. "Gak punya setrika dirumah?"


"Gak papa."


"Huh.. gak papa kok mukanya ditekuk gitu! Tenang aja lah, ntar gue traktir elo deh disana." seru Salva yang sudah bisa menebak penyebab sahabatnya itu pagi pagi begini sudah murung.


Sara mengernyit "Sok tau lo." ujarnya.


"Gue memang tau! gue kenal lo udah berapa lama sih? pastilah udah hapal sama tabiat lo." ujar Salva. "Karena ortu lo kan?" imbuhnya.


"Melisa mana?" tanya Sara tak mau membahas perkataan sahabatnya itu.


"Belum dateng deh kayaknya." ujar Salva sambil celingukan memperhatikan sekelilingnya.


Sara tak menghiraukan Salva, ia terus berjalan menuju sebuah bangku panjang tak jauh dari pintu gerbang. Salva pun mengekor dibelakangnya.


Sara duduk kemudian menghela nafas panjang, ia kembali teringat akan perdebatan dengan kedua orang tuanya. Ia memejamkan mata, kepalanya terasa pusing.


"Ra, kalo lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue. Jangan lo pendem sendiri. Kayaknya elo masih gak ngerti deh gunanya seorang sahabat." ujar Salva karena memang meskipun mereka bersahabat sejak lama namun tidak bisa ia pungkiri bahwa Sara ialah orang yang tertutup, yang enggan menceritakan keluh kesahnya kepada siapapun termasuk sahabatnya sendiri.


Sara membuka matanya, menatap lurus kedepan "Gue nggak papa, cuma ada perdebatan sedikit sama bokap gue tadi malem." ujarnya.


Salva memutar bola matanya "Ya iya gue tau, pasti masalahnya nggak jauh jauh dari bokap atau nyokap lo. Cuman apaan?" desaknya.


"Udahlah nggak usah dibahas, males gue." seru Sara yang pada saat itu juga ia melihat Melisa baru saja memasuki gerbang.


"Tuh si Melisa dateng." ujarnya pelan kepada Salva.


Seketika itu pun Salva menoleh kearah depan, dan benar adanya ia melihat sahabatnya yang sedikit lebih berisi dibandingkan dirinya dan juga Sara tampak berdiri sambil menenteng dua tas besar sambil celingukan.


Salva pun melambaikan tangannya seraya berteriak teriak memanggil namanya.


Melisa yang mendengarnya pun lantas segera menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Hai hai.." sapa Melisa dengan menunjukkan senyum terbaiknya.


Sara tersenyum sebagai jawaban.


"Wah.. isi apaan itu tas gede buanget." seru Salva melihat dua tas besar yang ditenteng Melisa juga satu tas ransel yang menempel dipunggung nya.


"Ini tuh isinya barang penting semua tau." jawab Melisa.


"Didalem sini isinya baju baju sama perlengkapan pribadi gue." ujarnya seraya menunjuk tas ranselnya.


"Dan yang ini isinya makanan, minuman dan cemilan buat kita nanti." ia mengangkat dua tas besar yang dipegangnya.


Salva menyaut satu tas besar dari tangan Melisa "Gila! bener bener cemilan semua isinya."


Kemudian menyaut tas satunya "Aduh berat banget sih. Apaan nih?" serunya sembari membuka dan menggeledah isi tas tersebut " Wiihh.. segala macem minuman lo masukin sini, mau jualan lo?"


Sara tertarik untuk mengintip isi tas Melisa, "Supermarket berjalan ini mah." sahutnya.


"Lebih tepatnya pedagang asongan keliling." timpal Salva tertawa.


"Yee.. ini kan gue nyediain buat kalian juga kunyuk." ujar Melisa.


"Kayak emak anak TK mau ikut tamasya lo." ledek Salva.


"Bener bener, Melisa emaknya kita anaknya." Sara dan Salva cekikikan.


"Terserah lah.. makanya harus nurut sama emak ya anak anak!" seru Melisa.


"Siap emak kyu!" jawab Salva dan Sara kompak.

__ADS_1


Melisa terkekeh seraya mengangguk anggukan kepalanya "Bagus.. bagus.."


