Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 8


__ADS_3

Di sebuah rumah di Kota S.


Cekriieekk...


Sara membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang ia bawa dan dengan langkah gontai berjalan menuju kamarnya. Rumahnya masih sepi kali itu jam dinding masih menunjukkan pukul setengah 5 sore, setengah jam lagi orang tuanya akan pulang.


Sara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aahhh.. capek banget." serunya, ia menatap langit langit kamarnya.


"Bosen banget sih, tiap hari di rumah terus."


"Habis sekolah langsung pulang ke rumah."


"Malem hari juga di rumah, besoknya sekolah lagi, pulang ke rumah lagi."


"Gue kan pengen jalan - jalan juga kayak temen temen, cari hiburan, beli ini beli itu."


"Lha gue? Bisanya cuma cari angin diluar."


"Gini banget sih nasib gue!"


"Orang yang gue suka juga masa bodo sama gue!"


"Takdir hidup macem apa sih yang dikasih Allah sama gue?"


"Apa salah gue sih sampe nggak pernah bahagia selama ini?"


Tanpa sadar buliran air matanya terus terjatuh membasahi pipinya, kemudian ia memejamkan matanya.


Hiks hiks hiks...


Dan akhirnya tertidur.


***


Agni dan Bayu telah sampai rumah, sedangkan Aby masih belajar kelompok di rumah temannya.


Agni menghampiri Sara yang sedang tertidur dengan posisi kaki yang menggantung ke bawah dengan sepatu dan tas yang belum terlepas dari badannya.


"Sara bangun." Agni mengguncang bahu Sara pelan untuk membangunkannya.


Sara tidak merespon, kemudian Agni mengelus rambut Sara perlahan dan ingin mencium putrinya tersebut, namun urung ia lakukan lantaran ia melihat ada bekas sisa air mata di pelupuk mata putrinya itu.


'Dia menangis lagi? Sebegitu bencinya kah kamu terhadap orang tua yang telah melahirkan kamu dengan keadaan seperti ini nak?' batinnya.


Agni tahu alasan putrinya tersebut menangis, karena hampir setiap hari ia memergoki Sara marah marah sendiri kemudian menangis. Alasannya pun hanya satu, yaitu nasib hidupnya yang dilahirkan dari keluarga tidak mampu.


Seketika Agni meneteskan air matanya. Ia pun membayangkan jikalau kembaran dari putrinya tersebut tidak dijual oleh ibu mertuanya, apakah putrinya tersebut akan merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Sara?


Tapi Agni juga terkadang bersyukur karena putrinya yang lain telah dijual oleh ibu mertuanya, sebab putrinya tersebut bisa mendapatkan kehidupan yang layak .


Agni memang telah mengetahui bahwa anak kembarnya yang dijual itu berada di tangan yang tepat, ia mengetahui hal tersebut dari Uly. Maka dari itu dia tidak pernah mencari keberadaan putrinya itu, bukan karena ia tega dan tidak merindukannya melainkan karena surat perjanjian tertulis yang telah diberitahu oleh Uly.


Ia pun lanjut kembali membangunkan Sara lantaran sekarang sudah pukul setengah 6, sebentar lagi adzan Maghrib.


Setelah Sara terbangun, Agni menyuruhnya untuk segera mandi sementara dirinya hendak memasak untuk makan malam.


**


Pukul 7 malam keluarga Bayu telah berkumpul di ruang makan untuk memulai makan malam.


"Bagaimana sekolah kalian hari ini?" tanya Bayu. Sebenarnya dirinya tidak suka makan sambil berbicara, tapi hanya pada saat makan lah keluarga mereka dapat berkumpul lengkap. Terutama untuk Sara yang jarang mengobrol dengan kedua orang tuanya.


"Baik kok yah, tadi ada tugas kelompok yah aku langsung kerjain deh di rumah temen aku. Biar cepet kelar yah." Aby menjawab seraya tersenyum.


"Oh ya? itu bagus nak. Kamu memang anak yang rajin. Tetap semangat belajar ya, ujian nasional mu semakin dekat kan?"


"Iya Ayah."


"Bagaimana denganmu Sara?" Bayu mengalihkan pandangannya ke arah Sara.


"Biasa aja." jawabnya singkat, pandangannya fokus menghadap hidangan didepannya.


