Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 24


__ADS_3

Setelah Kenzo menyelesaikan panggilan alamnya, ia dan Felix pun bergegas kembali ke tempat teman temannya.


Ketika melewati tempat Nanda, ternyata memang benar dia sudah tidak ada. 'Ah, kelamaan nih gue ditoilet.' batin Kenzo.


Setelah tiba ditempat mereka pun berbagai macam makanan telah tersaji diatas meja. Sepertinya Eloy memang menepati perkataannya, karena hampir dari seluruh menu warung makan tersebut dipesan olehnya.


Namun mereka semua belum menyentuh makanan tersebut lantaran masih menunggu Kenzo dan Felix.


Saat Denise melihat seseorang yang menjadi penyebabnya belum bisa menikmati makanan itu, pun dengan ketus menyeletuk. "Ngapain aja sih kalian ditoilet? lama banget!"


Felix menatap gadis yang ia rasa sedang meneriaki dirinya itu, pun menyaut. "Kenapa sih? Kangen?"


Denise pun mendelik, " Kangen pala lo?! Gue sampe kelaperan gegara nungguin kalian!" Ucapnya sewot.


"Yaudah yuk makan guys!" Seru Xander.


Tanpa menunggu perkataan Xander selesai, Denise sudah terlebih dulu mengambil makanan dan memakannya sedikit.


"Boong lo! kalo kangen tinggal bilang aja sih? Gausah pake teriak teriak gitu sayang." Ujar Felix yang disambut tatapan tanda tanya dari semua teman temannya dan Denise pun tersedak oleh makanan yang baru saja akan ia telan.


Uhuk..uhuk..uhuk..


"Pelan pelan Den." Ucap Jane seraya menyodorkan minuman kepada Denise, begitu pun dengan Felix yang menyodorkan minuman miliknya.


Tentu saja Denise lebih memilih menerima pemberian Jane. Felix yang diabaikan pun kemudian meminum minumannya sendiri.


Ia juga mendapat tatapan membunuh dari Denise.


'Gila, udah nyerang duluan nih anak!' batinnya.


"Ngomong apaan lo barusan?!" Seru Denise.


"Sayang."


Denise semakin mendelik, 'Sialan, mana gue belum siap lagi!'


"Elo gila ya?!"


"Iya gue udah gila, tergila gila sama elo." Jawab Felix seraya mengembangkan senyum khas perayu wanita.


"Gila!!" Seru Denise.


Teman temannya pun mengolok olok mereka berdua.


Kenzo memegang dahi Felix, "Elo nggak papa?!"


"Wah.. gawat nih gawat! Bahaya!" Imbuhnya berteriak heboh.


"Apaan sih a*jir, kaget gue?!" Seru Xander.


"Kenapa sih? Jangan jangan kalian udah jadian ya barusan!" Tebak Jane.


Denise menggeleng cepat, "Enggak lah! Palingan juga dia kesambet setan ditoilet tadi!"


"Felix udah terpapar virus cinta nya si Denise ditoilet tadi! Bwahahaha.." seru Kenzo heboh sendiri.


"A*jay! Mulut lo mau gue sumpel kepala ikan?!Nih!" Sentak Denise seraya mengangkat ikan bakar yang ada didepannya.


"Enggak, makasih. Buat lo aja!" Kenzo masih menyeringai.


"Ada apaan nih? Tumben banget lo banyak ketawa?" Tanya Xander heran, karena yang ia tahu biasanya Kenzo hanya bicara dan tertawa seperlunya saja.


"Oh ya, mana hape gue?" Sela Denise sebelum Kenzo menjawab pertanyaan Xander.


Dahinya berkerut mengingat ingat, "Hape? Oiya gue sampe lupa. Hape lo ada sama Felix."


Denise melotot, "Apa? Kenapa lo kasih dia sih?! Tau gitu nggak gue pinjemin elo tadi!" Seru Denise.


"Apaan sih marah marah? Tinggal minta balik doang. Mana bro hapenya si Denise?" Ujarnya pada Felix.


Felix menyodorkan ponsel berwarna putih milik Denise kepada Kenzo. "Nih."


Kenzo pun menerimanya, kemudian menyalin nomor sahabatnya yang disimpan pada ponsel itu.


"Nih, thanks ya." Ucapnya seraya mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.


