
Suara kombinasi passcode apartemen Daffa berbunyi dan tak lama suara pintu terbuka terdengar, mengalihkan pandangan Daffa dan Sara melihat siapa yang datang.
Seseorang menyelonong masuk dan langsung menuju lemari pendingin, ia mengambil sesuatu didalamnya tanpa izin kepada pemiliknya.
"Woii.. mo maling lo!" teriak Daffa dari tempat duduknya.
Seseorang tersebut tidak menggubris teriakan Daffa, ia meneguk habis satu kaleng minuman bersoda yang telah ia ambil tadi. Setelah habis, ia memandangi isi lemari pendingin tersebut untuk mencari sesuatu lagi.
"Miskin banget sih lo, kulkas isinya cuman aer doang!" ucap seseorang tersebut seraya menutup lemari pendingin itu dengan keras, kemudian menatap pemiliknya.
"Iya gue miskin, elo yang kaya.." Sahut Daffa santai.
"Orang kaya yang maling aer di rumah si miskin." ledeknya.
"Lo kenyang apa cuma makan aer? Isi yang laen kek sekali sekali!" sambil berjalan menuju sofa kemudian ia duduk dan merebahkan tubuhnya bersebelahan dengan Daffa.
"Suka suka gue lah, kulkas punya gue! ntar ya gue isi baju sama sepatu jangan kaget lo!" Sahut Daffa yang mendapat tatapan tajam dari orang disebelahnya, Elang.
"Gue laper nih!"
"Buset dah ni anak, lo minta makan sama gue emang gue emak lo apa?!"
"Lo udah makan belum sih?" tanya Elang.
"Gue udah makan tadi bareng Sara, iya kan Ra?" jawab Daffa mengalihkan pandangan kearah Sara seraya menggerakkan alisnya keatas dan kebawah.
Sejenak Elang melirik kearah gadis yang duduk disofa seberang sedang menatap kearahnya sambil tersenyum ramah.
Namun Elang malah mengalihkan pandangannya kembali menatap Daffa.
"Anj*r lo, makan nggak ngajak ngajak gue!" seru Elang.
"Daffa kayaknya belum makan kok, tadi gue makan sendiri."
Lagi lagi Elang hanya melirik sekilas kearah asal suara yang menyahutinya itu.
Elang mengernyitkan alisnya menatap Daffa "Nungguin apaan lo? Buruan pesen makanan! Dari kemaren gue belum makan!"
"Seenak jidat lo nyuruh nyuruh gue! Iya.. bentar napa, lo kalo kelaperan makin galak aja sih kayak ayam angrem!"
ejek Daffa sembari menyalakan ponselnya untuk memesan makanan via online.
"Mau makan apaan lo?" tanya Daffa.
"Ayam bakar biasanya aja." jawab Elang.
"Jangan lupa es jeruknya dua." imbuhnya.
Sejenak Daffa berkutat dengan benda pipih tersebut,
"Udah gue pesenin," ujar Daffa seraya meletakkan ponselnya diatas meja.
Elang tersenyum tipis, ia menepuk pundak Daffa. "Thanks bro!"
Daffa mengangguk, "Jangan sampe telat makan terus, entar kalo lo sakit malah ngerepotin gue lagi. Masih waras aja udah ngerepotin!" serunya.
"Gue memang paling seneng ngerepotin elo beg*!"
"Kampret lo!!"
Elang tersenyum, Daffa menatap Elang dengan tatapan nanar.
'Kasian banget sih elo Lang, sebenernya lo tuh bisa jadi anak baek baek. Tapi gara gara nggak pernah dapet kasih sayang dari keluarga lo, elo sampe jadi kayak gini.' gumam Daffa.
___
Di lubuk hati Daffa yang paling dalam, dirinya sangat menyayangi Elang melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri bahkan kepada kedua orang tuanya. Elang menjadi orang pertama yang akan Daffa prioritaskan dalam hidupnya. Saat Elang bersedih dan berada dalam masalah, Daffa selalu ada untuknya. Daffa menganggap Elang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Semua itu karena sejak kecil Elang hidup dengan kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tidak ada yang memperhatikan dan mempedulikan perasaannya, hanya uang lah yang menemani kehidupannya.
