Twin Girls Exchange

Twin Girls Exchange
Bab 9


__ADS_3

Bus umum yang membawa mereka bertiga telah tiba di depan sekolah, mereka pun segera turun dari sana.


"Dah Sara.. kita duluan ya?" pamit Daffa setelah mereka menginjakkan kaki di halaman sekolah.


"Eh.. i..iya Daf." jawab Sara yang masih gugup.


Mmhh.. ia menghela nafas 'Susah banget sih denger dia ngomong?' gumamnya yang melihat Elang sedari tadi hanya diam.


Sara masih berdiri mematung memandangi langkah kaki cowok yang ia sukai itu perlahan lahan menjauh.


'Kayaknya memang gue harus berhenti suka sama dia deh. Jangankan tertarik, ngelirik aja enggak! Mustahil dunia akhirat gue bisa jadian sama dia.'


Sara menepuk nepuk pipinya, "Sadaarr Sara Sadaarr.. lupain lupain lupain.."


"Doorr!"


"Gila lo ya! Kaget banget gue! Huh.." sentak Sara seketika mengetahui sahabatnya tiba tiba mengagetinya.


"Cieileh ngegas dia.." sahut Salva cengengesan.


"Ngeliatinya gitu amat mbak." timpal Melisa.


"Apaan sih!" Sara mengerucutkan bibirnya.


"Eh kalian tau nggak, kalo si Elang tuh berangkat sekolahnya naik bus lho." ujarnya kemudian.


"Hah? Apa lo bilang?" tanya Salva terkejut.


"Kagak tau gue, seriusan lo?" sambung Melisa.


Sara mengangguk,


"Tau dari mana lo?" tanya Melisa.


"Gue liat sendiri lah! Orang tadi dia se bus sama gue."


"Mata lo rabun ya? Atau lo lagi ngigau kali Ra?" celetuk Salva.


"Enak aja lo! Gue serius lah, kalo gak percaya yaudah.. Bye!"


"Elaah maen pegi aja lo." Salva dan Melisa mengejarnya.


Mereka berjalan menuju kelas.


"Masa sih holkay naik bus Ra?" tanya Melisa kemudian.


"Menurut lo?"


"Aneh aja lah." seru Melisa.


"Gue juga ngerasa aneh sih, soalnya selama ini kita kan gak pernah tahu kehidupan pribadi nya." ujar Sara.


"Mobilnya mogok kali, masih dibengkel!" celetuk Salva.


"Enggak mungkin, orang tadi Daffa bilang mereka lumayan sering naik bus kok " ujar Sara yakin bahwa sewaktu Daffa berbicara tadi pendengarannya jelas.


"Kalau dipikir - pikir orang kaya punya segalanya tapi malah milih jadi kek orang biasa, gue gak pernah nyadar sih tapi kalo diperhatiin penampilan dia tuh sederhana ya nggak berlebihan kayak anak anak lain." sambungnya seraya membayangkan Elang.


"Ho oh sih. Anak cowok lain pada make jam tangan branded, kalung, cincin, tas dan sepatu mahal, udah kayak cewek! Kalo Elang sih gue lihat cuma pake gelang warna item aja udah keren bingit." cerocos Salva.


"Berarti memang seleranya biasa. Udah ah, ngomongin dia mulu belum tentu juga dia ngomongin kita. " ucap Melisa.


Sara cemberut sedangkan Salva masih memikirkan perkataannya sendiri.


"Kok gue juga mulai tertarik sama Elang ya?" celetuk Salva tidak sadar.


"Apa lo bilang?!" sentak Sara seraya manatap tajam ke arah Salva.


Salva jadi salah tingkah.


"Aduuhh mpok.. cuman becanda gue, biasa aja keles liatnya kan gue jadi atut. Hehe.."


Sara memalingkan wajahnya, sementara Melisa menggelengkan kepalanya sambil berbisik di telinga Salva.


"Elo tuh ya ada ada aja, bisa dimakan lo sama Sara kalo beneran suka sama Elang. Hihihi.."