Denise pun mengangguk, 'Gue kira bakal dipersulit sama si buaya tongkang.' batinnya.


"Eh Loy, gue barusan ketemu si Nanda. Dia Study Tour disini juga!" Seru Kenzo pada Eloy.


Eloy masih belum mencerna perkataan Kenzo dengan baik karena ia sedang fokus pada makanan yang sedang dilahapnya.


"Nanda siapa?" Ucapnya acuh.


"Astaga.. Nanda yang mana lagi?! Emang temen lo yang namanya Nanda ada berapa?!"


"Banyak sih..." Eloy terdiam, ia menatap Kenzo lekat lekat. "Hah? Maksud lo Nanda sobat kita?!" Teriaknya.


"Iyalah kodok!"


"Sumpeh lo?!"


"Capek gue ngomong sama elo!"


"Dimana elo ketemu dia?!" teriak Eloy.


"Haduh.. bisa diem nggak sih?" seru Lea.


"Tau, berisik!" timpal Jane.


"Ganggu konsentrasi orang makan aja!" imbuh Jovi.


"Emang kalo makan butuh konsentrasi ya?" tanya Lea.


"Yaiyalah! Kalo pas makan ikan nggak konsen, bisa ketelen sama duri durinya!" jawab Jovi.


"Nggak sekalian kepalanya juga elo telen?" sahut Lea.


"Kepala lo ntar yang gue telen!"


"Wih, sadis amat lo."


"Sama aja, sekarang ganti kalian yang berisik." ucap Eloy sinis.


"Bweekk!" ejek Lea.


"Lanjut.. lanjut. Dimana elo ketemu dia tadi?" Eloy mengulangi pertanyaannya setengah berbisik.


"Disebelah sana tadi pas gue mau ke toilet." ujarnya sembari menunjuk arah tempat Nanda tadi.


Eloy pun mengikuti arah jari telunjuk Kenzo, tapi dia tidak melihat seseorang yang dimaksud. "Mana?" tanyanya sambil celingukan.


"Gue kan bilang tadi, dasar ogeb!" celetuk Kenzo.


"Kenapa elo nggak panggilin gue tadi?!" seru Eloy.


"Tadi gue kebelet, jadi buru buru. Tapi gue udah minta WA nya, nanti kita hubungin dia." jelas Kenzo.

__ADS_1


"Oo.. yaudah nanti kita hubungin dia. Awas aja kalo nanti gue ketemu dia, gue kepret sampe abis tuh bocah! Dia berutang penjelasan sama kita!" seru Eloy.


Kenzo mengangguk anggukan kepalanya.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan makan siang. Eloy yang awal mulanya bernafsu sekali untuk menghabiskan beberapa menu yang telah diinginkannya pun menjadi tidak berselera, karena ia sedang memikirkan sahabat baik yang tanpa pamit meninggalkan dirinya 2 tahunan ini.


Terlebih lagi ketika Xander mengingatkan tentang taruhan Felix dan Denise yang ia buat tadi.


Karena nyatanya dirinya lah yang kalah taruhan, Xander telah bertanya pada Felix bahwa dia dan Denise tidak berciuman.


Akibatnya Xander meminta Eloy membayar semua makanan yang telah mereka pesan tadi.


"A*jir lo Xan! Lo bilang, elo yang bakal traktir kita semua tadi?!" gerutu Eloy setelah mereka semua keluar dari warung makan tersebut.


Xander dan temannya terkekeh, "Suruh siapa elo kalah?" ujar Xander.


"Bisa aja lo ambil kesempatan?!" seru Eloy.


"Elo juga Fel, kenapa nggak lo cium aja tadi si Denise?! bikin gue bangkrut aja lo!" imbuhnya menyalahkan Felix.


Denise melototkan matanya kearah Eloy, "Eh, tuh mulut dijaga ya! Pengen gue tabok pake dayung mulut lo, hah!"


"Belum saatnya bro, tenang aja." ucap Felix.


"Hah?" Eloy dan Denise melongo bingung.


"Kayaknya si Felix udah mulai suka nih sama Denise." ujar Lea.


"Jangan mau Den, inget dia itu buaya." sahut Jane.


"Apaan sih Jane, gak suka banget lo sama gue." seru Felix.