Elang pernah mengatakan bahwa dirinya sangat iri terhadap Daffa, dikarenakan hidupnya dikelilingi oleh orang orang yang menyayanginya.
Maka dari itu orang tua Daffa pun sudah menganggap Elang sebagai anaknya sendiri, mereka memberikan Elang kasih sayang yang sama dengan Daffa. Dulu Elang juga sering tidur dirumah Daffa dibandingkan rumahnya sendiri meskipun disana masih ada nenek yang ia sayangi, ia merasa tidak nyaman karena disana juga ada Lintang (saudara lain ibu). Entah kenapa Elang sangat membenci Lintang. Mungkin karena Elang sering melihat ibundanya dulu selalu menangis jika mengingat tentang istri dan anak dari ayahnya itu.
Orang tua Daffa juga lah yang selalu hadir disekolah Elang dulu mewakili orang tuanya yang sama sekali tidak pernah hadir, saat pengambilan rapor, pentas seni, dan perpisahan sekolah.
Namun jika menyangkut kenakalan Elang, orang tuanya bisa menghadiri panggilan tersebut. Maka dari itu Elang selalu mencari masalah di sekolahnya agar ia bisa mendatangkan orang tuanya. Dan sampai sekarang bahkan bisa dihitung dengan jari pertemuannya dengan orang tua kandungnya sendiri.
Itulah kenapa Elang sekarang menjadi pribadi yang dingin dan introvert (hanya kepada Daffa lah ia bisa terbuka).
Ia sengaja merusak dirinya sendiri, berkelahi, mabuk mabukan, bahkan **** bebas diusianya yang terbilang masih belia. Pada saat SMP juga pernah menggunakan barang terlarang yang menyebabkan ia harus menjalani rehabilitasi, untung saja dia tidak terjerumus terlalu dalam dan untungnya dia juga tidak menggunakannya lagi sekarang. Itu semua berkat dukungan dan masukan dari Daffa.
Setelah memasuki SMA, Elang pun memutuskan untuk tinggal di apartemen sendiri. Daffa yang setia pun memilih untuk mengikutinya tinggal di apartemen bersebelahan dengannya.
___
"Woii nyet!" Elang menjentikkan jarinya didepan muka Daffa.
"Eh.. apaan?" seru Daffa tersadar dari lamunannya.
"Ngapain sih lo bengong?"
"Eh..eng... Eh lo balik ke kamar lo sono!!"
"Weh, kenapa lo? Gue kan nungguin makanan gue."
"Lo kan bisa nunggu dikamar lo kampret!"
"Wah, ngusir gue lo? Emang mau ngapain lo?" Elang melirik Sara yang sedari tadi diam menyaksikan percakapan dua laki laki nyeleneh itu.
"Ho - oh gue ngusir elo!!" seru Daffa seraya mendorong dorong tubuh Elang yang tidak mengindahkan kata katanya.
__ADS_1
"Sana sana syuh.. syuh.."
"Anj*r! sabar dong bro, gue nggak akan ganggu kalian kok." ejek Elang hendak beranjak dari duduknya.
"Dari tadi lo tuh udah ganggu nyet!" seru Daffa.
Elang terkekeh sembari berlalu pergi, ia berjalan mundur menuju pintu. Sara yang tengah memperhatikannya pun ikut tersenyum . Namun senyum itu pudar saat Elang meneriakkan kalimat, "Eh , gue kasih tau ya sebenernya si Daffa suka sama elo!" sembari menutup pintu apartemen tersebut.
"Kampret lo monyet!!" teriak Daffa.
Sara mematung menatap kearah pintu yang telah tertutup. Entah kenapa rasanya ia sedih sekali mendengar penuturan Elang barusan.
Dadanya terasa sesak, 'Mungkin memang bener bener mustahil untuk gue bisa sama Elang! Dia sama sekali gak suka gue! Malahan tadi dia bilang Daffa, Daffa yang suka sama gue? Tapi gue sukanya sama elo Lang!' batinnya.
"Sara..." panggilan Daffa mengagetkan dirinya yang tengah bergelut dengan perasaan yang menyakitkan.
"Eh.. iya Lang..?" jawab Sara tidak sadar.
Daffa mengernyitkan dahinya, "Lang?"
