
Pagi hari itu di Kota A.
Gadis manis yang masih terbalut selimut tebal itu menggeliat ketika alarm di atas nakas yang berbunyi berkali kali itu tidak mau berhenti.
Ia menyingkap sedikit selimut yang membalut tubuhnya itu kemudian meraba raba keberadaan jam weker berbentuk strawberry tersebut kemudian membuangnya ke lantai sambil bergumam "Beriisiiikkk!" Ia pun kembali memejamkan matanya.
Tak selang lama,
Tok.. tok.. tok..
Tidak ada sahutan,
Tok.. tok.. tok..
"Sayang bangun, nanti kamu terlambat lho." suara ketukan pintu dari luar beserta teriakan seorang wanita anggun tersebut membangunkan gadis manis itu.
"Hmmh.. Iya mii, aku udah bangun."
sahutnya.
"Mami tunggu di meja makan ya sayang, cepetan lho biar nggak terlambat."
"Iyaaaa..."
Didalam kamar ia pun masih terduduk di tempat tidur sambil menguap berkali kali.
"Hooaaammm.. jam berapa sih sekarang?" gumamnya.
Ia melirik jam di dinding kamar yang didominasi warna pink putih tersebut.
"WHAATT???!!! ****** gue kesiangan lagi!" serunya seraya berjingkat dan berlari kecil menuju kamar mandi.
Dengan tergopoh - gopoh ia mandi kemudian memakai seragam sekolah nya yang ketat dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sexy, menyisir dengan cepat rambut panjangnya serta memoleskan lip balm tipis pada bibir nya. Kemudian mengambil tas dan buru buru berlari menuju ruang makan.
Disana telah berkumpul semua keluarganya , Mami Regina, Papi Adnan dan adik laki - lakinya, Jayden.
Adik laki - lakinya?
**
Iya, Tuhan memang sedang mempermainkan takdir pasangan suami istri Adnan dan Regina pada saat itu. Bagaimana tidak, saat mereka sangat menginginkan momongan setelah pernikahan mereka, mereka belum di izinkan. Sedangkan setelah mereka mengadopsi anak perempuan dari keluarga miskin itu, tepat pada saat usia bayi tersebut masih empat bulan, Regina positif hamil.
Andai saja Regina tidak mengadopsi anak perempuan itu dulu, mungkin bayi yang dikandungnya akan menjadi putra pertamanya.
Tapi kemungkinan lainnya, dengan Regina yang telah mengadopsi bayi perempuan tersebut telah menjadikan pancingan untuk kehamilan nya yang pertama setelah 5 tahun lamanya.
Untungnya Regina adalah seorang yang bijak, ia tidak mempermasalahkan bayi perempuan yang ia adopsi itu setelah ia mengetahui kehamilan nya. Malahan ia sangat bersyukur dan ia pun menepati janji nya yang akan merawat dan membesarkan bayi perempuan tersebut tanpa kekurangan kasih sayang dan suatu apapun. Saat putra pertamanya lahir pun Regina dan Adnan tidak membeda bedakan perlakuan untuk keduanya sampai sekarang.
Terbukti sekarang anak perempuan tersebut telah tumbuh menjadi anak yang patuh dan penuh sopan santun kepada siapapun. Meskipun sifatnya yang terkadang manja dan masih belum dewasa. Itu dikarenakan Regina selalu memanjakan dan menuruti semua kemauan putrinya sejak kecil.
Jane sapaannya, ia juga tumbuh menjadi sesosok remaja yang periang dan cantik. Mata yang indah dan bulat, bulu mata yang lentik serta bibir ranum yang tipis. Juga dengan kulit putih bersih dan tinggi semampai, membuat setiap mata yang melihatnya terpana dan tak berkedip lama. Itulah salah satu yang menjadikannya idola di sekolahnya. Meskipun ia termasuk murid yang kemampuan belajar nya di bawah rata rata. Ia pun juga selalu terlambat datang ke sekolah, itu karena dia tipe yang kalau tidur sulit sekali untuk dibangunkan.
Sedangkan adiknya, Jayden. Ia pun juga tumbuh menjadi pemuda yang tampan, ceria dan murah senyum. Tak ayal menjadikannya populer di sekolah nya, apalagi ia adalah kapten tim basket. Banyak siswi putri yang mengagumi dan ingin menjadi pacarnya, Bahkan salah satu sahabat Jane pun menyukainya. Namun fokus Jayden belum sampai disitu. Ia masih ingin sendiri dan menekuni hobinya bermain basket, karena menurutnya memiliki seorang kekasih itu ribet dan hanya akan membuat nya pusing.
Jane dan Jayden bersekolah di sekolah yang sama, Jane kelas XI sedangkan Jayden baru memulai masa SMA nya.