"Kasian aja sahabat gue kalo sampe jadian sama playboy kayak elo, makan ati!"


"Kata siapa? gue nggak gitu kok sekarang!" ucap Felix membela diri.


'Ngomong apa sih dia?' batin Denise.


"Eh udah dong ributnya, nih liat ada notif dari Pak Axel (Guru pembimbing mereka). Katanya kalo mau menuju Pura sekarang bakalan kesorean ntar baliknya, soalnya ada sekolah lain juga yang bakalan kesana sekarang. Jadi diganti tujuannya, dan jam 4 nanti kita disuruh kumpul diparkiran bus." jelas Xander seraya membaca pesan dari ponselnya.


"Lha, jadi kita mau balik sekarang?" tanya Lea.


"Maybe."


"Yahh.. padahal gue pengen banget naik itu." ujar Jane menunjuk kearah Speedboat dengan wajah melas penuh harap.


"Kamu pengen naik itu sayang?" ulang Xander dan dijawab anggukan kepala oleh Jane.


Xander melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. "Masih ada waktu kok, ayo kita naik." ujar Xander.


"Hah? Beneran?" Seru Jane sumringah.


"As you wish.."


"Thanks honey.."


Xander tersenyum senang.


"Eh, kalo kalian mau balik, duluan aja gapapa. gue sama Jane mau keliling danau dulu."


Xander dan Jane pun segera bergegas menuju tempat persewaan perahu, karena hanya tinggal satu jam waktu yang mereka miliki sebelum kembali ke hotel.


"Elo nggak ngajak kita nih?" seru Eloy.


Xander melambaikan tangannya, pertanda hanya ingin berdua.


"Ho-oh, gaya banget nggak ngajak kita! Serasa dunia punya kalian aja!" timpal Denise.


"Memang pasangan ya gitu, wajar. Sirik aja sih duo jones!" sindir Lea pada Denise dan Felix.


"Apa sih cocolan nyam nyam?! nyambung aja lo kayak kabel!" sahut Denise sewot.


"Emang elo udah punya pacar pake ngatain kita?" tanya Felix.


"Belom sih, tapi seenggaknya masih ada orang yang gue taksir. Nggak kayak kalian!" ucap Lea pede.


"Kita kenapa emang?" tanya Denise.


"Sama sama nggak suka lawan jenis!" serunya seraya berlari menjauhi Denise dan Felix.


"Dia aja kali!" seru Felix.


Denise melirik Felix kesal,


"Dasar oncom bantet!! sini lo, gue ceburin ke danau!!" teriak Denise sembari mengejar Lea yang bersembunyi dibalik Kenzo.


Lea berputar mengelilingi Kenzo seraya menarik jaket yang dikenakan laki laki itu.


"Bweeekk.. bweekk.. gak kena!" Lea menjulurkan lidahnya.


Seketika itu juga Denise berhasil menggapai pergelangan tangan Lea.


"Nah kena lo!" seru Denise.


"Aduh.. aduh.. tolongin gue! Kenzo tolongin gue dari cewek bontot ini!" teriak Lea, tangan satunya masih berpegangan erat pada jaket Kenzo. Sehingga membuat laki laki itu ikut terseret kesana kemari.


"Hei.. apa apaan sih kalian? molor nih jaket gue!" seru Kenzo.


"Tolongin gue.. gue mau diceburin!" teriak Lea.


Suara Lea terdengar sangat nyaring ditelinga Kenzo, hingga menjadikan ia melepaskan cengkraman tangan Denise dan membekap mulut Lea.


"Diem! lo mau gue yang nyeburin elo kesana?" Kenzo menunjuk danau tersebut menggunakan dagunya. "Cempreng banget sih suara lo Lea!" tegasnya.


Lea pun mengangguk sebagai jawaban.


Kenzo yang tersadar akan posisi tangannya pun merasa tidak enak, "Maafin gue Lei.. maksud gue bukan__"


Lea mengangkat telapak tangannya didepan Kenzo, "Nggak papa, santai aja. Gue suka kok." ucapnya membuat Kenzo tertawa kecil.


"Suka apa? suka gue bekap atau gue bentak?" tanya Kenzo.


Lea meringis, "Dua duanya! hehe.. Elo ceburin ke danau juga gue rela."


