Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 10


__ADS_3

Jane dan sahabatnya menoleh kearah yang ditunjuk Jayden.


"What the f***??!!" Jane berteriak histeris, begitu pun para sahabatnya mematung dan menutup mulut mereka dengan tangannya masing - masing.


Jane geram, ia mengepalkan kedua tangannya hingga urat uratnya terlihat menonjol di kulitnya yang putih.


Segelintir murid yang berada di sekitar tempat parkir itu juga menoleh kearah Jane, karena sebagian dari mereka sudah mengetahui kondisi mobil Jane.


"Siapa yang ngelakuin ini semua?" seru Denise setengah berteriak, ia melihat sekelilingnya.


Semua yang ada disana hanya terdiam, tidak ada yang berani menjawab.


"Gue tau siapa orangnya!" Jane berucap penuh penekanan seraya berbalik arah meninggalkan parkiran tersebut menuju ke dalam sekolah.


Denise, Lea, Jovi dan Jayden pun segera mengikutinya dengan terburu buru.


"Jane, lo mau kemana?"


"Kak.. tunggu!"


Jane terus melangkahkan kakinya memasuki lorong sekolah, teriakan para sahabat dan adiknya pun tak ia gubris. Hanya ada satu nama yang ada dalam pikirannya, nama yang membuat ia muak ketika mendengar dan menyebutkannya.


Ia hendak menaiki anak tangga, tampak empat murid yang ia kenal berjalan didepannya.


"Jane.. kamu belum pulang?" tanya salah satu murid tersebut yang tak lain ialah Xander.


Namun Jane hanya melewatinya, fokusnya hanya ingin cepat sampai ditujuannya. Ia mempercepat langkah kakinya.


Xander yang juga melihat Jayden dan para sahabat Jane mengikuti Jane dari belakang lantas menjadi bingung.


"Ada apa ini? Mau kemana si Jane kok buru buru?" tanya Xander penasaran.


Jayden mengedikkan bahunya "Gatau, mungkin mau ngelabrak orang yang iseng."


"Maksudnya?"


"Aduh udah deh, kalo mau tau buruan ikutin. Jangan tanya terus gue juga gatau dia mau kemana." seru Jayden.


Xander dan teman temannya pun dengan segera mengikuti mereka.


Jane berhenti tepat di sebuah ruangan bertuliskan XI - IPA 1. Tanpa pikir panjang ia langsung mendobrak dengan keras pintu ruangan tersebut. Matanya mengeliling isi ruang kelas itu, dan pandangan tertuju pada satu siswi yang duduk di dekat jendela sedang menulis sesuatu dengan dua orang siswi disebelahnya. Siswi tersebut menatap ke arah Jane, tidak ada yang mengetahui seringai licik telah terulas dibibirnya.


Tanpa pikir panjang ia langsung bergegas menghampiri siswi tersebut.


Siswi tersebut mendongakkan kepalanya saat Jane telah berdiri didepannya. "Ada perlu apa?" ujarnya.


"Anak IPS gak ada sopan santun ya, dateng dateng gak permisi malah maen gebrak aja! ck ck" imbuhnya dengan nada mengejek.


"Apa mau lo?!" Jane berkata to the point.


Siswi yang bernama Ochi itu pun mengernyitkan dahinya "Maksud lo?"


"Gak usah pura pura beg* deh! Gue yakin lo yang udah nyoret nyoret mobil gue! Ngaku lo!" Jane semakin meninggikan suaranya.


"Apa sih maksud lo, gak ngerti deh gue. Mobil lo kenapa? Nyoret apa?" tanya Ochi.


Jane yang tengah emosi pun langsung mencengkeram rambut Ochi dan menariknya sampe dia berdiri sejajar dengan dirinya.


"Awwhh.. lo gila ya, lepasin gue Jane! bar bar banget sih lo!" Ochi memberontak.


Jane tidak menggubris nya ia semakin mengencangkan cengkeraman tangannya dirambut Ochi, "Nggak usah ngeles deh lo! Gue yakin itu semua perbuatan lo! Gak akan ada yang berani nekad cari masalah sama gue selain elo!" seru Jane melotot tajam kearah Ochi.


Murid murid yang masih ada dikelas tersebut terkejut melihat Jane berbuat seperti itu, tapi tidak ada yang berani menghentikan nya. Jane adalah gadis yang berani namun selama ini Jane tidak pernah bertindak kasar.


Kenakalannya hanya sebatas bolos ataupun terlambat datang ke sekolah, entah apa yang merasukinya saat ini.


"Jane.. jangan!"


Jane menoleh ke asal suara itu, dilihatnya semua teman temannya yang mengikutinya tadi telah berada didalam kelas tersebut.


Jane tidak mempedulikan mereka, ia kembali menatap Ochi.


