Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 7


__ADS_3

"Pulang sekolah nge Mall yuk guys?" ujar Denise memulai obrolan.


"Ayok." seru Lea antusias.


Jane dan Jovi hanya diam (sibuk mengunyah makanan)


"JeJe (Jane Jovi) ikut nggak?" tanya Denise.


"Gue sih terserah aja," jawab Jovi.


"Gue nggak bisa, kita berdua mau nonton ntar malem." timpal Jane kemudian.


"Oohh udah janjian kalian?" Melirik ke arah cowok di sebelah Jane.


Cowok tersebut mengangguk "Sekalian ngerayain seminggu hari jadi kita."


"Cih, seminggu dirayain. Sok banget kalian." seru Denise.


"Bukan gue ya." ralat Jane.


"Gue aja yang pengen ngerayain." sahut Xander merasa bahwa kekasihnya itu tak terlalu menyukai ide nya yang terlihat berlebihan.


Semalam lewat telepon ia dan Jane sudah memutuskan untuk merayakan setiap Minggu hari jadi mereka, walaupun harus memaksa Jane. Karena sangat sulit untuk membujuk gadis itu, apalagi tentang hal hal yang tidak ia sukai.


Bahkan untuk mendapatkan status hubungan seperti sekarang ini, Xander harus berjuang mati matian membujuk dan meyakinkan Jane selama hampir 5 tahun.


Jane dan Xander adalah teman sewaktu SMP, Xander sudah menyukai Jane semenjak bangku SMP. Namun Jane tak pernah melirik dan menggubrisnya. Tapi Xander tidak pernah menyerah, dia selalu berusaha mendekati Jane setiap kali ada kesempatan.


Sampai pada 1 Minggu terakhir ini perjuangannya pun akhirnya membuahkan hasil, Jane menerima pernyataan cintanya yang entah sudah ke berapa kali.


Tapi sebenarnya bukan karena Jane juga menyukainya, melainkan ada alasan tersendiri.


"Yah nggak jadi dong kita?" ucap Lea seraya memanyunkan bibirnya.


"Tenang Lei, kita tetep pergi kok. Bertiga aja sama Jovi." jawab Denise sambil menepuk pundak Lea.


"Gue nggak jadi ikut deh." ujar Jovi lesu.


"Tadi katanya terserah? Gimana sih lo?" sahut Denise.


"Kalo Jane nggak ikut berarti nggak ada Jayden lah, ogah."


"Etdah nih bocah kutu, pikirannya Jayden mulu." timpal Denise.


"Suka suka gue lah."


"Huh.." Denise mendengus kesal. "Nggak seru ah kalian sekarang." ujarnya.


Sementara keempat cowok ganteng yang berada di meja yang sama dengan Jane cs hanya diam tak memperdulikan para gadis yang sibuk berceloteh. Karena sebenarnya mereka tidak berteman dekat dengan Jane cs, terlebih lagi mereka berbeda kelas. Mereka disana hanya mengikuti Xander yang begitu tergila - gila dengan salah satu gadis yang menurut mereka tidak selevel dengan kepandaian nya. Yah mereka sebenarnya agak sombong sih kecuali Kenzo dan Eloy.


*


Alexander Wilfred adalah ahli waris kedua keluarga Wilfred, keluarga terkaya nomer dua di Negara I. Keluarganya memiliki beberapa bisnis tambang dan petrokimia. Memiliki wajah tampan dan rupawan. Xander juga merupakan murid yang berprestasi, dia berada di kelas XI - IPA 1 bersama teman teman sepermainan nya yaitu Felix, Kenzo dan Eloy.


Felix Noel Bennet juga merupakan seorang anak yang tampan dan kaya raya. Ayahnya mempunyai perusahaan yang bisnisnya terdiversifikasi dari rumah sakit dan real estate. Sedangkan ibunya memiliki perusahaan produk kecantikan. Termasuk salah satu cowok playboy dan perayu wanita di sekolah. Setelah membuat kaum hawa merasa di atas awan kemudian dengan cepat dan tanpa perasaan menjatuhkan mereka ke bawah.


Kenzo Keitaro adalah putra dari seorang CEO di perusahaan telekomunikasi. Dia juga tergabung di tim basket sekolah bersama para sahabatnya. Dia pemuda yang imut dan lemah lembut.


Sedangkan Eloy Bannan Hugo adalah anak dari pendiri dan pemilik perusahaan salah satu makanan terkenal di Negara I.


Hobinya makan dan tidak pernah serius dalam melakukan segala hal, namun ia murid yang cukup pandai.


**


"Gue mau balik ke kelas." ujar Jane memecah suasana canggung di meja kantin yang ia duduki.


Bagaimana tidak canggung, jika sebelumnya ketika di kantin hanya mereka berempat yang duduk disana dan bersenda gurau dengan bebas. Selama satu Minggu ini bangku tersebut kedatangan tamu asing yang begitu aneh untuk mereka. Bahkan Denise dan Jane pun yang biasa nya somplak ketika berbicara seakan akan tidak berkutik di depan cowok cowok asing dari kelas IPA tersebut. Mereka tidak akrab tepatnya!