"Etdah kagak percaya, becanda kunyuk."


Mereka berdua cekikikan dibelakang Sara.


Entah kenapa Salva dan Melisa mau bersahabat dengan Sara saat mereka sudah tau watak dari sahabatnya itu. Alasan pertama mungkin karena Salva dan Sara sudah mengenal sejak kecil. Sedangkan yang kedua pasti karena Sara merupakan seseorang yang pintar.


***


Di dalam kelas, pandangan Sara selalu menoleh ke arah Elang. Ia sama sekali tidak fokus terhadap pelajaran yang diterangkan oleh gurunya.


'Duh, gue kok jadi makin penasaran sama kehidupan dia sih? Apa gue ikutin aja ya nanti sepulang sekolah, dia kan naik bus?


Ya ya bener, gue harus ikutin dia!' gumamnya.


"Eh ntar malem ikut gue sama Melisa yuk!" pinta Salva setengah berbisik kearah Sara.


"Kemana?" tanya Sara.


"Ke Venus."


"Hah, Venus apaan?


"Ampun deh nih anak kutu, seriusan lo nggak tau?"


"Lo tanya apa ngehina gue?"


"Hah? Maksud lo?" Salva mengernyitkan dahinya.


"Lo kan tau gue nggak pernah keluyuran kemana mana, pake ditanya lagi?!"

__ADS_1


"Oh, he he he.. Sori sori stroberi mbak sis.." sahutnya cengengesan.


Sara memalingkan mukanya.


"Etdah ngambek nih, jangan ngambek mulu lah ntar cepet tua giginya tinggal dua."


Sara hanya melirik kesal.


"Kalian berdua diem atau keluar!" ujar Pak Danu tiba tiba sambil menunjuk ke arah Sara dan Salva memperingatkan mereka.


Keduanya menunduk, "Maaf pak." ucap mereka berdua.


Tak selang 5 menit.


Salva mencolek tangan Sara berbisik, "Ntar malem gue traktir lo deh. Gue juga ngajak Melisa kok, Oke." seru Salva sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sara menghela nafas, "Terserah."


"Ok, fix! Gue jemput lo nanti jam 8, jangan lupa bawa baju yang.. ehm seksi."


"Apa?"


"Hehehe.."


"Memang kita mau kemana sih?"


"Seneng seneng dikit. Udah lama gue pengen ngajak lo sama Melisa kesana tapi gue ga pernah di ijinin keluar malem malem sama bonyok gue tanpa tujuan yang jelas. Hehe .. Lagian nih ya gue ada kenalan orang dalem disana." ujar Salva masih cengengesan.


"Cih kenalan, kenalan dari ketek?" sahutnya.


"Ihh, nih anak dibilangin juga ga percaya?! Kenalan gue itu temen kampus kakak gue, orang nya ganteng banget tau! namanya__"


"Iya iya.. emang lo pernah kesana?" Sara telah mengerti tempat apa yang dimaksud oleh Salva.


"Enggak sih, hehehe.."


"Kupret emang!"


Pak Danu menghampiri keduanya dan menggebrak meja didepan mereka. "Kalian berdua.. keluar!!"


**


Sepulang sekolah, Sara berniat untuk mengikuti Elang.


Dan benar adanya, Elang dan juga Daffa menaiki bus untuk tujuan pulang mereka. Sara berada dalam satu bus dengan mereka namun dengan jarak yang lumayan jauh.


Belum sampai 15 menit bus tiba tiba berhenti, Sara yang melihat Elang turun dari sana langsung bergegas mengikuti.


Ia pun menghentikan langkah kakinya melihat Elang dan Daffa memasuki sebuah apartemen.


'Oohh jadi dia tinggal di apartemen? Kenapa gue baru sadar sih? Seharusnya gue ngikutin dia dari dulu. Huh' batinnya.


Ia pun ikut turun dan kembali mencegat bus arah balik bergegas pulang ke rumahnya.


**


"Malem Tante." sapa keduanya pada Agni.


