Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 15


__ADS_3

Tujuan utama Jane dan sahabatnya adalah toko kosmetik dan skincare yang sedang mengadakan diskon gede gedean. Xander ikut masuk menemani Jane membeli barang barang yang ia inginkan. Sedangkan teman teman Xander dan Jayden lebih memilih untuk pergi ke game center.


Jane, Denise, Lea dan juga Jovi terlihat sibuk memilih milih barang yang menurut mereka bagus, sementara Xander terus berada disamping Jane. Xander tampak selalu tersenyum saat bersama Jane, tak jarang pula Jane menanyakan pada Xander produk makeup dan skincare mana yang cocok untuknya. Cowok itu tidak terlihat jenuh ketika menanggapi Jane yang bertanya pendapatnya, walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa apa tentang kosmetik (kebutuhan penting bagi para wanita).


Setelah selesai memilih milih, mereka semua menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah giliran Jane, ia hendak membayar belanjaannya tersebut namun tiba tiba Xander telah menyerahkan credit card miliknya.


Jane yang melihatnya pun sontak dengan cepat menolaknya.


"Eh, ngapain sih kamu?"


"Jangan mbak, ini pake ini aja." ujar Jane seraya menyerahkan kartu miliknya pada kasir dan mengambil kartu milik Xander kemudian ia pun mengembalikan kartu tersebut.


Xander pun menerimanya namun ia menyodorkan kembali kartu miliknya kepada kasir dan mengambil kartu Jane lalu menyembunyikan nya.


"Pake ini aja mbak,"


"Xander, aku nggak mau ya. Balikin kartu aku nggak!" perintah Jane yang membuat petugas kasir menjadi bingung.


Xander tidak memperdulikan perkataan Jane, "Udah mbak pake punya saya aja, buruan mbak."


"Jangan mbak!" teriak Jane hingga beberapa orang menoleh kearah mereka, memperhatikan keduanya seperti bocah yang sedang berebutan permen.


Jane terus berusaha mengambil kartunya yang dipegang Xander dengan sebelah tangannya, ia berjinjit jinjit teringat bahwa Xander lebih tinggi dari dia maka percuma saja.


"Balikin Xander!!" Jane masih ngeyel.


"Aku bakal balikin sayang, tapi setelah ini."


"Aku nggak mau, itu belanjaan aku. Jadi biar aku yang bayar sendiri!!"


"Aku tau itu belanjaan kamu, tapi kamu kan pacar aku."


"Nggak Xandeerr, balikin!!" Jane ngotot sambil terus meraih raih kartu yang semakin diangkat tinggi tinggi oleh Xander.


"Kamu nurut mau aku bayarin atau kamu mau aku cium disini!"


Perkataan Xander seketika membuat Jane terdiam dan merasa malu, karena banyak pasang mata yang menyaksikan kelakuan konyol mereka berdua.


Jane menginjak sepatu Xander keras,


"A..awh.." Xander pura pura kesakitan.


"Rasain!! Huh, terserah kamu lah!"


Xander terkekeh puas seraya mencubit pelan pipi Jane, "Gitu dong sayang."


Denise, Lea dan Jovi pun hanya melongo dan saling pandang melihat keributan yang dilakukan sahabatnya.


"Mbak buruan dong, malah bengong." Perkataan Xander menyadarkan petugas kasir yang sedang mematung menonton tingkah mereka berdua. Tak sedikit juga orang yang menggoda mereka berdua.


"Duh, romantis banget sih pacar kamu dek." Seorang pengunjung menyeletuk menatap Jane.


"Rejeki nggak boleh ditolak dong." seru pengunjung lainnya.


"Pacarmu udah baik gitu kok malah diinjak kakinya," suara pengunjung yang berkomentar membuat Jane jadi malu. Ia hanya bisa tersenyum kecil mendengar tuturan mereka.


Setelah Xander sudah menyelesaikan pembayaran nya, mereka semua meninggalkan toko tersebut.


"Duuhh, malu maluin banget sih lo Jane!" ucap Denise yang sedari tadi sudah gemas melihat Jane yang ngeyel.


