Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 4


__ADS_3

16 Tahun kemudian..


Hari demi hari pun telah berlalu, kehidupan keluarga Bayu dan Agni kini menjadi sedikit membaik.


Setelah kematian ibunya 8 tahun lalu, Bayu memutuskan untuk menjual rumah gubuk mereka. Walaupun harganya tidak seberapa, tapi paling tidak bisa mereka gunakan untuk tambahan. Kemudian mereka pindah dekat tempat bekerja suaminya, di daerah pinggiran Kota S.



Bayu dan Agni bekerja di pabrik roti milik majikan Bayu dulu saat ia melakukan pekerjaan serabutan. Majikannya tersebut sangat baik, mereka memberikan pekerjaan dan juga tempat tinggal untuk Bayu dan keluarganya. Bahkan majikannya tersebut juga menyekolahkan anak anak mereka di sekolah yang elit di kota tersebut, dan karena anak anak mereka juga merupakan anak yang pandai dan memiliki beberapa prestasi. Maka dari itu sang majikan pun tidak segan membantu mereka.


**


Pada saat anak pertama mereka berusia 1 tahun, Agni tengah mengandung lagi dan melahirkan seorang anak laki laki yang mereka beri nama Abyaz Nareswara.


Pada saat itu membuat ekonomi keluarga mereka semakin terombang ambing, dan Bu Ami pun pergi dari rumah tersebut meninggalkan Agni dan Bayu. Percuma niat ibu Ami menyingkirkan satu anak kembar mereka jika saat itu Bayu sendiri yang menginginkan seorang anak lagi, anak kembar lebih tepatnya, namun sayangnya tidak terwujud.


Maka ibunya pun tidak bisa berbuat apa apa.


Ibu Ami yang kala itu masih mempunyai sisa uang hasil menjual bayi anaknya, tidak merasa takut meninggalkan rumah.


Lama tak mendengar kabar darinya, beberapa tahun kemudian terdengarlah kabar bahwa sang ibu telah meninggal mengenaskan kala itu karena dikejar kejar oleh rentenir menyebabkan Bu Ami berlari menghindarinya hingga naas ia tertabrak sebuah truk besar yang melaju dengan kencang dihadapannya.


Mungkin itu adalah bentuk balasan dari Allah SWT untuknya, mati dengan cara mengenaskan karena telah menyakiti menantu yang tidak bersalah.


Sejak saat itu Bayu dan keluarganya memutuskan untuk pindah rumah, agar tidak diliputi kesedihan terus menerus.


***


Kini anak anak mereka telah beranjak dewasa. Aksara Priscanara yang lebih akrab disapa Sara, gadis kembar yang terpisah dengan saudarinya sejak bayi kini pun telah menginjak bangku SMA.


Dia merupakan anak yang pandai dalam bidang pelajaran, tak jarang pula ia selalu mendapatkan prestasi di setiap jenjang pendidikan nya. Dia selalu membanggakan kedua orang tua yang telah membesarkan nya, dengan prestasi yang ia raih.


Dia anak yang rajin dalam hal pelajaran, namun tidak di lingkungan rumah. Dia merupakan anak yang egois, dia hanya mementingkan kepentingan nya sendiri. Dia tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang anak yang baik. Dia tidak pernah membantu kedua orang tuanya, seperti menyapu dan mencuci baju. Agni selalu menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya sendiri sepulang ia bekerja. Namun Agni tidak pernah menegurnya, karena memang pada dasarnya Agni tipe penyabar yang malah menjadikan Sara berani melawan omongannya.


Bayu pun sama, karena dia tidak bisa membahagiakan Sara dengan kekayaan seperti teman temanya sekarang, ia pun juga membiarkan sikap Sara yang demikian.


Terlebih lagi karena Agni dan Bayu begitu menyayangi Sara. Dia juga memiliki sifat yang sombong karena kepandaiannya, tak ayal menjadikannya selalu bermusuhan dengan adiknya yang hanya terpaut usia 2 tahun dari dirinya dikarenakan adiknya tersebut juga memiliki kepandaian diatas rata rata yang ia anggap sebagai saingannya.