"Jawab!" suara Jane penuh penekanan.


"Lo nggak bisa nuduh orang tanpa bukti!" jawab Ochi.


"Gue nggak perlu bukti buat nyalahin elo, karena gue yakin itu elo! Sekarang gue tanya apa mau lo hah?! " Jane menarik tangannya dari rambut Ochi.


"Hahaha.. lucu banget sih lo Jane. Gue nggak mau apa apa dari lo karena bukan gue yang ngelakuin itu. " ucapnya dengan suara manja yang dibuat buat.


Suara tawa Ochi sangat menyakiti hati Jane, ia langsung mendorong tubuh Ochi mundur sampai dia membentur tembok, kemudian ia mencengkram leher Ochi.


"A..aahhh..s..sa..k..kiitt" ringis Ochi.


"Jane.." Xander hendak mendekat kearah Jane namun dihentikan oleh Denise.


"Biarin, itu bukan urusan lo." ucap Denise.


"Jane bisa kena masalah kalo sampe guru liat."


Xander maju satu langkah namun pergelangan tangannya ditarik oleh Denise.


"Lo nggak tau apa apa tentang urusan mereka, lebih baik lo diem!"


"Bagus Jane.. terus.. biar kapok tuh si Mak lampir cetar!" teriak Lea yang berdiri disamping Denise.


Dia tidak sadar cowok yang ia sukai berada disebelahnya juga sedang menoleh kearah dirinya.


Kenzo yang ada disebelahnya pun tersenyum geli melihat Lea.


Dia terus melihat kearah Lea 'Dilihat dari deket cewek ini imut banget sih.' batinnya.


"Gue gak bisa tinggal diem lihat cewek gue kayak gitu." ujar Xander lagi.

__ADS_1


"Kayak gitu apa maksud lo hah? Jane nggak mungkin sampe ngelakuin itu tanpa sebab! Lo nggak tau dibalik topeng lugunya si Ochi, biarin aja mereka. Jane gak bakalan buat dia sampe mati kok!" terang Denise emosi.


Xander terdiam.


"Gue bakal maafin lo kalau lo ngaku. Kalo lo nggak mau ngakuin perbuatan lo, liat sendiri akibatnya nanti! Asal lo tau, elo yang dulu maupun elo yang sekarang gak akan ada bedanya dimata gue. Elo tuh cewek licik! Dan gue bener bener muak banget denger suara manja lo yang dibuat buat itu, Jijik gue!" jelas Jane panjang lebar.


"Cepetan ngaku!!" bentak Jane sekali lagi.


Ochi hanya diam, dia tiba tiba menangis.


'Duuhh dasar drama queen!' gumam Jane.


Jane yang melihat Ochi hanya diam dan tidak ada perlawanan, ia melepaskan cengkraman tangannya dari leher Ochi. Jika dilihat orang lain memang seperti Jane sedang mengintimidasi.


"JANETTA!!" suara menggelegar itu berasal dari orang yang berdiri di dekat pintu ruang kelas tersebut. Pak William, wali kelas XI - IPA 1.


Jane menoleh, "Ikut saya ke kantor sekarang!! " perintah Pak William.


"Sebentar pak, urusan saya belum selesai."


"Tidak pake sebentar, kamu dan juga Ochi segera ikut saya ke kantor!!"


"Iya.. iya.. Pak!" jawab Jane.


"Kalian semua bubar dan segera pulang!" Perintah Pak William kepada murid murid yang sedang menonton pertunjukan singkat tadi.


Jane mengalah, ia menatap Ochi.


"Pake nangis lagi, mau buat drama apa lagi sih lo?"


"Lanjutin drama lo, gue gak minat lihat penampilan lo!!" ujar Jane seraya membalikkan badan hendak keluar kelas namu suara Ochi yang menyahut menghentikan langkahnya.


"Lo udah lihat kan kelakuan buruk orang yang selama ini lo sukai, dia itu cewek bar bar dan kasar banget Xander. Buka mata lo Xan, dia juga sebenernya nggak cinta sama elo. Lo cuma dimanfaatin aja sama dia buat ngebales gue. Masih banyak cewek baik yang tulus sama lo." ucap Ochi memelas ketika hanya tinggal teman teman Jane dan teman teman Xander yang ada disana.


Xander yang mendengar itu pun sebenarnya sudah tahu, dia hanya diam dan terlihat santai.


Jane memutar bola matanya kesal, ia membalikkan tubuhnya kearah Ochi kembali.


"Iya, itu memang bener kok! Gue cuman manfaatin Xander buat ngebales elo! Terus lo mau apa? " Jane bersedekap, berucap setengah menyeringai.


"Xander.." Ochi menatap kearah Xander, wajahnya memelas.


Xander menghela nafas kasar.


"Gue udah tau kok, tapi gimana ya?" Xander menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue cintanya cuma sama si Jane."