"Tau! Tinggal terima aja dibayarin apa susahnya sih!" timpal Lea.


"Ngapain sih nggak mau dibayarin Jane?" tanya Jovi.


"Kegedean gengsi dia mah!" sahut Lea.


"Berisiikk, bisa diem nggak sih!" jawab Jane sewot.


"Oh ya, kalian mau kemana lagi sekarang?" tanya Xander.


"Kita mau cari baju ke lantai atas." jawab Lea.


"Yaudah ayo," kata Xander.


"Emang lo mau ikut lagi?" tanya Jovi.


"Lha emang gue mau kemana? Gue kan mau nemenin cewe gue belanja." tutur Xander.


"Udah lah ayo." Jane berlalu pergi sendiri, Xander segera menyusul mengimbangi langkah kaki kekasihnya itu. Ia pun meraih sebelah tangan Jane, kemudian menautkan jemari tangannya dengan jemari lentik milik Jane.


Jane melirik kearah jemarinya, kemudian melihat kearah Xander yang sedang menatap lurus ke depan sambil tersenyum.


Jantungnya terasa berdebar debar, kala ia mengamati wajah itu dari samping dengan seksama. Jane terlena akan ketampanan makhluk disebelahnya hingga ia ikut mengembangkan senyumnya.


Tiba tiba wajah itu menoleh kearahnya menampakkan seluruh isi didalamnya. Mata indahnya, alis yang tebal, hidung yang mancung dan juga bibir yang__


"Sedang terpesona dengan salah satu makhluk ciptaan Tuhan didepan mu ini sayang?" kalimat Xander membuyarkan lamunan Jane atas dirinya.


Jane menelan salivanya, ia gugup sekaligus malu, ia menundukkan kepalanya.


Xander yang melihatnya pun tak bisa menahan tawanya.


"Hahaha.. kamu bisa malu malu juga ya?"


"Iihh apaan sih?!" Jane mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.


"Lucu banget sih kamu sayang.."


Kata kata Xander semakin membuat Jane tersipu, pipinya merona. Ia hanya terdiam dan tetap menunduk.


"Aku jadi makin sayang banget sama kamu lho.."


"Xander udah dong, jangan diterusin." Terdengar suara seseorang menyeletuk dari belakang mereka berdua.


'Aduh, gue lupa monyet monyet pada dibelakang! Bisa diledekin sampe mamp*s deh gue!' gumam Jane.


"Ho - oh, pipinya udah kaya balon merah kelebihan gas tuh." sahut Lea.

__ADS_1


"Bener bener bener, kena gombalan sekali lagi bakal meletus tuh." Sambung Denise.


"Duuaaarrr!!" timpal Lea.


"Hahahaha..." Mereka bertiga tertawa bersamaan, Xander terus tersenyum puas. Sementara Jane... Mukanya udah gak bisa keangkat, nunduk teruusss..


**


Setelah itu mereka berbelanja beberapa pakaian dan keperluan yang tidak penting lainnya. Untuk Jane sendiri tidak terlalu banyak berbelanja karena ia yakin pasti Xander yang akan membayarnya, dan bener banget dugaannya. Xander telah membayarkan semua belanjaan Jane, Xander juga mentraktir sahabat Jane. Karena tadi sebelum berangkat kesini, Jane memang sudah berjanji akan mentraktir apapun yang diminta oleh Denise. Xander yang mengetahui itu pun langsung membayarinya menggantikan Jane.


Setelah mereka berbelanja, mereka semua menuju salah satu restoran Jepang termasuk teman teman Xander dan Jayden yang dari tadi menghabiskan waktunya dengan bermain game.


"Mau pesen apa nih kalian?" tanya Xander setelah semuanya berkumpul dan duduk disalah satu meja besar di restoran tersebut.


Setelah berbagai pertimbangan pemilihan menu yang mereka sepakati, mereka pun memberitahukan pesanannya kepada waiters restoran tersebut.


*


"Eh, tentang Study Tour kita itu kapan sih tepatnya?" tanya Denise pada sahabatnya.