***


Pagi itu diruang makan sudah ada Agni, Bayu dan Aby hendak sarapan, mereka belum memulainya karena sedang menunggu seseorang.



Tak lama kemudian sosok yang ditunggu tunggu telah mendudukkan dirinya di kursi kayu ruang makan tersebut.


"Lama banget sih, kita udah nungguin dari tadi. Udah laper nih!" ucap salah satu penduduk kursi tersebut.


"Apa sih? Kalo laper makan aja dulu sana, ribet amat jadi orang." Sahut Sara sewot.


"Ibu gak ngijinin gue makan dulu tau kalo elo gak ada."


"Yaudah sekarang buruan sana makan, gue mau langsung berangkat." ujarnya seraya meminum segelas air putih yang diletakkan di atas meja makan tersebut.


"Lho, kamu gak sarapan dulu sayang?" tanya Agni lembut.


"Gak usah buk, aku udah telat nih." jawabnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Ongkosnya yah." pintanya kepada Bayu.


Bayu menyodorkan uang sebesar tiga puluh ribu "Nih."


"Duuhh yah, segini mulu sih tiap hari. Uang segini mah buat ongkos PP aja udah tinggal dikit. Aku ini anak SMA yah, bukan anak TK!" Sara menyaut uang dari tangan ayahnya sambil menggerutu.


"Sabar dong sayang, ayah kan hanya mampu ngasih segitu. Semuanya udah dibagi rata, belum adik mu juga." sahut Bayu.


"Gak pernah bersyukur sih lo jadi orang, makanya kurang terus. Gue aja dapet uang segitu tiap hari udah bersyukur." celetuk Aby.


"Huh nyebelin kalian semua." Sara mendengus lekas bergegas pergi.

__ADS_1


"Huh.. dasar nenek sihir! Elo tuh yang nyebelin! Tau gitu gue makan dari tadi." ujar Aby dengan kesal.


"Hush.. Aby, nggak boleh ngomong gitu sama kakak mu nak." ujar Agni seraya menepuk punggung tangan putra nya pelan.


"Biarin buk, dia itu memang bukan kakak aku tapi nenek sihir. Mana ada seorang kakak yang galak nya minta ampun kayak dia." jawab Aby menatap ibunya.


"Sudah sudah biarkan saja tidak usah diteruskan, ayo kita mulai sarapan nya." ucap Bayu kepada istri dan putranya.


"Iya" sahut Agni dan Aby.


***


Sara terlihat turun dari sebuah bus umum yang telah dinaikinya. Sehari hari ia berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum tersebut, berdesak desakan sudah pasti. Maka dari itu ia selalu berangkat lebih awal agar tidak terlambat ke sekolah.


Dia murid teladan, ia selalu datang lebih pagi di bandingkan murid lainnya terlebih lagi sahabat sahabatnya yang kadang selalu datang terlambat.


Sara mempunyai dua orang sahabat yang selalu menemani dirinya, mereka bertiga bersahabat sejak SMP.


Salva Candramaya, biasanya dipanggil Salva. Adalah anak dari pemilik pabrik roti yang memperkerjakan orang tua Sara. Serta keluarga mereka lah yang menyekolahkan Sara dan Aby adiknya.


Sedangkan Melisa Bratarini yang biasa dipanggil Melisa, adalah anak dari salah satu manager hotel bintang lima di kota S tersebut.


Kedua sahabat Sara merupakan anak orang mampu, berbeda dengan dirinya. Tapi dia juga merasa bersyukur bahwa masih ada seseorang yang mau berteman dengannya. Mereka pun juga tidak malu berteman dengan Sara, hanya karena Sara orang tidak mampu. Sementara rata rata siswa siswi disini juga golongan anak orang berada.


**


Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang kelasnya.


Masih sepi, hanya ada beberapa anak di dalam sana.


