Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 3


__ADS_3

Sebuah rumah mewah di Kota A, Ibukota Negara I.



"Permisi Tuan, Nyonya." ucap seorang laki-laki yang memakai seragam pegawai berwarna hitam menghampiri sepasang suami istri yang sedang mengobrol di ruang tengah.


"Iya, ada apa?" jawab seorang lelaki berumur 30 tahun yang tak lain ialah pemilik rumah tersebut bernama Adnan.


"Itu.. yang kemarin kita bicarakan Tuan, mereka sudah datang." ujar laki laki tersebut.


"Mereka sudah datang?" timpal seorang wanita cantik di sebelah Adnan.


Adnan nampak mengingat ingat, "Oh.. yang itu, suruh mereka masuk." perintahnya.


"Baik Tuan, Nyonya."


"Cepat sekali mereka, aku sudah tidak sabar." ucap seorang wanita berperawakan cantik dan berkulit putih dengan rambut hitam lebat yang nampak begitu antusias.


"Wah wah.. sepertinya kamu sungguh bersemangat sekali."


"Jelas dong sayang, melihat fotonya kemarin saja aku sudah menyukainya. Sangat cantik juga putih bersih." timpal wanita cantik bernama Regina itu.


"Bukankah semua bayi itu berwajah sama?" canda Adnan yang tak lain adalah suaminya.


"Ihh.. yang benar saja kamu, kalau semua bayi berwajah sama kenapa ketika dewasa bisa berubah? Contohnya saja apakah wajah mu dengan Umay terlihat sama?" celetuk Regina asal.


"Ahh.. baiklah baiklah, aku mengalah. Aku kan hanya bercanda, lagi pula siapa yang kamu banding bandingkan itu. Bisa bisanya ya kamu menyamakan wajah tampan sekelas Henry Cavill dengan seorang supir." Jawabnya seraya mencubit pipi istrinya gemas.


"Ya habisnya kamu tuh bicara__ Wah ayo silahkan duduk" ujarnya tersela ketika melihat seseorang yang datang menghampirinya.


"Iya Tuan, Nyonya, mereka disini."


"Ayo." jawab Umay seraya menggandeng tangan Uly yang sedang menggendong bayi mendekati majikannya.


"Ayo duduk.. duduk.. Jangan sungkan." timpal Regina sambil tersenyum kepada kedua orang yang tampak masih berdiri malu malu.


"Baik Nyonya." jawab mereka berbarengan.


"Perkenalkan ini Uly Tuan, Nyonya. Dia adalah kakak tertua saya yang tinggal di desa." Umay memulai pembicaraan ketika mereka telah duduk di atas sofa.


"Hai bibi Uly, sepertinya anda lebih tua dari kami. Saya Regina dan ini suami saya Adnan." ujarnya seraya mengulurkan tangan.


"Saya Uly, Nyonya Regina, Tuan Adnan." jawabnya.


"Bolehkah saya menggendong bayinya?" pinta Regina tidak sabar.


"Tentu saja boleh Nyonya, silahkan." ujarnya seraya menyerahkan bayi yang digendongnya.


"Tuh kan sayang, bayinya cantik banget. Kulitnya putih bersih, imut sekali. Gemes deh."


Adnan ikut melihat bayi dalam pangkuan istrinya dan tersenyum.


"Iya sayang, bayinya cantik sekali."


"Jadi bagaimana, ceritakan detail tentang bayi ini?" pinta Adnan.


Uly menjelaskan "Jadi orang tua bayi ini adalah orang yang sangat miskin, mereka tidak mampu untuk membiayai kebutuhan bayi mereka dikarenakan bayi mereka kembar Tuan, Nyonya. Maka dari itu mereka memutuskan hanya akan merawat salah satu diantara mereka."


"Apa? Kembar?" sahut Regina dan Adnan bersamaan.


