
Disisi lain sekolah Sara,
Dikarenakan satu kelompok maka sudah pasti mereka melakukan perjalanan bersama menyusuri Danau B. Tidak lupa pula mereka (Sara lebih tepatnya, karena yang lain hanya sibuk menikmati pemandangan alam nan indah yang disuguhkan oleh Danau B) mencatat informasi penting yang mereka dapat selama berkeliling, guna melengkapi laporan tugas bahasa mereka. Tentang sejarah, keistimewaan, serta kelebihan dan kelemahan dari tempat yang saat ini mereka kunjungi.
2 jam sudah mereka berkeliling menyusuri Danau tersebut, sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung makan lesehan terbuka disekitar danau. Karena makan siang saat ini mereka bebas, hanya sarapan dan saat makan malam mereka melakukannya di hotel.
Beberapa orang pelayan yang bekerja disana pun menyambut kedatangan mereka kemudian mempersilahkan mereka duduk.
Mereka memilih tempat duduk lesehan yang sengaja dibuat nuansa alam dengan payung dan dihiasi lampu-lampu di atasnya.
Sedangkan bagi yang tidak suka lesehan, disana juga tersedia meja dan kursi kayu yang terbuat dari potongan batang pohon besar.
"Pesen aja sesuka kalian, Salva yang traktir." ujar Nanda seenaknya.
"Apa kata lo?" seru Salva terkejut.
"Lo nggak denger?" ucap Nanda lagi.
"Jangan gila lo, mana cukup duit gue?!" Salva melotot kearah Nanda.
"Lo kan udah setuju jadi pesuruh gue, jadi harus nurutin semua yang gue bilang."
"Gadir banget lo! Gue nggak punya banyak duit buat dihambur hamburin! Lo mau gue nyuci piring semua pengunjung disini?!" ujar Salva penuh emosi.
"Ya kalo lo mau kenapa enggak?" jawab Nanda santai.
"A*jir lo, gila! Kita pergi aja dari sini, ayo!" seru Salva kepada kedua sahabatnya seraya beranjak berdiri.
"Eh.. eh.. tunggu tunggu tunggu.. mungkin Nanda cuma bercanda, ya kan?" seru Daffa melirik Nanda.
"Gue serius lah."
"Bangke lo!" seru Daffa.
"Udah udah, gue yang traktir Va. Ayo duduk." bujuk Daffa.
"Gausah Daf makasih, kita bukan pengemis kok! Gue pergi karena gak mampu bayarin kalian semua makan!" ujar Salva hendak melangkahkan kakinya namun dengan cepat tangan Daffa meraih pergelangan tangannya.
"Aduh.. jangan diambil ati omongan monyet satu itu." ujar Daffa menunjuk Nanda dengan dagunya. "Sekali ini aja gue traktir kalian, ya.. pliiss.. ayo Sara, Mel.. duduk." bujuknya.
Sedangkan Nanda malah sudah bersiap menyalakan ponselnya.
"Mbak," panggil Elang pada salah satu pelayan, karena dirinya malas sekali mendengar perdebatan temannya itu.
"Ayam bakar satu sama es jeruk satu mbak." ujarnya.
"Itu aja?" tanya pelayan itu merasa heran dengan banyaknya orang namun hanya memesan satu makanan.
Elang pun dengan cepat mengangguk.
"A*jir, kenapa malah pesen sendiri lo nyet?!" seru Daffa.
"Bentar mbak bentar, kita masih mau pesen lagi." imbuhnya, seraya menarik paksa Sara beserta teman temannya dan mendudukkan mereka kembali.
"Kalian mau pesen apa?" tanya Daffa.
Sara, Salva dan Melisa pun masih terdiam dan saling pandang.
"Udahlah.. ayo.. gue yang traktir.." sambungnya.
"Gausah, nanti kita bayar sendiri!" tegas Salva sembari melihat menu yang tergeletak didepannya.
"Saya pesen nasi goreng seafood sama minumnya es cincau susu. Kalian apa?" ujar Salva.