"Mana gue tau." sahut Lea.


Jane dan Jovi sibuk dengan ponselnya masing masing.


Denise yang merasa pertanyaannya terabaikan pun tampak kesal.


"Anj*r, gue lagi ngomong sama kalian betiga kampret!" serunya seraya mengetuk ngetuk kan jarinya diatas meja.


Jane dan Jovi mengangkat dagu menatap kearah Denise.


"Apa sih Den? gua juga nggak tau." jawab Jovi.


"Kampret emang lo, denger omongan gue tapi diem aja! Lo juga?" sambil mengedikkan dagunya kearah Jane.


Jane mengangkat bahu tanda tidak tahu.


Denise pun menggerutu seraya mengerucutkan bibirnya.


Felix yang mendengar dan melihat Denise dari tadi pun menyeletuk.


"Study Tour nya 2 Mingguan lagi."


Denise melirik kearah asal suara seraya menatap tajam orang tersebut.


"Gue nggak nanya elo!" sahutnya ketus dan penuh penekanan.


Felix mengernyitkan dahinya, "Gue cuma kasih jawaban dari pertanyaan lo!"


"Nggak butuh jawaban lo! Gue bisa nanya sama yang laen."


Felix yang berniat baik namun malah diberi sikap ketus seperti itu menjadi geram, "Dasar cewek gatau terima kasih lo!"


"Ngapain juga gue terima kasih sama elo, gue aja nggak denger lo ngomong apa?" sahut Denise.


"Berarti lo budek!"


"Lo sama kayak si Jane ya, BUDEK!!"


Denise menggeretakkan gigi serta mengepalkan tangannya erat erat seraya mengangkat satu tangan yang terkepal didepan wajahnya. "Elo! Elo mau gue pukul hah!!"


"Eh, jangan kurang ajar ya lo bawa bawa gue!" seru Jane yang mendengar namanya ikut disebut dalam perdebatan meja restoran.


"Ayo pukul sini kalo berani, sini! disini atau disini nih nih!" ujar Felix mengejek seraya menunjuk pipi kanan dan kirinya.


Denise serasa ingin menggampar wajah Felix yang sok ganteng itu, tapi karena jarak Felix yang cukup jauh meskipun ia berhadapan dengannya membuat Denise harus berdiri dulu dan menghampirinya.


"Eh mau kemana lo? Udah dong Den." ujar Lea sembari menarik tangan Denise.


Denise menepis tangan Lea pelan, ia berjalan memutari meja menuju tempat duduk Felix.


Setelah sampai didepan Felix, tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat sebelah tangannya dan mengayunkannya di pipi Felix. Namun sepertinya tidak semudah itu karena Felix berhasil menangkap tangan Denise dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu.


"Lepasin tangan gue!!" Denise pun berusaha melepaskan cengkraman Felix, namun sia sia karena kekuatan tangan cowok itu jauh lebih kuat dari dirinya.


"Nggak segampang itu lo bisa mukul gue." ucapnya.


"Aduh udah dong, kalian ini. Malu tau diliatin orang!" seru Lea kebingungan, padahal yang laen mah pada santuy.


"Kayak Tom and Jerry." celetuk Jovi.


"Lepasin gue! Brengsek lo!"


Felix beranjak berdiri, ia mendekatkan dirinya didepan Denise dan berucap tepat di telinga gadis itu.


Felix menghembuskan nafasnya disana "Bisa diem nggak lo? Atau lo mau gue cium disini? " ujarnya dengan suara menggoda, kemudian ia meniup telinga Denise.


Seketika tubuh Denise berdesir, ia tidak dapat berkata kata lagi. Lalu Felix pun memundurkan langkahnya dan kembali duduk.


"Dasar playboy gila!!" Denise berseru seraya berbalik arah menuju tempat duduk nya.


Dari tempat duduknya, Denise bisa melihat Felix sedang tersenyum miring penuh kemenangan karena membuat Denise mati kata.


"Awas lo!" Ancam Denise tanpa mengeluarkan suara.


