Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 22


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, sinar mentari nan cerah menggelitik membangunkan ketiga gadis cantik dibalik selimut putih itu. Sedangkan satu gadis lainnya masih tampak tertidur pulas.


"Siapa yang mau mandi duluan?" tanya Denise dengan suara parau khas bangun tidur.


"Gue duluan, bisa mati kaku ditempat kalo gue nungguin kalian mandi." Lea beranjak berdiri dan bergegas memasuki kamar mandi dengan terburu buru.


"Makanya gue tanya ogeb! Karena gue tau cuman elo yang mandinya kayak bebek!" seru Denise.


Denise melirik kearah Jane yang masih terbalut selimut, kemudian menarik selimut tersebut dengan kasar "Hoee bangun!"


Jane tidak bergerak, Denise pun menggoyang goyangkan tubuh Jane.


"Jane bangun!"


Jane pun menyahuti dengan deheman "Emmhh.."


"Buruan bangun, mandi!"


"He-emh" Jane hanya menggeliat tanpa membuka matanya.


"Ayo banguunn.." Denise menarik narik lengan Jane hingga sahabatnya itu terduduk dengan mata masih terpejam.


Denise menepuk nepuk pipi Jane "Dasar putri karet! ntar gue tambahin julukan lo jadi putri tidur juga." ujar Denise.


"Apaan sih Mi.. 5 menit lagi.. masih ngantuk banget nih.." ucap Jane seraya menjatuhkan kembali tubuhnya diatas spring bed.


"Etdah ni anak malah ngigau, ngidam apa sih Tante Regina dulu sampe punya anak kebluk kayak gini?"


Denise mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Jane kemudian berteriak "Jane, kita udah telat. Anak anak laen udah pada berangkat, gimana nih?" serunya.


"Hah.. udah telat? jam berapa sih sekarang? aduuhh.." Jane berjingkat gelagapan menjawab.


"Iya udah telat gara gara nungguin elo, semuanya udah pada berangkat!"


Dengan mata yang masih buram, matanya mencari keberadaan jam dinding dan setelah tau bahwa sekarang masih pagi, ia melirik Denise dengan tatapan tak ramah.


"Kampret lo! Ngagetin gue aja! orang masih enak enak tidur juga." seru Jane.


"Yee.. dasar karet molor! kalo gak diteriakin nggak bakalan bangun lo!"


Jane mendengus pelan "Bisa budek kuping gue denger teriakan lo!"


"Eh gue kasih tau ya, anak gadis itu harus bisa bangun pagi sendiri. Nggak nunggu dibangunin." tutur Denise.


"Cih, bahasa lo kayak emak emak nasehatin anaknya aja!" jawab Jane sambil menguap beberapa kali.


"Kalau pun gue bangun pagi nih ya, mau ngapain? nggak ada yang dikerjain.. bangun siang aja pasti udah tersedia semua." imbuhnya bangga.


"Holkay sedang menyombongkan diri Jov!" seru Denise.


Jovi tertawa kecil, "Jangan sombong tuan putri, ntar kalo dapet mertua galak baru nyahok lo!" ujarnya.


"Eh.. kalo urusan itu mah beda jalur keles!" sergah Jane tidak terima.


"Beda jalur gimana maksud lo? Masa nanti juga calon suami lo yang tiap hari bangunin elo? kan nggak lucu?" seru Jovi.


"Hadeh.. kenapa malah bahas masa depan sih? Gue kan sekarang masih mau nikmatin masa single gue, apanya yang salah kalo gue bangun siang? ntar juga bisa belajar kan kalo udah tiba saatnya?"


"Single dari Jonggol?! Cowok lo nggak dianggep nih?" timpal Denise.


"Ah.. gue tau cara cepat bangunin elo Jane." ujar Jovi.


"Apaan?" tanya Denise.


"Dicium sama Xander lah, pasti dia langsung bangun." Jovi dan Denise cekikikan.


