Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 12


__ADS_3

Alby mengambil ponsel dari sakunya. Ia mengaktifkan kembali benda pipih itu setelah tadi hampir seharian ia mematikannya. Ada beberapa pesan maupun panggilan yang masuk. Mulai dari istrinya, Randy-temannya sesama dosen, Vita dan  beberapa yang lainnya. Alby memeriksa panggilan, Lima panggilan tak terjawab dari istrinya, satu dari Randy. Ia lalu membuka bagian pesan.


Mas dimana? Kenapa ponsel mas nggak aktif.


Mas baik-baik saja, kan?


Mas balas pesanku. Aku khawatir.


Mas sebenarnya ada dimana, sih. Mas jawab dong.


Aku tunggu mas pulang. Jangan lupa makan malam.


Alby melihat waktu pesan tersebut dikirim. Jam sembilan lewat sepuluh. Lalu ia melirik jam di tangannya. Sudah pukul sebelas malam lewat lima. Berarti sudah sekitar dua jam yang lalu. Memang itu adalah jam-jam paling telat jika ia punya kerjaan menumpuk. Alby merebahkan tubuhnya. Menarik nafas. Sejujurnya ia merindukan Rimba. Namun, rasanya ia belum bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat melihat anak tak berdosa itu. Anak yang ia sayangi lebih dari apapun. Alby menyapu wajahnya. Kembali menarik nafas. Hari ini sudah tak terhitung lagi berapa kali ia menarik nafasnya. Hanya sekedar untuk melonggarkan dadanya yang terasa menghimpit.


Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana. “Nggak, aku harus pulang. Aku harus selesaikan semua masalah ini.” Ia menggumam lalu bangkit, beranjak ke kamar mandi membasuh wajahnya. Setelah selesai, ia mengambil tasnya dan keluar dari hotel.


*****


Ia sampai di rumah sudah pukul 12 lewat sepuluh. Ia membuka kamar perlahan. Terlihat istrinya sudah tertidur namun ponselnya masih berada dalam genggamannya. Sepertinya Rima menunggunya hingga tertidur. Sejenak ia merasa bersalah. Namun sedetik kemudian ia langsung mengoreksi perasaannya. Hari ini, moodnya memang sering berubah-ubah. Ia mengalihkan pandangannya pada pintu menuju kamar Rimba. Kamar mereka memang didesain untuk menyatu dengan kamar anaknya itu. Ada pintu dalam kamar yang menuju langsung kesana. Hatinya ragu, namun rindunya menggebu. Ia benci dengan perasaannya. Namun, akhirnya ia tetap pergi. Ia mungkin akan membenci istrinya tapi tidak dengan anak itu. Rimba adalah anak yang tidak berdosa. Dia juga adalah korban dari orang tua yang tidak bertanggung jawab. Alby menggeram kesal. Ia memandangi wajah anak itu beberapa detik. Dan tanpa komando, setitik air jatuh dari sudut matanya. Lagi-lagi ia menarik nafas. Kemudian mencium pipi gembul anaknya. “Maafkan Papa, Nak.”


*****


“Kita harus bicara,” ucap Alby ketika mereka selesai sarapan. Ia tidak ke kampus hari ini. Ia harus menyelesaikan masalahnya.


“Ada apa, sayang? Sepertinya serius sekali.” Rima menatap wajah suaminya. Tampak begitu serius dan sedikit menakutkan. Rima jadi was-was. Pikirannya sudah menjelajah kemana-mana.


“Ikut aku!” pinta Alby tanpa menjawab pertanyaan istrinya.

__ADS_1


Rima mengikuti langkah suaminya. Perasaannya tak enak. Perlahan kegugupan mulai menyergapnya.


Alby memasuki kamar mereka, mengambil sebuah map dari lemari pakaiannya lalu menyerahkan pada Rima yang masih bingung sekaligus gugup.


Rima menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar. Sepertinya ia tahu apa isi map itu. Rima membuka perlahan seiring dengan degupan jantung yang semakin bertalu-talu tak beraturan. Ia langsung lemas saat kertas itu belum sempurna terlihat. Ia bahkan sudah tahu jawabannya sebelum membacanya.


Alby tertawa miris. “Aku ingin kita bercerai!” tegasnya.


“Mas …” suara Rima tertahan seperti ada yang mengganjal dalam tenggorokannya. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku bisa jelaskan semuanya, Mas,” pintanya kemudian.


Alby mengepalkan tangannya, menatap tajam pada Rima. “Bicara baik-baik? Setelah apa yang kamu lakukan padaku, kamu bilang kita harus bicara baik-baik?” Suaranya bergetar. Alby berusaha mengontrol emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. “Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semua sudah sangat jelas.”


Rima menggigit bibirnya. Tak pernah ia melihat suaminya semarah ini. Jelas. Kesalahannya sangat fatal. “Mas, aku tahu, aku salah. Silahkan kamu marah padaku, tapi tolong, Mas. Tolong jangan ceraikan aku.” Rima memohon. Mendekat pada Alby dan meraih tangannya. Air matanya sudah bercucuran dari kedua matanya.


Alby memalingkan wajahnya. Ia paling tidak bisa melihat wanita menangis. “Aku tidak mau tahu. Aku akan tetap pada keputusanku!” Alby keukeuh. Ia melepaskan tangan istrinya dan keluar dari kamar.


“Mas, tolong jangan tinggalin aku. Bagaimana dengan Rimba nanti, Mas. Mas Alby.” Rima mengejar suaminya.


“Mas, Mas Alby!”


