Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 18


__ADS_3

Alby menghembuskan nafas lega, namun hanya beberapa detik kemudian berganti dengan perasaan hampa. Ia merasa kosong. Hari ini ia sudah sah menyandang sebagai seorang duda setelah melalui beberapa kali sidang. Semuanya lancar karena Rima bisa bekerja sama dengan baik.


Alby bangkit dari kursinya, menuju pada orang tuanya yang juga berada di ruang sidang. Ia memeluk ibunya, erat. Bersama dengan orang tuanya, Alby melangkah keluar dari ruang sidang. Sekilas ekor matanya melirik pada Rima. Terlihat mantan istrinya itu menyapukan selembar tisu pada wajahnya. Alby menelan ludah, bersusah payah menahan perih perasaannya. Sesungguhnya ia juga sedih tapi semua memang sudah harus begini.


Aini yang berjalan bersisian dengan Alby, mengelus lengan putranya. Ia tidak tahu apa masalah sesungguhnya yang terjadi diantara mereka, namun Aini tahu keputusan ini pasti akan menyakiti keduanya.


Matahari diluar bersinar terik. Angin bertiup sepoi-sepoi. Alby menuju ke arah mobilnya, sementara kedua orang tuanya ke mobil mereka. Alby memang bilang, dia punya urusan setelah sidang nanti. Itulah mengapa mereka menaiki mobil yang berbeda. Alby menarik nafas begitu masuk ke mobil. Ia menyalakan mesin mobil, namun bukan untuk segera pergi. Ia hanya hendak menyalakan pendingin. Ia butuh mendinginkan suasana hatinya yang lagi berantakan. Ponselnya berdering, nama Arny-adiknya muncul.


“Halo, Mas, kamu sibuk nggak hari ini?” Adiknya belum tahu mengenai kabar perceraiannya. Dia sedang hamil. Alby tak ingin membuatnya sedih.


“Nggak. Ada apa?”


“Aku mau minta tolong untuk ngantar aku ke rumah sakit. Mas Seno lagi diluar kota.”


“Ok. Tunggu Mas sekitar setengah jam.”


“Iya, terima kasih, Mas.”


Alby mengakhiri panggilan. Lalu mulai menjalankan mobilnya. Rencana yang tadinya hendak menenangkan diri ia batalkan. Adiknya lebih penting.


******


 “Ke rumah sakit mana?” tanya Alby adiknya sudah berada dalam mobil.


“Meditra,” jawab Arni sambil memasang sabuk pengaman. Perutnya yang sudah berumur enam bulan terlihat membuncit.


Alby melirik adiknya. “Perlu Mas bantu?”


“Nggak usah, bisa kok.”


Alby kembali fokus pada setir mobilnya. “Dokter siapa tempatmu periksa?” Alby bertanya sambil memutar kunci mobilnya yang sudah dimasukkan ke lubangnya.


“Dokter Naziya, itu loh dokter yang dulu membantu operasi Mba Rima.” Arny memberi informasi, berpikir mungkin kakaknya sudah lupa.


“Oh,” balas Alby pendek. Ia mulai menjalankan mobilnya.


“Mas masih ingat?”


Alby mengangguk tanpa menoleh.


Hening sejenak.

__ADS_1


“Mba Rima dan Rimba bagaimana kabarnya?” Arni melirik kakaknya sambil mengusap-usap perutnya. Ia memperbaiki posisi duduknya. Saat-saat ini memang yang paling capek jika sedang hamil karena perut terasa semakin berat.


Alby menelan ludah. “Mereka baik-baik saja. Mas Seno tugas kemana?” Alby mengalihkan pembicaraan.


“Ke Surabaya. Besok baru pulang.” Arni menjawab tanpa curiga sama sekali.


“Aku kangen sama Rimba. Udah berapa bulan kayaknya nggak pernah melihatnya. Dia pasti sudah merangkak.” Kondisinya memang tidak memungkinkan ia harus sering bepergian. Dokter bilang kondisi kandungannya lemah makanya dia harus banyak di rumah, banyak istirahat, tidak boleh stress.


“Nanti kalo udah lahiran baru kesana.” Alby meremas setir. Ia juga merindukan anak itu. Sudah hampir sebulan ia tak pernah menengoknya. Meski bukan anak kandungnya, Alby tetap menyayanginya.


******


“Selamat siang, Dok,” sapa Arni saat mereka memasuki ruangan Naziya.


Naziya mengerutkan keningnya melihat lelaki yang memegangi Arni. Sesaat kemudian, ia tersenyum dan membalas sapaan pasiennya itu. “Silahkan duduk.”


Alby menarik kursi untuk tempat duduk adiknya kemudian tersenyum pada Naziya. “Selamat siang, Dok.”


“Siang.” Ia memperhatikan lelaki itu. Kenapa juga ia sering bertemu dengannya. Seakan dunia ini hanya ada mereka berdua. Dan apa hubungannya dengan Arni?


“Dokter masih ingat dia?” Arni bertanya ketika melihat Naziya memandang pada kakaknya. Arni dan Naziya sudah lumayan akrab karena Arni sudah beberapa kali memeriksakan diri pada dokter spesialis kandungan itu.


Naziya mengangguk.


“Dia kakakku.”


Mulut Naziya membentuk bulatan. Lalu beberapa saat kemudian ia memulai pemeriksaannya.


“Sekarang timbang badannya dulu, ya.”


Arni mengangguk.


Alby sigap dan dengan sabar menuntun, memegangi adiknya dengan lembut menuju timbangan badan yang berada sekitar dua meter dari tempat mereka. Lalu membantu menaikkan kaki saudarinya.