Mereka selalu berangkat sekolah bersama-sama.
Hubungan kakak beradik mereka sangat harmonis, mereka pun saling menyayangi. Bukan Jane sebagai kakak yang melindungi adiknya, melainkan sang adik lah yang melindungi sang kakak dari setiap perempuan yang iri atas kesempurnaannya dan semua laki laki yang hendak mengincarnya.
***
"Pelan pelan dong sayang, jangan lari lari gitu." ujar Mami Regina ketika melihat putrinya berlarian kecil dari tangga menuju ruang makan.
"Hehe.. pagi semuanya.." sapanya sumringah.
Jane mendudukkan tubuhnya di atas kursi ruang makan yang berbahan dasar kayu mahoni berwarna putih tersebut terkesan mewah.
"Ayo sayang segera sarapan, kamu ini selalu saja kesiangan kalau bangun. Seneng banget sih terburu buru gitu." sambung Mami Regina.
"Hehehe.. Habisnya tidur itu enak banget sih Mi." jawabnya seraya mengambil sepotong sandwich buatan Bi Wina pembantu rumah tangga di rumahnya.
Semua yang ada di sana menggelengkan kepalanya.
Memang hobinya Jane ialah tidur !
Kalau sudah tidur susah sekali dibangunkan .
__ADS_1
"Kakak kan julukannya putri karet Mi." celetuk Jayden.
"Oh ya? siapa yang bilang gitu?" tanya Mami Regina.
"Temen temennya lah Mi."
"Ada ada aja sih."
Jane memakan sandwich tersebut kemudian meminum segelas susu cokelat kesukaannya dengan terburu - buru.
"Jane berangkat dulu ya Pi, Mi." ia bergantian mencium tangan kedua orang tuanya.
"Makan nya jangan buru buru gitu dong sayang, nanti kesedak."
"Takut telat Mi."
"Kamu ini.. makanya bangun lebih pagi dong sekali kali, biar bisa menikmati sarapan dengan tenang."
" Hehe.. iya Mamii.. lain kali yaa.." ujarnya seraya berjalan menuju pintu rumahnya.
"Jayden juga berangkat Pi, Mi." ia juga berpamitan seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati hati ya sayang." sahut Papi Adnan.
"Iya Pi." Jawab keduanya kompak.
Sedangkan Regina beranjak untuk mengantarkan anak anaknya sampai ke depan pintu.
"Hati hati ya sayang.." ujarnya seraya menciumi kedua pipi Jane dan Jayden.
"Siip Mi."
"Jaga kakak kamu Jayden." sambungnya lagi.
"Siap boss!" sahut Jayden sambil mengangkat tangan kanannya seperti sedang memberi hormat.
"Kita berangkat ya Mi, dadaaahh.." ucap Jane yang sudah duduk dibelakang kemudi mobilnya.
"Apa apaan kak, minggir ! " seru Jayden ketika melihat kakaknya duduk di belakang kemudi mobilnya.
"Hari ini biar kakak yang nyetir, kamu bisa santai. Ok! Ayo masuk cepet."
"Masuk atau kakak tinggal nih!" sentak Jane pelan.
"Huh, kakak ini!" jawabnya sambil mendengus.
Jane terkekeh puas.
Memang setiap hari selalu Jayden yang mengemudikan mobilnya ketika ia bersama sang kakak. Mau ke sekolah atau kemanapun, karena ia ingin memperlakukan kakaknya layaknya tuan putri.
Ia sangat menyayangi saudaranya itu.
Jane langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Wooii kak pelan pelan dong!" teriak Jayden yang terkejut melihat kakaknya melajukan mobil tersebut dengan kencang.
"Udah diem aja, kakak kan nyuruh kamu santai. Oke!" sahutnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Duuhh, jantung aku bisa copot nih kak."
"Pelanin dikit dong kak!" pintanya lagi.
"Aduh.. itu.. Hati hati kaakkk!"
Teriakan teriakan Jayden terdengar lucu di telinga Jane.
Jane hanya terkekeh melihat adiknya itu.
***
Terlihat sebuah mobil sport Lamborghini berwarna putih memasuki gerbang sekolah Bright Internasional School, SMA paling elit dikawasan ibukota.
Setelah tiba di parkiran, mereka berdua langsung keluar dari dalam mobil tersebut.
Dilihatnya siapa yang telah menunggu mereka berdua disana.
Siapa lagi kalau bukan Denise, Lea dan Jovi, sahabat terbaik Jane.
"Lo telat 6 menit dari Jovi ." ujar Denise kepada Jane seraya menunjukkan stopwatch pada ponselnya.
__ADS_1
"Yaahh.." ucap Jane lesu .