Ia langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi berbahan dasar besi tersebut. Ia melipat kedua tangannya dan kemudian menyandarkan kepalanya disana.



Nampak cairan bening menggenangi pelupuk matanya. 'Sampai kapan sih aku hidup miskin begini? Uang saku pas pasan, buat beli makan sama ongkos bus aja udah habis. Gak kayak semua anak disini yang bisa beli apa aja yang mereka mau.' gumamnya sambil memejamkan mata hingga ia pun terlelap sebentar.


Hingga terdengar suara langkah kaki mendekat yang mengejutkan Sara.


Sara mengangkat kepalanya seraya menatap siapa yang sudah mengganggu nya.


"Aduuhh, apa apaan sih lo Va? Bisa budek kuping gue tau."


"Habisnya elo sih pagi pagi gini malah tidur , habis begadang lo?" tanya Salva kemudian.


"Enggak lah, masih sepi aja jadinya bosen." sahut Sara.


"Bosen bosen, tumben lo bilang bosen."


"Biasanya kalo bosen lo juga sukanya baca buku." sambung Melisa.


"Palingan juga dia dibuat kesel sama adek nya Mel." timpal Salva.


"Tau aja lo!" Jawab Sara ngasal, karena sebenarnya bukan itu alasannya.


"Udah jangan kesel kesel noh tempat cuci mata kita udah dateng!" seru Melisa seraya mengedikkan dagunya ke arah pintu ruang kelas tersebut.


Dan benar saja disana ada empat cowok ganteng dan tajir idola warga sekolah yang berjalan hendak memasuki ruang kelas.


Bukan hanya Sara dan para sahabatnya, semua cewek di sekolah tersebut rata rata menyukai keempat cowok tersebut.


Diantaranya adalah Elang, Galuh, Nanda dan Daffa. Terutama salah satu cowok bernama Elang, dia yang paling ganteng menurut Sara karena Sara menyukainya sejak dia mulai bersekolah disana.


Elang terkenal sebagai seorang playboy, kendati demikian masih banyak cewek di sekolah nya yang mengejar ngejar dia. Ia terlihat selalu bergonta ganti cewek di luar sana, karena pergaulannya yang bebas.


Tetapi dia tidak pernah berpacaran dengan gadis gadis yang ada di sekolahnya. Entah, tidak ada yang tahu kenapa? karena setiap di sekolah Elang malahan menjadikan gadis yang bersamanya saat itu sebagai pesuruh dia dan teman temannya.


Herannya gadis gadis tersebut mau mau saja dijadikan pesuruh oleh Elang. Karena menurut mereka meskipun tidak bisa menjadi pacarnya, setidaknya mereka bisa berada di dekat cowok ganteng dan populer.


Keempat cowok tersebut telah memasuki kelas dan mendudukkan tubuh mereka di bangku masing - masing. Tatapan mata dan suara bisik bisik para siswi di kelas tersebut sebenarnya sungguh mengganggu mereka. Sebelumnya Elang dan para sahabatnya pun sudah memperingatkan semua siswi tersebut agar tidak ada yang mendekati mereka. Maka dari itu para siswi tersebut hanya bisa mengagumi dan melihat mereka dari jauh.

__ADS_1


**


"Ehemm," suara deheman Melisa membuyarkan lamunan takjub Sara atas anugerah Tuhan berupa ketampanan sempurna yang telah diberikannya kepada Elang.


"Segitunya banget sih lo ngeliatinya Ra, sampe keluar tuh iler!". imbuh Melisa.


"Bukan cuma gue aja kali yang kayak gini. Liat noh cewek cewek lainnya. Nggak sia sia gue ngikutin dia masuk ke kelas ini. Bisa ngeliat dia tiap hari." ujar Sara tanpa mengalihkan pandangannya .


"Lebay lo, kayak gak pernah liat cowok ganteng aja!" timpal Salva.