Naziya tersenyum tipis memperhatikan perlakuan lelaki itu pada saudarinya. Ia seakan tidak percaya jika lelaki itu terkenal karena berhati dingin seperti yang dikatakan oleh Randy. Naziya kemudian mengikuti mereka lalu memperhatikan di angka berapa jarum akan berhenti. Setelah selesai, ia kembali menyuruh wanita itu untuk tidur di brankar. Lagi-lagi Alby menuntunnya dengan sabar. Perasaan Naziya menghangat. Seketika ingatannya mengembara pada beberapa tahun lalu saat ia sedang mengandung Naya. Zain memperlakukannya juga layaknya ratu. Namun, sesaat kemudian senyumnya mengendur berganti perasaan miris. Ia kembali fokus pada pasiennya.


******


Kabar mengenai perceraian Alby dengan segera tersebar bagaikan wabah penyakit corona. Ada yang simpati dan ada juga yang senang karena mereka jadi punya kesempatan untuk mendekati dosen tampan namun dingin itu. Berbagai spekulasi mengenai sebab keretakan rumah tangga dosen populer itu yang baru seumur jagung muncul secara beragam. Banyak orang membicarakannya. Seperti empat mahasiswi ini. Mereka sedang berada di kantin.


“Apa gue bilang, benar kan? Gue dari awal udah yakin kalau Pak Alby galau karena masalah keluarga.” Dewi memajukan kepalanya. Ia yang selalu membuka percakapan. Merasa sedikit bangga karena tebakannya benar. Dengan kabar perceraian Alby, itu kemudian membenarkan dugaan mereka kenapa dosen tampan itu terlihat galau beberapa waktu lalu saat mengajar.

__ADS_1


Ketiga temannya mengangguk. Tak ada gunanya membantah teman mereka itu yang sok tahu. Tapi memang sih, Dewi adalah orang yang duluan tahu jika ada kabar yang lagi heboh. Seperti berita mengenai Pak Alby yang tersenyum dan tertawa di kantin sekitar dua minggu lalu. Mereka yang saat itu sedang menggosip di dalam kelas tidak tahu kejadian itu. Dewi mengetahuinya dari salah satu temannya yang saat itu berada di kantin. Yang kemudian disesali oleh mereka karena melewatkan makan siang sehingga tak bisa menikmati momen penting yang entah kapan lagi mereka bisa nikmati.


“Tapi kira-kira masalah apa, ya, sampe membuat mereka bercerai?" Dina bertanya penasaran.


“Jangan-jangan istrinya selingkuh karena Pak Alby terlalu cuek.” Ani memberi pendapat.


“Eits nggak mungkin lah, Pak Alby selingkuh.” Dewi membela, tak mau lelaki yang dikaguminya disalahkan. “Gue yakin, Pak Alby itu sebenarnya orang yang hangat, tak seperti yang terlihat.”


“Dari mana lo tahu?” Ani sangsi. Meski ia juga mengagumi dosen itu, ia berusaha untuk berpikir secara logis.


“Ya memang, gue nggak pernah lihat secara langsung, tapi biasanya seperti itu. Laki-laki yang terlihat dingin biasanya adalah lelaki yang hangat dan perhatian. Seperti yang gue sering baca di novel-novel.”


“Ya elah. Sadar woi. Kita hidup di dunia nyata bukan imajinasi,” protes Ani.


“Tapi emang sih, biasanya gitu. Gue bilang bukan berdasarkan bacaan novel, ya. Orang-orang kan, biasanya punya beberapa kepribadian yang berbeda. Kadang kepribadian yang ia tunjukkan berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya.” Dina menimpali, bukan membela Dewi, hanya mencoba bersikap netral. Ia mengatakan itu berdasarkan beberapa bacaan yang ia sempat baca.


“Itu kan, apa gue bilang.” Dewi merasa mendapatkan dukungan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada cewek yang dikenal paling cantik dan cerdas di kelas mereka yang dari tadi hanya diam. “Bagaimana menurut lo, Vit?” Dewi bertanya.


“Gue masih belum bisa menyimpulkan.” Vita memilih untuk tidak berpendapat. Ia juga masih menebak-nebak penyebab perpisahan dosen kesayangannya itu dengan istrinya. Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya sekarang.


Pergosipan mereka terjeda sejenak saat melihat orang yang mereka gosipi berjalan ke arah kantin pegawai.


"Ya ampun." Dewi menggumam. Matanya tak lepas dari dosen itu.


"Biasa aja kalo liatnya." Ani mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dewi.


"Ish, ganggu aja sih." Dewi protes. Ia kemudian menegakkan tubuhnya setelah Alby hilang dari pandangannya, setelah itu ia berdehem. Ekspresinya langsung berubah serius.


Vita, Ani dan Dina mengerutkan kening.


"Gue mau jujur. Terserah kalian kalo bilang gue jahat." Ia berhenti sejenak yang membuat ketiga temannya semakin heran sekaligus penasaran.


"Cepatan woi. Lo mau ngomong apa sih sebenarnya?" Ani protes tak sabar setelah menunggu beberapa detik.


Dewi mendelik. Namun sesaat kemudian ia mulai berbicara. "Sejujurnya gue senang banget pas dengar Pak Alby cerai sama istrinya."


"What!" Ani dan Dina melotot. Terkejut.


Vita tak memberikan reaksi. Jika ingin jujur, ia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Dewi.


 "Gue kan udah bilang tadi. Dan gue yakin semua orang yang menyukai Pak Alby setidaknya merasakan hal itu meski cuma sedikit."

__ADS_1


Giliran Ani dan Dina yang diam, membenarkan.


__ADS_2