"Lo kalah.. hehe jangan lupa lho perjanjian kita." timpal Lea kemudian .
"Siapa yang pertama?" tanya Jane.
"Gue lah!" ucsp Denise bangga.
Hari ini mereka memang mengadakan balapan siapa yang sampai lebih dulu di sekolah, dan yang terakhir dateng bakal memberikan traktiran untuk yang menang.
Jane mencebikkan bibirnya.
"Tumben amat lo Jov bisa cepet? Biasanya juga lelet kayak ulet!" ledek Jane melihat kearah Jovi yang ternyata malah diabaikannya.
"Hai Jayden.." sapa Jovi tak menggubris kalimat Jane.
"Hai kak Jovi.." balas Jayden dengan menyunggingkan senyumnya.
Jovi terus memandangi Jayden sampai kedua matanya ditutupi oleh Jane dengan tangannya.
"Udah, ntar mata adek gue bisa karatan kalo lama lama liat muka lo." Bisik Jane di telinga Jovi.
Jovi menepis tangan Jane dan memelototkan matanya. "Sialan lo Jane!"
"Hahaha.." Jane dan sahabatnya tertawa melihat Jovi, sementara Jayden hanya tersenyum malu.
Jovi memang menyukai Jayden sejak SMP, tapi Jayden hanya menganggap Jovi sama seperti kakaknya. Karena Jovi merupakan sahabat kakaknya.
Jane telah bersahabat dengan Jovi dan Denise sejak kecil. Karena orang tua mereka bertiga adalah teman sesama rekan bisnis. Sedangkan Lea baru ia kenal semenjak SMP.
"Udah buruan masuk kelas, udah bel nih." Ujar Lea.
"Ayook."
"Kuy!"
***
Mereka memasuki kelas XI IPS 2 di lantai 2 karena memang mereka berempat termasuk golongan murid yang kurang pandai, jadi mereka tidak mau ambil pusing dengan masuk ke kelas IPA. Sedangkan Jayden sudah memasuki kelas nya sendiri di lantai bawah, Jayden kelas X.
Mereka tiba berbarengan dengan guru yang hendak memasuki kelas.
Guru tersebut berdecak, "Cepat masuk!" perintahnya.
Mereka berempat pun menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti guru tersebut dari belakang.
"Untung pa." ujar Lea seraya berbisik bisik dan tertawa kecil dengan para sahabatnya.
Disekolah mereka berempat merupakan siswi yang famous, karena mereka cantik dan tajir melintir. Mereka semua tidak ada yang pandai, mereka juga termasuk murid yang badung. Sering terlambat datang ke sekolah, jarang mengerjakan pr, sering cabut saat pelajaran hanya untuk jalan jalan ke Mall dsb. Guru guru pun tidak pernah memberi mereka skorsing, hanya menghukum mereka dengan sedikit hukuman ringan. Karena orang tua mereka merupakan penyumbang dana yang sangat besar di sekolah tersebut.
**
Kriiing.. kriiing.. kriiiiiing..
Suara bel sekolah berbunyi, waktunya istirahat.
Langkah cowok ganteng, tinggi dan putih dengan potongan rambut undercut menghampiri meja Jane cs.
"Sayang, kantin yuk! " Ajaknya pada Jane .
Cowok tersebut tak lain ialah kekasih Jane, mereka berdua baru beberapa hari jadian.
"Ayo!" serunya.
"Yuk guys."
Jane dan sahabatnya menuju ke kantin sekolah dengan diikuti keempat cowok ganteng dibelakang mereka. Keempat cowok tersebut adalah cowok paling populer di sekolah mereka. Banyak pasang mata memandang ke arah mereka, banyak yang mengagumi mereka, tidak sedikit pula yang iri melihat kedekatan cowok dan cewek populer disekolah tersebut.
Mereka telah sampai di kantin, disana ada bangku tersendiri untuk Jane dan teman temannya. Anak anak lain tidak ada yang berani menduduki bangku tersebut.
Ia dan teman temannya pun mulai memesan beberapa makanan dan minuman.
Tak selang beberapa lama ketika mereka sedang asyik menikmati makanan nya ada dua orang cewek yang melintas di sebelah Jane, salah satu cewek tersebut berjalan sambil menatap ke arah Jane. Jane pun membalas tatapan cewek tersebut seraya tersenyum mengejek. Lalu ia pun mengangkat satu jempol tangannya kemudian menjungkirkan jempol tersebut ke arah bawah. Cewek tersebut seakan tidak terima, ia menyiratkan pandangan tidak mengenakan untuk Jane. Bergegas melewati Jane dan yang lainnya sambil berdecak jengkel.
'Awas aja lo, gue bakalan bales lo nanti !' batin cewek tersebut.
***
__ADS_1