Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 18


__ADS_3

"Dasar GGS lo!!" teriak Salva.


Nanda menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Salva. "GGS apaan?"


"Ganteng Ganteng Soak!!" teriak Salva, ia berjalan melewati Nanda menuju kantin untuk mencari dompetnya tadi.


"Ga-je lo!!" teriakan Nanda menyebabkan dirinya mendapat jeweran ditelinga sebelah kiri dari seorang guru yang lewat.


"Hemmm.. udah bel bukannya masuk kelas malah teriak teriak disini! Kamu pikir ini pasar apa?!" seru seorang guru tersebut.


"Atah.. atah.. atah.." Nanda menoleh, "E..eh ibu.. ngapain disini Bu ? Udah bel lho Bu, Ibu gak masuk kelas?" ujar Nanda cengengesan.


"Malah ngebalik omongan saya lagi, nih rasain." Ibu guru tersebut lanjut menjewer telinga kanan Nanda.


"Ataatatatatt.. ampun Bu, sakit.. Maafin saya Bu.. saya masuk kelas sekarang, permisi ya Bu Guru yang cantik..." Nanda berucap sambil cengengesan sembari berusaha melepaskan diri dari jeweran guru. "Dadahh Bu..."


"Ampun deh punya murid bandel bisanya cengengesan kayak gitu!" Guru itu menggeleng gelengkan kepalanya.


***


Nanda memasuki ruang kelas XI IPS 1, ternyata didalam sana sudah terisi penuh oleh semua murid yang telah menyelesaikan waktu istirahat mereka. Menjadikan kelas tersebut ramai bak pasar malam, semua murid didalam sana sibuk berbicara urusan mereka masing masing.


Selalu seperti ini setiap hari, tidak ada ketenangan didalam kelas yang berisi banyak anak anak pembuat onar. Terutama Elang cs yang notabennya penguasa di sekolah itu.


Sebenarnya Sara berbeda dari murid lainnya dikelas tersebut, dia tidak suka kebisingan. Namun Sara bisa nyaman berada disana dikarenakan ada seseorang yang dia sukai. Banyak teman temannya disana yang mempertanyakan kenapa dia memilih masuk kelas IPS, padahal dia adalah murid paling pandai dan berprestasi disekolah tersebut. Namun Sara mengatakan bahwa ia hanya ingin selalu bersama dengan kedua sahabatnya.


Tapi itu dulu dan setelah hari ini dia ingin menjalani hari harinya dengan melupakan seseorang yang telah membuatnya sempat berada dalam jurang keputusasaan .


Ya, itu adalah keputusannya. Dia akan berhenti walaupun belum mencobanya, karena dia sudah tau akan jawaban yang diterimanya nanti jika terus maju.


Dia tidak ingin sakit hati lebih dalam lagi.


___


"Masih idup lo? Lama banget dikamar mandi? " tanya Galuh setelah melihat Nanda baru sampai ke kelas.


"A*jir! Lo kira gue udah mamp*s hah?!" jawab Nanda sengak.


"Kali aja." jawab Galuh cuek.


"Emang monyet lo!!"


Nanda tampak mengedarkan pandangannya mengelilingi seisi ruang kelas untuk mencari seseorang. Dan yang dicarinya ternyata memang ada disana, sedang duduk bertopang dagu sambil ngobrol dengan temannya.


"Eh.. Luh, lo tau anak cewek yang itu tuh siapa namanya?" tanya Nanda seraya menunjuk kearah Salva dengan jari telunjuknya .


"Yang mana sih?" Galuh masih tidak tahu yang mana cewek yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


"Hadeh.. itu lho yang duduk menopang dagu, rambutnya digerai sama diiket buntelan.."


Galuh terus memandang kearah yang ditunjuk Nanda, dan akhirnya ia menemukannya.


"Apaan sih lo buntelan buntelan? Cepol ogeb!" ujar Galuh.


"Nah itu maksud gue, siapa sih namanya?" Desak Nanda penasaran.


"Masa lo nggak tau sih?"


Nanda mencebikkan bibirnya.


"Sia sia banget sih gue nanya elo mending nanya si Daffa." ujar Nanda kesal.


"Oii Daf.. bla bla bla..."


__


"Oohh jadi namanya Salva.." Nanda tersenyum puas setelah mengetahui nama Salva.


"Ngapain lo senyam senyum nyet?! Suka lo sama dia?" tanya Galuh.


"Beh, yang bener aja lo!! Lo tau nggak.."


"Enggak!"


"B*ngke lo!"


"Gausah ngegas! Apaan? Gue emang nggak tau! Buruan ngomong nyet!" ujar Galuh.


"Dia nanti bakal jadi pesuruh gue selama 2 bulan." Nanda terkekeh mengingat kesepakatannya dengan Salva tadi.