"Haha.. betul betul betul."


Seketika itu juga Jane jadi memikirkan Xander. 'Pasti enak banget kali ya punya suami kayak dia. Udah ganteng, baik, perhatian banget lagi sama gue! Aduuhh.. Ya Tuhan, moga aja jodoh gue beneran dia.' batinnya.


Jane senyum senyum sendiri.


"Kenapa tuh anak, kesambet?" tanya Lea yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lagi berbunga dia." jawab Denise.


"Tck, cinta memang bisa buat orang jadi gila ya? Baru denger namanya aja udah senyum senyum sendiri." ujar Jovi.


"Eh, buset.. cepet banget mandi lo?" seru Jovi pada Lea.


"Kenapa? gue memang nggak suka lama lama didalem kamar mandi, pengap." jawabnya.


"Eh Jov, mandi bareng yuk?" ajak Denise tiba tiba.


"Isshh.. ogah, jijik!" jawab Jovi sambil menggelengkan kepalanya.


Denise mendelik "Jijik pala lo peyang! Emang gue penyakitan apa?!" sergahnya.


"Maksud gue, kita kan bukan anak kecil yang biasa mandi bareng lagi Den?" jelas Jovi.


"Udah tau! Emang siapa yang bilang kita anak kecil?" seru Denise.


"Maksud gue biar cepet kita mandi bertiga." imbuhnya.


"Ahh udahlah.. gue tinggal ntar lo!" Denise dengan cepat meraih pergelangan tangan Jane kemudian menggeret nya menuju kamar mandi. "Mandi bareng gue," perintah nya.


"Aduh.. pelan dong, kaget gue *****!" seru Jane, namun dia mengikuti langkah Denise menuju kamar mandi.


"Kebiasaan deh si Denise, hii.." Jovi bergidik membayangkan kedua sahabatnya itu mandi bersama. Memang dari dulu jika sedang menginap mereka bertiga biasa mandi bersama. Namun setelah beranjak dewasa, Jovi jadi malu sendiri. Berbeda dengan Jane dan Denise yang bar bar dan tidak tahu malu menurutnya.


Sedangkan Lea sibuk berganti pakaian dan bersiap siap, ia tidak menggubris para sahabatnya yang berisik itu.


Lea memakai stripped pants dan kaos lengan panjang warna abu abu.


Setelah selesai ia mengambil ponselnya untuk melihat jam, sudah pukul 6.13.


"Buset, tuh duo kambing ngapain aja sih dikamar mandi? lama banget.." ujar Lea menghampiri Jovi yang masih terduduk di kasur nya sambil memainkan ponselnya.


Jovi tersadar akan perkataan Lea karena sedari tadi ia sibuk melihat lihat postingan teman teman di Instagram miliknya, hingga lupa bahwa dirinya belum siap sama sekali.


Dilihatnya jam pada ponselnya, ternyata sudah 30 menit lebih ia menunggu Jane dan Denise.

__ADS_1


"Bener lo! sampe lupa gue.." Jovi bergegas menuju kamar mandi, namun tidak terdengar suara gemericik air didalam sana. Dengan cepat ia mengetuk pintu tersebut.


dok.. dok.. dok..


Tidak ada jawaban, ketukan itu berubah menjadi gedoran yang cukup keras hingga Lea menghampiri nya.


"Wah.. wah.. nggak dibuka?" ujar Lea, Jovi mengangguk.


"Jangan - jangan.." kalimat Lea menggantung, Jovi meliriknya tajam.


"Apa? Mikir apaan lo?"


"Jangan jangan mereka kelelep di bathtub!"


"Udah gesrek kali otak lo ya?! Lo pikir bathtub segede kolam renang?!" ucap Jovi, gemas sekali rasanya dia melihat sahabatnya yang satu itu.


Lalu ia mengetuk lagi pintu kamar mandi itu dengan keras, dan pintu tersebut seketika langsung terbuka. Hingga nampaklah dua gadis dari dalam sana sudah mengenakan jubah mandi.