"Oh kalian, ayo silahkan masuk." jawab Agni.


"Sara jadi nginep di rumah kamu Va?" tanya Agni kemudian setelah mereka semua mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu.


Sara memang telah meminta izin menginap di rumah Salva untuk menemaninya karena orang tuanya sedang berada di luar kota. Agni dan Bayu pun mengizinkannya, karena mereka juga sudah mengenal keluarga Salva jadi tidak membuat Agni dan Bayu khawatir. Memang selama ini Sara tidak pernah keluar rumah, selain karena tidak mempunyai uang alasan lainnya adalah karena Bayu dan Agni tidak mengizinkannya keluar di malam hari . Kedua orang tuanya sangat menjaga Sara, takut kalau sampai dia salah pergaulan.


"Iya Tante, cuma malam ini aja kok Tan, tapi mungkin besok pulangnya sore karena kita sekalian ngerjain tugas bareng." tutur Salva menjelaskan.


.


Agni pun mengangguk, "Melisa juga?"


"Iya Tante." jawab Melisa.


"Ayo buruan." Sara sudah siap, dengan pakaian santai.


"Kita pamit ya Tante."


Agni tersenyum, "Kalian hati hati ya?" ujarnya.


"Iya, Assalamualaikum." ujar mereka berbarengan.


"Waalaikumsalam."


***


Mereka bertiga telah berada didalam mobil Salva.


Salva mengemudikan mobilnya ke tempat yang akan mereka tuju sebenarnya. Setelah sampai di parkiran, mereka tidak segera turun.


"Kita ganti baju disini aja ya? " ujar Salva.


"Hah, yang bener aja lo Va!" seru Sara kemudian.


"Udah lah gapapa disini aja, aman kok gak kelihatan dari luar." jawab Salva.


"Yaudah buruan ayo." ucap Melisa.


"Eh, lo bawa bajunya kan Ra?" tanya Salva.


"Baju dari Hongkong?! Gue nggak punya baju kayak begituan!" serunya.


"Etdah.. gue udah nebak! Nih pake punya gue." Salva menyodorkan baju cadangan yang ia bawa kepada Sara, dan Sara pun menerimanya.


Setelah 20 menit mereka lekas keluar dari mobil, mereka bertiga kelihatan berbeda dari biasanya karena mereka memoleskan sedikit make up di wajah mereka.


Sara memakai mini dress casual berwarna hitam dan putih, Salva memakai tanktop biru tua berpadu dengan rok denim sedangkan Melisa memakai turtleneck mini dress berwarna hitam.

__ADS_1


Mereka bertiga tidak memakai high heels hanya memakai sepatu kets biasa.


Sebelumnya, Salva telah menghubungi seseorang yang baru beberapa Minggu ini menjadi kenalannya. Karena peraturan disana tidak memperbolehkan anak dibawah umur untuk masuk kesana. Setelah semuanya beres, kemudian mereka masuk ke dalam club malam tersebut.


**


"Wuuuiihh, pol banget cuy!" Salva berseru setengah berteriak karena setibanya disana mereka telah disambut oleh dentuman musik yang memekakkan telinga.


Apalagi dia juga baru pertama kali mengunjungi tempat seperti itu, yang sebelumnya hanya ia lihat di tivi dan juga medsos.


"Iyalah, apalagi ini kan malem Minggu!" Teriak Melisa tepat di telinga Salva.


"Woii, gila lo! Gue nggak budek ya, kenceng banget suara lo!" sahutnya.


"Sorii.."


Seseorang yang dihubungi Salva menunggu di dekat pintu masuk.


"Hai Salva.." sapa pemuda itu.


"Eh, hai kak Lintang.. " balas Salva seraya menghampirinya.


"Akhirnya bisa datang juga kamu."


"Hehehe... Iya kak, kan nunggu kesempatan." ujarnya. Salva sebenarnya menyukai teman kakaknya itu.


"Kamu bawa siapa aja nih?" tanya Lintang kemudian.