"Samain aja." jawab Sara cepat, karena dia merasa tidak enak dengan Elang yang tampak menatap tajam kearahnya.
"Eh, gue minumnya jangan itu. Lemon tea aja mbak." ujar Melisa.
"Berarti nasi goreng seafood nya 3, es cao susu 2 sama lemon tea satu mbak."
Pelayan tersebut mengangguk kemudian bertanya "Masnya?"
"Emm.. saya pesen.. cumi saos padang, kerang saos tiram, udang rica rica, kepiting asam manis, gurame bakar pake nasi ya mbak. Minumnya es teh manis, es susu sama air mineral. Terus sama cemilannya roti bakar coklat keju, pisang bakar sama kentang goreng sosis." seru Daffa.
Semua yang ada disana melongo melihat Daffa memesan makanan sebanyak itu.
"Buset! lo mau makan apa mau buat sajen?" ujar Galuh.
"Makan lah.. sekalian buat monyet piaraan gue.." jawab Daffa. "Emang lo mau pesen apaan?" tanyanya pada Galuh.
"Gue makan punya elo aja." sahutnya.
Daffa terkekeh "Pinter.. emang lo monyet piaraan gue."
"Bangke!"
"Elo Nan?" tanya Daffa.
"Gue apa ajalah terserah." jawab Nanda yang sudah sibuk dengan gamenya.
"Berarti kagak usah."
Nanda menoleh, "Hah?"
"Hah heh hoh! Udah mbak itu aja." ujar Daffa.
Setelah itu pelayan pun beranjak pergi untuk menyiapkan pesanan mereka yang banyak itu.
"Gila! sejak kapan porsi makan lo berubah?" tanya Galuh.
"Sejak tadi." jawab Daffa.
"Lo beneran?"
"Apa sih?"
"Gue tantang lo! kalo lo bisa ngabisin seluruh pesenan elo tadi, gue mau lo suruh apa aja hari ini." ujar Galuh.
"Wah, serius lo? ada angin apa nih?"
"Gue serius! tapi kalo nyisa dikit aja, lo harus kasih tau gue siapa cewek yang lo suka. gimana?!"
Daffa mencebikkan bibirnya, "Ada embel embelnya ternyata.."
"Gampang kan, tinggal kasih tau aja apa susahnya? gak bakalan mamp*s juga lo!"
"Gue mamp*s kekenyangan beg*!Kepo banget sih lo sama urusan orang!" sahut Daffa.
"Yee.. gue niat baik nih mau bantuin lo, siapa tau gue bisa bantu elo dapetin dia. Gini gini kan__"
"Apa? elo aja nggak pernah deket sama cewek! gimana mau bantuin gue, dasar jones!" ledek Daffa.
"Elo sendiri juga jones beg*!! tau apa emang lo tentang gue?" ujar Galuh.
"Tau apa elo Daf? orang Galuh pernah pacaran kok." celetuk Elang.
"Wah.. kampret lo!" seru Galuh.
Elang mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Serius Lang? tau darimana lo?" Daffa penasaran.
"Dia sendiri yang bilang, katanya nggak bisa move on!" tutur Elang.
"Sialan lo Lang, nggak lagi deh gue curhat sama elo!" seru Galuh.
"Wah.. wah.. wah.. beneran lo Lang? kenapa nggak kasih tau gue sih? Lo kan tau gue seneng banget kalo bisa mojokin si monyet satu itu!" ujar Daffa.
"Karena dia bilang rahasia." ujar Elang santai.
"Kalo udah tau rahasia kenapa elo ceritain kampret!!" seru Galuh.
"Pengen aja."
"Bangke lo!!"
Elang terkekeh pelan, pandangannya pun tidak teralihkan dari ponselnya.
"Ntar lo ceritain lebih jelasnya ya Lang?" pintanya pada Elang.
"Dapet apa gue?"
"Lo minta apa emang?"
"Gue mau mobil lo!" Elang melirik Daffa.
"A*ying lo! Matre banget! yang laen kek?!" seru Daffa.
