
Tak kurang dari 10 menit mobil yang dikendarai Rey sampai, Daffa pun telah tiba disana. Begitupun dengan Elang, mobilnya berhenti persis dibelakang mobil Daffa. Mereka berhenti tepat dihalaman depan rumah kosong yang dituju oleh Rey dan Sara.
Dengan segera Daffa masuk kedalam tanpa menoleh ke sekelilingnya, karena ia melihat Sara sedang dibopong oleh Rey. Ia pun juga tidak menyadari bahwa teman temannya telah mengikutinya.
Daffa berhenti sejenak, ia melihat ada banyak laki laki diruang tengah rumah itu. 'Ada yang nggak beres nih!' batinnya.
"Mana temen kalian yang namanya Rey?" Tanya Daffa yang sudah berjalan memasuki ruang tengah.
"Woi, siapa lu?" ujar salah satu pemuda disana.
"Kalian nggak perlu tau siapa gue, Rey udah nyulik temen cewek gue! Dimana dia sekarang!" Daffa setengah berteriak.
"Wah wah bener bener kurang ajaran lu ya! Dirumah orang maen treak treak!" ujar pemuda lainnya.
Daffa tidak menggubris celotehan mereka, ia langsung nyelonong mencari keberadaan seseorang yang dia cari.
Namun salah satu pemuda tersebut bergerak menghalangi langkah Daffa. "Heh bocah, jangan maen maen sama kita ya!" ancamnya.
Daffa yang sudah tidak sabar untuk segera menemukan Sara menjadi geram.
"Bocah bocah.. siapa yang lo panggil bocah hah?" ia mengepalkan sebelah tangannya kemudian meninjukannya tepat di hidung pemuda itu.
Cuih !
"Dasar bocah kepar*t! Berani juga lu sama gue!"
Pemuda itu hendak membalas tetapi berhasil ditepis oleh Daffa.
Daffa pun melanjutkan serangan nya. Ia kembali memukul wajah pemuda tersebut berkali kali. Terlihat darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. Tak sampai disitu Daffa pun menendang perutnya sampai pemuda tersebut tersungkur menjauhinya.
Gerombolan makhluk hidup yang dari tadi sudah menatap Daffa dengan tatapan tajam menusuk bak seekor singa yang hendak menerkam seekor kelinci pun mulai beraksi. Tidak tanggung-tanggung, mereka semua maju bersama karena sudah emosi dengan kelakuan Daffa.
Dipegangnya tangan Daffa oleh kedua pemuda itu, saat seorang pemuda lainnya hendak memukul Daffa.
Duugghh...
"Ataahh.." teriak pemuda yang hendak memukul Daffa.
Semuanya menoleh kearah suatu benda yang melayang tadi.
'Elang..' batin Daffa.
Elang melayangkan sneakers yang dipakainya tepat dikepala pemuda tadi.
Elang tersenyum kearah Daffa, sementara gerombolan manusia manusia didalam sana semakin geram.
Pemuda tadi berteriak, "Woii, anak siapa sih lu berani kurang ajar sama kita?"
"Siapa lagi bocah bocah ingusan ini? Ayo sini maju kalian semua, biar gue penyokin muka muka lu pada." seru yang lainnya.
Semua sibuk melihat kearah Elang dan melepaskan cengkraman nya pada Daffa.
Elang menyeringai, dia memang suka yang kayak gini. Elang melirik Daffa, matanya memberikan kode agar segera mencari Sara.
"Elo dong yang kesini? Eh bukan lo, tapi kalian semua!" kata Elang seraya menunjuk semua pemuda yang ada disana.
Cuih!
"Gaya lo songong amat ya! Masih pada bocah, bisa apa kalian ngelawan kita?!" ucap salah satu pemuda.
"Kita nggak mau nanti disangka menghajar anak dibawah umur." timpal lainnya.
"Mending balik sono!" imbuh lainnya.
Elang berdecak, "Tck! Buat ngalahin kalian semua, gue aja udah cukup!"
"Banyak gaya bac*t lu!" seorang pemuda maju hendak memukul Elang.
Dengan sigap Elang hanya menahan pukulan tersebut dengan satu tangan dan memelintir tangan pemuda itu hingga patah. krutuk..cklek**!
Pemuda itu merintih kesakitan.
"Aduh aduh aduh.."
