Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 21


__ADS_3

Naziya menarik nafas sebelum turun dari mobilnya. Hari ini, ia baru masuk lagi ke rumah sakit setelah hampir seminggu cuti dengan alasan ada hal harus diselesaikannya. Naziya tidak memberitahu alasan yang sesungguhnya bahwa dia sedang menjalani sidang perceraian dengan suaminya.


Naziya berjalan dengan senyum ramah, menyapa orang-orang, perawat, dokter yang ditemuinya. Namun, ada yang berbeda. Sikap mereka tidak seperti biasanya. Tatapan mereka begitu lembut, suara mereka terdengar lebih halus dari biasanya. Mereka menatapnya dengan tatapan mengasihani. Naziya tidak suka tatapan seperti itu. Ia tidak suka dikasihani. Pikirannya mulai berspekulasi. "Jangan-jangan mereka sudah tahu tentang masalahku." Ia menggumam.


Langkahnya terhenti saat tak sengaja mendengar namanya disebut. Suara itu berasal dari sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka.


“Kasihan ya, dokter Naziya. Padahal apa sih kurangnya dia. Cantik, pintar, karir bagus, tapi kok bisa-bisanya Zain selingkuh? Apalagi sekarang mereka sudah resmi bercerai. Kira-kira bagaimana perasaannya, ya?” seorang perawat berbicara pada temannya.


“Iya juga, kasihan dia. Jangan-jangan selama ini, kemesraan yang mereka pamerkan palsu. Semua hanya untuk menutupi keadaan mereka yang sebenarnya. Bisa jadi kan?” Perawat yang satunya membalas. Memberikan simpati sekaligus nyinyir.


“Aku yakin, suaminya selingkuh pasti ada sebabnya. Siapa tahu Naziya memang yang tidak becus mengurus suaminya hingga suaminya bisa mencari perempuan diluar sana.” Seorang perawat menimpali. Dari kalimatnya, jelas ia adalah orang yang tidak menyukai Naziya.


Naziya menggigit bibir. Pikirannya mulai berkeliaran. Sesaat kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Namun, ekor matanya terus bergerak mengintai orang-orang yang menatapnya prihatin. Naziya mengatur napasnya sebelum masuk ke ruang polinya.


“Selamat pagi.” Naziya menyapa Meti dan Reni yang sedang mengobrol. Ia tersenyum berusaha terlihat normal.


“Selamat pagi, dok,” jawab mereka serempak. Tersenyum juga. Senyum yang Naziya tahu mengandung iba. Naziya yakin bahwa mereka sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Ia bergegas memasuki ruangannya. Menyimpan tas diatas meja kerja, kemudian duduk dan menyandarkan kepalanya. Ia menarik nafas kasar. Seketika hatinya perih. Matanya memanas. Sungguh ia membenci keadaan ini. Keadaan yang tak pernah ia duga sebelumnya akan terjadi padanya. Selama ini, ia selalu mengira bahwa hidup akan terus berpihak padanya. Nyatanya, tidak sama sekali. Ia merasa dunia menghianatinya. Ia tak suka hidup di ujung keprihatinan orang lain. Ia membenci kenyataan bahwa hidupnya sekarang tak sesempurna seperti yang selalu orang katakan. Jika dulu orang-orang memujinya karena mempunyai hidup yang didambakan semua orang, kini berbalik. Orang-orang justru mengasihani dan mencemoohnya.


Naziya mengusap air mata yang sudah berhasil lolos dari salah satu sudut matanya. Kepalanya terus bertanya dan mendamba jawaban. Apakah ia akan kuat menghadapi semua ini? Apakah ia akan sanggup melihat pandangan kasihan dan mengejek orang lain padanya? Apakah hidupnya akan hancur setelah ini? Lambat laun, kepercayaan dirinya mulai merosot. Ia seperti tak mampu menghadapi orang-orang diluar sana. Ia malu. Semua orang sudah mengetahui kekurangannya. Naziya memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


Meski kepalanya masih berdenyut dan perasaannya masih tidak baik-baik saja, Naziya tetap harus bersikap profesional. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia melakukannya sebanyak tiga kali. Ia harus bisa tenang. Segala masalah yang hadir adalah masalah pribadi dan itu tidak seharusnya mengganggu pekerjaannya. Ia harus bisa menyembunyikan perasaan sedihnya di depan pasien. Ia harus tampil ramah seperti biasanya. Ia melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. Dua puluh menit lagi jadwal konsul.


Tiga jam sudah berlalu. Naziya merenggangkan tubuhnya. Akhir-akhir ini ia merasa cepat kelelahan. Suara pintu terdengar di ketuk. Tak lama muncul Reni.


"Dokter nggak makan siang di kantin?" Reni mencoba menawarkan. Dia sudah berbincang dengan Meti dan dokter Henny sebelumnya. Tadinya mereka berpikir untuk membiarkan dokter Naziya sendiri dulu. Namun, kemudian mereka berubah. Dokter Naziya butuh teman untuk sedikit menghiburnya. Pikir mereka. Maka kemudian mereka mengajak dokter Naziya untuk makan siang bersama.