"Kalo gitu pulang dari sini lo jalan kaki sampe hotel!" Senyuman sinis pun ia kembangkan.
"Nggak jadi! gak pengen tau lagi gue!"
"Makanya gosah kepo lo!" celetuk Galuh.
"Elo yang kepo duluan nyet!" ralat Daffa tidak terima, mereka lanjut berdebat.
Sara dan teman temannya yang melihat itupun hanya bisa tersenyum menahan tawa. Hingga akhirnya hidangan yang mereka pesan pun telah tersaji disana. Mereka bertujuh pun menikmati makanan tersebut dengan lahap. Setelah selesai, Daffa lah yang membayar semuanya. Ia tidak memperbolehkan Salva membayar makanannya sendiri secara paksa.
Setelah makan mereka tidak langsung pergi, namun masih ingin bersantai dan mengobrol sejenak sebelum melanjutkan kegiatan mereka menuju pura LU. Sara pun berpamitan untuk pergi ke toilet sebentar ditemani oleh Melisa.
***
Disisi Jane dan rombongan sekolahnya, melakukan perjalanan menuju Danau B juga. Mereka semua tiba disana pada pukul 1 siang. Untungnya langit nampak mendung saat ini, hingga menjadikan siang hari tidak terasa panas. Pun hawa sejuk disekitar danau membuat udara menjadi semakin dingin.
Jane juga tetap selalu bersama Xander dalam perjalanannya menyusuri pinggiran danau tersebut.
"Uwaahh.. disini bener bener sejuk banget, pemandangannya juga indah." seru Jane seraya berlari kecil sembari memutar mutar tubuhnya.
Xander yang melihatnya pun tersenyum senang.
"Kamu suka?" tanyanya.
"Banget!" jawab Jane.
"Udah lama banget aku nggak pernah jalan jalan ketempat kayak gini. Mami sama Papi sibuk banget. Sayang banget Jayden nggak ada disini juga, dia pasti seneng banget." tutur Jane.
Xander meraih pergelangan tangan kekasihnya itu kemudian mengaitkan jemari mereka. "Kapan kapan kita bisa ngajak Jayden juga kesini." ujarnya.
"Wah beneran nih?" tanya Jane, Xander pun mengangguk.
"Janji ya?"
"Iya sayang.. yaudah ayo kita nikmati suasana yang nggak bakalan ada di Kota kita.
"Kuy.. hehehe.."
Mereka berdua pun menghampiri teman temannya yang masih berada dibelakang.
Mereka pun segera masuk kedalam, karena tempat tersebut sangat luas jadi kedua saudara kembar yang terpisah itupun tidak bertemu. Tempat yang mereka pilih pun juga jauh dari pandangan Sara dkk.
"Wah.. menunya enak enak nih.. pesen apa ya? kamu pengen makan apa?" tanya Jane pada Xander.
"Mmhh.. aku mau pesen gurame bakar sama nasi. Kalo kamu apa sayang?"
"Aku ayam bakar aja sama minumnya jus alpukat." seru Jane.
"Yaudah, kalian juga pesen aja apa yang kalian mau biar gue yang bayar ntar." ujar Xander pada teman temannya.
"Siap bos, apa aja nih?" tanya Eloy, Xander pun mengangguk.
"Siipplah, kita pesta hari ini guys! pesen aja semuanya yang ada di menu. Kita makan sampe mamp*s!" seru Eloy.
"Elo aja yang mamp*s gak usah ngajak ngajak!" sahut Denise.
"Becanda deng! serius amat dah!" timpal Eloy.
"Sumpah Fel, buruan takhlukin ni cewek biar nggak galak galak gitu!" imbuhnya.
"Lo nyuruh gue? tenang aja, bentar lagi juga dia takhluk sama gue." ujar Felix.
"Sori ya, jangan mimpi disiang bolong. Adanya juga elo yang bakal berlutut dikaki gue." ralat Denise dengan pedenya.
Felix pun menyunggingkan senyuman khas meledek. "Yakin?"