"Hah.. apa? Maksud gue.. gue ngomong apa sih? Lo tanya apa tadi?" ucap Sara yang tengah kebingungan.
Daffa menghela nafas, "Gue nggak nanya apa apa. Gue cuma manggil elo, lo keliatan bengong. Lo ngelamunin apaan sih?" ujar Daffa.
"Eung.. enggak kok," jawab Sara gugup.
Daffa menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Daf, gue balik dulu ya? Gak enak sama temen temen gue pasti mereka kuatir."
"Eng.. yaudah deh kalo lo mau balik, gue anterin ya?"
"Ng..gak usah Daf, gue bisa pulang sendiri kok. Dimana baju gue semalem?" ujar Sara menolak tawaran Daffa.
"Pokonya gue anterin elo, baju lo dibawa sama art gue. Gue balikin besok disekolah, lo tunggu bentar gue mau siap siap dulu." Daffa berucap sambil berlari kecil menuju kamarnya.
Sara yang melihatnya hanya bisa pasrah.
Dibenaknya sekarang hanya memikirkan Elang. Keinginan untuk memilikinya sungguh besar, walau sebenarnya dia sadar siapa dirinya dan siapa Elang. Ingin mengungkapkan keinginan tersebut namun dirinya tidak sanggup mendengar jawaban darinya.
Sekarang dia sudah tidak bisa lagi merasakan cinta dari orang lain karena cintanya hanyalah untuk Elang, walaupun dirinya tidak tahu apa yang dirasakan Sara.
Sakit memang rasanya, kecewa memang kata itu yang di dapatkan, tetapi karena dirinya yang memilih untuk mencintai Elang, maka sebisa mungkin hatinya pun juga harus bisa menerima kenyataan ini. Bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
***
Daffa tengah melajukan mobilnya untuk mengantarkan Sara menujubrumah Salva. Tidak ada obrolan yang menemani mereka berdua sepanjang perjalanan. Sara yang kalut akan pikiran nya sendiri dari tadi hanya diam dan melamun menatap nanar keluar jendela, sedangkan Daffa sebenarnya telah paham akan perubahan raut wajah Sara ketika memandangi sahabatnya tadi. Dia juga sudah menduga bahwa Sara sebenarnya menyukai Elang. Jadi dia memilih untuk diam dan tidak menanyakannya, tentang perasaannya sendiri mungkin dia akan melupakannya saja.
Setelah tiba di rumah Salva , Daffa pun segera berpamitan pulang dan Sara pun mengiyakan. Setelah mobil Daffa tidak terlihat lagi dari pandangannya, ia pun bergegas mengetuk pintu rumah sahabatnya tersebut.
tok.. tok.. tok..
Tak selang beberapa lama pintu tersebut akhirnya terbuka, Sara menoleh kearah seseorang yang tengah membukanya.
Seseorang tersebut pun kaget melihat Sara yang tengah berjongkok didepan pintu dengan mata yang sembab dan berlinang air mata. Tanpa banyak kata, ia segera memapah Sara untuk masuk kedalam rumah tersebut kemudian bergegas memeluknya.
Sara pun malah menangis sejadi jadinya dipelukannya.
Setelah tangisan Sara mereda, dilepasnya pelukan itu.
"Lo kenapa? Ada masalah apa? Ceritain semuanya ke gue Ra." ucap seseorang tersebut tak lain ialah Melisa. Ia tadi hendak keluar rumah untuk melihat lihat dan menunggu Sara pulang. Dan tak disangkanya dia malah menemukan sahabatnya itu tengah menangis didepan pintu.
Sara menggeleng, "Gue cuma lagi sedih aja Mel."
Melisa menghela nafas panjang, "Yaudah gue nggak maksa, lo dari mana aja sih semalem?" tanyanya tidak sabar, karena dari semalam dia dan Salva sangat cemas dan ketakutan jikalau terjadi apa apa dengan sahabatnya itu. Bahkan mereka berdua baru bisa tertidur pukul 2 pagi. Pastinya mereka akan langsung mengintrogasi Sara ketika dia sampai nanti. Untung saja Melisa dulu yang melihat Sara dalam kondisi seperti tadi. Kalau saja Salva yang melihatnya, bisa bisa kehebohan akan tercipta di pagi yang cerah ini.