"Ohh, kenalin kak ini temen temen aku. Yang ini namanya Sara dan itu Melisa." ujar Salva memperkenalkan sahabatnya.


"Hai, kak.." ucap Sara dan Melisa kompak.


"Haii, aku Lintang. Wah wah.. kalian semua cantik cantik ya."


"Makasih kak." jawab Sara seraya tersenyum.


Pemuda itu memperhatikan ketiga gadis itu dari atas sampai bawah.


"Eh kita duduk dimana nih? Semua meja udah penuh gitu." seru Melisa sambil celingukan.


Salva dan Sara pun mengikuti Melisa melihat ke sekeliling.


"Itu ada orang yang pergi, kita duduk di sana ayo cepet." Dengan buru buru Melisa menggandeng tangan kedua sahabatnya.


"Apaan sih Mel buru buru banget?!" Salva heran melihat tingkah Melisa.


"Gue ngerasa nggak nyaman aja sama temen kakak lo itu, pandangannya itu lho.."


"Jangan aneh aneh deh, kak Lintang baik banget kok orangnya."


"Lo tuh jangan gampang percaya sama orang yang baru kenal."


"Preeettt!" Salva mengerucutkan bibirnya.


"Ayo ah duduk!" ucap Sara.


Setelah mereka duduk, "Kita pesen apaan nih Va?" tanya Melisa.


"Ehm.. kita pesen wine aja." jawabnya.


"Gila lo! Ntar kalo mabok gimana? Panjang urusannya."


"Lha kita kesini mau ngapain kalo nggak minum? Udah lah.. minum dikiitt aja, gak bakalan mabok kok."


"Lagian besok libur juga, bonyok gue juga lagi pergi ini kesempatan langka buat gue Mel." sambungnya.


"Ahh terserah elo deh! gue gak tanggu resikonya ya kalo sampe lo mabok berat, gue tinggalin lo disini." ancam Melisa .


"Siap bos kuu.."


"Ra, kita pesen jus aja ya?" kata Melisa pada Sara.


"Ehmm.. gue pengen nyobain wine Mel." jawabnya ragu.


"Apa? Janganlah Ra, lo kan ga pernah minum itu. Lo nggak bakal kuat, udah jus jeruk aja sama kayak gue." timpal Melisa.


"Alaahh udah lah Mel sekali kali juga gapapa kali!" celetuk Salva.


"Udah ah gue aja yang pesenin." ujar Salva kemudian.


"Mas pesen satu botol wine sama jus jeruknya satu ya."


"Oke."


Tak selang lama kemudian bartender tersebut memberikan satu botol wine dan dua gelas berisi es batu serta satu gelas jus jeruk.


"Makasih." ucap Salva.


Salva menuang minuman tersebut kedalam gelas kemudian memberikan satu gelas tersebut kepada Sara.


"Nih, satu gelas aja jangan banyak banyak. Lo belum pernah kan hehe.. pelan pelan aja minumnya."


Sara menerima gelas tersebut kemudian mencicipi nya.


"Weekkk, rasa apaan nih?" Sara bergidik.


"Yee, emang gitu kunyuk! Udah nikmatin aja." ujar Salva.


"Sok lo! kayak lo sering aja."


Salva berbalik arah menghadap Sara , ia akan menjawab perkataan Sara namun tiba tiba mata Salva menemukan sosok yang ia kenal agak jauh dari tempat duduk mereka . ia mengernyitkan dahinya kemudian menepuk nepuk pundak Sara.


"Eh, Ra.. Ra.. lo liat tuh, itu bukannya Elang ya?" sambil menunjuk ke tempat Elang.


Sara mengikuti arah jari telunjuk Salva, "Mana?"

__ADS_1


"Tuh.. tuh.. pojokan! Eh, ada Galuh, Nanda sama Daffa juga. Tapi mereka__ " ucapannya terhenti seketika dia melihat ke arah Sara yang sudah menemukan keberadaan Elang. Dan seketika matanya membulat tidak percaya dengan apa yang ia lihat.



__ADS_2