"Iya Tuan, Nyonya. Mereka sebenarnya tidak ingin memberikan anaknya, tetapi terdesak oleh hutang yang besar dan kesusahan ekonomi membuat mereka terpaksa melakukannya. Apakah Tuan dan Nyonya keberatan?"


Keduanya nampak diam dan berpikir. Jika bayi itu kembar, yang ia takutkan jika sudah dewasa nanti akan menimbulkan masalah jika sampai mereka bertemu. Iri hati dan dengki pastinya jika melihat salah satunya hidup dengan kemewahan sedangkan yang ia tahu keluarga asli bayi itu sangat miskin.


"Saya memilih berbicara terus terang Tuan, Nyonya. Tapi anda tidak perlu khawatir, karena letak desa kami sangat jauh dari sini. Kemungkinan bertemunya saudara kembar ini sangatlah kecil." ucap Uly meyakinkan.


"Tapi semua keputusan ada di tangan Tuan dan Nyonya." sambungnya kemudian.


Kedua pasangan suami istri tersebut berunding kembali.


Hening..

__ADS_1


Hening beberapa saat..


"Baiklah, saya setuju. Kami akan tetap mengadopsi bayi itu." ucap Adnan memecah keheningan.


Mereka berdua sudah sepakat dan setuju dalam perundingannya beberapa saat lalu. Mereka berpikir jika kelak kedua bayi tersebut bertemu, mereka bisa berkata bohong kepada anaknya bahwa semuanya mungkin hanya kebetulan saja.


Uly tersenyum "Benarkah itu Tuan, Nyonya?" tanyanya.


Regina dan Adnan pun mengangguk.


"Terima kasih Tuan, Nyonya. Ini pasti akan sangat meringankan beban mereka." imbuhnya.


"Kami juga berterima kasih kepada anda." timpal Adnan.


"Baiklah, saya akan memberikan uang dan juga surat surat pernyataan yang harus anda tanda tangani terlebih dahulu." Adnan memanggil asisten nya untuk mengurus perihal tersebut.


Inti dari surat pernyataan tersebut tidak lain adalah bahwa anak tersebut telah sah menjadi anak dari keluarga Adnan dan Regina, kelak keluarga asli mereka tidak dapat mengambil kembali anak tersebut dengan alasan apapun tanpa persetujuan Adnan dan Regina.


Setelah selesai membaca surat surat tersebut, lalu Uly pun menandatangani nya. Kemudian ia berpamitan kepada kedua tuan rumah tersebut untuk undur diri.


Mereka pun saling bersalaman.


***


Disisi lain .


Agni dan Bayu sedang berada di teras rumah sambil bercakap cakap .


"Gimana mas ? Kamu ini lama sekali memikirkan nya, dari kemarin masa belum nemu yang cocok sih." tanya Agni membuyarkan pikiran suaminya.


"Iya iya sayang, nih aku udah dapet nih." jawabnya seraya menyodorkan kertas yang di pegang nya.


Agni menerima kertas yang diberikan oleh Bayu kemudian mengejanya. "AKSARA PRISCANARA"


"Gimana.. gimana.. bagus kan?"


"Iya mas, bagus. Apa artinya mas?"


"Aku dan kamu yang selama ini hanya merasakan kesedihan dan kepahitan dalam kehidupan ini, sekarang telah dianugerahi kehadiran seorang anak yang akan memberikan kebahagiaan untuk kita mulai dari hari ini dan seterusnya. Kita akan menjaga dan memberikan kasih sayang penuh kepadanya, karena hanya itu yang bisa kita berikan. Bukan harta maupun benda, karena kita tidak punya itu. Tapi kita berdua harus bersama sama berusaha untuk melindungi dan membahagiakan dia walaupun dengan cara sederhana." terang Bayu bersemangat.


Agni hanya diam seraya memandangi wajah suaminya. Bayu yang gemas melihat Agni yang tidak merespon dirinya itu dengan cepat ia mengecup bibir polos istrinya itu.