"Gue nginep diapartemen nya Daffa." sahutnya cuek.
"Apa? Nginep diapartemen nya si Daffa?" tanya Melisa mengulangi perkataan Sara.
Sara menganggukan kepalanya.
"Kok bisa?"
Pada saat Sara akan menyahut tiba tiba terdengar teriakan suara cempreng dari arah tangga.
"Saraaaaa..!" seseorang tersebut berlarian menghampiri dia dan Melisa.
"Omegad.. omegad.. omegad.. lo masih utuh?" ujarnya seraya meraba raba tubuh dan muka Sara.
Tanpa peringatan, Melisa menoyor kepala Salva. "Lo kira dia dimutilasi!"
Salva mendelik kesal kearah Melisa.
"Enak banget sih lo maen noyor kepala orang!!" seraya mengelus elus kepalanya yang tak bersalah.
"Habisnya elo gada akhlak! Kalo masih ngantuk tidur sono!" sentak Melisa.
"Yee.. kalo tadi lo masih ada disamping gue mah sekarang gue mungkin masih ngorok!" jawabnya asal.
"Emang gue asisten lo apa, suruh disamping lo terus!" ujar Melisa tak mau kalah.
Sara yang melihat pertikaian kecil dua sahabatnya itu menjadi pusing, ia memijit pelipisnya. "Aduh.. udah dong ah, kalian ini kebiasaan deh!" ucapnya.
"Melisa tuh! Gue jadi lupa sama lo!" seru Salva.
"Oh iya Ra, lo dari mana aja siihhh!!" Salva sedikit meninggikan suaranya.
"Duh! Gue tadi udah mau jawab, elonya tiba tiba treak!"
__ADS_1
Salva cengengesan, "Yaudah cepetan ngomong.." tanyanya tidak sabaran.
"Ck! Gue nginep di apartemen di Daffa!" Jelasnya sekali lagi.
"Apaaahhh??!!"
Sara sudah menduga Salva akan berteriak heboh.
"Kok bisa sih?!!"
"Kata dia sih gue semalem mabok, dan gue pingsan di parkiran, trus.."
"Pingsan di parkiran? Kok bisa?" sela Salva.
Melisa menoyor kepala Salva sekali lagi, ia gemas sekali melihat sahabatnya yang bodoh itu.
"Dengerin dulu beg*!" tutur Melisa.
Salva melengos, kemudian memindahkan posisi duduknya agak jauh dari Melisa yang mendapat lirikan sinis darinya.
"Lanjut Ra!" ujarnya pada Sara.
"Dia kebetulan mau balik terus dia lihat gue pingsan abis itu dia nyariin kalian kedalem tapi kata dia kalian berdua nggak ada. Karena dia bingung dan gatau nomer hp kalian maupun alamat rumah gue, jadinya dia bawa gue ke apartemennya." terang Sara.
"Emang kalian kemana sih waktu itu?" imbuhnya.
Salva dan Melisa diam, mereka masih mencerna penjelasan dari Sara. Dia memang mabuk tapi kalo Pingsan? Di parkiran? Mereka berdua saling pandang, mungkin yang ada dipikiran mereka sama.
"Lo pingsan di parkiran? Kok bisa sih?" tanya Melisa setelah sejenak tadi terdiam.
"Elahh.. gue kan mabok, mana inget. Lagian kalian kan yang sadar kok malah tanya gue sih? Kalian nggak jawab sih, kalian dari mana? Jangan jangan kalian ninggalin gue ya!" seru Sara curiga bahwa kedua sahabatnya itu sengaja meninggalkannya dalam keadaan mabuk.
"Gila kali kita ninggalin elo. Gue kemarin ngobrol sama Kak Lintang diluar sebentar. Pas gue masuk cuman ada Melisa yang udah bingung nyariin elo, kunyuk!" jelas Salva.
Sara menatap kearah Melisa, "Apa? Gue juga gatau elo kemana. Gue cuman pergi ke toilet sebentar, gara gara lo juga sih! Minuman yang lo pegang tumpah dibaju gue, pas gue balik lo udah kagak ada disono. Gue juga liat mejanya si Elang kosong." jelas Melisa.