"Ck, gitu doang udah mau nangis!" ejek Elang sombong.
"Kurang ajar lo! Gue kasih pelajaran baru tau rasa lo!! Keroyok dia!!" seru pemuda yang bertubuh paling besar.
Segerombol orang orangan tadi mencoba untuk menghajar Elang, namun malah sebaliknya. Mereka lah yang babak belur dihajar Elang cs.
Seet!
Baaagh .. buuughh ... braaakk .. daaagh .. duuugh .. bruuuaaakk .. grompyaang ...
**
Sementara itu di dalam kamar Rey tengah memperhatikan tubuh Sara yang tergeletak tak berdaya diatas kasur seraya menelan salivanya.
Tak membuang buang waktu ia pun mendekati Sara, tangannya bergerak membelai rambut dan juga wajah Sara yang halus. Kemudian ia mulai melum*t bibir tipis Sara, tangannya pun menggerayangi bagian dada Sara. Ia merobek bagian atas baju gadis tersebut dan setelah itu __
Baaagh .. buuughh ... braaakk .. daaagh .. duuugh .. bruuuaaakk .. grompyaang ...
Ia mendengar suara baku hantam yang terjadi di luar kamar sangat mengganggunya.
"Pada ngapain sih anak anak! Ganggu gue aja!!" ia menggerutu.
Sementara Daffa menggeledah seluruh ruangan rumah tersebut, Daffa membuka salah satu pintu yang tak terkunci dan ketika ia membuka handle pintu tersebut matanya menemukan sosok Sara yang hendak digagahi oleh Rey didalam sebuah kamar. Ia langsung menerobos masuk dan menarik punggung Rey dengan kasar. Beberapa bogem pun ia hantamkan bertubi - tubi pada wajah Re , Rey yang kaget dan tidak siap pun hanya bisa menerima pukulan itu tanpa membalas.
"Woii apa apaan lo?!" teriak Rey, ia mendorong tubuh Daffa hingga mundur beberapa langkah.
Daffa hendak memukul lagi namun berhasil ditepisnya.
"Hoe Daf, apa apaan sih lo?!" teriaknya lagi.
Daffa mencengkeram kaos Rey, "Brengsek! lo mau apain temen gue hah?! Dasar bedebah gila!!" seru Daffa berapi api.
"Santai Broo.. mana gue tau dia temen lo." ujarnya.
"Apa lo bilang? nggak tau hah?! bener bener b*jingan lo!!" Daffa hendak melayangkan pukulannya lagi namun dihentikan oleh Elang.
"Biar gue yang urus, mending elo tolongin tuh cewe dulu." tutur Elang seraya mengedikkan dagunya kearah tempat tidur.
__ADS_1
Daffa hampir terlupa saking emosinya.
Lalu ia pun menghampiri Sara yang masih tidak sadarkan diri. Mengambil sebuah selimut dan membalutkanya ditubuh Sara. Kemudian ia membopong dan membawanya keluar dari rumah itu.
"Gue balik dulu Lang, lo urus si b*jingan satu itu sampe jera." ucap Daffa sebelum berjalan keluar.
Elang tersenyum tipis, "Tapi ini nggak gratis!!" teriaknya.
Daffa membalasnya dengan senyuman .
"Gue duluan."
Sedangkan Elang masih harus membereskan satu kutu lagi, setelah 6 kutu lainnya udah tergeletak tak beraturan di ruang tengah akibat ulahnya bersama Galuh dan Nanda.
"Kita apain nih enaknya?" ujar Galuh.
"Kita masukin aja dia ke kandang buaya di rumah lo!" celetuk Nanda asal.
"E..emang kalian melihara buaya?" tanya Rey.
"Iyalah! Segala macem hewan buas ada dirumahnya dia!" jawab Nanda ngawur sembari mengedikkan dagunya kearah Galuh.
Galuh meliriknya sinis,
"Kuy , kita bawa dia." ajak Nanda.
"Eh.. jangan dong bro, lagian juga gue belum apa apain tuh cewek." jelas Rey sedikit takut, karena Elang memang terkenal kejam. Ia berpikir bahwa mereka benar benar memiliki peliharaan hewan buas .
"Lo takut sama buaya?" tanya Nanda lagi.
"Ya takut lah, emang elo nggak takut?" Rey balik bertanya.
"Ya nggak lah.. kan buayanya elo!!" Elang menyahut, menatap tajam kearah Rey.