"Kok bisa?" tanya Galuh semakin penasaran karena selama yang ia tahu sahabatnya itu tidak pernah berurusan dengan seorang cewek, ia selalu sibuk dengan gadget nya sehari hari.


Nanda mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan menunjukkannya pada Galuh.


"Lo liat nih!"


Galuh melihat sekilas kemudian mengernyitkan keningnya.


"Apaan sih? Kalo mau ganti bilang bokap lo sono, ngapain tunjukkin ke gue." Galuh mengalihkan pandangannya.


"Dasar GGP lo!" ejek Nanda dengan karangan nya.


Galuh menoleh tidak mengerti,


"Ganteng Ganteng Pe'ak!"


"B*ngke A*ying lo!! Sini gue kepret muka lo! " seru Galuh seraya melingkarkan lengannya di leher Nanda lalu menghimpitnya kuat kuat.


Suara keduanya sungguh berisik hingga membuat Elang dan Daffa menoleh kearah mereka.


"Woi remahan peyek! Berisik banget sih kalian bedua." ujar Elang.


"A*jay remahan peyek!" Daffa tertawa kecil.


"Tolongin gue dong.." Nanda merengek pada Elang dan Daffa.


"Ada apaan sih?" tanya Elang.

__ADS_1


"Si monyet ngeledekin gue." ujar Galuh seraya melepaskan rangkulannya dari leher Nanda.


"Monyet monyet, siapa maksud lo?" jawab Nanda.


"Elo lah.."


"Elo tuh pawangnya monyet!" sahut Nanda.


"Bukannya udah biasa? Ngeledekin apaan emang?" Tanya Daffa.


"Dia ngatain gue pe'ak!" seru Galuh.


"Bukan pe'ak tapi GGP." ralat Nanda.


"GGP apaan?" tanya Elang walau sebenarnya ia tidak penasaran.


"Ganteng Ganteng Pe'ak, bwahahaha..." Nanda tertawa terbahak bahak diikuti tawa kecil dari Elang dan Daffa.


"B*ngke lo pada." ucap Galuh sinis.


"Hahaha..." tawa mereka semakin meledak yang menarik perhatian Sara dkk.


"Receh banget sih mereka." ujar Salva.


Sara memandangi Elang, "He-emp"


"Eh.. eh.., kalian tau nggak sih.. gue lagi kena musibah nih.." Salva tiba tiba cemberut teringat kejadian tadi.


"Musibah apaan?" tanya Sara cuek, ia masih menatap kearah Elang.


"Tau nggak sih mulai besok selama 2 bulan, gue bakal jadi pesuruhnya si Nanda." curhatnya.


Seketika perhatian kedua sahabatnya pun beralih menatap lekat kearahnya.


"Nanda siapa?" tanya Sara.


"Huh..! Ya Nanda gengnya Elang lah siapa lagi? Ternyata dia orangnya nyebelin maximal!"


"Apa lo bilang?"


"Hah?" Sara dan Melisa berseru bersamaaan.


"Gue lagi apes.." jawab Salva.


"Kok bisa sih? Gimana ceritanya?" tanya Sara penasaran.


"Pas gue mau nyari dompet gue tadi, tiba tiba gue tabrakan sama dia. Terus hape dia jatoh, layarnya retak, dan hapenya itu lho.. mehong cuy.." Salva menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Sara dan Melisa masih tampak bengong.


"Kok bisa? Kenapa mau sih lo?" tanya Melisa lagi.


"Tau ah! Kalo gamau gue disuruh ganti yang baru, duit dari mana coba!" jelas Salva.


"Tinggal minta bokap lo beres kan!" seru Melisa.


"Gak segampang itu Mel, lo kan tau sendiri uang saku gue aja dikurangin. Apalagi sekarang gue mau minta duit yang jumlahnya besar. Sampe nyonyor bibir gue kagak bakalan dikasih lah." ujar Salva dengan bibir yang mengerucut.


"Maksudnya pesuruh itu emang kayak biasanya, nraktir mereka gitu? Duit dari mana juga lo?" tanya Sara.


"Gue sih juga belum tau pasti, hah.. intinya gue kagak punya duit lah kalo disuruh bayarin mereka tiap hari. Gue bisanya pake tenaga doang." jelas Salva.


"Yang sabar ya Va.." ucap Sara sembari mengelus punggung Salva.


"Lo dikibulin kali sama si Nanda!" ujar Melisa yang tidak mendapat jawaban dikala guru Ekonomi sudah berada didalam kelas.


"Siang anak anak.." sapa Bu Anggita kepada semua murid .


"Siang Bu..."


"Sudah siapkah kalian besok? " tanya Bu Anggita.