Cup..


Agni yang terkejut spontan memukul lengan suaminya pelan.


"Maass, kamu ngapain sih?" ujarnya seraya tersenyum malu.


"Ciyeee malu.." goda Bayu.


"Ihh apaan sih kamu mas? Mulai deh usil nya!" Agni mencebikkan bibirnya.


"Haha.. udah punya anak satu masih aja malu malu nih?" Bayu semakin mengeraskan tawanya.


"Terus aja mas, terus.. sampe pagi!"


"Hahaha.. sekarang malah ngambek nih ceritanya."


Agni memukuli lengan suaminya kesal.


"Aduh aduh aduh.. ampun.. sakit sayang sakiitt.. "


"Berhenti ketawa nggak!"


"Iya iya sayang berhenti aku tuh. Gemes banget sih lihat wajah kamu kalau lagi ngambek."


Agni mendengus kesal sekaligus tersenyum melihat suaminya tertawa seperti itu.


Tidak mereka sangka bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka. Bu Ami, mertuanya yang tidak ada kerjaan itu selalu mengawasi kegiatan anak dan menantunya dengan pandangan yang kesal dan penuh kebencian.


Hubungan Agni dan Bayu berawal dari dua setengah tahun lalu. Agni yang kala itu bekerja di sebuah kedai rumah makan sedang membawa nampan berisi pesanan pengunjung, yang secara tidak sengaja bertabrakan dengan Bayu yang hendak memesan makanan. Mereka sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama, karena setelahnya mereka terus berhubungan. Setelah satu tahun berpacaran mereka memutuskan untuk menikah.

__ADS_1


Hanya didasari oleh perasaan saling mencintai, Agni yang hanya seorang anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan desa sebelah. Sedangkan Bayu pun hanya seorang pekerja serabutan. Ayahnya sudah meninggal saat Bayu bersekolah SMP, dan ibunya yang hanya seorang pembantu rumah tangga .


Mereka tetap nekad untuk menikah, walaupun orang tua Bayu tidak memberikan restu nya.


Dan setelah menikah, hari hari mereka berdua pun dijalani dengan hanya melakukan kerja keras. Terlebih lagi orang tua Bayu tidak mau bekerja lagi, ia menumpang hidup bersama mereka dan selalu membebankan Agni dan Bayu. Setiap hari bermalas - malasan dan suka bermain judi, itu semua dilakukan nya atas dasar ketidaksukaan nya kepada Agni.


Bayu pun sadar bahwa ibunya sangat tidak menyukai Agni, tapi dia tidak bisa berbuat apa - apa, karena di sisi lain dia sangat mencintai Agni. Maka dari itu dia tetap mempertahankan keadaan tersebut hingga saat ini.


**


'Aku berharap semoga kelak anak anakku menjadi anak yang pandai, sholehah, berbakti kepada orang tua dan menjadi pribadi yang tidak sombong dan iri hati. Dan semoga suatu saat nanti mereka dapat dipertemukan kembali.' Agni berdoa di dalam hati nya.


'Aku berharap semoga kelak impian ku dapat terwujud yaitu mempunyai anak kembar lagi dari istri ku.' Bayu mengucapkan keinginannya dalam hati.


***


Malam itu disebuah rumah mewah di Kota A.


"Ini sayang kopi nya." ucap Regina sambil meletakkan cangkir berisi kopi di meja ruang tengah.


"Makasih sayang." jawab Adnan seraya menyuruh istrinya duduk di sebelah nya. "Duduklah."


"Apa dia sudah tertidur?" tanyanya kembali.


"Sudah, baru saja. Makanya aku disini sekarang, kalau dia belum tidur aku sudah pasti akan menemaninya." jawab Regina.


"Oh jadi gitu ya, suaminya sekarang di nomor dua kan." timpal Adnan.


