
Naziya sedang mengompres tangannya saat Zain memasuki kamar sepulangnya dari bekerja. Ia melirik jam di dinding, waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Biasanya waktu pulangnya adalah jam sebelas malam. Macet dan tumpukan kasus yang harus ditangani menjadi alasannya.
“Kenapa tanganmu?” tanya Zain lembut sambil mengambil kompresan yang berada di tangan istrinya.
“Tadi pagi,” jawab Naziya pendek. Ia tidak mau lagi menyinggung masalah yang selalu membuatnya sakit hati dan mengingatkan dirinya bahwa kehidupannya tidaklah sempurna.
Zain mengusap lembut tangan yang lebam itu. “Maafkan aku, sayang,” ucapnya lembut sambil mencium kening istrinya.
Naziya menarik nafas panjang. “Kali ini aku maafkan, tapi lain kali tidak!” ucap Naziya pelan namun penuh tekanan.
Zain tersenyum. “Aku janji, sayang. Tapi kamu juga harus janji tidak akan menentangku, oke?”
Naziya mengangguk, namun dalam hati bertekad tidak akan tinggal diam lagi jika Zain melakukan itu lagi. Ini adalah kesempatan terakhirnya.
Zain tersenyum lega. “Ya sudah, aku mau mandi dulu,” ucap Zain lalu berdiri dan menuju ke kamar mandi.
Naziya menatap kepergian suaminya hingga memasuki kamar mandi lalu beralih pada tangannya yang lebam. Sesaat, pikirannya melayang. Akhir-akhir ini suaminya selalu menunjukan sikap yang emosional. Dia selalu marah dan cepat tersinggung meski untuk hal-hal yang sepele. Naziya mencoba mengeja ingatannya tentang apa saja yang dilakukannya akhir-akhir ini. Siapa tahu dia sudah melakukan kesalahan namun tidak disadarinya.
Sekuat apapun Naziya beruhasa memutar memorinya, dia sama sekali tak menemukan cela yang membuat suaminya harus marah seperti itu. Zain adalah pria penyayang meskipun terkadang suka melontarkan kata-kata kasar kalau sedang marah. Dia bukanlah lelaki kasar yang suka memukul. Jangankan perempuan, laki-laki pun rasanya tak pernah. Setidaknya itu yang Naziya yakini selama lima tahun berumah tangga dengan Zain.
Naziya lagi-lagi menarik nafas. Dia kembali berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Zain adalah laki-laki baik sama seperti yang dikenalnya dulu. Mungkin perubahan yang terjadi hanyalah akibat dari banyaknya tekanan pekerjaan. Dia memaklumi, menjadi seorang pengacara bukanlah hal mudah. Banyak kasus yang harus ditangani terkadang memang sering membuat stress.
Zain keluar dari kamar mandi bersamaan dengan bau sabun beraroma lemon yang langsung menguar. Wajahnya terlihat segar.
Naziya langsung berdiri mengambilkan pakaian untuk suaminya.
"Naya sudah tidur?” tanya Zain sambil memakai pakaian yang baru saja diberikan oleh istrinya.
__ADS_1
“Sudah.”
“Lihat dulu sebentar, kangen karena nggak lihat dia satu hari ini,” ujar Zain. Dia lalu mencium Naziya dan kemudian berlalu.
Naziya memandangi punggung suaminya hingga menghilang dari balik pintu. Lagi-lagi hembusan nafas terdengar. Zain sangat menyayangi Naya. Naziya bisa katakan bahwa Zain adalah ayah terbaik. Kasih sayangnya tak bisa diragukan lagi. Bahkan Naziya harus akui bahwa Naya lebih dekat dengan ayahnya dibanding dirinya. Bagaimana mungkin nantinya dia akan memisahkan ayah dan anaknya itu. Naziya mengurut pelipisnya. Kepalanya terasa berat.
Naziya membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sambil menunggu Zain, dia mengambil ponselnya lalu membuka-buka sosmed. Tak ada yang menarik. Dia lalu berpindah ke mesin pencari dan mengetikkan kata 'KDRT'.
Banyak sekali artikel yang membahas tentang masalah KDRT. Sambil menahan nafas, Naziya mengklik salah satu artikel. Selama membaca, Naziya sering membuang nafas. Semua yang dikatakan artikel sama dengan apa yang sedang dialaminya.
Pelaku yang sudah melakukan KDRT, pada awalnya akan meminta maaf. Bahkan mereka terkadang menangis hingga bersujud untuk meyakinkan korban bahwa mereka benar-benar menyesal. Mereka juga bahkan menjadi semakin sayang dan perhatian yang membuat korban menjadi luluh. Namun, kekerasaan itupun terjadi lagi. Lalu setelah itu kembali ke awal, menyesal-minta maaf- dan kemudian terulang lagi. KDRT itu adalah penyakit yang harus diobati. Hal itu tidak bisa dibiarkan terus menerus karena akan berdampak buruk bagi korban. Banyak kasus dari KDRT yang berujung dengan meninggalnya korban.
Korban harus berani berbicara dan orang yang beritahu juga harus bisa tanggap. Kasus KDRT bukan lagi hanya menjadi urusan rumah tangga. Namun, sudah menjadi urusan Negara karena sudah ada undang-undang yang mengatur tentang KDRT.
Naziya menatap langit-langit kamar. Berusaha untuk menetralkan hatinya yang kembali gundah. Lalu dia melanjutkan membaca artikel yang belum selesai.
Apa mungkin Zain selingkuh? Tidak mungkin. Naziya yakin bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Zain. Dia sudah berusaha menjadi istri yang baik dan melakukan segala hal untuk membahagiakan suaminya.