"Iyalah.." jawab Denise.
"Wah.. udah mulai pdkt nih kalian?" goda Xander.
"Udah gausah pdkt segala, langsung pepet aja bro jangan kasih kendor." celetuk Eloy.
"Eh, gue mau ke toilet bentar." ujar Kenzo yang dirasa perutnya tiba tiba mules.
"Gue ikut." seru Felix.
"Ke toilet aja rame rame, pesenan kalian gimana?!" ujar Eloy.
"Terserah kalian lah!" ucap Kenzo,
"Samain aja." timpal Felix.
Kenzo dan Felix berjalan menuju toilet dan ternyata arah toiletnya disebelah Timur melewati tempat duduk Sara dkk.
Saat melintas mata Kenzo tertuju pada sosok yang ia kenal sedang duduk lesehan sembari memainkan ponsel.
Seketika itu juga Kenzo berhenti untuk memastikan bahwa pemuda tersebut memang orang yang dia kenal.
Felix yang berada dibelakangnya pun menabrak punggung Kenzo. "A*jir, nge rem mendadak!"
Kenzo tidak menggubris Felix. Dan benar saja itu adalah Nanda, temannya saat SMP dulu.
Senyum sumringah Kenzo mengembang penuh.
"Bentar bro," ujarnya seraya menepuk bahu Felix.
"Mau kemana lo?" tanya Felix namun tak mendapat jawaban karena Kenzo sudah berjalan mendekat menuju tempat Nanda.
Ia tidak bersuara sampai tubuhnya berada tepat disebelah teman masa SMP nya itu, lalu ia berjongkok.
Elang, Galuh, Daffa dan juga Salva yang berada disitu pun hanya diam saja melihat ada orang asing tiba tiba mendekat kearah mereka.
__ADS_1
"Emang gamers sejati lo." ujarnya tepat disebelah telinga Nanda.
Nanda yang merasa tak asing namun sudah lama tak mendengar suara itu pun seketika menoleh keasal suara. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seseorang yang berbicara dengannya.
Ia diam masih terbengong.
"Apa kabar?" sapa seseorang tersebut seraya menyunggingkan senyumnya.
Nanda berjingkat hingga posisi duduknya bergeser. "E..elo..?"
Dahi Kenzo berkerut dalam.
"Kenzo?" ucap Nanda masih ragu. "Elo beneran Kenzo?"
Kenzo menyentil dahi Nanda, "Mata lo minus sekarang?"
"Beneran lo Kenzo Keitaro?"
"Bukan, gue danyang!" ucap Kenzo kesal.
"Kemana aja lo bro?" tanya Nanda.
"Elo yang kemana beg*!" balas Kenzo.
"Gila.. gila.. gila.. mimpi apa gue semalem bisa ketemu elo disini?!" teriak Nanda kemudian, ia memeluk Kenzo dengan erat. Kenzo pun balas memeluk sobat yang telah meninggalkannya itu.
"Apa kabar lo? kok bisa disini sih?" tanya Nanda setelah mereka melepas pelukan kerinduan itu.
"Gue baik! Sekolah gue ngadain Study Tour disini, lo sendiri ngapain disini? liburan?"
"Lha kok sama? gue juga Study Tour kesini." jelas Nanda.
"Kok bisa barengan ya?" imbuhnya.
"Itu berarti Tuhan memang mau mempertemukan gue sama sobat yang tega ninggalin gue!" seru Kenzo
"A*jir, bahasa lo! Bukan maksud gue kayak gitu, tapi nenek lampir itu yang nyulik gue! Udahlah kapan kapan aja gue jelasin, ngomong ngomong Eloy gimana kabarnya? lo masih bareng dia kan?" ujar Nanda.
Kenzo mengangguk, "Dia disana.." ujarnya seraya menoleh kearah teman teman Nanda yang mungkin bingung melihat dirinya.
Nanda yang tersadar telah mengabaikan temannya pun segera mengenalkan mereka.