"Elo bakal nyesel udah buat masalah sama gue!" imbuhnya.
'Sialan! Sok banget jadi orang!'
"Gue nggak nyari masalah sama elo Lang. Gue nggak tau kalo cewe itu temen lo." jawabnya.
"Dia bukan temen gue! Gue cuma bantu sahabat gue, dan lo udah buat dia marah! Apa Lintang yang nyuruh lo?"
"Ini nggak ada hubungannya sama dia."
"Rey! Rey!!" suara seseorang berteriak memanggil namanya.
Seseorang tersebut telah berdiri diambang pintu.
"Ada apa nih?" ujarnya.
Elang melirik tajam kearah seseorang tersebut.
"Elang.. ada apaan nih?! kenapa semua temen gue babak belur?!" tanya seseorang tersebut tak lain ialah Lintang.
Elang mengedikkan dagunya kearah Rey, "Lo tanya sendiri sama temen lo itu!" ucapnya.
"Gue kasih lo peringatan terakhir, bilangin juga sama gerombolan kutu kutu lo itu. Jangan cari masalah lagi sama gue ataupun sahabat gue!" ancam Elang sambil berlalu pergi membuat Lintang menggeretakkan giginya menahan emosi.
Galuh dan Nanda pun mengikuti nya.
Kemudian berlalu pergi dari sana.
Lintang mengepalkan kedua tangannya dan sekali lagi ia menghantamkannya ke tembok. Rasa emosi di jiwanya membuat perih tak terasa kala tangannya berdarah dan membiru.
"Sialaaann!!!" Ia menendangi semua barang yang ada dikamar tersebut.
"Apa yang lo lakuin sampe buat dia kesini dan sampe buat babak belur anak anak hah?!!" bentaknya pada Rey.
Rey bingung ingin menjawab apa. Kalo dia bohong, takutnya Lintang tau dari anak anak lain. Tapi kalo jujur dia takut Lintang emosi sekarang.
"Heh.. jawab!!"
"Eh.. eng.. Gu..gue tadi ngebawa si Sara dan mau nidurin dia tiba-tiba aja si Daffa dateng da..dan mukulin gu.. gue.." jawab Rey terbata bata.
"Apa ?!! Lo bawa Sara kesini dan mau nidurin dia?!!" teriak Lintang.
Rey mengangguk kemudian menunduk.
Lintang menoyor kepala Rey dengan keras, hingga ia mundur beberapa langkah.
"Guobloook banget sih lo!! Lo tau gue udah ngincer dia!! Maen serobot aja lo, brengsek!!" Teriak Lintang emosi kemudian ia mencengkeram kaos Rey.
"Udah lo apain aja dia hah?!!"
"Belum gue apa apain dia bro, mereka datengnya tepat waktu. Tanya aja sama Elang ato Daffa kalo nggak percaya."
Lintang melepaskan tangannya yang tengah mencengkeram kaos Rey.
"Awas aja kalo sampe lo berani nyentuh dia!! Dia inceran gue sekarang, gue bakalan dapetin dia!!"
"Apa si Sara ceweknya Elang?" tanya Lintang.
"Bukan, dia bilang juga Sara bukan temennya. Cuma kayaknya si Daffa yang suka Sara."
*Flashback*
Elang dan Lintang sebenarnya adalah saudara sebapak. Sebelum ibunda Elang menikah dengan ayahnya (karena dijodohkan). Ternyata ayah Elang yang bernama Bara telah memiliki seorang anak dari wanita lain, dan itu tidak diketahui oleh sang ibunda (Elok).
Wanita lain itu adalah kekasih dari Bara, saat tahu akan dijodohkan dengan Elok, kekasih Bara yang bernama Lisa ingin ia segera dinikahi. Tetapi Bara tidak mau, karena kalau sampai ia menolak perjodohannya dengan Elok, namanya akan dicoret dari ahli waris keluarganya.
Saat itu juga Bara berniat menjauhi Lisa dan menerima perjodohan itu, namun takdir berucap lain. Saat itu Lisa menemuinya dan berkata bahwa dirinya tengah hamil anak dari Bara, Bara pun terkejut setengah mati. Ia tidak mau bertanggung jawab dan malah menyuruh Lisa untuk menggugurkan janin yang dikandungnya. Lisa geram akan keputusan Bara, iapun pergi menjauh dengan membawa dendam pada Bara dan keluarganya.