Bayu menatap istrinya yang memberikan isyarat dengan gelengan kepala.


Aby yang melihat itu pun tiba tiba menyeletuk "Pinter kalo nggak sopan sama orang tua buat apa? Sia sia dong belajar, karena hanya doa dan restu orang tua lah yang akan merubah langkah mu di kemudian hari."


Sara hanya terdiam mendengar perkataan adiknya, bukan terdiam meresapi melainkan karena hampir emosi.


Aby tidak melihat kearah kakaknya, kemudian melanjutkan "Bagaimana hidupmu akan berkah jika perkataan dan sikapmu selalu menggoreskan luka dihati orang tua mu."

__ADS_1


Suara dentingan sendok menyentuh piring terdengar di dalam ruang makan cukup keras. Sara membanting sendok tersebut ke dalam piring yang nampak masih penuh dengan makanan.


Ia segera berdiri dan berjalan memasuki kamar, kemudian ia membanting pintu tersebut.


"Astaghfirullah hal adzhim." seru Agni dan Bayu. Agni memegang dadanya, terasa sesak. Bayu memegang tangan istrinya. "Ayo lanjutkan saja makannya." ujar Bayu.


"Aku sudah tidak lapar mas, aku mau istirahat sebentar." suaranya terdengar parau karena menahan air matanya agar tidak meluap. Agni pun juga berlalu meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Bayu menganggukkan kepalanya, "Istirahatlah"


Ia tahu istrinya tersebut pasti sangat terluka akibat perilaku Sara tadi.


"Ck ck ck.. dasar anak durhaka memang!" ucap Aby dengan mulut penuh makanan.


"Ssttt! sudah, makanlah." ujar Bayu kepada anaknya yang selalu ceplas - ceplos ketika berbicara, terutama pada kakaknya.


Bayu sendiri pun sebenarnya merasa sedih, lantaran kedua anaknya itu tidak pernah akur sejak kecil.


***


Di dalam kamar, Agni yang tidak kuat membendung air matanya lagi karena menahan sesak di dadanya pun menangis sejadi jadinya.


"Ya Allah.. apa salah ku jika aku terlahir sebagai hambamu yang kurang mampu? Kenapa anakku begitu membenciku hanya karena aku tidak pernah memberikan apa yang dia mau? Padahal selama ini aku sudah memberikan dia kasih sayang seorang ibu yang benar benar tulus. Sampai kapan aku bisa menahan semua rasa sakit di hatiku atas perlakuan putriku. Aku bahkan malu untuk menatapnya, malu untuk berada di dekatnya."


Huu..huu..huuu...


Bayu memasuki kamarnya, ia sudah menduga kalau istrinya itu pasti sedang menangis.


"Sudah sayang, jangan menangis dan jangan seperti ini terus. Bukankah kamu sudah terbiasa dengan sikap putri kita?" ujarnya mencoba menenangkan istrinya.


"Aku memang sudah terbiasa mas , tapi aku tetap seorang ibu. Ibu mana yang tidak sedih dan sakit hati melihat perkataan dan perilaku anaknya seperti itu? Sakit hatiku mas, aku selalu berpikir apa salah ku? Kenapa perasaan kasih dan sayang ku kepada anakku tidak terbalaskan olehnya?" Agni meluapkan apa yang dirasakanny selama ini.


Bayu menepuk nepuk pelan bahu istrinya, kemudian ia memeluknya.


"Tenang sayang, bersabarlah. Kuatkanlah hati dan dirimu. Aku yakin suatu saat dia akan sadar bahwa perbuatannya selama ini menyakiti hati kita."


"Aku sudah bersabar selama ini mas, sampai kapan lagi aku harus bersabar? Aku hanya ingin mendapatkan cinta dan kasih dari anakku sendiri mas. Kenapa itu rasanya sesulit aku untuk merengkuh dunia ini?"


"Tetaplah selalu memohon dan berdoa untuk kebaikan anak anak dan keluarga kita sayang."


"Andai saja kembaran Sara tinggal bersama kita, apa mungkin dia juga berperilaku seperti Sara mas?" tanya Agni pada suaminya.


"Apa maksud mu?"


"Entahlah, aku juga tidak paham."