Mereka bertiga lanjut mengobrol hingga terdengar suara pak guru dari pengeras suara yang menginstruksi semua murid agar berkumpul dan berbaris ditengah lapangan.


Setelah semua murid telah berbaris dengan rapi, mereka semua bergegas memasuki bus masing masing yang telah diatur untuk setiap kelasnya.


Namun tidak dengan Sara, matanya sedang menjelajahi setiap siswa yang berhamburan untuk menaiki bus.


'Kemana dia kok nggak kelihatan dari tadi?' batinnya.


Salva yang menyadari sahabatnya itu tidak segera bergerak pun mengikuti arah pandangannya, namun ia segera tau siapa yang sedang dicari oleh Sara.


"Dari tadi gue juga nggak liat dia." bisiknya pada Sara.


Sara terkejut kemudian menoleh kearah Salva, "Ngagetin aja sih lo!" serunya.


"Halah.. gitu aja kaget! Gue tau keles siapa yang lo cari."


Sara berdecak sembari menggandeng lengan sahabatnya yang dari tadi sok tau itu "Udah ah ayo!"


Salva mencebikkan bibirnya.


___


Dari jumlah keseluruhan bus ada 7 buah, Sara dan kedua sahabatnya kebagian bus nomor 5. Setelah semuanya mendapatkan tempat duduknya masing masing, kemudian pak guru pun mengabsen seluruh murid didalam bus tersebut. Namun tak terdengar bapak guru pendamping itu menyebutkan nama Elang dkk, yang membuat Sara semakin bertanya tanya apakah mereka tidak mengikuti Study Tour kali ini?


Sara menghembuskan nafasnya kasar karena ia tidak menemukan jawaban atas rasa penasarannya.


Sara pun memejamkan matanya saat sudah separuh perjalanan ia gunakan untuk mengobrol hal hal yang menurutnya tidak penting dengan Salva dan Melisa.


Perjalanannya terasa amat membosankan karena seseorang yang ia ingin lihat tidak ada disana.


***


Disisi Elang dan teman temannya ternyata sudah bersiap siap untuk berangkat menuju tempat diadakannya Study Tour, namun mereka berangkat menggunakan mobil pribadi Daffa.


"Sip udah siap semuanya, kuy berangkat!" seru Daffa seraya menutup pintu bagasi mobilnya.


Daffa melihat sekelilingnya sudah tidak ada teman temannya, "Kemana monyet monyet piaraan gue?" ujarnya.


"Ngoceh apaan sih tuh bocah nggak masuk masuk!" seru Galuh yang tengah memperhatikan Daffa dari dalam mobil.


"Dia nggak nyadar kita udah didalem." sahut Nanda yang mulai sibuk menyalakan ponsel barunya.


"Woii.. dasar kampret kalian semua! bisa bisanya udah leha leha disini sementara dari tadi gue yang nata barang bawaan lo pada!" teriak Daffa setelah membuka salah satu pintu mobil.


Elang tertawa kecil, "Jangan ketawa lo nyet! seneng banget lo ya nyiksa gue!" ujar Daffa.


"Etdah.. gitu aja tersiksa lo, lebay banget dah." celetuk Nanda namun pandangannya menatap layar ponsel miliknya.


"Elah Daf.. kapan berangkatnya kalo lo ngomong terus.. udah jamuran gue nungguin elo dari tadi." sahut Galuh.


Daffa melirik sasaran berikutnya, "Kepala lo minta gue toyor juga hah?! Ayo sini lo!"


Galuh terkekeh "Bercanda gue, elah.. pagi pagi jangan emosi lah.." ujarnya.


Daffa beralih, ia duduk dibelakang kemudi bersiap menyalakan mesin mobilnya "Kalian yang buat gue emosi kampret monyet!"


"Udah pake mobil gue."


"Gue yang nata barang barang kalian."


"Gue juga yang nyetir."


"Sekarang seenak jigong lo pada ngomong!" Daffa terus menggerutu yang disambut gelak tawa teman temannya.


"Terima nasib aja lah.." ujar Elang sembari menepuk nepuk pundak Daffa.


"A*ying lo pada!" seru Daffa.


Elang masih tertawa "Gue gantiin lo nanti, tenang aja." ujarnya.