"Hah? Beneran nih?"


"Iya.. asal sama elo nyeburnya."


"Haha.. kalo gue ikutan nyebur, nanti siapa yang nolongin elo?"


"Emang elo mau nolongin gue kalo gue kecebur? kan elo yang nyeburin gue?" ujar Lea.


Kenzo menggeleng, "Gue gak jadi nyeburin elo sih, gue cuma nyelupin sebentar terus gue angkat lagi."


"Ngomong apaan sih, gaje kalian! Ayo ikut gue!" Denise menarik paksa tangan Lea dengan mulut menggerutu tidak jelas.


"Apa apaan sih maen tarik aja? ganggu orang pdkt aja sih lo!" seru Lea.

__ADS_1


"O*n, emang ada orang pdkt obrolannya ngelantur?!"


"Sirik aja sih! mau gue ngobrolin alien idup di laut juga apa urusan lo?!" ujar Lea.


Denise memutar bola matanya kesal,


"Mau kemana kalian?" teriak Jovi yang tidak digubris oleh Denise menyebabkan dia mau tidak mau mengekor dibelakang.


"Tungguin woi.. masa tambah mencar gini sih!" teriak Eloy.


"Kita ikutin mereka." ucap Felix.


**


Setelah sampai ditempat persewaan perahu, terlihat begitu banyak orang yang juga ingin menyewa. Sehingga mengharuskan Xander sebagai holkay turun tangan.


Hanya 10 menit mereka menunggu persiapan Speedboat dan orang yang hendak mengemudikannya, akhirnya Jane dan Xander pun dapat menyewa satu Speedboat berwarna putih merah dan mereka berdua pun lekas menaikinya.


Suara mesin menderu, Speedboat memecah keheningan air danau yang tenang dan melaju dengan kecepatan tinggi. Udara yang mendung dan angin yang tertiup kencang membuat rambut panjang Jane berkibar melambai lambai. Speedboat yang bergoyang ke kiri dan ke kanan, depan belakang dengan sesekali timbul cipratan air membuat ia semakin berseru meskipun tubuhnya menggigil.


Dengan segera Xander pun memakaikan jaket yang ia kenakan ketubuh Jane.


Jane yang terkejut pun, lantas menoleh kearah kekasihnya itu.


"Kamu kok bisa pake baju kayak gini sih?" ujar Xander yang masih sibuk memasangkan jaketnya, jaket itu pun terlihat kebesaran ditubuh Jane.


"Eung.."


"Nah, udah.. aku nggak rela tau tubuh kamu disentuh sentuh sama angin!" seru Xander dengan bibir mengerucut.


Jane terkekeh pelan, "Bisa aja sih! Makasih ya sayang.. tapi kamu yang jadi kedinginan deh sekarang?"


"Nggak papa.. kamu kan bisa ngangetin aku." tanpa aba aba, tiba tiba Xander merengkuh tubuh Jane kedalam pelukannya.


Dan Jane pun sepenuhnya tidak menolak, malahan ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada dada Xander.


Jane benar benar terlena akan pelukan lelaki itu, terasa sangat memabukkan.


***


Disisi teman teman Jane, mereka lebih memilih untuk kembali berkumpul bersama murid lainnya di bus.


Namun ternyata disana masih sedikit murid yang datang. Lea yang tidak bisa diam pun akhirnya mengajak Denise dan Jovi untuk berbelanja. Kedua sahabatnya itu pun menyetujuinya. Tak lupa pula dengan ketiga cowok yang sedari tadi mengekor dibelakang mereka pun turut diajak oleh Lea.


Mereka menuju ke salah satu tempat yang menjual oleh oleh khas daerah tersebut.


Berbagai macam baju, sepatu, tas, aksesoris dan juga lukisan tersedia disana.


Awalnya mereka tidak tertarik untuk membeli sesuatu, mereka hanya berjalan jalan saja.


Semakin menuju kedalam mereka juga menjumpai buah buahan dan sayuran yang dijual disana. Terutama buah stroberi dan juga tomat yang melimpah ruah, menarik perhatian Denise.


Ia menghampiri salah satu penjual buah berwarna merah tersebut.


Tidak tanggung tanggung, Denise pun membeli dua kantung besar buah stroberi. Hingga membuat ketiga laki laki disana heran, sedangkan Lea dan Jovi sudah tahu alasan Denise membeli buah sebanyak itu.