"Kalau putri kembar kita yang satunya itu memiliki sifat seperti Sara, kasihan keluarga yang mengasuhnya mas."


"Hei kamu ini bicara apa sih? Menurutku itu tidak mungkin, karena sifat dan perilaku manusia pada umumnya berbeda beda. Jika kembar rupanya belum tentu juga kembar perilakunya." tutur Bayu.


"Katanya kamu tidak tahu?"


"Aku hanya tidak ingin menjelaskannya saja tadi. Berhubung kamu selalu berpikiran kemana mana, aku jawab saja. "


"Tapi mas, mendengar cerita Bi Uly dulu tentang anak kita sepertinya__"


Braaakkk !


Suara pintu yang tiba tiba terdorong dari luar, mengejutkan Agni dan Bayu.


"Apa maksud percakapan kalian? Anak kembar? Siapa yang kembar?" beberapa pertanyaan pun dilontarkan oleh seseorang yang telah mendorong pintu tadi, dia adalah Sara.


"Sara!" ucap Agni dan Bayu berbarengan.


Sara yang tadinya ingin ke kamar mandi yang letaknya di belakang rumah, sebelumya harus melewati kamar kedua orang tuanya. Ia sebenarnya tidak ingin berdiri disana untuk menguping, tapi cerita yang mereka suguhkan terdengar dari luar kamar yang membuat Sara tertarik. Ia pun menghentikan langkah kakinya, menempelkan telinganya tersebut di celah pintu yang sedikit terbuka. Karena Bayu memang tidak menguncinya tadi.


"Jawab yah, buk! Aku dengar semua yang kalian omongin!" suaranya sedikit mengeras.


"Tidak ada apa apa nak, kembalilah ke kamarmu." sahut Agni.


"Aku nggak akan pergi sebelum kalian jelasin apa yang kalian bahas tadi." Sara tetap keukeuh.


"Kita sedang membicarakan orang lain nak." jawab Agni lagi.


"Aku tidak bodoh untuk tidak bisa membedakan apa yang aku dengar buk!" suaranya semakin mengeras, membuat Bayu geram.


"Apa yang kau dengar?!!" Bayu berdiri dan menatap tajam ke arah Agni.


"Mas.." sela Agni.


"Semuanya yah. Tolong Ayah jelasin ke aku, apa aku punya saudara kembar?"

__ADS_1


"Iya, kamu memang mempunyai seorang saudari kembar."


"Mas.. Jangan katakan." pinta Agni memelas, ia tidak ingin Sara tahu dan akan mencari tau tentang kebenaran kembarannya itu. Maka dari itu selama ini dia selalu menyembunyikan semua nya.


"Mungkin memang sudah saatnya dia mengetahui semuanya." Bayu memegangi pundak istrinya, menghela nafas panjang.


"Kamu memang terlahir kembar, kembaranmu juga perempuan dan memiliki wajah sepertimu. Tidak ada yang membedakan dari segi fisik kalian." terangnya.


"Lantas.. " Sara menghentikan kalimat yang akan diucapkan nya.


"Sstt, dengarkan Ayah dulu sampai selesai."


"Pada saat itu nenekmu tidak menyukai kami memiliki anak kembar karena hanya akan menambah beban di keluarga kita yang miskin, akhirnya nenekmu menjual salah satu bayi kami. Yaitu saudara kembarmu." Bayu menjelaskan kepada Sara panjang lebar detail dari kehidupannya, tapi dia tidak mengatakan keberadaan dan bahwa kembarannya tersebut diasuh oleh orang kaya. Karena ia sudah hafal akan sifat buruk yang dimiliki putrinya itu.


Sara hanya diam mematung mendengar semua cerita ayahnya, entah apa yang sedang dirasakannya.


"Di kota mana dia tinggal yah? Apakah dia juga tidak mengetahui kalau dia punya kembaran?"


"Entahlah, Ayah juga tidak tahu." jawab Bayu berbohong.


Sara menghela nafasnya kasar "Hahh.. aku ingin sekali mencarinya dan bertemu dengannya."


"Itu tidak perlu!" seru Agni cemas.


Sara mengernyitkan keningnya "Kenapa buk?"