Tak lama setelah itu pesanan mereka pun akhirnya datang.


"Yeyy dateng juga akhirnya," ujar Lea sambil bertepuk tangan.


"Iya nih, perut gue udah dangdutan dari tadi." sahut seseorang di seberang Lea.


"Iihh nggak gaul banget sih lo dangdutan, sekarang yang lagi hits itu K-Pop tauk." seru Lea.


"K-Pop apaan?" tanya seseorang tadi.


Seketika Lea menggebrak mejanya, "What!! Elo nggak tau K-Pop?!!"


Seseorang tersebut ialah Eloy, Eloy menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Lea menepuk jidatnya sendiri, wajahnya sedikit ia condongkan kedepan. "Seriusan lo?" tanya Lea tidak percaya hari gini ada remaja yang nggak tau K-Pop?


'Anak anak dari Sabang sampe Merauke aja udah pada tau kale.. Sungguh orang tua banget dia!' batinnya.


"Apaan sih lo?! Ya gue pernah denger sih.. cuma gak tau artinya, makanya gue nanya." jawab Eloy.


"Yee.. gak tau artinya mah sama aja nggak tau bambang!"


"Etdah, makan woii makan! Ntar aja debatnya lanjutin diluar, ganggu banget sih!! Apalagi suara lo tuh cempreng kayak kaleng rombeng!" seru Jane yang kesal mendengar suara ribut dari tadi mulai dari Denise, dan sekarang Lea yang kena imbasnya.


"Yalord, iya iya.. gue diem deh. Gawat banget kalo tuan putri karet udah marah." jawab Lea setengah bercanda.


"Tuan putri karet? Apaan tuh?" Xander terlihat penasaran.


"Oh itu.. itu kebiasa__ aemph"


"Diem bisa nggak sih!" bentak Jane seraya menyumpal mulut Lea dengan sepotong sushi.


Lea mengunyah sushi tersebut kemudian menunduk kembali menyantap hidangan didepannya.


Mereka akhirnya bisa makan dengan tenang sampai terdengar lagi suara Lea memanggil seseorang.


"Sstt, hey.. Eloy.. Loy.."


Eloy menoleh kearah Lea, "Apa?"


"Lo masih mau tau tentang K-Pop kan?" tanya Lea, setengah berbisik.


"Eng__"


"Sstt.. nanti gue bagi bagi info ke elo kok, tenang aja!"


"Nggak perlu." jawab Eloy.


"Duh.. tenang aja, infonya gratis kok! Oke!" Lea memaksa seraya mengedipkan sebelah matanya.


Eloy terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan.


Sementara disamping tempat duduk Eloy ternyata ada seseorang yang diam diam memperhatikan tingkah Lea dari tadi. Sembari tersenyum ia bergumam, 'Kata katanya selalu ceplas ceplos, nggak jaim jadi cewe.'


Akhirnya mereka semua menikmatinya dengan tenang dan lahap hingga semua selesai makan. Dan lagi lagi Xander lah yang membayar semua makanan itu. Jane sebenarnya merasa sungkan, namun apadaya daripada berdebat dengannya lagi.


**


Mereka berjalan menuju parkiran, tidak lupa Xander dan Jane pun bergandengan tangan.


"Ehmm.. Xander," ucap Jane disela sela perjalanan mereka.


"Ya?"


"Makasih banyak ya atas semua ini." Jane sedikit mengangkat barang belanjaan yang ia tenteng dengan sebelah tangannya dan juga sebelah tangan Xander yang membantu membawa barang tersebut.


Xander tersenyum, "Iya sayang sama sama."


"Aku jadi nggak enak sama kamu,"


"Kenapa?"


"Karena aku ngebolehin kamu ikut tadi, jadinya kamu keluar uang banyak hari ini." imbuhnya.


"Aduh kirain apaan? santai aja sayang.. kamu kan nggak minta ke aku, aku yang maksa beliin semua ini buat kamu. Aku ikhlas kok sayang." ujar Xander tulus.