Daffa hanya melirik sekilas kearah Elang, kemudian memfokuskan pandangannya ke depan.


Mereka akan melakukan perjalanan kurang lebih 4 jam. Alasan kenapa mereka memilih naik mobil ketimbang bus adalah karena mereka tidak ingin berdesak desakan dengan murid lainnya. Pihak sekolah pun mengizinkannya, tidak lain karena sekolah tersebut memang milik keluarga Elang. Jadi suka suka mereka daripada tidak mau ikut pikirnya.


***


Mobil yang dikendarai Elang tiba terlebih dulu di Kota M dibandingkan bus dari sekolah, dikarenakan ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh yang membuat teman temannya tidak bisa duduk dengan tenang.


Setelah sampai tujuan, Elang memarkirkan mobilnya di parkiran salah satu hotel berbintang 5 di Kota M. Kawasan hotel tersebut terletak di daerah pinggiran Kota M.


Justru di daerah pinggiran inilah terdapat banyak sekali tempat tempat wisata menarik yang sering dikunjungi oleh wisatawan.


"A*jir lo, gue pengen muntah!" seru Daffa setelah mereka semua keluar dari dalam mobil.


"Tau nih, gue sampe nggak bisa fokus nge-game *jir!" timpal Nanda.


"Memang udah gila lo, lo pikir tadi arena balapan apa?! kepala gue masih nyut nyutan sampe sekarang!" sahut Galuh.


Sedangkan tersangka dari semua ini malah tertawa kecil sembari terus berjalan melenggang memasuki hotel tanpa menggubris para korbannya.


"Woii.. tungguin nyet!" teriak Daffa.


Setelah sampai di lobby hotel tersebut mereka berempat langsung menuju meja resepsionis untuk melakukan konfirmasi atas reservasi yang telah mereka lakukan sebelumnya. Mereka memesan 3 kamar tipe suite room dan ternyata mereka telah memesan kamar hotel yang berbeda dari pihak sekolah. Namun jaraknya tidak jauh dari hotel tempat murid lainnya menginap.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka bergegas naik menuju kamar masing - masing.


"Eh, emang nggak papa ya tidur dihotel lain?" tanya Nanda.


"Kenapa emangnya? lo takut heh?" jawab Daffa.


"Bukan takut, maksud gue kalo kita nanti ketinggalan rombongan gimana?" ujar Nanda.


"Tenang aja, gue udah tau tujuan pertama kita habis ini. Makanya buruan, jadwalnya jam dua belas nanti kita harus sampai di Danau B." jelas Daffa.


Elang melihat jam tangan branded yang melingkar dipergelangan tangannya "Masih ada waktu buat tidur." ujarnya.


Daffa melirik jam tangannya masih pukul 9.30, kemudian melihat kearah Elang "Yaudah lo tidur aja dulu nanti gue bangunin."


"Yoi."


***


Sementara bus yang ditumpangi Sara dan teman temannya juga telah sampai di Kota M, mereka akan menginap dihotel bintang 4 yang telah disediakan pihak sekolah.


Sara satu kamar dengan Salva dan Melisa, mereka kebagian kamar tipe deluxe room. Kamar yang cukup besar untuk ditempati tiga orang dengan hanya ada double bed didalamnya.


Salva membuka pintu kamar tersebut, "Yah, seharusnya gue milih kamar yang lebih besar daripada ini." keluhnya.


"Apaan sih lo Va, ini juga udah cukup luas buat kita bertiga." sahut Melisa.


"Iya, gue juga baru pertama kali ke hotel." ujar Sara. "Ini udah bagus banget menurut gue sih." imbuhnya.


Salva dan Melisa melirik Sara sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah setelah menyadari bahwa Sara sedang menatap kearah mereka berdua.


Sara yang sadar akan arti pandangan sahabatnya itu memilih acuh, ia berjalan menuju lemari pakaian untuk meletakkan barang barang miliknya disana.


Setelah itu mereka merebahkan diri sejenak untuk melepas lelah dari perjalanannya tadi.


Jam telah menunjukkan pukul dua belas siang, mereka semua lekas berkumpul kembali untuk melakukan perjalanan menuju Danau B.