Lagian, kalau memang Zain selingkuh, dia pasti akan jarang pulang dan yang lebih kentara, dia pasti sudah jarang untuk melakukan hubungan ****. Batin Naziya.
Dan semua itu tak ada yang terjadi pada Zain. Dia selalu di rumah tiap hari dan masalah **** juga tidak ada yang berubah. Naziya berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa suaminya masih setia dan tidak akan melakukan hal-hal yang baru saja dipikirkannya.
Sekuat apapun Naziya berusaha menyangkal perasaannya, dia nyatanya tak juga merasa tenang. Naziya berusaha memejamkan matanya. Namun, dorongan untuk mencari tahu tentang kebenaran prasangkanya terus merongrong. Dia lalu meletakkan ponselnya di nakas, kemudian bangkit dan mencari keberadaan ponsel suaminya. Itu adalah salah satu cara agar dia mengetahui semuanya.
Naziya menyisir semua tempat yang kemungkinan dipakai suaminya untuk meletakkan ponselnya. Namun, semuanya nihil. Naziya sama sekali tak menemukan benda pipih itu berada dikamar. Kenapa juga kalau tidak ada apa-apa ponselnya harus dibawa. Padahal dia hanya ke kamar Naya. Mendadak tangan Naziya menjadi dingin. Sekelebat bayangan buruk pun berkelebat dalam benaknya. Benarkah suaminya sudah selingkuh? Membayangkan saja rasanya Naziya tak sanggup. Bagaimana nanti tanggapan orang-orang yang sudah menganggap mereka adalah pasangan yang romantis dan bahagia?
Naziya menggigit jari-jarinya. Tak sanggup lagi rasanya membayangkan hal buruk akan terjadi nanti. Naziya menarik nafas dalam-dalam tiga kali. Tak lama, terdengar suara langkah kaki. Naziya bergegas ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Naziya tersenyum tipis saat Zain memasuki kamar. Terlihat Zain meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur dan kemudian membaringkan tubuh. Ia membalik tubuhnya menghadap Naziya dan mengangkat sedikit kepalanya kemudian mengecup kening istrinya. “Good night, sayang,” ucapnya lalu kembali membaringkan tubuhnya. Dan tak berapa lama dengkuran halus pun terdengar. Pertanda bahwa Zain sudah berlayar ke alam mimpi.
Setelah memastikan bahwa Zain sudah benar-benar tertidur, Naziya bergerak dengan pelan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dia melirik ponsel Zain. Awalnya dia ragu. Namun, dorongan untuk tahu tentang kebenaran dugaannya membuatnya tak bisa menahan untuk tak membuka ponsel suaminya.
Dada Naziya berdegup tak menentu. Di satu sisi dia berharap bahwa apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Namun, jika terjadi, dia tidak tahu sehancur apa perasaannya.
Naziya menatap benda pipih yang sudah berada dalam genggamannya. Apapun yang terjadi dia harus tahu tentang kebenarannya. Dia tidak mau gila sendiri karena menebak-nebak sesuatu yang hanya ada dalam kepalanya.
Untuk membuka ponsel Zain, memerlukan kata sandi. Naziya mencoba memasukkan tanggal pernikahan mereka namun gagal. Tanggal lahirnya dan juga Zain pun gagal. Terakhir dia memasukkan tanggal lahir Naya dan berhasil!
Tangan Naziya gemetar saat mulai mengarahkan jemarinya pada aplikasi percakapan. Terlihat sebuah nama ‘Ibu Notaris’ berada di urutan teratas. Itu artinya, dialah orang terakhir yang mengobrol dengan suaminya. Namun anehnya, tak ada sama sekali percakapan yang berada di kolom percakapan mereka. Itu berarti, Zain langsung menghapus riwayat obrolan mereka.
Hati Naziya semakin tidak karuan. Dengan menghapus obrolan seperti itu, berarti ada sesuatu yang berusaha untuk disembunyikannya. Dan satu hal lagi, Naziya yakin bahwa nama yang disematkan Zain adalah bukanlah seorang notaris.
Naziya paham bahwa pengacara dan notaris memang mempunyai keterkaitan dalam pekerjaan tapi yang mengherankan, kenapa Zain tak menyematkan nama asli orang itu kalau memang tidak ada apa-apanya. Namun, Naziya harus tetap tenang dan tak bisa bertindak gegabah sebelum mendapatkan bukti yang valid.
Karena tak mendapatkan apa yang dicarinya, Naziya akhirnya berhenti. Namun, baru saja dia ingin meletakkannya, ponsel Zain bergetar. Menandakan ada sebuah pesan masuk. Naziya langsung mengeceknya.
Hmmm… Katanya udah mau tidur, kok masih online. Udah berani bohong ya pak pengacaraku tersayang.
Saat membaca pesan itu. Dunia Naziya seakan runtuh. Tangannya semakin gemetar. Hampir saja ponsel yang dipegangnya jatuh. Dadanya sesak. Ternyata suami yang selama ini dipercayainya mempunyai wanita lain diluar. Dia bukanlah wanita satu-satunya seperti yang diyakininya selama ini. Naziya berusaha untuk mengontrol emosinya. Dia harus membalas pesan itu agar si pengirim tidak curiga.
Ini udah mau tidur, sayang. Kamu juga tidur sekarang, ya. Good night.
Good night juga, sayang.
Naziya hampir saja membanting ponsel itu setelah pesannya terkirim. Dia sungguh muak. Ingin rasanya dia muntah melihat pesan yang baru saja di baca dan dikirimkannya pada wanita tak tahu diri itu. Naziya tersentak saat Zain bergerak. Dengan cepat dia langsung menghapus pesan itu agar Zain tak curiga. Setelah itu, dia langsung kembali berbaring di sisi suaminya.
__ADS_1
Naziya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Air matanya perlahan menetes dari sela-sela matanya.