Mata Jane berbinar, ia terkagum akan sikap Xander padanya. Bukan karena uang yang ia berikan, namun karena ia bisa merasakan ketulusan hati Xander. "Makasih ya sayang.." ucap Jane malu.


Xander seketika mengembangkan senyumnya tak percaya, ia terlihat senang sekali saat kata sayang keluar dari mulut wanita yang sangat dicintainya dari dulu itu.


"Hehehe.. iya.. makasih juga ya sayang, kamu mau manggil aku sayang."


Jane tersenyum, "Iya sayang sama sama."


'Aduh ambyaaaarrr deh hati gue, bisa pingsan gue kalo diterusin.' Xander.


*


Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, setelah makan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing masing.


Xander sebenarnya ingin sekali mengantarkan Jane pulang, tapi karena sudah ada Jayden jadi ia tidak khawatir.


**


Setelah sampai dirumahnya, Jane langsung memasuki kamarnya begitupun dengan Jayden setelah ia mengetahui dari bi Wina bahwa Mami dan Papinya tidak pulang malam ini.


Jane segera membongkar barang belanjaan yang ia beli tadi. Kemudian ia pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga mencoba beberapa produk skincare yang baru ia beli tadi. Setelah semuanya selesai Jane pun merangkak naik keatas tempat tidur, kemudian membalutkan selimut hingga dadanya lalu ia pun memejamkan mata. Rasanya ia lelah sekali hari ini. Tidak seperti biasanya ia tidak memainkan ponselnya malam ini.


***


Pagi hari seperti biasanya, alarm milik Jane yang bertugas untuk membangunkan dia dari alam bawah sadarnya pun berbunyi.


Hari ini dia bangun tepat waktu karena semalam ia tidak tidur terlalu larut.


Ia bergegas mandi dan menata jadwal pelajaran hari ini. Buru buru dia turun kebawah dan disana hanya terlihat Jayden yang sedang duduk di meja makan sedang membaca sebuah buku seraya menunggu dirinya, sedangkan Mami dan Papinya belum terlihat. Akhirnya mereka menikmati sarapan hanya berdua. Kemudian mereka segera berangkat menuju sekolah.


Sudah hampir dua Minggu ini hari hari yang ia jalani sekarang tampak berbeda dari sebelumnya. Itu karena dirinya sudah membiasakan diri untuk menerima dan mencintai kekasihnya itu. Begitu juga hubungan nya dengan teman teman Xander menjadi lebih akrab, namun masih tetap sama bagi Denise dan Felix. Mereka berdua tak pernah bertegur sapa dan hanya akan membuat keributan jika ada salah satu yang bersuara.


Setiap jam istirahat pula mereka selalu menghabiskan waktu bersama, tak jarang pula kekasihnya itu memaksa Jayden agar ia saja yang mengantarkannya pulang supaya ia bisa lebih berlama lama dengan dirinya. Kekasihnya itu pun juga sering apel mengunjunginya.


Semua berjalan dengan baik, Jane pun tampak sangat bahagia bisa mendapatkan cinta dari seorang kekasih yang begitu tulus mencintainya. Dan sekarang ia pun juga sangat mencintai kekasihnya.


Namun tidak ada yang mengetahui takdir kehidupan dari setiap manusia kecuali Yang Maha Kuasa, semua telah diatur oleh Nya.


Perjalanan hidup itu pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak keadaan yang harus dilewati. Tidak selalu bahagia, suatu saat pasti akan dihadapkan pada cobaan. Dimana akan merasa berada di titik paling bawah. Kesedihan, kegalauan, amarah, dan jenuh akan terlintas seiring waktu.


Keputusan apa yang akan diambil saat itu, akan mempengaruhi kelanjutan hidup mereka. Menyerah atau bangkit kembali, dua pilihan yang sudah pasti akan dilalui semua manusia. Tantangan hidup yang berat itu harus bisa dilalui dengan penuh semangat dan dorongan semangat itu membutuhkan dukungan dari orang lain, keluarga, kekasih, sahabat dan lain sebagainya.



__ADS_1



__ADS_2