
Lampu ruang operasi dinyalakan pertanda operasi akan segera dimulai. Seorang Dokter perempuan dengan pakaian operasi lengkap langsung mengambil alih seorang pasien perempuan dengan perut buncit yang sudah tak sadarkan diri.
“Pisau bedah,” pintanya pada perawat.
Lalu dengan pandangan fokus, gerakan tangan yang lugas serta sikap tenang, perempuan itu mulai melakukan operasi pembedahan perut. Setelah sekitar satu jam, akhirnya operasi berhasil dilakukan. Suara bayi langsung memenuhi ruangan itu.
Dokter Naziya, seorang dokter spesialis kandungan yang selalu berhasil dalam setiap operasinya. Namanya dikenal di seantero rumah sakit Meditra. Bukan hanya Meditra, tetapi hampir disemua rumah sakit yang berada di Jakarta. Ketenangan dan ketelitiannya dalam menangani pasien memang perlu di acungi jempol.
Senyum merekah tersungging dibibir tipis Naziya kala membuka ruangan operasi. Seorang lelaki dengan wajah panik langsung menghampirinya. Beberapa orang yang berada disitu pun turut mengikuti laki-laki itu.
“Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?” Alby-suami wanita itu bertanya penuh kekhawatiran.
“Bapak tidak usah khawatir, operasinya berjalan lancar. Ibu Rima dan anaknya selamat. Anak bapak lahir dalam keadaan normal dan sehat, jadi tidak perlu dimasukkan ke inkubator. Silahkan masuk untuk melihatnya.” Naziya mempersilahkan Alby beserta keluarganya.
Alby menghembuskan nafas lega. Suara bayi dalam ruangan pun semakin meyakinkannya jika istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja. “Terima kasih, Dok,” ucapnya kemudian masuk.
Naziya mengangguk disertai senyum. Ia masih berdiri tak jauh dari pasien, memperhatikan interaksi keluarga itu.
“Sayang.” Alby memanggil istrinya lembut. Kemudian mencium keningnya.
“Iya, Mas.” Istrinya menjawab tak kalah lembut. Senyum tipis terbit di sela wajahnya yang pucat dan kelelahan.
“Terima kasih karena sudah bertahan.” Alby mengelus pipi istrinya. Lalu pandangannya beralih pada bayi mungil yang berada disamping istrinya.
Seketika mata Alby memanas. Ia memperhatikan bayi itu. Ia terlihat normal dan sehat meski lahir belum cukup umur. Istrinya jatuh dari tangga. Seharusnya istrinya melahirkan satu bulan lagi. Ia langsung mengangkat bayi itu, mencium keningnya, mendekapnya erat. Setetes air jatuh dari sudut matanya. Perasaannya membuncah. Bahagia. Sangat bahagia. Ia tak bisa melukiskan rasa bahagia yang saat ini dirasakannya. “Anak Papa,” gumamnya.
Seorang wanita paruh baya mengelus pundak Alby. “Yang penting Rima dan anaknya selamat.” Riska-mertua Alby berusaha menguatkan menantunya yang terdengar menangis. Ia tahu, jika menantunya itu pasti khawatir jika istri dan anaknya sampai kenapa-kenapa.
Alby mengangguk, mengusap air matanya.
“Cucu Oma.” Riska mengelus pipi cucunya yang masih kemerahan.
__ADS_1
“Ponakan Auntie.” Rina-adik Rima yang berada di belakang ibunya juga langsung mendekat ke arah ponakannya.
Naziya memandang mereka disertai perasaan yang tak kalah bahagia. Meskipun sudah sering melihat pemandangan seperti itu, Naziya selalu tersentuh setiap kali ada momen membahagiakan keluarga yang dikaruniai anak. Memiliki anak memang adalah karunia yang tiada tara. Tiba-tiba ia langsung merindukan putrinya yang berusia empat tahun. Ia merasa sedih karena terkadang kurang punya waktu untuk putrinya.
******
“Melihat dokter Naziya itu antara kagum dan iri, ya.” Reni-seorang perawat yang tubuhnya sedikit berisi, yang tadi membantu Naziya berbisik pada temannya.
“Iya, pintar, cantik, ramah dan banyak prestasinya. Semua dokter disini kagum sama dia.” Meti-perawat berkulit sawo matang yang juga membantu operasi Naziya membalas ucapan rekan kerjanya.
“Dokter Naziya memang luar biasa. Salah satu aset rumah sakit. Rata-rata pasiennya adalah para pejabat dan orang-orang berduit, Meski sebenarnya dia juga tidak membeda-bedakan pasien.” Dokter Henny menimpali. Salah satu dokter anestesi yang menjadi partner Naziya. Ia sudah tidak heran jika mendengar orang-orang membicarakan dokter spesialis kandungan itu. Ia merasa sangat beruntung karena dipercaya bekerja sama dengan dokter Naziya. Dokter yang terkenal dimana-mana.
“Duh semakin bikin iri saja, apalagi suaminya juga cakep banget, kaya lagi. Benar-benar beruntung banget ya dokter Naziya,” celoteh Reni sambil membayangkan kehidupan dokter Naziya yang begitu sempurna.
“Memangnya kamu udah pernah lihat suaminya?” Meti bertanya penasaran.
“Memangnya kamu nggak tahu suami dokter Naziya?” Reni balas bertanya.
“Iya juga sih. Suami dokter Naziya namanya Pak Zain. Salah satu pengacara terkenal di Jakarta. Anaknya Pak Handoko, salah satu pejabat DPR.” Reni menjelaskan antusias.