'Habis manis sepah dibuang! Aku tidak akan menggugurkan anak ini, dan aku berjanji akan kembali untuk memberikan hadiah pernikahan untukmu. Kau yang telah membuangku, akan kubuat pernikahan mu hancur dan kau akan menyesali perbuatanmu itu seumur hidupmu!' Lisa bersumpah dalam hatinya.
Setelah perjodohan pernikahan nya dengan Eloko, Bara pun mulai mencintai istrinya itu. Hari hari rumah tangga mereka pun diliputi kebahagiaan. Sampai 3 tahun kemudian lahirlah Elang pewaris sah dari keluarga Gaharu, saat itu Bara dan Elok pun telah saling mencintai.
Namun setelah Elang berumur 2 tahun, datanglah cobaan untuk keluarga mereka . Anak kecil laki laki berusia 5 tahun datang dengan membawa bukti bukti kecocokan dna nya dengan Bara. Bukti itu menyatakan bahwa Bara ialah ayah biologisnya. Dan kebenaran itu membuat Elok benar benar terpukul.
Ia marah besar kepada suaminya, hingga dia memutuskan untuk pergi dari kediaman keluarga Gaharu di Kota S. Dia kembali kepada keluarganya yang tinggal di kota A sembari membawa Elang.
Bara memohon kepada Elok agar tidak meninggalkan nya, namun Elok tidak mau.
__ADS_1
Elok tetap ingin berpisah, namun Bara tidak mengabulkan permintaan istrinya itu.
Elok pun tidak bisa berbuat apa apa, dia sangat sakit hati mengetahui semua rahasia suaminya.
Bara begitu terpukul dan stress berat, dia mencari tahu tentang keberadaan Lisa tetapi nihil, dia tidak dapat menemukannya. Akhirnya Bara menyerah, ia membesarkan anak kandungnya dari Lisa dan ia pun memutuskan untuk pisah ranjang dengan Elok karena merupakan keinginan istrinya itu, daripada harus bercerai pikir Bara.
Dan itu berlaku sampai sekarang , Elok masih tidak ingin menemui Bara. Dia pun belum bisa memaafkan suaminya itu sampai sekarang. Dia juga tidak bisa memisahkan seorang anak dengan bapakny , maka dari itu Elang diasuh oleh neneknya (orang tua Bara) dan tinggal di Kota S. Sementara dia tinggal berpindah - pindah karena pekerjaannya.
Sesekali juga kadang Elok datang untuk menengok dan mengajak Elang jalan jalan.
Hal tersebut lah yang membuat Elang menjadi anak yang dingin dan sedikit bicara. Karena keadaan orang tuanya. Sejak SMP kelas 8, ibunda nya sudah tidak pernah menjenguk nya lagi entah kenapa. Hal itu juga yang membuat Elang menjadi anak yang nakal dan seenaknya sendiri sekarang.
*Flashback end*
"Daffa juga yang bikin muka gue bonyok kayak gini."
"Kenapa lo nggak bales!"
"Gue kaget dan belum siap bro!" seru Rey emosi mengingat pukulan yang dilayangkan Daffa pada dirinya, ia pun berjanji akan membalas mereka suatu saat nanti.
"Oh ya.. Lo kan tadi lagi asik maenin inceran gue!!" sindir Lintang, tatapannya menusuk.
Rey menelan salivanya, dia takut melihat Lintang yang sedang marah.
"Eng.. eh.. gimana rencana lo tadi sukses?" Ujar Rey mengalihkan perhatian,
"Cih! Brengsek lo!"
"Gue gagal." ujarnya mengingat kejadian bersama Salva tadi .
"Hah gagal? kok bisa?"
"Tauk ah,, gue cabut dulu! Lo bangunin tuh semua kampret diluar. Badan gede ngelawan bocah aja udah sekarat!" ujarnya seraya berlalu pergi.
"Lo pulang bro?"
"Yoi.."
***
Salva dan Melisa pun akhirnya memutuskan untuk pulang kerumahnya setelah hampir 2 jam mereka menunggu Sara di club malam itu. Mereka berdua bingung hendak bagaimana, ingin memberi tahu orang tua Sara namun mereka sungguh takut. Ingin pergi ke rumah Elang juga takut, mana mungkin jika Elang membawa seorang gadis ke rumahnya? Melihat kelompok Elang tadi juga sudah tidak ada, pikir mereka Sara sedang ada bersama Elang dan Sara pasti akan menemui mereka bila sudah selesai dengan urusannya.