Alby tak peduli dengan panggilan istrinya. Hatinya semakin teriris mendengar nama anaknya disebut. Bukan, bukan anaknya tapi anak orang lain. Ia menghapus setetes air mata yang berhasil lolos. Ia menuju ke garasi dan langsung masuk ke mobil.


“Mas, tunggu.” Rima mengetuk-ngetuk pintu mobil suaminya.


Alby tak peduli. Ia menyalakan mesin dan langsung menjalankan mobil. Meninggalkan Rima yang terduduk lemas dengan air mata memenuhi wajahnya. Alby melirik dari kaca spion. Sejujurnya, hatinya tak tega melihat Rima seperti itu. Ia masih sangat mencintai cinta pertamanya itu. Tapi, ia juga tak mungkin hidup bersamanya. Hatinya benar-benar terluka.


*****

__ADS_1


Sejenak Naziya mematung di depan suaminya yang sedang tertidur pulas. Suara dengkuran halus terdengar mengalun lembut. Naziya menatap lekat wajah suaminya yang sudah bersamanya selama kurang lebih lima tahun ini. Meski hanya cahaya temaram, Naziya bisa melihat dengan detail wajah suaminya. Hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang selalu memberi kecupan hangat. Alisnya yang sedikit tebal, kumis yang selalu dicukur rapi.


Dadanya mulai sesak. Irama jantungnya mulai tak beraturan.  Matanya kian memanas. Ia menengadah sejenak berusaha menahan laju air matanya yang mulai ingin merangsek keluar. Ia rapuh. Bohong jika ia mengatakan bahwa sudah tak mencintai Zain. Rasa itu masih ada bersemayam di dalam hatinya yang paling dalam. Lima tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk melupakan semua goresan memori indah yang pernah Zain torehkan dalam sanubarinya.


Butiran air itu akhirnya lolos juga. Naziya mengatup mulutnya untuk menahan suara isakannya yang semakin membuatnya rapuh. Ia merindukan suaminya. Ia merindukan semua hal manis yang sudah mereka lewati selama ini bersama. Ia merindukan dengkuran halus yang selalu terdengar setiap malam di sampingnya. Merindukan kecupan hangat dari bibir suaminya, dekapan nyaman dalam dada bidangnya. Naziya merindukan semuanya. Semuanya. Sebentar lagi semua itu akan sirna dan tak akan pernah ada lagi dalam kehidupan Naziya. Semua akan kembali menjadi kenangan. Kenangan yang tak akan bisa terulang.


Tubuhnya lunglai. Ia terduduk lemas di lantai kamarnya yang dingin. Ia tergugu dalam balutan kenangan yang datang silih berganti. Rasanya ia tak bisa meninggalkan Zain, melupakan semua kenangan indah mereka. Sejenak Naziya kembali dilanda dilema.


Namun, sesaat kemudian, bayangan kemesraan Zain dengan Devina mulai memutar dalam rekaman otaknya. Perlahan, rasa rindu yang kini hadir mulai menjelma menjadi kebencian. Ia benci Zain mengkhianati dirinya, menodai pernikahan mereka.


Naziya tidak terima. Ia menghapus air matanya. Berdiri dan kembali menatap suaminya. Kali ini bukanlah cinta yang hadir, namun segunung rasa benci.


Sudah cukup ia menahan semuanya. Semuanya harus diakhiri. Ia menatap jam yang berada di atas nakas. Waktu sudah menunjukan pukul lima pagi. Lumayan lama ia tenggelam dalam balutan kesedihan tadi. Sekitar sejam. Karena ia tadi bangun sekitar jam 4 pagi.


Naziya menuju ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dan kemudian menuju lemari dan mengambil tas yang sudah ia siapkan. Beberapa lembar pakaian dan surat-surat penting. Ia membuang napas panjang, berusaha untuk menguatkan hatinya. Sebelum keluar, ia menatap sekeliling kamar yang sudah di tempatinya selama kurang lebih lima tahun ini. Ia pasti akan selalu merindukannya nanti.


Sekali lagi ia menatap ke arah Zain, namun hanya sebentar. Ia beranjak meninggalkan kamar itu dan menuju kamar putrinya. Semua kebutuhan putrinya sudah ia siapkan dari semalam.


Ia menuju ke garasi bersama dengan Bi Rita yang menggendong Naya. Untung saja Naya tidak terbangun saat tubuhnya dipapah menuju ke dalam mobil. Ia hanya menggeliat sesaat dan kemudian tertidur lagi.


“Pak, tolong ambilkan barang Naya di dalam kamarnya dan masukkan ke dalam mobil,” pinta Naziya pada Pak Sarwo-supir mereka yang sudah berada di garasi. Dari semalam, ia memberitahu untuk mengantarnya pagi-pagi sekali.


“Baik, Bu,” jawab Sarwo kemudian masuk ke dalam.


Naziya menatap putrinya yang sedang terlelap di pangkuan pengasuhnya dengan perasaan sedih. “Maafkan mama, Sayang. Kamu sementara harus pisah dulu sama Papa,” gumamnya.


Tak lama Pak Sarwo sudah kembali.

__ADS_1


“Ayo berangkat, Pak,” pinta Naziya.


Mobil mulai beranjak meninggalkan garasi. Di saat itu pula tiba-tiba hati Naziya mencelos. Ia menatap bangunan itu dengan perasaan yang tak karuan. Ternyata seberat ini sebuah perpisahan. Ia menarik dan membuang napas tiga kali, berusaha untuk menenangkan diri. Ia hanya berharap semoga keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang terbaik. Bukan hanya untuk dia dan Naya, juga untuk Zain. Meski  membenci suaminya, ia tetap mempunyai sedikit harapan agar dengan semua yang terjadi ini, Zain bisa intropeksi diri.


__ADS_2