"Berisik banget dah!" seru Jane, ia melenggang keluar melewati para sahabatnya.


"Apa lo? Mau mandi?" tanya Denise ketus, ia juga berjalan melewati Jovi dan Lea.


"Lama banget sih kalian? liat udah jam berapa sekarang?!" ujar Jovi.


"Salah sendiri nggak mau mandi bareng!" jawab Denise.


Jovi mendengus dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Jane dan Denise terkekeh melihatnya.


"Emang sengaja ya kalian?" tanya Lea yang dijawab dengan tawa kedua sahabatnya itu.


"Rese memang! kalian kan tau si Jovi mandinya juga lama?" ujar Lea.


"Biarin aja.." jawab Denise masih terkekeh, ia dan Jane juga bergegas berdandan.


Jam 7 kurang 5 menit mereka semua telah berada dibawah untuk berkumpul bersama teman teman lainnya.


Penampilan Jane dkk terlihat sangat modis sekali, tidak terlihat seperti anak SMA pada umumnya.


Jane memakai off shoulder blouse warna maroon dipadukan dengan hotpants putih dan sneakers putih.


Denise memakai kaos berwarna putih dan jaket dipadukan dengan skinny jeans dan sneakers putih, juga beanie hat hitam yang menghiasi kepalanya.


Sedangkan Jovi memakai stripped t-shirt dan overall berwarna terang.


***


Tampak dari kejauhan sang pacar sedang melambai lambaikan tangannya kearah Jane pun disambut lambaian tangan pula olehnya.


Sama halnya seperti cewek cewek tadi, Xander dkk pun terlihat lebih bersinar diantara kerumunan siswa siswi disana. Bukan karena penampilan, karena semua murid disana pun juga turunan dari keluarga kaya. Melainkan karena ketampanan wajah pemiliknya masing masing.


'Duh.. cowok gue ganteng parah!! Makin kesini jadi makin cinta aja gue! Gimana nih?!' batin Jane.


"Hai sayang.." sapa Xander pada Jane.


"Hai juga.." jawabnya.


"Gimana tidurnya semalem? nyenyak nggak?" tanya Xander.


"Baguslah, hmmh.. kamu nggak tanya aku nih? padahal aku nggak bisa tidur nyenyak lho." ujar Xander.


Jane meringis "Kenapa emang?"


"Karena jarak kita semakin dekat, hati aku gak kuat rasanya."


"Ngegombal niye.." celetuk Denise memalingkan mukanya, ia paling tidak bisa melihat keadaan seperti itu.


"Ho-oh.. jangan luluh Jane, jangan luluh.." sambung Lea.


Sementara Jane sudah merona dibuatnya.


Denise, Lea dan Jovi yang melihatnya pun menjadi geli.


"Baru gitu aja udah kayak kepiting rebus lo." ledek Denise.


"Apa sih Den?" ujar Jane kalem.


"Makanya buruan punya cowok biar tau rasanya digombalin." timpal Xander.


"Iri bilang bos.." sindir Felix yang dibalas tatapan tajam dari Denise.


"Udah udah.. kalo diterusin bisa berabe nih." sergah Jovi yang melihat Denise sudah mengambil ancang-ancang untuk membantah Felix.


"Yaudah yuk, kita barengan aja ya. Kelompok kalian cuma berempat kan?" ujar Xander.


"Iya." jawab Jane.


"Setuju!" seru Lea, "Sekalian bisa minta tolong kalian buat nyatet nanti." imbuhnya tanpa tau malu.


"Enak aja lo nyuruh kita!" sela Felix.


"Iihh, gue nggak minta tolong elo kok. Gue minta tolong Xander." jawab Lea.


"Enak aja lo, dia cowok gue!" ralat Jane.


"Elah.. elo satu kelompok sama gue kan?" ujar Lea.