**
Daffa yang bingung hendak mengantar Sara kemana, akhirnya ia pun membawa Sara menuju apartemen nya.
Sara tidak sadarkan diri hingga pagi menjelang. Saat sinar mentari pagi mengintip dari balik gorden yang sedikit tersibak, saat itu juga Sara membuka matanya.
Ia melihat sekeliling ruangan yang begitu asing baginya, "Gue dimana?" seketika juga dia melirik pakaiannya.
"Masih ada." Tapi?.. dia melirik pakaiannya lagi.
"Hah?!" Ia sedikit memekik kemudian menutup mulutnya.
"Ya ampun! baju gue kok? gue kok bisa gak pake__"
"Lo udah bangun?" tanya seseorang diambang pintu sembari berjalan menghampiri nya.
"Elo.."
"Sorii, tadi malem lo pingsan dideket parkiran. Lo mabuk berat ya?" ujar seseorang tersebut.
"Gue.." Sara bingung hendak bicara apa. Dia masih kaget dengan dirinya yang sedang berada didalam kamar seseorang dan itu pasti kamar Daffa, karena melihat pria itulah yang sedang berdiri di hadapannya.
'Tapi apa dia bilang? Gue pingsan di parkiran? Seinget gue sih..'
"Aduuhh.." Sara tiba tiba pusing, ia mengerang seraya memegangi kepalanya.
"Lo nggak papa? Nih lo sarapan dulu habis itu minum obat itu buat ngilangin pusing sehabis mabuk." tutur Daffa seraya menyerahkan nampan berisi makanan dan sebutir obat.
Sara menerimanya, "Makasih ya.."
Daffa mengangguk, "Gue kedepan dulu."
"Eh tunggu,"
Daffa menoleh, "Gue mau nanya nih?" ujar Sara.
"Tanyanya ntar aja, lo sarapan aja dulu. Gue di situ kok." sahutnya seraya menunjuk kearah sofa diluar kamarnya.
"Eng.. iya." jawab Sara.
**
Setelah sarapan, Sara menghampiri Daffa yang tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Daffa.." panggilnya.
"Udah selesai? Duduk sini dulu Ra." ujar Daffa.
Sara duduk, belum ia mengucapkan pertanyaan nya Daffa terlebih dahulu menjelaskan.
"Tadi malem elo pingsan dideket parkiran waktu gue sama temen temen gue mau balik. Dan pas gue masuk nyari temen temen lo, mereka nggak ada. Gue juga nggak tau rumah lo dimana, jadi gue bawa elo ke apartemen gue." jelas Daffa bohong.
"Oh jadi gitu, emang temen temen gue udah pada pulang ya?"
"Gak tau, elo bisa tanyain ke mereka nanti."
ucap Daffa, kemarin sebelum Sara menghampiri mereka di club malam Daffa celingukan mencari keberadaan teman Sara namun ia tidak menemukan nya. Memang kenyataannya nggak ada kan? Sara ditinggal bentar.
"Oh iya ya.. eng.. tapi.. ini baju siapa?"
"Oh kalo soal itu, tadi malem lo muntah kena baju lo terus gue nyuruh prt dirumah gue kesini buat bawain baju dan gantiin baju elo. Pastinya bukan gue kalo itu yang ada di pikiran lo." Daffa menjelaskan yang sebenarnya dengan menyelipkan sedikit kebohongan.
Ia hanya tidak ingin Sara mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengannya, supaya dia tidak trauma. Walau sebenarnya ia yakin bahwa Sara akan mengingat semuanya, tapi mungkin tidak pada bagian itu karena kemarin dia dalam keadaan tidak sadar.
"Eng.. makasih ya Daf udah bantuin gue."
Suara kombinasi passcode apartemen Daffa berbunyi dan tak lama suara pintu terbuka terdengar, mengalihkan pandangan Daffa dan Sara melihat siapa yang datang.
Seseorang menyelonong masuk dan langsung menuju lemari pendingin, ia mengambil sesuatu didalamnya tanpa izin kepada pemiliknya.
__ADS_1
"Woii.. mo maling lo!" teriak Daffa dari tempat duduknya.
•