"Meskipun dia cuma manfaatin gue, gue rela kok!" imbuhnya.


Pengakuan Xander sontak membuat kedua bola mata Ochi dan juga Jane membulat sempurna, mereka berdua sama-sama terkejut.


Ochi yang terkejut karena dirinya tidak mengira bahwa Xander ternyata begitu mencintai Jane, rencana nya untuk membuat Jane berimage buruk didepan Xander pun gatot. Ia kira selama ini yang Xander tahu tentang Jane hanyalah ketidakpandaian dan kenakalan gadis tersebut yang suka bolos. Ia tidak tahu bahwa Xander pun ternyata juga mengetahui kalau Jane hanya memanfaatkan dirinya.


Sementara Jane terkejut karena ternyata Xander telah mengetahui niat sebenarnya ia mau menjadi pacar cowok tersebut.


Astaga! Jane merasa sangat bersalah kepadanya.


"Lo bodoh atau gimana sih Xander? Bahkan dengan kenyataan itu lo tetep cinta sama si Jane. Apa kurangnya gue dimata lo? Gue sayang banget sama elo.." Ochi menangis sesenggukan.


"Gue juga lebih lebih lebih baik dari segala aspek dibandingkan dia!!" Ochi menunjuk Jane dengan jari telunjuknya, sementara yang ditunjuk malah mencebikkan bibir sembari memainkan kukunya.


"Gue lebih pandai dan lebih cantik! Semua sifat dia pun berkebalikan sama elo. Dia juga kasar dan cuek sama elo. Apa yang lo harepin dari dia? Sampai kapanpun dia nggak akan pernah cinta sama elo!"


"Kekurangan yang dimiliki Jane yang buat gue tertarik sama dia. Justru karena sifat gue dan dia berkebalikan, bukannya kita akan saling melengkapi? Gue juga nggak butuh dia bales perasaan gue kok." tegas Xander.


"Xandeeerr...!!" Ochi memikik keras.


"Pliiisss... stop lo belain dia. Gue harus gimana supaya elo mau nerima gue?" suaranya merendah.


"Sorry Chi, lo nggak perlu berbuat apa apa karena gue nggak tertarik lagi sama cewek manapun!" Xander mempertegas perkataannya.


Jane semakin melebarkan mulutnya, tidak percaya selama ini perasaan Xander begitu tulus kepadanya. Sedangkan ia selalu cuek dan tidak pernah peduli terhadap Xander.


Jane tersadar, sekarang bukan waktunya memikirkan Xander.


Ia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas Ochi, rasanya menyenangkan bisa mentertawakannya. Jane kembali menatap Ochi yang terlihat sedih.


"Eh.. telinga lo masih berfungsi kan? udah denger sendiri jawaban dari orang yang elo sukai?"


Ochi terdiam seribu bahasa, hatinya sangat sakit mendengar kenyataan itu berarti dia sama sekali sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersama Xander.


"Kalo elo punya pikiran seharusnya jangan berbuat yang aneh aneh. Karena selamanya lo nggak akan pernah bisa menang dari gue! Karena keinginan dari orang yang iri hati nggak akan pernah bisa terkabul!" ucap Jane dengan ketus dan senyum mengejek, lalu ia berbalik dan menghampiri Xander.


"Jangan lupa ntar malem jemput gue." ujarnya seraya tersenyum sebelum berlalu pergi .


Xander yang mendapatkan sebuah senyuman dari Jane pun tersipu, senyuman itu bener bener tulus dari bibir Jane. Dan itu yang pertama kali baginya.


"Yuk guys."


Jane cs keluar dari ruangan tersebut.


"Wah wah wah, elo beneran Xander yang gue kenal?" ujar Felix terheran sambil bertepuk tangan.


"Pengakuan lo tadi beneran Xan?" tanya Nanda.


"Keren banget sih lo jadi cowok man.." goda Kenzo.


"Udahlah.. apaan sih kalian?" muka Xander memerah.


"Kampret lo anak kodok! Muka lo merah tuh, jijik banget gue liatnya!" Felix bergidik melihat tingkah Xander seperti cewek yang digombalin.


"Elo bapaknya kodok! Sialan lo!" balas Xander.


Mereka tertawa cekikikan.

__ADS_1


Ochi yang masih berada disana segera terburu buru keluar, antara sesak dan malu melihat Xander.


"Ck..ck..ck.. memang cinta bisa buat orang jadi gila ya?" Kenzo berdecak seraya menggelengkan kepalanya.


"Elo bener bener jadi bucinnya si Jane, parah lo! Image keren lo ngilang kemana bro?" ujar Felix.


Xander hanya tertawa kecil.


"Kegondol kucing tetangga sebelah." seru Kenzo.