"Iya.. tapi jangan bebani cowok gue lo, kita kerjain sendiri aja." tutur Jane.


"Pelit amat lo! Yaudah gue minta tolong Kenzo aja deh."


Kenzo tersenyum "Boleh aja, tapi dapet apa gue nanti?" ujarnya.


"Lo mau apa aja pasti gue beliin kok!" ucap Lea pasti.


"Wah beneran nih?" goda Kenzo.


Lea mengangguk lalu Jane mencubit pelan pinggang Lea, "Apaan sih, kayak cuma elo aja anggota kelompoknya! gue juga bisa kali." ujarnya.


"Noh denger! punya otak kan?" sambung Felix.

__ADS_1


"Iyalah.." jawab Lea.


"Buat apaan?"


"Buat mikir lah.."


"Tuh tau.. yaudah ayo bro" ujar Felix seraya berjalan terlebih dahulu menuju busnya.


"Iisshh.. dasar cowok nyebelin!" seru Lea.


"Emang iya, baru nyadar lo?" sahut Denise, ia pun juga memilih menaiki busnya.


Mereka memilih untuk menyudahi perbincangan kecil itu, setelah sebelumnya guru pendamping mereka memberikan aba aba agar semua murid segera memasuki bus masing masing. Karena sekarang mereka akan melakukan perjalanan menuju ke hutan bakau yang memiliki letak strategis dipinggir jalan raya. Perjalanan memakan waktu 1 jam.


Setelah sampai disana para murid pun dipersilahkan masuk berdasarkan kelompok yang telah mereka bentuk.


Karena konsep wisata hutan bakau ini adalah trekking, maka sudah dipersiapkan jembatan-jembatan kayu yang bisa membawa pengunjung masuk ke tengah hutan.


Para siswa pun ditugaskan untuk mencatat segala hal tentang hutan mangrove tersebut. Seperti fungsi hutan mangrove, cara konservasi, sebab kerusakan hutan, ataupun jenis jenis pohon bakau tersebut.


Jane pun bersama dengan Xander didalam hutan bakau tersebut, juga teman teman yang mengekor dibelakang mereka.


Mereka pun saling mengobrol, juga bertanya dan berbagi ilmu bagi yang tahu.


Tak lupa juga dengan kesepakatan yang dibuat oleh Denise dan Felix, yang membuat keduanya jadi lebih akrab disepanjang perjalanan tadi. Tidak ada adegan bak Tom and Jerry.


**


Setelah selesai dengan kewajiban tugas mereka, Jane dan Xander memilih untuk sedikit menjauh dari teman temannya.


Mereka mendudukkan tubuhnya dipinggiran jembatan kayu tersebut dengan posisi kaki menggantung diatas sungai tersebut.


Masih hening diantara mereka hingga dengan berani Jane menyandarkan kepalanya di bahu Xander.


Lalu Xander pun menggenggam sebelah tangan Jane dan meletakkan di pangkuannya.


Senyuman merekah menghiasi bibir tipis Jane. Rasanya ia sangat senang sekali, bisa berduaan bersama Xander di tempat terbuka seperti ini.


Namun berbeda dengan senyuman Xander yang tidak seperti biasanya. Dirinya terasa sedih entah kenapa. Ada perasaan takut kehilangan dalam hatinya.


Ia menoleh kearah Jane kemudian ia cium pucuk rambut kekasihnya itu dengan lembut, tanpa ia sadari air matanya menetes.


Sementara Jane tidak berani menoleh kearah Xander, ia sangat gugup.


"Sayang bolehkah aku memelukmu?" tanya Xander.


Jane mengangguk dan dengan cepat Xander pun merengkuh tubuh Jane kedalam pelukannya, air mata Xander pun semakin banyak keluar. Kenapa ia sampai menangis, itu karena cinta yang dimiliki kepada Jane sangat tulus dan begitu besar.