Lantaran itu adalah buah favorit ibu dan juga dirinya. Sejak ibunya tiada, setiap hari ia selalu minta dibelikan buah stroberi oleh ayahnya. Dan saat SMP, ketika ia melihat buah stroberi dimanapun maka Denise akan langsung memborong buah itu berapapun yang ada di toko tersebut. Kemudian dia akan membagikannya kepada anak anak jalanan bersama para sahabatnya.


"Huih.. ternyata sepulang dari sini nanti, elo langsung dapet pelajaran berharga ya." celetuk Eloy.


Denise mengernyitkan keningnya,


"Apa sih?!" serunya.


"Elo langsung pengen jadi pedagang buah?" lanjut Eloy.


"Buah segitu banyak, mau lo buat apa Den? Gak mungkin kan elo makan sendiri? Atau mau lo buat nyemen jalanan?" Eloy terus nyerocos.


Denise cuek, tidak menghiraukan Eloy. Felix pun mengikutinya dan langsung menyambar dua kantung belanjaan milik Denise seraya berjalan mendahului teman temannya.


Denise pun hanya bisa melongo kemudian berjalan menyusul Felix.


Lea langsung menginjak kaki Eloy keras,


"Atah.. atah.."


"Apa apaan sih Lei! sakit tau!" seru Eloy.


"Kalo nggak tau apa apa, diem! jangan nyerocos terus kayak petasan renceng!" ujar Lea seraya berjalan mengikuti Denise dan Felix, disusul oleh Kenzo dan Jovi.


"Elaahh..woii, buset.. tungguin dong!" teriak Eloy.


__


Denise pun mencegat Felix,


"Siniin barang gue!" serunya.


"Sekarang mau kemana lagi?" tanya Felix mengalihkan perkataan Denise.


"Balikin barang gue Felix!"


Felix malah tersenyum, "Langsung balik aja ya?" ujarnya.


"Heh, lo budek ya?!"


Denise yang tidak digubris pun langsung menarik tangan Felix, berharap bisa mengambil belanjaannya namun tenaga laki laki itu semakin kuat mencengkeram kantung tersebut.


Denise menyerah, "Mau lo apa sih?!"


"Cuma mau bantu bawain aja." ucapnya kembali melangkahkan kakinya.


Denise menghela nafasnya kasar kemudian kembali berjalan disamping Felix.


***


Disisi Sara dkk, setelah selesai makan siang tadi mereka pun bergegas pergi menuju Pura LU.


Mereka harus menaiki Speedboat terlebih dahulu agar bisa cepat sampai ke tempat kunjungan mereka selanjutnya. Karena kalau menggunakan perahu akan memerlukan waktu yang lama.


Sara dan kedua sahabatnya pun tidak bergabung bersama Elang cs, dikarenakan Speedboat berukuran kecil tersebut hanya muat untuk menampung 4 orang saja.


Pada siang menjelang sore hari, kabut tipis mulai terlihat turun menutupi permukaan Danau B dan area perbukitan. Letak Pura yang berada pada ujung Danau pun telah nampak dari pandangan mereka saat ini.


Posisi yang unik dan menjorok ke tengah Danau, juga membuat Pura tersebut tampak mengapung diatas Danau saat air pasang.


Setelah tiba, Sara dkk pun bergegas turun dan masuk kedalam.


Disana mereka disambut oleh pemandangan yang tak kalah indah dari danau B. Terdapat kebun yang berisikan banyak ragam bunga yang menyegarkan mata, suasana asri, lingkungan yang alami dan keunikan arsitektur yang disuguhkan Pura tersebut. Disana juga terdapat pemandu yang bersedia untuk memberikan sedikit gambaran tentang sejarah dan berdirinya Pura suci bagi umat Hindu itu.


__


Dan selesai sudah kunjungan mereka hari ini, Guru pembimbing pun menginstruksi murid muridnya agar segera berkumpul dan kembali ke hotel karena hari sudah menjelang petang.


Sara dkk bergegas menuju bus yang ditumpanginya tadi, sedangkan Elang cs pun juga kembali menuju hotel dengan mengendarai mobil Daffa.


***

__ADS_1


__ADS_2