"Oh ya gaes kenalin ini Kenzo sobat gue pas masih bau kencur. Dan Ken kenalin mereka sobat gue sekarang yang bau asem, Elang, Daffa dan yang itu Galuh." tuturnya.
"A*jir, elo tuh yang bau ketek!" seru Daffa.
Kenzo pun tersenyum ramah, "Hai.. gue Kenzo." ujarnya.
Elang, Daffa dan Galuh pun tersenyum membalas sapaan Kenzo.
"Hai juga Ken," ucap Daffa.
"Oh ya, ini temen gue Felix." ujar Kenzo memperkenalkan Felix.
Felix pun ikut tersenyum kepada orang orang yang ia anggap asing itu.
"Hai bro, gue Nanda." ujar Nanda sembari mengulurkan tangannya.
Felix pun balas menjabat uluran tangan Nanda "Felix." ujarnya.
"Aduh.." Kenzo memegangi perutnya, "Gue sampe lupa, gue kan mau pup tadi! Tungguin gue ya, gue mau ke toilet bentar."
"Eh, tapi kayaknya bentar lagi kita mau cabut." ujar Nanda.
"Aduh.. yaudah gue minta nomer wa elo," Kenzo merogoh saku celana mencari keberadaan ponselnya, namun tidak ada.
"Sialan, hape gue ketinggalan lagi!"
"Gue pinjem hape lo." pintanya pada Felix,
"Gue nggak bawa." jawab Felix.
"Aduh..!" seketika itu dia melihat Denise dan Lea berjalan disebelahnya.
"Eh..eh.. Den! Den!" panggilnya pada Denise, lalu Denise pun menoleh. "Apa?" jawabnya.
"Pinjem hape lo bentar dong?" pintanya.
"Buat apaan?"
"Buat nyatet wa temen gue, buruan Den udah kebelet nih gue." seru Kenzo.
Denise mengernyit, "Apaan sih lo? nih!" lalu menyodorkan ponselnya.
"Nih, buruan catet nomor lo!" ujarnya pada Nanda.
"Repot repot amat sih lo? elo kan bisa nyatet nomor lo dihape gue!"
"Sialan lo nggak bilang dari tadi?!" serunya pada Nanda.
"Elo aja yang beg*!"
"lAduh udahlah, ini efek kebelet jadi nggak fokus." ujar Kenzo.
"A*jir udah gak tahan gue! buruan lo ketik, ntar lo kasih ketemen gue." serunya seraya berlari tergopoh-gopoh menuju kamar mandi.
Semua yang ada disana pun tertawa pelan.
"Mau kemana lo?" tanya Felix pada Denise.
"Kemana aja apa urusan lo?" jawabnya ketus.
"Ngikutin gue lo?" ucap Felix pede.
"Idiihh.. ge er lo!"
"Kita juga mau ke toilet Fel, nggak boleh apa?"
sahut Lea.
"Gue kan cuman nanya! Tapi si badut ini nggak mau jawab." ujar Felix.
Denise langsung melotot kearah Felix,
"Siapa yang lo bilang badut hah?!" bentaknya.
Felix mengedikkan bahunya,
Denise melangkah mendekati Felix ingin sekali mencakar wajahnya yang menyebalkan itu, namun urung ketika ia menyadari semua mata disekitarnya sedang memperhatikan dirinya. "Udahlah, lanjut nanti aja. Awas lo!" ia berbalik arah meninggalkan Felix yang tersenyum jahil.
Nanda yang sudah mengetikkan nomernya pada ponsel itu sedari tadi pun kemudian menyerahkannya kepada Felix, karena hanya dia yang masih disana.
"Nih hape cewek lo." ujar Nanda.
Felix pun menerimanya, "Dia bukan cewek gue," jelasnya. "Gue cabut duluan ya, thanks."
"Yoi bro.. salken ya!" seru Nanda.
Dari jauh Felix mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, Sara dan Melisa terlihat kembali dari kamar kecil. Kemudian mereka semua segera merapikan barang bawaannya dan bergegas pergi dari sana untuk melanjutkan kegiatan mereka berikutnya.
***