"Emang! Cuma dia cowok paling ganteng menurut gue dan cuma dia seorang yang ada di hati gue, gamau ngelirik yang laen!" serunya mantap.


"Hadeehh.. gaya lo Ra! yakin udah paten lo?" tanya Salva yang dijawab dengan anggukan kepala dari Sara.


"Yaudah sono buruan ungkapin perasaan lo, jangan cuman diem aja ntar keburu diambil orang ngenes lo!" perintah Salva.


Sara menoleh ke arahnya "Ga pede gue, lo tau kan gue sama dia beda." jawab nya murung.


"Cinta nggak kenal status mbak! Jangan pesimis, belum maju juga udah mundur duluan lo!" sahut Salva yang gemas melihat sahabatnya itu selama ini hanya diam saja ketika menyukai seseorang.


"Terus gue harus mulai duluan gitu?" kepolosan Sara saat ini membuat kedua sahabat nya tertawa.


"Iyalah, kalo bukan lo dulu mau siapa lagi? Gue? Emangnya dia tau perasaan lo? Gak kan?" sahut Salva yang dibalas pukulan di kepala nya oleh Melisa.


"Dasar gila lo! Kita ini cewek oncom, punya harga diri dikit napa." sela Melisa yang tidak terima atas perkataan Salva.


"Yee, biarin lah. Jaman sekarang banyak kok cewek yang kayak gitu." ujar Salva.


"Lo juga Mel, bukannya lo juga ada rasa sama si Galuh. Tapi sampe sekarang gak kesampaian kan, kenapa? Karena lo nggak pernah ungkapin perasaan itu. Mau sampe jambul ubanan juga gak bisa jadian kalian." tutur Salva kemudian.


"Seenggaknya meskipun ditolak tapi kita bisa lega karena orang yang kita sukai bisa tahu tentang perasaan kita jadi kita nggak hanya sendirian nyimpen perasaan itu, begonoh!"


"Kalau kalau dia juga suka kita kan namanya rejeki nomplok."


Perkataan terakhir Salva tersebut sontak membuat dirinya menerima tepukan di jidat nya.


Plek!


"Tuh yang namanya rejeki nomplok." Melisa menepuk jidat Salva menggunakan buku tulis yang dia ambil dari dalam tasnya.


Salva meringis sambil menepuk nepuk jidatnya. "Apaan sih lo Mel?"


"Pagi pagi udah ceramah, pake kerudung sambil berdiri di depan kelas sono, lanjutin!" ucap Melisa dibarengi tawanya bersama Sara, sedangkan Salva mendengus kemudian ikut tertawa bersama kedua sahabat nya.


Pandangan Sara tertuju lagi ke arah pojok ruang kelas tempat keempat cowok tersebut duduk, ia terus memandangi Elang sembari bergumam. 'Gue cuma bisa lihatin elo dari jauh kayak gini, meskipun gue cantik tapi gue gak selevel sama lo. Elo bahkan gak pernah nganggep gue ada, gue pun juga malu deketin lo karena gue miskin. Coba aja gue terlahir kaya, pasti semua ini bakal lebih mudah.'


**


"Selamat pagi anak anak." sapaan wali kelas yang memenuhi ruangan tersebut lagi lagi membuyarkan lamunan Sara.


"Pagi Pak..." jawab murid murid serentak.


"Cepat masukkan semua buku buku kalian, hari ini kita adakan ulangan harian!" Perintah Pak Hilman, wali kelas XI IPS 2.


"Yaahh.. kok mendadak gini sih Pak?"


"Yaahh.. belum belajar nih Pak?"


"Besok aja lah Pak?"


Suara desahan beberapa murid memenuhi seisi kelas, menjadikan suasana tampak seperti pasar.


"Bapak tidak menerima keluhan dari kalian, cepat laksanakan!"


Akhirnya mereka semua diam dan melakukan yang diperintahkan oleh wali kelas mereka.


***


Kring.. kring.. kring...

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi, para siswa dan siswi berhamburan keluar kelas menuju kantin.


__ADS_2