"Siapp Bu..."


"Ibu hanya mau mengingatkan selama Study Tour nanti diharapkan kepada kalian untuk saling bekerja sama dalam kelompok masing masing. Karena kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 hari 2 malam." terangnya.


"Baik Bu..."


"Baiklah anak anak, sekarang kita beralih ke materi pelajaran hari ini tentang akuntansi dan sistem informasi..."


___


Bel tanda berakhirnya jam pelajaran telah usai, semua murid berhamburan keluar kelas untuk bergegas pulang. Begitu juga dengan Sara, dia berjalan kaki dengan wajah murung seperti biasanya menuju halte. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Bagaimana tidak, dia sebenarnya bingung karena tidak banyak memiliki uang saku untuk menemaninya besok.


'huh! ayah nyebelin banget sih! udah tau aku mau tour malah dikasih uang dikit banget! padahal biaya tour bukan dia yang bayar, masih aja bilang gak punya uang! miskin banget sih punya orang tua.' gerutunya.


"Sara.." suara seseorang yang terdengar tidak asing membuat Sara mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk. 'Daffa!'


Sara mengulas senyum, tampak dipaksakan.


"Hai.." sapanya pada Daffa.


"Naik bus lagi?" imbuhnya.


"Iya nih, ngapain sih lo kalo jalan selalu nunduk?" tanya Daffa.


"Eh, eung.. gapapa.. suka aja.." Sara bingung hendak bicara apa, walaupun sebenarnya ia selalu menunduk karena banyak yang ia pikirkan. Ia membenci hidupnya.


"Ati ati ntar diculik orang lho kalo jalan nggak liat liat." seru Daffa seraya tersenyum, Elang yang dari tadi berdiri disebelahnya pun hanya sibuk memainkan ponselnya.


"Siapa yang mau nyulik gue? pasti rugi tuh orang." jawab Sara asal, ia sebenarnya sangat malas sekali banyak omong sekarang. 'Mana sih bus nya? lama banget!'


"Rugi kenapa? Lo kan pinter dan cantik, adanya penculik itu yang dapet berkah." ujar Daffa.


"Haha.. bisa aja lo."


"Hehe.. ngomong ngomong rumah lo dimana sih?" tanya Daffa.

__ADS_1


'Hadeh.. ngapain sih tanya rumah segala? Ya ampuunn.. males banget sih gue... Kalo Elang mah gue ladenin meski ngobrol sampe besok !'


"Rumah gue.. rumah gue jauh banget, hehe.."


"Iya jauhnya dimana? Alamatnya maksud gue." Daffa masih penasaran.


"Eng.. lo nggak perlu tau dimana rumah gue, yang pasti masih bagusan rumah elo." ujar Sara, ia tidak mau kalo sampe Elang tau dimana rumahnya. Bisa malu tujuh turunan dia.


"Haha.. aneh banget sih lo, gue kan nanya dimana? bukan bagus atau enggak." jelas Daffa.


Seketika itu juga bus yang mereka tumpangi sudah tiba.


"Eh, gue masuk duluan ya, dah! " ujar Sara , ia pun naik dengan terburu buru.


"Lha napa sih tuh anak, kita kan naik bus yang sama." ucap Daffa kebingungan melihat tingkah Sara.


"Ayo nyet!" Elang menarik lengan tangan Daffa untuk segera menaiki bus tersebut.


Untunglah Daffa dan Elang yang terlebih dahulu turun dari bus.


Dengan begitu mereka tidak akan pernah tahu dimana letak tempat tinggal Sara.


***


Sara baru tiba dirumah pukul 5 sore, seperti biasa ia langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Beberapa saat kemudian orang tua Sara telah tiba, Agni mengintip putrinya tersebut yang tengah tertidur pulas dari arah pintu yang tidak terkunci. "Masih tidur, nanti saja aku berikan padanya." ujar Agni seraya menutup kembali pintu itu.


__


Sara dan keluarganya sedang menikmati makan malam saat ini.


"Kalo nggak niat masak ikan mending nggak usah beli, ikan kecil gini bukan selera aku buk." ucap Sara yang menurut dia ibunya sok sokan sekali memasak ikan, biasanya juga tahu tempe sama sayur.


"Sara! Jaga bicaramu! kamu ini anak sekolah berpendidikan, jangan kurang ajar sama orang tua!" sentak Bayu geram, semakin hari ia melihat Sara semakin kurang ajar.


Seperti dua hari lalu, saat ada seorang tamu dirumahnya sedang berbincang bincang dengan ibunya. Ketika itu Sara hendak berangkat ke sekolah, ibunya bertanya kepadanya baik baik tapi Sara justru menjawab dengan perkataan yang tidak seharusnya diucapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya.