__


Setelah 1 jam, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Posisi Danau B ini terletak di dataran tinggi yang menjadikan udara disekitarnya sangat dingin hingga menusuk tulang. Disekelilingnya terdapat panorama alam berupa pegunungan pegunungan yang indah nan mempesona.


Suasana ditepi Danau itupun nampak seolah sedang berada pada masa lampau, karena tebalnya kabut yang secara perlahan beranjak serta letak hutan berbukit yang ada di baliknya. Juga hembusan angin yang mengenai permukaan danau, mengakibatkan muncul riak kecil mengusik tenangnya air danau.


Ditengah tengah danau itu juga terdapat sebuah pura yang nanti akan menjadi tempat tujuan kedua mereka. Ada persewaan perahu, kapal boat dan sampan untuk mengelilingi danau. Atau dapat juga berjalan kaki jika tidak ingin menaiki salah satu fasilitas tersebut.


**


Terlihat Elang dkk sudah stand by menunggu rombongan dari sekolahnya di depan pintu masuk danau tersebut.


Mereka berempat terlihat sangat keren dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan tidak lupa juga kacamata hitam yang melekat sempurna pada mata mereka.


Ketika rombongan sekolahnya pun tiba mereka semua segera berbaris. Saat itu juga Sara menemukan sosok yang sedari tadi ia cari cari. Ia mengembangkan senyumnya, dan saat itu juga senyumannya pun pudar. Ia merasa minder dengan penampilannya ketika mengamati Elang dari atas sampai bawah, bagai bumi dan langit.


Sara menghela nafas, lagi lagi dirinya masih mengharapkan sesuatu yang mustahil.


Kenapa juga dari tadi dia memikirkan Elang, padahal dirinya sudah berjanji akan melupakannya.


Rumit! Memang rumit jika sudah berurusan dengan hati, karena tanpa sadar rasa itu hadir kembali saat melihatnya meskipun kita sudah mencoba melupakannya.


Suara peluit yang ditiup Pak Zaghi membuyarkan lamunan Sara, ia kembali terfokus pada dunianya. Pak Zaghi adalah salah satu guru pembimbing Study Tour, ia sudah menginstruksi murid muridnya agar membuat kelompok jauh jauh hari, namun kelompok Sara masih kekurangan orang. Karena minimal satu kelompok paling tidak terdiri dari 5 orang. Sedangkan kelompok Elang juga kurang satu orang, maka dari itu mereka dijadikan satu kelompok.


Sara sangat terkejut, ia harus senang atau sebaliknya.


Salva menjadi kesal, itu berarti penderitaannya sebagai pesuruh si Nanda semakin berat saja jika harus satu kelompok dengannya.


Diseberang sana tampak Nanda sedang menyunggingkan senyumnya, ia terkekeh puas.


Sementara Daffa juga diam diam tersenyum senang, sedangkan Elang dan Galuh tampak biasa saja.


Setelah pembagian kelompok selesai mereka dipersilahkan memasuki kawasan Danau tersebut bersama kelompok mereka masing masing. Tidak lupa pula mereka diingatkan untuk mencatat poin poin penting guna membuat laporan Study Tour setelah pulang dari sini.


"Hai Sara." sapa Daffa pada Sara.


"Hai Daf." balasnya.


"Hei cewek tengil, nggak lupa kan lo sama perjanjian kita?" ujar Nanda pada Salva.


Salva mendengus pelan, "Gue inget." jawabnya.


"Hehe.. bagus lah, kalo gitu nanti elo yang nyatet semua, gue terima beres oke!" seru Nanda.


Salva memicingkan matanya, 'Enak banget bacot lo kalo ngomong!!" batin Salva berteriak.


"Iya." jawab Salva pada akhirnya.


Nanda terkekeh, ia melemparkan tas ransel miliknya kepada Salva. "Bawain tas gue, dan selama diperjalanan nanti lo harus stand by disebelah gue ngerti?"


'Bacot.. bacot.. kalo tinggal nyablak memang enak!!" batin Salva lagi.


Salva tersenyum kecut sebagai jawaban, namun tak diterima oleh Nanda.


"Gue mau jawaban bukan senyuman." tegasnya.


"A*jir!! dasar kolornya Thanos!!" batin Salva.


" Iya." jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2