Sara tampak berpikir mengingat ingat.
'Apa jangan jangan gue nyamperin si Elang lagi? Aduuhh gawat kalo sampe bener!!' batinnya.
"Elo tuh yang ngeluyur kemana?!" seru Melisa.
"Duhh tau ah! Pusing pala gue!" jawab Sara seraya mengusap usap rambutnya dengan kedua tangannya.
"Untung kagak pusing pala berbi!" celetuk Salva.
"Bentar deh Ra!" ralat Salva ditengah tengah kegundahan Sara dan kebingungan Melisa.
Mereka berdua nampak menatap kearah Salva dengan raut wajah serius.
"Apaan?" jawab Sara.
"Gimana rasanya elo tidur di kasurnya si Daffa?" tanya Salva yang ternyata dari tadi dia memikirkan hal konyol itu.
"Apaan sih lo Va? Kepo banget sih! Pasti enak lah, iyakan Ra?" sahut Melisa menahan tawa.
"Gila lo berdua!" jawabnya ketus.
"Ayolah Ra, ceritain dikit ke kita! Gimana kamarnya, dia ngapain aja dirumah, terus.." Belum selesai Salva menyampaikan pertanyaan nya, lagi! dia mendapatkan toyoran dari Melisa.
"Melissa..!!" teriaknya.
"Lo tuh ya... seenaknya noyor pala gue!! Udah 3 kali Mel, TIGA kali pagi ini!!" cetus Salva bersungut sungut.
"Emang enak lo sarapan toyoran gue pagi ini! Lo tuh kelewat beg*! Sara kan sukanya sama Elang, bisa bisanya lo tanya tentang Daffa ke dia? Mana dia peduli o*n!" ujar Melisa.
"Yee.. elo tuh yang o*n! Gue mah udah tau keles, tapi tadi malem kan Sara nginepnya ditempat si Daffa, bukannya Elang. Apa salahnya gue tanya?" seru Salva.
"Udah lah, bener yang dibilang Melisa . Gue mana peduli sama si Daffa . " Sara beranjak berdiri " Gue mau mandi dulu , badan gue lengket banget nih . " Ujarnya seraya berlalu menuju kamar mandi di rumah sahabatnya itu .
***
Karena keadaan Sara yang lagi galau , mereka tidak jadi belajar . Siang ini mereka hanya rebahan sambil mengobrol dan saling curhat tentang cerita Salva dan Melisa sedangkan Sara hanya menjadi pendengar . Hari pun sudah menjelang petang , Sara dan Melisa pun pamit bergegas pulang kerumah nya masing masing .
Setelah sampai dirumahnya, Sara langsung menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya .
Tidak terasa petang telah berganti pagi, saatnya ia melakukan kegiatan sehari hari seperti biasanya lagi.
Kegiatannya pun tetap sama, sekolah, pulang kerumah, makan, tidur. Disekolah ia hanya bisa memandangi Elang yang nampak cuek bebek setiap berpapasan dengannya, berbeda dengan Daffa yang selalu menyapanya setiap bertemu.
Setelah kejadian di bar waktu itu, dia tidak pernah keluyuran lagi bersama sahabatnya. Dirumah pun komunikasi bersama keluarganya jarang ia lakukan. Hampir 2 Minggu ini Sara menjadi lebih banyak diam yang membuat sahabatnya jadi tidak enak hati ingin bergurau dengannya.
***
"Eh eh.. gimana nih persiapan kalian buat besok, udah beres belom?" tanya Salva bersemangat saat jam istirahat di kantin.
"Gue sih udah.." jawab Melisa.
"Apaan yang disiapin?" ucap Sara seraya menyandarkan kepalanya pada meja kantin.
"Elaahh ni anak kutu, masih ditekuk aja tuh muka! Taroh dirumah aja napa muka lo tuh! Gedek banget gue liatnya!" celetuk Salva yang dari kemarin kemarin sudah geram dengan Sara.
"Tau ni, udah mau refreshing juga gak ada semangat semangat nya lo!" timpal Melisa.
"Gak usah peduliin gue lo pada , gue udah nggak punya semangat lagi." ujarnya malas.
"Siapa yang peduliin lo sih?! Ge-er deh!" sahut Salva.
***
__ADS_1