"Ya jelas dong sayang, dia kan anakku. Sekarang aku harus lebih memperhatikan dia, aku akan menjaga dan merawat nya dengan penuh kasih sayang. Aku bisa menjamin bahwa dia tidak akan kekurangan kasih sayang dari orang tuanya, tidak akan kekurangan suatu apapun. Kalau perlu nih ya aku bakalan stand by di samping nya 24 jam!" cerocos Regina panjang lebar.


"Hmmm.. Mulai deh.. Aku tanya satu kata jawaban nya kayak orang pidato." Adnan mencebikkan bibirnya.


"Ya kamu sih masa masih tanya kalau kamu aku nomor duakan, pastinya kan kamu juga udah tahu. Aku kan sekarang sudah jadi seorang ibu baru, jadi yang dinomor satukan harus anaknya lah. Jangankan kamu, diri aku sendiri aja nih ya sekarang bukan prioritas utama aku." lanjutnya masih dengan pidato panjang nya.


"Hadeehh, capek deh lama lama dengerin kamu pidato." gurau Adnan yang merasa istrinya ini tidak bisa di ajak bercanda.


"Huh!" Regina mendengus pelan.


"Aku sudah menemukan nama untuk anak kita." sambung Adnan kemudian.


"Apa sayang, katakan lah?" pinta Regina.


"JANETTA CHAREEZE EGDA" ujar Adnan memberi tahu Regina nama anak yang sudah di persiapkan nya.


" Wow, indah sekali nama nya. Sepertinya sangat cocok dengannya." ucap Regina sedikit berteriak.


"Kamu mau tahu artinya?"


Regina menganggukkan kepalanya. "Apa?"


"Seorang anak perempuan hadiah dari Tuhan sebagai pelindung dan mempunyai sikap yang anggun." ucap Adnan dengan tepat.


" Wah, bagus sekali arti namanya sayang. Kamu dapet darimana sih?"


"Ada deh." jawab Adnan ngasal.


"Huhh, kamu tuh ya tinggal jawab apa susahnya sih. Bikin orang penasaran aja! Kamu tuh kalau ngomong selalu suka setengah setengah. Ayo jawab... kamu nyari di google ya? Hayo ngaku? Jangan buat aku terus terusan ngomong deh, capek nih!" Regina mendorong dorong lengan suaminya kesal.


"Hehe.. iya iya, aku memang nyari di google sayang cuma belakangnya aja aku tambahin marga keluarga ku. Begitu. Sudah jelas dan puas tuan putri?" ujar Adnan menyeringai yang membuat Regina tambah kesal, ia pun terus mendorong lengan suaminya pelan.


Begitulah kira kira percakapan mereka sehari-hari. Dimana ketika Adnan berbicara setengah setengah, Regina penasaran . Berbicara dengan menyelipkan candaan, Regina ngambek dan menyuarakan pidato panjang nya. Berbicara serius, Regina menjadi tegang. Repot! Memang istrinya itu super aneh.


Adnan adalah orang yang tegas dan memiliki pendirian yang kuat. Dibalik penampilannya yang dingin dan cuek terhadap orang lain, namun itu tidak ia tunjukkan di depan istri tercinta nya.


Adnan memang telah menjadi budak cinta istri yang telah dinikahinya 5 tahun lalu. Karena dulu memang Adnan sudah tergila gila dan mengejar ngejar Regina pada waktu kuliah.


Regina sendiri merupakan tipe cewek yang dingin. Dia juga merupakan cewek paling cantik di kampus mereka. Selain itu ia juga anak dari salah satu keluarga terpandang di Kota A, sama halnya dengan Adnan yang merupakan putra tertua dari keluarga kaya raya di sana.


Adnan tidak pernah mencintai seseorang sampai seperti ini, maka dari itu meskipun sifat Regina yang terkesan ketus dan blak blakan tidak menjadi masalah baginya.


***

__ADS_1


__ADS_2