Naziya terlihat berpikir dan beberapa waktu kemudian mengangguk. Ia harus tetap tampil seperti biasa dan mengabaikan pendapat orang lain. Ia harus membuktikan pada semua orang bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak perlu di kasihani.

__ADS_1


Namun, teori tak semudah praktek. Ucapan dan semua keteguhan yang coba dibangun oleh Naziya saat di ruangannya, semua runtuh seketika. Ia terganggu dengan pandangan orang terhadapnya. Ia memikirkan apa yang orang katakan padanya.


Naziya duduk di kantin dengan gestur tidak nyaman. Ia tidak nyaman dipandangi orang-orang yang kemudian berbisik. Ia terlihat gelisah meski ia mencoba menutupinya dengan senyum dan berusaha bersikap normal.


"Sekarang memang jamannya perselingkuhan, ya? Semua orang kok pada selingkuh?" Sebuah suara terdengar. Meski tak terlalu keras, namun cukup untuk masuk ke indera pendengaran Naziya dan ketiga temannya.


"Jaman sekarang, cantik saja nggak cukup. Buktinya banyak laki-laki selingkuh meski istrinya cantik." Suara yang lain menimpali.


"Kasihan juga, ya. Sekarang emang laki-laki banyak yang nggak bisa dipercaya. Di depan kelihatan manis, ternyata di belakang berkhianat."


Naziya menggigit bibir. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia mendesah pelan, berusaha agar tak terdengar oleh ketiga temannya. Ia kemudian menyendok makanannya dan memasukkan ke dalam mulutnya, berusaha menunjukan pada orang bahwa ia baik-baik saja dan tidak terganggu dengan semua omongan orang lain. Namun, tenggorokannya tercekat. Makanan yang ia kunyah terasa begitu susah untuk di telan. Ia tidak bisa mengabaikan semua ucapan orang-orang padanya. Sekuat apa ia berusaha mensugesti dirinya, ia tetap rapuh.


Henny, Reni dan Meti membaca situasi Naziya. Dengan segera mereka menghabiskan makanan dan langsung mengajak Naziya untuk kembali.


******


“Mama.”


Naziya menoleh ke arah suara. Terlihat Naya berlari kecil ke arahnya dan langsung menghambur ke pelukannya.


“Ada apa, sayang?” Naziya membelai rambut putrinya. Lalu mencium keningnya. Naya adalah satu-satunya obat yang Naziya punya sekarang. Kehadiran Naya bagai oase ditengah gurun. Naziya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya jika Naya tidak ada. Mendekap Naya memberinya ketenangan.


“Oma nyuruh Naya panggil mama makan malam.”


“Naya naik ke atas sendiri?” Naziya baru sadar jika anaknya tadi berada di bawah di ruang keluarga bersama kedua orang tua dan adiknya. Seketika ia panik.


“Ayo makan dulu, Zi.” Harti tiba-tiba muncul.


Suara ibunya membuat Naziya lega. Ternyata Naya bersama dengan neneknya. “Iya, Ma. Sebentar lagi.”

__ADS_1


“Mama tunggu dibawa, ya.” Harti mendekat pada cucunya. “Naya sama oma atau sama mama?”


“Sama oma aja,” jawab Naya lalu beralih pada Harti.


“Ok.” Harti menggendong cucunya kemudian berlalu meninggalkan Naziya.


Kembali Naziya menarik nafas, kemudian berdiri dan menyusul ke bawah. Di meja makan sudah ada semua orang.


Harti, Hari dan Vita menatap sedih Naziya. Mereka tahu, ia masih bersedih atas perpisahannya dengan Zain. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan dukungan dan perhatian.


Setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Gimana pekerjaan kamu di rumah sakit, Zi?" Hari bertanya, mencoba bersikap normal. Ia tidak mau membuat putrinya semakin sedih karena melihat keluarganya juga sedih.


"Semua baik-baik saja, Yah."


“Yah, bagaimana kalau weekend kita liburan ke pantai?” Vita tiba-tiba berbicara, mengusulkan sebuah ide. Ia tahu jika kakaknya suka pantai dan melihat sunset.


“Sepertinya itu ide bagus.” Harti menimpali.


Hari tidak langsung menjawab. Ia menoleh pada putri sulungnya, meminta pendapat.


Naziya mengangguk. Ia tahu, itu semua adalah cara keluarganya menghiburnya yang sedang dilanda kesedihan. Naziya tidak mau membuat mereka kecewa.


“Yes!!!” Vita berseru dan refleks mencium pipi sang ponakan yang sedang menikmati tontonan anime.


Anak kecil itu hanya menoleh sebentar lalu kemudian fokus lagi pada tontonannya.


Harti, Hari dan Naziya hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2