'Kalau bukan karena gue mau menyaingi Ochi, gue nggak bakalan ngebolehin mereka disini ngerusak suasana ceria gue dan temen temen gue yang biasanya! Dasar cowok cowok alien!' batin Jane.


* Ochi adalah cewek yang melihat Jane dengan tatapan tidak mengenakkan tadi. Dia adalah saudari tiri Denise. Denise sangat membenci nya karena ibunya Ochi adalah orang ketiga yang menyebabkan ibunya meninggal karena stress lalu bunuh diri mengetahui ayahnya berselingkuh dan berhubungan dengan wanita lain yang tak lain ialah sahabat ibunya Denise sendiri.


Sedangkan Jane membencinya karena dia adalah saingannya dari SMP, dia mengikuti segala yang dilakukan dan dimiliki oleh Jane.


Ochi adalah anak yang lumayan pandai , dia juga cantik. Tapi entah kenapa dia begitu iri dengan Jane, padahal Jane tidak lebih pandai dari dirinya. Mungkin Ochi iri dikarenakan dia sudah mengenal Jane lama, semua orang yang berada di dekatnya sangat menyayangi nya. Orang tua, adik, sahabat bahkan orang yang dicintai Ochi pun begitu tergila - gila pada Jane. Dan sekarang Ochi telah kalah telak dari Jane. Jane berhasil membuatnya patah hati karena ia dan Xander telah berpacaran.


**


"Kok balik sih, kan belum bel?" ujar Xander tidak rela melihat Jane hendak beranjak.

__ADS_1


"Canggung! Bosen banget gue disini." ucapnya seraya melirik teman teman Xander satu persatu.


"Ohh, karena temen temen gue ya? Kalau gitu besok gue nggak ngajak mereka makan bareng kita lagi deh." jawab Xander sambil memberi kode kepada teman temannya untuk segera cabut dari situ.


"Baru nyadar lo? Gue mau bilang dari kemaren kemaren takut lo tersinggung. Temen temen lo tuh nggak asik, buat gue nggak nyaman. Liat tuh pasang muka dingin semua, gak enak banget ngeliatnya."


Xander menggaruk kepalanya bingung, teman temannya pun beranjak berdiri seraya melihat Jane dengan tatapan dingin.


"Lo pikir kita juga nyaman duduk di bangku khusus lo ini? Sorry ya, gue juga nggak pengen disini kok. Mending gue duduk di tengah lapangan sekalian." celetuk Felix ketus.


"Ya udah sana ke tengah lapangan ! Kalo lo nggak nyaman juga, ngapain ada disini?" Jane berucap sambil mengangkat dagunya.


"Gue cuma nggak enak aja nolak ajakan Xander!" ucap Felix dengan nada tegas.


"Alesan." Jane mencebikkan bibirnya seraya mengajak sahabatnya berlalu "Yuk cabut."


"Apa sih yang lo suka dari cewek ketus itu Xan?" pertanyaan Felix menghentikan langkah kaki Jane.


"Apa lo bilang?" Geram Jane dengan tatapan mata yang hendak menerkam mangsanya.


"Lo budek, CEWEK KETUS!"


"Elo.." Jane mengambil ice lemon tea yang masih tersisa di mejanya tadi kemudian menyiramkan tepat ke muka Felix.


Byuuuurrr.


Semuanya tercengang, seluruh murid yang ada di kantin hening akan apa yang sedang terjadi.


Felix memejamkan matanya, ia mengepalkan kedua tangannya geram. Kemudian ia langsung mencengkeram salah satu tangan Jane, tapi dengan segera di tepis oleh Xander.


Eloy dan Kenzo memegangi Felix. "Udah udah bro, inget dia cewek." ujar Kenzo .


"Awas lo! kalau bukan karena lo ceweknya Xander udah gue sikat lo." ujar Felix dengan kuat melepaskan diri dari Eloy dan Kenzo.


"Tenang bro, jangan emosi."


"Kurang ajar banget dia jadi cewek!"


"Gue nggak takut sama lo!" ucap Jane.


Felix melotot, matanya menatap tajam ke arah Jane. Xander yang merasa serba salah langsung menggandeng Jane pergi dari sana.


"Temen lo tuh yang kurang ajar, liat ini, basah baju gue!" jawab Felix.


"Elo duluan kan yang mulai mancing emosinya Jane?" timpal Denise.


"Apa lo bilang? Lo ilang ingatan hah? Temen lo dulu kan yang bilang kita nggak asik dan nggak enak dilihat?" jawab Felix tak mau kalah.


Denise mencebikkan bibirnya,


"Emang kenyataannya kayak gitu kok, wajah kalian tuh kayak mayat hidup. Udah beberapa hari duduk bareng disini, gak ada sepatah kata pun dari kalian. Garing banget iya gak sih? Emang bener ya anak anak IPA tuh sombong sombong!"