"Lain kali ibu akan masak sesuai dengan selera kamu ya nak." ujar Agni dengan senyuman, walau ia ingin menangis.


"Halah nggak usah sok sokan lah buk, sampe kapanpun ibu itu nggak akan pernah bisa buat aku seneng."


"Sara!!" Bayu menggebrak meja makan hingga suara getaran piring dan sendok terdengar jelas.


"Apa sih yah? Yang aku bilang memang bener kan? Kalian nggak akan pernah bisa bahagiain aku! Jadi satu satunya harapan hidup aku cuma diri aku sendiri!" Sara meninggikan suaranya.


Plakk !


"Mas.." pekik Agni.


Satu tamparan yang cukup keras mendarat tepat dipipi kiri Sara. Ini pertama kalinya Bayu menggunakan tangan kepada anaknya.


Sara memegangi pipinya yang terasa perih, namun tidak seperih hatinya. Dia merasa benar, dia merasa hanya dirinya lah yang menderita disini.


"Ayah tega mukul aku?" Sara menatap ayahnya dengan tatapan sendu.


"Kamu memang pantas mendapatkan sebuah tamparan." jawab Bayu .


"Kalo gitu ayo pukul aku lagi yah!" Sara menangis. Bayu terdiam, ia jadi merasa bersalah.


"Ayo pukul yah!" Sara memegangi tangan Bayu mengarahkan ke pipi kanannya.


"Pukul yaahh..!!" Sara berteriak kemudian terisak.


"Pukul aku..." ucapnya parau kemudian menunduk.


"Kamu salah Sara, sikapmu sudah keterlaluan terhadap orang tuamu terutama ibumu. Dia yang telah melahirkanmu, pengorbanannya sungguh besar untukmu. Pernahkah kamu melihat dan menghargainya?" jelas Bayu.


"Pengorbanan besar seperti apa maksud ayah? Kalau ibu sungguh melakukan itu, kenapa tidak ada kebahagiaan dalam hidup aku yah? Hasil seperti apa yang aku dapat dari pengorbanan besar ibu itu?! Nggak ada yah!" jawab Sara.


"Itu karena kamu tidak pernah bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan oleh Allah untukmu! Jadi tidak ada perasaan bahagia yang menyertaimu! " tutur Bayu.


"Kalo aku bersyukur, akankah kehidupanku yang tidak layak ini akan berubah menjadi kebahagiaan? Mustahil yah!"


"Kalau kamu memikirkan kebahagiaan duniawi, maka kemustahilan lah yang kamu dapatkan. Setidaknya berpikirlah bahwa kamu masih diberi kesehatan! Lihatlah orang orang diluar sana yang sedang sakit, mereka berharap kesembuhan. Sedangkan kamu yang telah diberi kesehatan, malah berharap lebih darinya__"


"Namanya manusia pasti selalu menginginkan lebih yah!"


"Bersyukurlah karena kamu juga masih memiliki keluarga yang lengkap! Ada kedua orang tua dan adik yang akan selalu menjaga dan menyayangimu! Jika kamu lebih sedikit menghargai semua itu maka kamu akan tahu bahwa itu adalah kebahagiaan yang sesungguhnya!"


Sara tertawa seperti orang gila.


"Aku udah nggak peduli semua itu yah, karena nyatanya sekarang ini uanglah yang paling berkuasa! hanya uanglah yang membuat hidup kita bahagia!"


"Dasar sinting!" Aby menggelengkan kepalanya melihat Sara.


"Astaghfirullah, sadar atas ucapan kamu nak." Agni mendekati Sara mencoba menenangkannya, namun Sara menepis tangan ibunya itu.


"Bersyukur Sara! Bersyukurlah atas apa yang telah diberikannya padamu!!" seru Bayu.


"Aku benci kalian semua!! " pekiknya seraya berlari menuju kamarnya, ia menutup keras keras pintu tersebut.


__


Dimeja makan Agni hanya bisa menangis, sementara Bayu dan Aby berusaha untuk menenangkan Agni untuk yang kesekian kalinya.


"Kalau tau gedenya jadi nenek sihir, mendingan dibuang aja waktu bayi dulu!" seru Aby geram dengan perlakuan Sara kepada orang tuanya yang tiada sopan santun itu.


"Sstt.. Gak boleh bicara seperti itu sayang." tutur Agni disela isak tangisnya.


"Kita do'a kan saja semoga kakakmu segera diketuk pintu hatinya oleh Allah dan menyadari kesalahannya." imbuhnya .


"Amiinn." sahut Bayu.


Aby menyebikkan bibirnya.


"Aby..." panggil Agni.

__ADS_1


Aby melirik ibunya sekilas kemudian tersenyum paksa "Amin."


***


__ADS_2