“Wah, nggak diragukan lagi kegantengannya kalo begitu . Pak Handoko saja yang sudah berumur masih terlihat sisa-sisa kegantengannya.” Meti terkagum. Ia tahu wajah Pak Handoko karena sering melihatnya di spanduk-spanduk pinggir jalan. “Cocok sih mereka. Ganteng dan cantik, juga sama-sama berasal dari keluarga kaya.”
“Kadang kalo lihat orang macam dokter Naziya, jadi merasa Tuhan tidak adil. Semua dikasi ke dia, aku cuma dapat sisanya, itupun sedikit.” Reni menimpali yang disambut gelak tawa Meti.
Dokter Henny hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua perawat itu. Ia kemudian pamit duluan menuju ruangannya.
******
“Etika bisnis merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari prinsip-prinsip moral dan etika yang berlaku dalam konteks dunia bisnis. Pengetahuan tentang etika bisnis penting bagi individu dan organisasi dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan menjalankan praktik bisnis yang baik. Ada tujuh konsep dan prinsip yang relevan dalam etika bisnis, dan kita akan membahasnya satu persatu.”
Alby menatap mahasiswanya sebelum melanjutkan pembahasannya. Pandangannya tajam. Beberapa mahasiswa yang matanya bersiborok dengannya langsung menunduk. Namun, ada juga sebagian mahasiswa yang malah senyum-senyum padanya, terutama para mahasiswi. Mereka seakan tidak ada takut-takutnya pada dosen yang terkenal killer itu.
__ADS_1
“Pertama….” Alby melanjutkan pembahasannya. Dan selama satu jam, ia memaparkan materi dan menjawab beberapa pertanyaan mahasiswa.
“Ok. Karena waktu sudah habis, kita akhiri kuliah hari ini.” Alby beranjak ke mejanya. Suara riuh mahasiswa sudah terdengar. Kebanyakan mahasiswi yang belum rela kalau Alby mengakhiri kuliahnya. Mereka masih belum puas memandangi wajah tampan dosen itu.
Alby tak peduli dengan suara-suara itu. Ia tetap pada aktivitasnya. Mencabut flashdisk dari laptopnya kemudian mematikan benda itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai, ia lantas meninggalkan kelas yang masih riuh seperti di pasar.
“Ya ampun, Pak Alby ganteng banget. Meski nggak pernah senyum dia tetap terlihat menawan," celetuk salah satu mahasiswi setelah Alby keluar kelas.
“Dia kok semakin dingin malah semakin keren sih. Rasanya pengen memiliki dia seutuhnya.” Mahasiswi yg lain menimpali.
“Pengen banget bersandar di dadanya yang bidang itu.”
Berbagai macam khayalan dari para mahasiswi setelah Alby menghilang dari balik pintu. Ia memang sudah terkenal dengan ketampanannya. Meski ia juga terkenal dingin, tak membuat para wanita berhenti memujanya. Banyak wanita, baik dari sesama teman dosen maupun dari mahasiswa yang secara terang-terangan berusaha mendekatinya, meski mereka tahu dia sudah beristri. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Alby Satya Brawijaya? Lelaki yang bisa dibilang memiliki kesempurnaan fisik. Tubuh tegap bak ksatria. Bahu lebar. Hidung mancung bak perosotan, alis rapi, bibir tipis dengan warna merah muda. Rambut sedikit bergelombang. Kalau sedikit gondrong bisa-bisa semakin membuat para wanita menjadi tidak waras. Sungguh Alby merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang hampir mendekati sempurna.
“Tugas yang kemarin, kumpulkan pada Vita. Vita nanti bawa ke ruangan saya!” Alby tiba-tiba muncul. Pandangannya mengarah pada Vita-ketua tingkat kelas A jurusan Manajemen dan Bisnis.
“B-baik, Pak.” Vita sedikit gugup sekaligus kaget karena Alby secara tiba-tiba masuk kembali dan langsung menatap ke arahnya.
“Saya tunggu, bagi mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas, siap-siap mengulang pada mata kuliah saya. Jangan berharap akan ada kebijakan. Saya tidak ingin ada mahasiswa yang malas di mata kuliah saya.” Setelah berkata, Alby kemudian langsung keluar lagi.
Ini adalah salah satu yang menjadi kekurangan lelaki tampan itu, kata-katanya yang selalu nyelekit.
******
“Anak Papa.” Alby baru saja pulang dari kampus dan langsung menggendong anaknya. “Papa kangen banget.” Ia mencium pipi gembul buah hatinya yang sudah berumur tujuh bulan itu. Ia lalu beralih pada Rima-istrinya dan mencium keningnya. Sejak kelahiran buah hatinya, hari-harinya mulai berubah. Ada yang menunggu saat ia pulang dari kampus. Lelahnya dengan cepat akan menguap ketika bertemu dengan buah hatinya.
“Ganti baju dulu dan mandi, nanti baru main dengan Rimba.” Rima mengingatkan saat melihat suaminya mulai bermain dengan putranya.
“Iya, sayang.” Alby menurut dan menyerahkan Rimba pada istrinya. “Papa mandi dulu, ya. Nanti kita main lagi, ok.” Alby kembali mencium pipi gembulnya dan kemudian berlalu.
Berbeda dengan sikapnya di kampus, di rumah, Alby adalah sosok yang hangat. Ia adalah suami sekaligus ayah yang baik dan perhatian.
__ADS_1