Dirinya pun bingung tentang perasaan gelisah dihatinya yang tiba tiba ini. Ia juga berpikir apakah akan terjadi sesuatu dengan hubungannya? Jika memang iya, dirinya tidak akan pernah sanggup jika harus berpisah dari kekasihnya. Ia lebih baik mati saja, pikirnya.


Jane pun menarik tubuhnya menyudahi pelukan hangat yang ia rasa sudah lumayan lama. Dengan segera Xander menyapu air matanya dengan ibu jari dan punggung tangannya. Jane menatap wajah Xander, dan ia bisa melihat bahwa laki laki itu habis menangis.


"Kenapa? Kamu nangis?" tanya Jane.


Xander hanya tersenyum, ia mengelus rambut Jane dengan lembut. "Nggak papa sayang, aku cuma lagi bahagia bisa bersama kamu saat ini." ujarnya.


"Aku beneran masih nggak nyangka bisa jadi pacar kamu, dan kamu udah bisa mencintai aku. Ini semua begitu indah, karena selama 4 tahun ini cintaku bertepuk sebelah tangan. Untung saja aku nggak nyerah buat dapetin kamu." jelasnya.


"Aduuhh.. kamu jangan bahas masa lalu dong. Sumpah aku jadi merasa bersalah banget sama kamu, Maafin aku ya.." ujar Jane melas.


"Iya.. iya.. enggak sayang.."


"Yang penting kan sekarang aku cinta sama kamu, aku nggak akan ninggalin kamu." jelas Jane mantap.


"Beneran nih? Janji?" Xander mengangkat satu jari kelingkingnya.


"Janji." Jane pun juga mengangkat kelingkingnya dan mengaitkan kedua jari kelingking mereka. Xander pun mengembangkan senyumnya, ia menjadi sedikit lega.


"Aku juga janji kalo aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia. Aku gak akan nyakitin kamu, karena hanya kamulah satu - satunya wanita yang ada di hatiku." Xander berjanji dengan sungguh sungguh.


"Iya sayang.. aku percaya." Jane mencubit pipi Xander dengan kedua tangannya.


"Makasih ya sayang.." ucap Xander yang dijawab anggukan oleh Jane.


***


Sementara disisi teman teman Jane dan Xander.


"Eh, kita selfie dulu yuk." seru Lea.


"Skuy.." jawab Denise diikuti Jovi.


"Ok, dimana ya yang bagus? disini ijo daun semua sih.." Lea berjalan beberapa langkah untuk mendapatkan spot foto terbaik.


"Oke disini aja, kuy.." ujar Lea, mereka bertiga segera berpose.


"Et..et.. tunggu!" cegah Jovi.


"Apa lagi?" tanya Lea.


"Kata orang jangan foto bertiga, nanti yang tengah jadi setan." ujar Jovi.


"Halah itu kan mitos." jawab Lea.


"Udah buruan, yang tengah kan elo Jov!" celetuk Denise.


"Sialan lo! Nggak ah gue takut! ihh gue jadi merinding nih!" seru Jovi.


"Yaudah kita foto berdua aja, ayok Lei." ujar Denise.


"Iih jahat banget sih kalian." gerutu Jovi.


"Kita foto rame rame aja, yuk." tiba tiba Kenzo sudah berada dibelakang Lea dan Denise pun diikuti Felix dan Eloy.


Lea dan Denise melirik kearah anak laki laki itu.


"Ayok! lebih banyak lebih baik. Ayo Jov?!" ajak Lea, seketika Jovi menyembul diantara mereka yang sudah bersiap untuk berfoto.


"Oke, siap ya.. satu.. dua.. bunciiss.." ujar Lea.


Mereka berenam berfoto banyak sekali dengan berbagai macam pose, ada yang keren dan ada yang lucu.

__ADS_1


Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11 siang. Para murid pun diberikan waktu istirahat satu jam untuk makan siang.


Setelah itu mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke Danau B.


__ADS_2