"Ohh jadi kalian pengen ngobrol sama kita? Bilang dong dari tadi? Tapi buat apa juga ngobrol sama kalian? Gak penting banget!"


"Idiiihhh.. Jangan gila lo! Siapa juga yang pengen ngobrol sama kalian? Kalian nggak__"


"Gu.. gue pengen kok ngobrol sama Kenzo Den."


Perkataan Lea yang telah memotong kalimatnya membuat Denise membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang dikatakan Lea. Dengan segera ia menoyor kepala sahabatnya itu.


"Aww.." Lea meringis.


"Apa apaan sih lo!" sentak Denise.


"Tuh.. tuh.. denger nggak lo, temen lo bilang apa?" Felix tersenyum meledek.


" Dia mau ngobrol sama lo Ken . Hahaha ... " Sambungnya seraya menunjuk ke arah Lea dan melihat Kenzo .


"Lo suka Kenzo?" tanya Felix masih tak bisa menghentikan tawanya.


Tak disangka Lea mengangguk malu malu.


"Astaga Lea.. beg*!" Denise menepuk jidatnya.


"Hahahahah.." tawa Felix semakin keras.


"Aduh aduh aduh.. perut gue sampe sakit nih. " ujarnya.


"Dasar GILA LO!!" Denise menghentakkan kakinya seraya berlalu pergi dari sana, Jovi mengikutinya sedangkan Lea.. masih diam disana.

__ADS_1


Kenzo melihat ke arah Lea yang sedang menatapnya. Kemudian Lea menundukkan kepalanya.


"Lo nggak pergi?" pertanyaan Felix membuat Lea tersadar.


"Ehm.. Eh iya iya." Lea bergegas pergi tapi sebelumnya ia sempatkan melirik ke arah Kenzo.


"Aduh.. parah banget emang cewek cewek tadi. Gue sampe ngakak dan lupa kalo lagi emosi." ujar Felix lagi.


Kenzo dan Eloy hanya tertawa renyah.


Mereka berdua juga pergi meninggalkan kantin menuju kelas mereka, sedangkan Felix masih harus pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


**


Disisi Jane dan Xander tadi.


"Lepasin gue!" bentaknya pada Xander yang telah menggandeng tangan nya cukup jauh dari kantin.


Xander melepaskan genggaman tangannya.


"Udah, jangan marah dong sayang." pintanya.


Jane tidak menjawab dan memalingkan wajahnya.


"Mereka gak ada maksud buat kalian nggak nyaman, memang gue yang nyuruh mereka diem aja saat kita lagi makan bareng." jelasnya.


"Maksud lo apa nyuruh mereka diem? Emangnya kita patung apa, harusnya lo buat temen temen lo tuh bisa lebih akrab sama temen temen gue. Gimana sih lo?"


"Iya iya gue salah, sebenernya gue cuman takut temen temen gue salah ngomong, soalnya mereka semua rada pedes kalo ngomong sama orang baru. Maafin gue ya?"


"Tapi lo dan temen temen lo jangan ge-er dulu. Maksud gue, gue juga nggak pengen sok akrab sama temen temen lo, tapi biar gak ada rasa canggung diantara kita semua pas lagi ngumpul."


"Iya iya gue ngerti kok."


"Yaudah, gue juga minta maaf. Sampein permintaan maaf gue sama temen lo tadi. Gue cuma emosi sesaat, hehe.." jawab Jane.


"Iya iyaaa.."


"Ehmm Jane."


"Iya?"


"Gue sayang banget sama elo,"


Jane hanya diam, "Ehmm.. Iya. Eh gue ke kelas dulu ya?" ucapnya mengalihkan pembicaraan karena ia bingung harus menjawab apa. Karena memang sampai saat ini dia belum mencintai Xander.


Xander terlihat kecewa, namun ia tutupi itu.


"Iya, nanti malem gue jemput." ujarnya.


"Oke."


Xander menatap kearah punggung Jane yang berjalan menjauh darinya dengan tatapan sendu.


'Gimana caranya supaya elo bisa membalas perasaan gue Jane ?' batinnya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang melihat ke arah mereka sedari tadi dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.


***


Mereka semua sudah berada di dalam kelas. Bel sekolah juga sudah berbunyi 5 menit lalu tanda berakhirnya jam istirahat.


Keempat cewek itu masih terus membicarakan kejadian tak terduga di kantin sekolah tadi. Mereka kembali kesal kemudian tertawa terbahak - bahak mengingat ingat kejadian tadi.


***


Bel tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah pun berbunyi.


Jane dan sahabatnya berjalan bersama menuju tempat parkir sekolah.


Jayden sudah berada disana, tepat di samping mobil miliknya dengan wajah yang tampak marah.


Jane cs menghampiri nya,


"Hai dek.." sapanya pada Jayden.


"Hei kak, liat ini." serunya seraya menunjuk kearah tempat mobilnya terparkir.


Jane dan sahabatnya menoleh kearah yang ditunjuk Jayden.

__ADS_1


"What the f***??!!"


__ADS_2