"Ehmm.. Karena dulu nenekmu telah menjualnya, jadi kalau saja kamu menemukan nya kita tidak akan mungkin bisa membawa nya kembali kesini. Karena dia telah memiliki keluarga lain saat ini. Keluarga tersebut telah menggantikan saudara mu dengan sejumlah uang. Tidak mungkin keluarganya rela mem__" jelas Agni meyakinkan putrinya yang disela oleh Sara.


"Aduuhh, ibuk ini ngomong apa sih? Siapa juga lagi yang mau dia tinggal disini? Nambah nambahin beban lagi aja. Aku tuh cuma pengen tahu buk dia seberapa mirip nya sama aku, pinter kayak aku juga nggak?" selanya ketus.


Agni dan Bayu saling memandang, tidak menyangka bahwa setelah mengetahui kebenaran tentangnya yang memiliki saudara kembar, Sara akan mengatakan hal itu. Bukannya senang malah sepertinya dia takut tersaingi. Dan apa jadinya kalau dia tahu saudara kembarnya tersebut telah hidup berkebalikan dengannya hingga saat ini?


***


Setelah selesai dari kamar mandi, Sara kembali menuju kamarnya. Ia duduk di meja belajarnya sambil menopang dagu.


"Gue punya saudara kembar? Identik pula."


"Masa iya sih?"


Ia bergidik masih tidak percaya, membayangkan bahwa jika dirinya benar benar ada dua.


"Dia dimana ya sekarang? Gue bener bener pengen ketemu. Ayah sama Ibu juga gak tau keberadaannya lagi."


"Bodo ahh.." ia mengusap wajahnya gusar.


Kemudian ia pun membuka buku nya dan mulai tenggelam mempelajari isi buku di tersebut. Hingga jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, ia pun menyudahi kegiatannya dan beranjak tidur dan akan terbangun lagi keesokan harinya untuk menjalani aktivitas seperti biasanya yang membosankan menurutnya.


***


Keesokan paginya, Sara sedang menunggu kedatangan bus umum di halte yang akan ia tumpangi guna sampai ke sekolah.


Setelah melihat bus tersebut berhenti didepan nya, ia segera naik. Tapi sungguh sial, tempat duduk semuanya sudah penuh. Karena tidak ada pilihan lain, ia pun akhirnya berdiri.


"Hei.." seseorang menepuk pundaknya.


Ia menoleh dan sangat terkejut, seseorang tersebut adalah Daffa dan disampingnya ada Elang. Elang? kok bisa?


"E..elo.. nga.. ngapain di.. disini?" ujarnya gugup, karena tidak mungkin seorang Elang yang kaya raya berada didalam sebuah bus.


"Ke sekolah lah." jawab Daffa seraya tersenyum.


"Ma..maksud gue bukan itu, ma..maksud gue ngapain kalian naik bus umum kayak gini? kalian kan__"


"Oohh.. kita lumayan sering naik bus tau. Kita juga sering ngeliat lo ada di bus yang sama bareng kita kok." jawab Daffa lagi.


"Ja..jadi ini bukan yang pertama kali? kok gue nggak pernah liat kalian ya? " tanyanya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Daffa mengangguk, "Lo aja yang gak pernah kelihatan kita. Karena yang gue liat lo tu selalu nunduk, lesu gitu."


'Duh, malu banget gue!' gumamnya.


"Ehmm masa sih?"


Daffa tersenyum, Sara jadi salah tingkah karena ada Elang disitu , didekatnya .


Tak selang lama seorang penumpang di depan Sara berdiri dan hendak turun , ia yang tengah melihat bangku kosong didepannya pun lantas bergerak maju hendak mendudukinya . Bersamaan dengan itu Elang pun juga hendak duduk di bangku tersebut tapi telah keduluan olehnya. Sara mendongakkan kepalanya menatap Elang yang juga menatap tajam kearahnya.


Ia segera tersadar dan segera berdiri lagi untuk mempersilahkan Elang duduk .


"Ehm.. eh.. elo aja deh yang duduk."

__ADS_1


Tanpa menolak dan tanpa berucap terima kasih Elang pun dengan santainya duduk di bangku kosong tersebut.


Sara tidak menyangka Elang tidak menolaknya, 'Duh, cowok apaan sih kok gamau ngalah sama cewek. Apa bener tipe kayak gini yang gue suka?' batinnya terus bertanya tanya.


__ADS_2