"Hahaha.." tawa mereka seketika memenuhi ruang kelas tersebut.


"Pecah lo pada!" sahut Xander.


***


"Kalian bertiga pulang duluan aja, gue masih harus ke kantor guru sekarang." ucap Jane setelah mereka bertiga telah berada di bawah.


"Kita tungguin elo disini Jane." ucap Denise.


"Gausah, udah ada Jayden sama gue disini. Kalian balik aja keburu sore."


"Gapapa Jane, kita gak buru buru kok. Udah lo masuk gih kita disini tungguin elo sampe selesai, takut ada apa apa." timpal Lea.


"Duuh setia kawan banget sih kalian.." Jane mencubit pipi Lea gemes.


"Yaiyalah.." jawab Lea.


Jane memasuki kantor guru, tak lama setelah itu Ochi pun menyusul masuk. Ia tadi berjalan sambil menunduk, teman teman Jane pun menatapnya dengan tatapan menusuk terutama Denise. Dia begitu puas melihat Ochi seperti itu.


"Eh.. kenapa lo diem aja dari tadi?" Denise menyenggol bahu Jovi yang dari tadi menundukkan kepalanya.


Jovi menggeleng.


"Elah masih nanya lo Den?! jelas karena ada.. tuh." jawab Lea seraya mengedikkan dagunya ke arah Jayden.


"Pffftt... lupa gue!" sahut Denise.


Selama ini jika Jovi bertemu dengan Jayden, ia hanya akan menatapnya terus setelah selesai menyapa Jayden atau hanya akan menundukkan kepalanya.


Jovi memang tergolong gadis pemalu.


"Jayden, tipe cewek kamu gimana sih?" Pertanyaan Denise mengalihkan pandangan Jayden kearah gadis tersebut.


"Kenapa kak?" tanya Jayden polos.


Denise mendengus.


Jayden tertawa kecil, "Kenapa kak Denise tanya? Gitu maksud aku."


"Ya gapapa lah, siapa tau yang model kayak Jovi selera kamu."


"Aku gak punya kak, hehe.."


"Hah? ya ampun Jay.. kamu becanda ya?" seru Lea.


"Apa sih kak?"


"Ga punya tipe cewek? mustahong ah.. kamu ini udah SMA lho!" ucap Lea.


"Aku belum mengarah kesitu kak."


"Belum mengarah tapi kan mesti punya selera sama cewek. Pengen yang cantik, putih, tinggi atau yang dekil, item, cebol?" ujar Denise yang disambut gelak tawa mereka semua.


"Eh Jay, menurut kamu Jovi kek gimana?" tanya Lea lagi.


Jovi menatap tajam kearah Lea.


"Kak Jovi baik kok."


"Hadeehh ngomong sama kamu tuh butuh kesabaran deh." Lea menepuk jidatnya.


"Cantik dan baik, tapi kalo senyum kelihatan imut." Jayden melanjutkan ucapannya.


"Ambyaaaarrr..."


"Uuhh, mamp*s lo Jov! Gak bakalan bisa tidur ntar malem lo!" celetuk Denise kemudian.


Jovi terus menunduk malu, sedangkan Jayden hanya tersenyum kecil.


Mereka melanjutkan gurauan gurauan yang tidak penting dengan Jovi dan Jayden yang menjadi korbannya.


Memang kalau urusan seperti itu Jovi lah yang selalu terkena imbasnya, terlebih lagi jika ada Jane yang selalu ceplas ceplos seenak udelnya.


*


Denise Berryl Maulvi adalah sahabat Jane sejak kecil, dia adalah anak dari founder dan CEO perusahaan terkenal di Negara I. Ibunya telah meninggal dunia dan ayahnya telah menikah lagi. Sekarang dia tinggal bersama Ayah, Ibu tiri dan juga saudara tirinya (Ochi). Denise terkadang menginap di rumah Jane kalau ia sedang bertengkar dengan Ayahnya. Dia adalah gadis yang ceria dan kuat.


Alea Fredella adalah putri dari seorang pemilik beberapa restoran ternama di Negara I. Dia gadis yang imut, lucu dan periang.


Sedangkan Jovita Acacia Bayuni merupakan sahabat Jane da Denise sejak kecil. Ia juga anak dari salah satu CEO perusahaan terkenal di Negara I.


**


Beberapa saat kemudian Jane dan Ochi terlihat keluar dari ruangan tersebut, teman temannya pun masih stand by disana.


"Gimana.. gimana?"


"Gimana kak?" tanya Jayden dan Denise berbarengan.


"Hehehe.. Gapapa kok gaes, cuman dapet surat peringatan doang. Kecil!" jawab Jane.


Sementara Ochi terlihat buru buru meninggalkan Jane cs.

__ADS_1


"Udaahh.. pulang kuy!" ajak Jane.


__ADS_2